Penelitian ini bertujuan menganalisis tiga dimensi yang saling berkaitan dalam usahatani padi di Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, yaitu: (1) karakteristik sosial ekonomi petani padi sawah dan padi ladang; (2) struktur biaya produksi serta efisiensi penggunaan input pada kedua sistem usahatani; dan (3) kontribusi pendapatan usahatani padi terhadap kesejahteraan rumah tangga petani yang diukur melalui perbandingan terhadap garis kemiskinan, Upah Minimum Kabupaten (UMK), dan rata-rata pengeluaran rumah tangga berdasarkan publikasi BPS. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei terhadap 64 responden, terdiri atas 43 petani padi sawah (simple random sampling, rumus Slovin α=15%) dan 21 petani padi ladang (sampling jenuh). Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur, sedangkan data sekunder bersumber dari BPS Kabupaten Bone Bolango dan Dinas Pertanian setempat. Analisis dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan formula standar usahatani (TC, TR, π, dan R/C Ratio). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata umur petani 53 tahun, dengan pendidikan dominan SMA (36 persen) dan pengalaman berusahatani 10–30 tahun pada seluruh responden. Biaya tenaga kerja mendominasi struktur biaya variabel pada kedua sistem, yaitu 67,1 persen pada padi sawah dan 65,1 persen pada padi ladang. Pendapatan bersih per musim tanam mencapai Rp 3.907.744 untuk padi sawah dan Rp 3.003.523 untuk padi ladang, dengan R/C Ratio masing-masing 1,48 dan 1,59. Setelah dikonversi ke basis bulanan, pendapatan usahatani padi hanya mencapai 21,5 persen dan 16,5 persen UMK Bone Bolango, serta 52,2 persen dan 40,1 persen pengeluaran rumah tangga rata-rata. Temuan ini mengindikasikan bahwa usahatani padi belum mampu menjadi sumber pendapatan tunggal yang memadai, sehingga diversifikasi pendapatan non-farm menjadi strategi yang esensial bagi rumah tangga petani.