Artikel ini menganalisis faktor-faktor yang menentukan variasi pendapatan bersih usahatani jagung di Desa Kopi, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, menggunakan pendekatan regresi berganda Ordinary Least Squares (OLS). Data primer dikumpulkan dari 41 petani jagung melalui teknik purposive sampling dari populasi 70 petani (formula Slovin, e=10%). Pendapatan bersih rata-rata tercatat sebesar Rp 13.149.378 per musim tanam, dengan koefisien variasi (CV) 71,7%—mengindikasikan disparitas pendapatan yang sangat tinggi antar petani. Dua model regresi diekstimasi secara komparatif: Model 1 menguji faktor sosio-ekonomi (luas lahan, total biaya produksi, lama bertani, pendidikan, harga jual) dengan R² = 0,354; Model 2 menguji faktor produksi (luas lahan, volume produksi, harga jual) dengan R² = 0,736. Pada Model 2, harga jual (β = Rp 11.973/kg, p < 0,001) dan volume produksi (β = Rp 3.293/kg, p < 0,001) berpengaruh positif dan signifikan, sementara luas lahan berkoefisien negatif (β = –Rp 2.113.455, p = 0,024). Paradoks koefisien negatif luas lahan dijelaskan oleh eskalasi biaya input yang tidak proporsional pada petani berlahan besar. Temuan menegaskan bahwa harga pasar adalah penentu utama variasi pendapatan, sementara efisiensi produksi dalam skala lahan lebih kecil menghasilkan margin yang lebih kompetitif
Copyrights © 2026