Gerakan #AllEyesOnPapua menunjukkan pemanfaatan media sosial sebagai ruang komunikasi publik untuk menyampaikan kepedulian, kritik, dan solidaritas terhadap persoalan lingkungan serta sosial di Papua. Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan bahasa dalam kolom komentar TikTok dalam mengonstruksikan wacana perlawanan digital pada gerakan #AllEyesOnPapua. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan model Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk yang mencakup dimensi struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Data penelitian terdiri atas 73 komentar dari tiga unggahan akun TikTok, yaitu @watchdoc_id, @wisviral, dan @laurasofwan. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahap reduksi, klasifikasi, penyajian, dan interpretasi. Hasil penelitian menemukan enam tema utama, yaitu perlindungan lingkungan Papua, kritik terhadap pemerintah, ajakan melakukan perlawanan digital, dukungan terhadap Papua Merdeka, kritik terhadap pembukaan hutan untuk perkebunan, serta kritik terhadap ketidakadilan sosial. Penggunaan pilihan kata tegas, ungkapan emosional, metafora, tagar, dan kalimat ajakan menjadi unsur penting dalam membangun wacana perlawanan. Temuan juga memperlihatkan bahwa pemaknaan pengguna berkaitan dengan pandangan sosial, politik, dan lingkungan terhadap persoalan Papua. Kolom komentar TikTok berperan sebagai ruang artikulasi kritik, pertukaran makna, dan pembentukan solidaritas dalam aktivisme digital.
Copyrights © 2026