Guru Pembimbing Khusus (GPK) memegang peran sentral dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, tetapi pemetaan kompetensi kerja dan hambatan yang mereka alami masih jarang tersedia untuk Kota Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan persepsi diri GPK tentang kompetensi kerja dan hambatan pelaksanaan tugas di sekolah dasar inklusif Kota Makassar. Penelitian menggunakan survei daring satu tahap terhadap delapan GPK yang direkrut secara convenience sampling. Satu formulir memuat 30 butir kompetensi (pedagogik, profesional, sosial, kepribadian) dan 10 butir hambatan kerja berskala Likert 1 sampai 4, serta dua pertanyaan terbuka. Butir tertutup dianalisis secara deskriptif dan jawaban terbuka secara tematik, lalu keduanya dibandingkan. Data berupa penilaian diri tanpa observasi kelas atau penilaian pihak lain, sehingga tidak menggambarkan kinerja aktual. Persepsi kompetensi tertinggi ada pada domain kepribadian (M = 3,52) dan terendah pada domain profesional (M = 3,00). Butir dengan skor terendah adalah koordinasi dengan psikolog atau terapis (M = 2,38), disusul pemanfaatan teknologi bantu dan keterlibatan komunitas (masing-masing M = 2,75). Hambatan yang paling banyak disetujui adalah kurangnya dukungan manajerial kepala sekolah (M = 2,88) dan tekanan emosional atau risiko burnout (M = 2,88). Jawaban terbuka memberi konteks tambahan, dengan keselarasan yang hanya sebagian terhadap skor responden yang sama. Pelatihan berkelanjutan, kolaborasi, serta sarana atau teknologi asistif masing-masing disebut empat dari delapan responden. Seluruh responden bertugas di SD dan berstatus non-ASN, sehingga temuan hanya berlaku bagi responden ini dan menjadi indikasi awal bagi penelitian dengan sampel yang lebih besar.
Copyrights © 2026