ABSTRAKStunting masih menjadi tantangan gizi kronis di Sumatera Utara dengan prevalensi 22,4% pada tahun 2024, di atas rata-rata nasional (19,8%). Rendahnya ketahanan pangan rumah tangga merupakan salah satu determinan penting yang menyertai persoalan stunting. Pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Polkesmed, Poltekkes Yogyakarta, dan Padang bersama Universitas Islam Sumatera Utara mengembangkan Model Integrasi IMUT (Ikan, Maggot, Unggas, dan Tanaman) sebagai inovasi ekonomi sirkular berbasis rumah tangga untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mempercepat penurunan stunting. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menghilirisasi hasil riset IMUT untuk merumuskan strategi keberlanjutannya. Pelaksanaan dilakukan berdasarkan contoh keberhasilan riset yang telah dilakukan di Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara, dan diperluas ke Kota Medan dan Kota Padang, menggunakan pendekatan pemberdayaan partisipatif berbasis kelompok dasawisma. Hasil kegiatan tersebut dapat dirumuskan dalam 6 tahapan yaitu koordinasi dan sosialisasi dengan mitra; pelatihan teknis budi daya imut; pembentukan dan penguatan kelembagaan dasawisma; pendampingan teknis, penyuluhan gizi, dan pola asuh; advokasi kebijakan; evaluasi keberhasilan dan rencana keberlanjutan. Model IMUT berpotensi menjadi kerangka acuan hilirisasi hasil riset gizi masyarakat yang berkelanjutan. Pemantauan jangka panjang diperlukan untuk menilai dampak IMUT terhadap keragaman pangan dan status gizi balita Kata kunci: hilirisasi penelitian; pemberdayaan masyarakat; stunting; ketahanan pangan ABSTRACTStunting remains a chronic nutritional challenge in North Sumatra, with a prevalence of 22.4% in 2024, above the national average of 19.8%. Low household food security is one of the key determinants associated with stunting. This community service program, conducted by Poltekkes Kemenkes Medan, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, and Poltekkes Kemenkes Padang in collaboration with Universitas Islam Sumatera Utara, developed the IMUT Integration Model (Ikan, Maggot, Unggas, Tanaman: Fish, Maggot, Poultry, and Plants) as a household-based circular economy innovation to support food security and accelerate stunting reduction. The program aimed to translate IMUT research findings into community practice and to formulate strategies for their sustainability. Implementation built on the successful research previously conducted in Mandailing Natal Regency, North Sumatra, and was expanded to Medan City and Padang City through a participatory empowerment approach based on dasawisma (neighborhood women's groups). The activities comprised six stages: (1) coordination and socialization with partners; (2) technical training in IMUT farming; (3) establishment and strengthening of dasawisma institutions; (4) technical assistance, nutrition education, and parenting counseling; (5) policy advocacy; and (6) evaluation of outcomes and sustainability planning. The IMUT model has the potential to serve as a reference framework for the sustainable downstreaming of community nutrition research. Long-term monitoring is needed to assess the impact of IMUT on dietary diversity and the nutritional status of children under five. Keywords: research downstreaming; community empowerment; stunting; food security
Copyrights © 2026