Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif aktivitas antioksidan bahan alam yang diekstraksi menggunakan metode konvensional seperti maserasi dan sokletasi. Metode modern MAE (microwave-assisted extraction), UAE (ultrasound-assisted extraction), dan SFE (supercritical fluid extraction). Metode ekstraksi konvensional maupun modern memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing dalam memproduksi ekstrak dengan aktivitas antioksidan. Pemilihan metode yang optimal sangat bergantung pada jenis tanaman, senyawa target, dan kondisi ekstraksi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pencarian sumber atau literatur dilakukan melalui search engine seperti Google Scholar, PubMed, MDPI, ScienceDirect, ResearchGate. Hasil telaah menunjukkan bahwa metode konvensional maupun modern memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing dalam menghasilkan ekstrak dengan aktivitas antioksidan. Metode konvensional pada maserasi terbukti lebih efektif menghasilkan rendemen dan aktivitas antioksidan kuat pada daun beluntas, daun kersen, daun cengkeh, dan daun jarak cina. Metode konvensional pada sokletasi paling optimal pada umbi porang, menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi karena proses pemisahan komponen melalui siklus pelarutan dan penyaringan berulang. Metode modern seperti UAE (Ultrasound-Assisted Extraction) lebih unggul pada daun sirih merah. Pada MAE (microwave-assisted extraction) memiliki keunggulan pada kecepatan proses dan efisiensi penggunaan pelarut, namun hasilnya sangat bergantung pada optimasi kondisi ekstraksi. Sedangkan pada SFE (supercritical fluid extraction) Memberikan aktivitas terbaik pada rimpang jahe.
Copyrights © 2026