Penelitian ini dilatarbelakangi atas keberagaman multikultural mahasiswa pada lingkungan Universitas Peradaban. Dalam berkomunikasi terdapat intensitas interaksi sosial komunitas akademik menimbulkan variasi bahasa berupa campur kode dan atau alih kode. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis wujud campur kode alih kode dan faktor penyebabnya dalam proses komunikasi mahasiswa di lingkungan Universitas peradaban. Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif peneliti gunakan pada penelitian. Sumber data dari tuturan mahasiswa sejumlah 46 informan dalam situasi komunikasi multikultural di kampus Universitas Peradaban. Pengumpulan data menggunakan teknik simak catat. Hasil penelitian ini terdapat 13 tuturan campur kode alih kode dalam komunikasi. Wujud alih kode berupa kode dari bahasa Sunda, Jawa dan Indonesia. Wujud campur kode berupa kode bahasa Indonesia, Sunda dan Jawa pada tataran kata dan frasa berupa "poho", "mah", "hayang", "sare", dan “nyong”, "sing”, “anane” , “ngko disdit”. Penyebab terjadinya adalah (1) identitas, (2) situasi, (3) keakraban, dan (4) penguasaan bahasa.AbstractThis study is motivated by the multicultural diversity of students at Universitas Peradaban. The intensity of social interaction within the academic community gives rise to linguistic variations in the form of code-mixing and/or code-switching. The study aims to analyze the forms of code-mixing and code-switching, as well as the factors driving them, during student communication at Universitas Peradaban. A qualitative approach utilizing a descriptive method was employed. Data were derived from student utterances during multicultural interactions on the Universitas Peradaban campus, collected via the "listen-and-record" technique. The findings reveal 13 instances of code-mixing and code-switching in communication. Code-switching involved the use of Sundanese, Javanese, and Indonesian. Code-mixing manifested through the use of Indonesian, Sundanese, and Javanese at the word and phrase levels—specifically terms such as "poho," "mah," "hayang," "sare," "nyong," "sing," "anane," and "ngko disdit." The underlying causes identified were (1) identity, (2) situation, (3) familiarity, and (4) language proficiency.
Copyrights © 2026