Bukti empiris mengenai pemanfaatan permainan tradisional Papua untuk mendukung performa perubahan arah pada anak usia sekolah masih terbatas. Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan performa shuttle run pada anak usia 8–12 tahun yang mengikuti permainan tradisional Batu Sepuluh dengan kelompok kontrol. Penelitian menggunakan rancangan pretest–posttest control group dan melibatkan 20 siswa SD Negeri Entrop Kota Jayapura, masing-masing 10 siswa pada kelompok eksperimen dan kontrol. Kelompok eksperimen mengikuti permainan Batu Sepuluh selama 12 pertemuan, sedangkan performa diukur menggunakan shuttle run test. Rerata waktu kelompok eksperimen menurun dari 10,530 menjadi 8,334 detik atau membaik 2,196 detik, sedangkan kelompok kontrol berubah dari 10,607 menjadi 10,562 detik atau 0,045 detik. Selisih perubahan rerata antarkelompok sebesar 2,151 detik. Uji Mann–Whitney yang dilaporkan menunjukkan perbedaan antarkelompok (U = 2,000; Z = −3,630; p < 0,001). Temuan ini memberikan bukti awal bahwa Batu Sepuluh berkaitan dengan perbaikan performa shuttle run pada peserta penelitian, meskipun hasilnya tidak dapat langsung diartikan sebagai peningkatan reactive agility.
Copyrights © 2026