Kurikulum merupakan jantung penyelenggaraan pendidikan. Ia bukan sekadar dokumen administratif, melainkan fondasi yang menentukan arah, isi, dan proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan . Kurikulum Merdeka telah ditetapkan sebagai kurikulum nasional melalui Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024. Di jenjang sekolah dasar (SD), kurikulum ini menuntut guru merancang modul ajar, mengelola pembelajaran berdiferensiasi, dan memfasilitasi projek lintas disiplin, sementara kesiapan sekolah sangat beragam. Artikel ini bertujuan mengidentifikasi tantangan implementasi Kurikulum Merdeka di SD dan merumuskan strategi manajemen sekolah untuk mengatasinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan terhadap tiga kasus utama (SDN Jambearjo 01, SD Negeri 67 Percontohan Banda Aceh, dan SD Negeri Unggulan 1 Kabupaten Pulau Morotai), didukung literatur dan regulasi yang relevan. Data dianalisis dengan analisis isi model Miles dan Huberman, menggunakan teori implementasi kebijakan Edwards III (komunikasi, sumber daya, disposisi, struktur birokrasi) dan fungsi manajemen POAC George R. Terry. Hasil kajian menunjukkan bahwa tantangan utama terletak pada pemahaman dan pengalaman guru, penyesuaian evaluasi belajar, pelaksanaan P5, serta kapasitas sekolah mengelola perubahan. Dukungan kepala sekolah, komunitas belajar guru, dan pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar tampak berperan penting dalam keberhasilan implementasi. Strategi manajemen disusun berdasarkan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Temuan bersifat terbatas pada sumber yang dikaji dan belum dapat digeneralisasi
Copyrights © 2027