Peningkatan kecemasan anak di lingkungan sekolah menuntut intervensi inovatif yang bebas stigma dan dapat diintegrasikan secara berkelanjutan. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas intervensi seni ekspresif berbasis kearifan lokal melalui tarian tradisional Bali Curik-Curik yang dimediasi oleh guru untuk menurunkan kecemasan siswa di sekolah dasar. Evaluasi program berbasis masyarakat ini melibatkan 9 guru dan siswa kelas IV-VI di SD N 2 Gulingan, Bali. Intervensi mencakup pelatihan partisipatif 16 jam bagi guru dan pendampingan implementasi kelas selama satu bulan. Model Evaluasi Empat Tingkat Kirkpatrick digunakan untuk mengukur kompetensi guru, sementara Spence Children's Anxiety Scale (SCAS) mengevaluasi tingkat kecemasan siswa. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada kompetensi fasilitasi guru dari rata-rata 42,5% menjadi 88,9%. Selain itu, terjadi penurunan substansial pada persentase kecemasan tinggi siswa dari 35% menjadi 8%, serta peningkatan kategori normal/rendah dari 13% menjadi 65%. Studi ini menyimpulkan bahwa terapi seni tari berbasis kearifan lokal yang dimediasi oleh guru merupakan model intervensi kesehatan mental sekolah yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026