Penelitian ini mengkaji konsep otentisitas hadis dari dua perspektif utama dalam tradisi keilmuan Islam, yaitu ulama hadis (muhaddisin) dan tradisi tasawuf (sufi), melalui pendekatan komparatif-analitis berbasis studi kepustakaan. Ulama hadis menekankan verifikasi historis melalui kritik sanad dan matan sebagai instrumen utama penentuan validitas riwayat, dengan mengembangkan disiplin ilmu seperti jarh wa ta'dil dan klasifikasi hadis. Sementara itu, tradisi sufi memberikan perhatian lebih besar pada dimensi spiritual, transformasi batin, dan pemaknaan esoteris yang terkandung dalam hadis, meskipun mayoritas tokoh sufi tetap mengakui otoritas Al-Qur'an dan Sunnah sebagai landasan. Analisis komparatif menunjukkan bahwa kedua tradisi memiliki tujuan fundamental yang sama, yakni menjaga dan menghidupkan Sunnah Nabi Muhammad SAW, meskipun berbeda secara metodologis dan epistemologis. Penelitian ini kemudian menawarkan rekonstruksi berupa Multilevel Integrative Model yang menempatkan verifikasi sanad-matan sebagai fondasi utama, diikuti diferensiasi konteks penggunaan hadis, integrasi hermeneutis-spiritual, serta kontrol akademik dan komunal sebagai mekanisme pengawasan. Model ini diharapkan menjadi kontribusi metodologis bagi pengembangan studi hadis kontemporer yang lebih integratif, seimbang, dan dialogis antara pendekatan historis-kritis dan pendekatan spiritual.
Copyrights © 2026