Pariwisata budaya di Kampung Adat Takpala memperluas peluang ekonomi masyarakat sekaligus menimbulkan tantangan terkait kontrol representasi, batas sakral-profan, dan keinginan tradisi Suku Abui. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk artikulasi identitas dan ketahanan tradisi Suku Abui, serta memperkuat komodifikasi unsur budaya dalam arena pariwisata budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif kualitatif dengan pendekatan interdisipliner Kajian Budaya. Analisis data dipertajam menggunakan kerangka Teori Praktik Bourdieu dan Teori Strukturasi Giddens untuk memahami konversi modal serta negosiasi aturan adat dalam pariwisata. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Informan ditentukan secara purposive yang mencakup tokoh adat, pelaku hiburan, pengrajin, serta pengelola wisata, kemudian dikembangkan melalui snowball sampling . Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas Suku Abui diartikulasikan melalui rumah adat ( Fala/Fala Foka ), tarian Lego-lego dan Cakalele , bahasa Abui, pakaian adat, Moko , kerajinan lokal, serta ritual leluhur. Komodifikasi memberikan manfaat ekonomi dan meningkatkan visibilitas budaya, tetapi berisiko menggeser batas kesakralan, memperlebar ketimpangan akses, dan mereduksi makna budaya. Ketahanan tradisi Suku Abui sangat bergantung pada kapasitas kontrol komunitas (kontrol komunitas) dalam mengendalikan representasi budaya, menjaga transmisi pengetahuan antargenerasi, dan mendistribusikan manfaat pariwisata secara adil.
Copyrights © 2026