Latar Belakang: Kesulitan membaca merupakan persoalan umum pada siswa sekolah dasar yang sering kurang mendapat perhatian, khususnya pada kemampuan membaca permulaan; di salah satu sekolah dasar, tujuh dari dua puluh dua siswa kelas II teridentifikasi masih mengalami kesulitan membaca permulaan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, tes membaca, dan wawancara dengan guru kelas, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman (reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan), dengan keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa kesulitan membaca siswa terbagi ke dalam empat profil, yaitu ketidaklancaran membaca yang ditandai dengan mengeja dan pengulangan; banyak kesalahan membaca seperti penghilangan, penambahan, penggantian, atau pembalikan huruf maupun suku kata; kesulitan membedakan huruf yang bentuknya hampir mirip (misalnya b–d, p–q, m–n); serta kesalahan pelafalan kata atau simbol bunyi. Kesulitan tersebut dipengaruhi oleh faktor internal (rendahnya minat dan motivasi membaca) serta faktor eksternal (kurangnya pendampingan orang tua dan latihan membaca di rumah). Implikasi: Temuan ini menjadi dasar bagi guru dan orang tua dalam merancang strategi pembelajaran remedial serta memperkuat pendampingan membaca di rumah untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa.
Copyrights © 2026