Pendampingan masyarakat terdampak bencana di Aceh menghadapi tantangan berupa kompleksitas kebutuhan penyintas, keterbatasan koordinasi ant relawan dan lembaga, belum meratanya edukasi kesiapsiagaan, serta perlunya penguatan solidaritas sosial dalam proses pemulihan. Artikel ini bertujuan menganalisis strategi optimalisasi pendampingan masyarakat melalui kolaborasi relawan, pendidikan kesiapsiagaan, dan penguatan modal sosial komunitas. Penelitian menggunakan pendekatan pengabdian kepada masyarakat dengan desain partisipatif yang mengintegrasikan pemetaan kebutuhan, koordinasi pemangku kepentingan, edukasi kebencanaan, dan penguatan kapasitas lokal. Hasil analisis disusun ke dalam empat tema utama. Pertama, penguatan koordinasi relawan melalui pembagian peran, komunikasi terpadu, dan pemetaan kebutuhan penyintas. Kedua, peningkatan edukasi kesiapsiagaan melalui pembelajaran partisipatif, simulasi evakuasi, pengenalan risiko, dan penyusunan rencana tanggap darurat keluarga. Ketiga, penguatan modal sosial melalui kepercayaan, gotong royong, jejaring komunitas, dan pelibatan tokoh lokal. Keempat, pengembangan model pendampingan berkelanjutan melalui pemantauan, evaluasi partisipatif, dan integrasi program pemulihan dengan kelembagaan masyarakat. Artikel ini menegaskan bahwa keberhasilan pendampingan tidak hanya ditentukan oleh bantuan material, tetapi juga oleh kualitas koordinasi, kapasitas menghadapi risiko, dan kekuatan hubungan sosial. Implementasinya diarahkan pada pembentukan mekanisme pendampingan berbasis komunitas yang inklusif, adaptif, terukur, dan berkelanjutan sesuai karakteristik risiko serta kebutuhan masyarakat Aceh.
Copyrights © 2026