cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi" : 36 Documents clear
Hubungan perasaan takut anak terhadap perawatan gigi dengan kebersihan gigi dan mulut di RSGM Unsrat Manado ’Allo, Chinda B. Bunga; Lampus, Benecditus S.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13768

Abstract

Abstract: Child fear often becomes a barrier for dentists to provide optimal care. Therefore, it is important for the dentists to establish good relationship with patients, especially children. Children who have positive interaction with the dentists can handle their fears and will not be afraid to the dentists, so they are expected to have good oral hygiene. This study was aimed to analyze the relationship beetween children’s feeling of fear against dental treatment and their oral hygiene at Dental Hospital University of Sam Ratulangi. Samples were children aged 6-12 who had received dental treatment before. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnaires and examination of OHIS. The results showed that of the 35 respondents, 23 children (65.7%) were not afraid of dental treatment (65,7%), meanwhile 12 children (34.3%) were afraid of dental treatment. There were 28 children (80%) that preferred female dentists to male dentists menawhile 7 children (20%) were the opposites. There were 23 children (65.7%) that liked dentists who used self protective equipment and 12 children (34.3%) did not. There were 21 children (60%) that had good OHI-S and 14 children (40%) that had moderate OHI-S. The Fisher alternative test showed a sinificancy of 1.000 for 2-sided (two tail) and 0.583 for 1-sided (one tail) (p˃0.05) Conclusion: There was no relationship between children’s feelings of fear against dental treatment and oral hygiene.Keywords: feelings of fear, dental treatment, oral hygieneAbstrak: Perasaan takut dan cemas pada anak sering menjadi penghalang bagi dokter gigi untuk memberikan perawatan yang optimal. Oleh karena itu, dokter gigi perlu menjalin hubungan baik dengan pasien khususnya pasien anak. Anak yang memiliki interaksi positif terhdap dokter gigi dapat mengatasi rasa takutnya sehingga mereka tidak akan takut ke dokter gigi dan memiliki kesehatan gigi dan mulut yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara rasa takut pada anak terhadap perawatan gigi dengan kebersihan gigi dan mulut di RSGM Unsrat. Sampel penelitian ialah anak berusia 6-12 tahun yang sudah pernah menerima perawatan gigi sebelumnya. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Pengumpulan data menggunakan pengisian kuesioner dan pemeriksaan OHIS. Hasil penelitian menunjukkan dari 35 responden, yang tidak takut terhadap perawatan gigi 23 anak (65,7%) dan yang takut terhadap perawatan gigi 12 anak (34,3%). Yang memilih dirawat oleh dokter gigi perempuan 28 anak (80%) sedangkan yang memilih dirawat dokter gigi laki-laki 7 anak (20%). Yang menyukai dokter gigi menggunakan pelindung diri sebanyak 23 anak (65,7%) dan yang tidak menggunakan pelindung diri 12 anak (34,3%). Yang memiliki OHI-S baik 21 anak (60%) dan yang memiliki OHI-S sedang 14 anak (40%). Hasil uji alternatif Fisher mendapatkan nilai signifikansi 1,000 untuk 2-sided (two tail) dan 0,583 untuk 1-sided (one tail) (p ˃0,05) Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara rasa takut anak terhadap perawatan gigi dengan kebersihan gigi dan mulut.Kata kunci: perasaan takut, perawatan gigi, kebersihan gigi dan mulut
Efektivitas dental health education dengan media animasi kartun terhadap perubahan perilaku kesehatan gigi dan mulut Siswa SD Advent 02 Sario Manado Tandilangi, Meartriecs; Mintjelungan, Christy; Wowor, Vonny N.S.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13503

Abstract

Abstract: In Indonesia, dental health is still an issue dominated by caries and periodontal disease. The poor behavior of dental health maintenance plays an important role in the occurrence of these two diseases. Intervention through education can improve the behavior. Educational success in terms of behavior change is influenced by using auxiliary media. Animated cartoon is an auxiliary media that is more attractive than the other media because it combines sound and moving images in the delivery of information.This study aimed to obtain the effectiveness of dental health education using cartoon animation media to behavioral change of oral health maintenance among students of SD Advent 02 Sario. This was a quasi-experimental study with a nonequivalent control group design. Samples were students of SD 02 Advent Sario aged 10-12 years obtained by using the purposive sampling method. The samples were divided into two groups: the treatment group using cartoon animation media and the control group without auxilary media. The measurement of the behavior of dental and oral health care of children resulted in an increase in the scores of pre-test to post-test 2 by 633 which was categorized as good. Statistical analysis showed that the p-values (significance) of dental health education with media animated cartoons from pre-test to post-test 1 and from post-test 1 to post-test 2 both were 0.000 (<0.05). Conclusion: Dental health education using animated cartoon media effectively improved the behavior of oral health maintenance.Keywords: dental health education, cartoon animated, behaviorAbstrak: Di Indonesia kesehatan gigi dan mulut masih menjadi masalah yang didominasi oleh penyakit karies dan periodontal. Perilaku pemeliharaan kesehatan gigi yang buruk berperan penting bagi terjadinya kedua penyakit tersebut. Intervensi melalui pendidikan dengan menggunakan media bantu dapat dilakukan untuk merubah perilaku. Animasi kartun merupakan media bantu yang mempunyai daya tarik lebih dibandingkan dengan media lainnya karena memadukan suara dan gambar bergerak dalam penyampaian informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dental health education media animasi kartun terhadap perubahan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak SD Advent 02 Sario. Jenis penelitian ialah quasi eksperimen dengan nonequivalent control group design. Sampel penelitian yaitu siswa SD Advent 02 Sario yang berusia 10-12 tahun yang diperoleh dengan purposive sampling. Sampel dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok perlakuan menggunakan media animasi kartun dan kelompok kontrol tanpa media bantu. Hasil pengukuran perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak menunjukkan adanya kenaikan jumlah skor nilai pre-test ke post-test 2, dengan selisih kenaikan sebesar 633 yang termasuk pada kategori baik. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p (signifikansi) dental health education dengan media animasi kartun dari pre-test ke post-test 1 maupun post-test 1 ke post-test 2 masing-masing sebesar 0,000 (<0,05). Simpulan: Dental health education dengan media animasi kartun efektif merubah perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut menjadi lebih baik.Kata kunci: dental health education, animasi kartun, perilaku
Ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah pada orang Papua Saputra, Yoddy G.; Anindita, P. S.; Pangemanan, Damajanty H.C.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14163

Abstract

Abstract: Mandibular size and shape are important information especially in terms to figure out the right diagnosis and the type of treatment a patient should have. Human mandible is a key factor for occlusion adjustment, meanwhile maxilla is following the mandible’s position. Several studies show that the stability of mandibular shape and size determines the success of one’s treatment. Each ethnic group has a particular skeletal pattern as well as shape and size of mandible. This study was aimed to obtain the average size and shape of mandibles among local Papuans. This was a descriptive observational study with a cross-sectional design. Samples were obtained by using purposive sampling method. There were 35 local Papuans aged 18-25 years as subjects. Data were obtained by molding the subject’s mandible, therefore, each subject produced a study model. The study model was measured in sagittal (length) and transversal (width) views based on Raberin method. The results showed that the average lengths of local Papuans’ mandibular size in sagittal view (L31, L61, and L71 in a row) were 6.143; 26.463; and 43.743 mm meanwhile the average widths of local Papuans’ mandibular size (L33, L66, and L77 in a row) were 30.857; 50.971; and 60.971 mm. The mandibular shape of most local Papuans was mid shape (45.8%) meanwhile the least shape of them was pointed (5.7%)Keywords: dental arch size, dental arch shape, mandibular, local Papuan Abstrak: Ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah sangat diperlukan dalam menentukan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat dalam bidang ortodontik karena rahang bawah merupakan faktor stabilitas oklusi, sedangkan rahang atas menyesuaikan pada rahang bawah. Beberapa peneliti menyatakan bahwa kestabilan bentuk dan ukuran lengkung gigi rahang bawah merupakan faktor stabilitas dari hasil perawatan. Setiap kelompok etnik cenderung memiliki pola skeletal dan ukuran lengkung gigi rahang bawah yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rerata ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah pada orang Papua. Jenis penelitian yaitu deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ini sebanyak 35 orang Papua berusia 18-25 tahun diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data dalam penelitian dilakukan dengan mencetak rahang bawah setiap subjek penelitian dan didapatkan hasil cetakan berupa model studi. Model studi yang diperoleh diukur dalam arah sagital (panjang) dan transversal (lebar) berdasarkan metode Raberin. Hasil pengukurun diperoleh rerata panjang lengkung gigi rahang bawah pada orang Papua dalam arah sagital (yaitu L31, L61, L71) berturut-turut 6,143; 26,463; dan 43,743 mm, sedangkan rerata lebar lengkung gigi dalam arah transversal (yaitu L33, L66, L77) berturut-turut 30,857; 50,971; dan 60,971 mm. Bentuk lengkung gigi rahang bawah pada orang asli Papua paling banyak yaitu bentuk mid (45,8%) dan yang paling sedikit berbentuk pointed (5,7%). Kata kunci: ukuran lengkung gigi, bentuk lengkung gigi, rahang bawah, orang asli Papua
STATUS GINGIVA PADA PASIEN PENGGUNA GIGI TIRUAN CEKAT DI RSGM PSPDG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Laoh, Melinda H.; Siagian, Krista V.; Ticoalu, Shane H.R.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13927

Abstract

Abstract: The use of fixed denture aims to preserve and maintain the remained teeth and the whole mastication system properly. The use of fixed denture can be perceived as original teeth because it cannot be removed by the patient. However, fixed denture can also have an impact on periodontal tissues, such as gingivitis. This can probably occur due to the inappropriate process of the fixed denture that does not meet the requirements. This study was aimed to determine the gingival status of fixed denture users at RSGM PSPDG University of Sam Ratulangi Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design. Population was all patients who used fixed denture made at RSGM PSPDG University of Sam Ratulangi Manado. Respondents were 31 people obtained by using total sampling method. Data consisted of checking sheets of gingival status with gingival index. The results showed that gingival status of 29 fixed denture users (93.6%) was in mild inflammation category (gingival index 0.7). Conclusion: In this study, most fixed denture users had gingival status of mild inflammation category.Keywords: gingival status, fixed denture Abstrak: Penggunaan gigi tiruan cekat (GTC) dimaksudkan untuk mempertahankan dan memelihara kesehatan gigi geligi yang masih ada beserta seluruh sistem penguyahan supaya dapat berfungsi dengan baik. Penggunaan GTC dapat dirasakan seperti gigi asli karena tidak dapat dilepas oleh pasien. Penggunaan GTC juga dapat berdampak pada jaringan periodontal seperti gingivitis. Hal tersebut dapat terjadi bila dalam pembuatannya tidak memenuhi syarat-syarat pembuatan gigi tiruan cekat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gingiva pada pasien pengguna GTC di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ialah seluruh pasien yang menggunakan GTC yang dibuat di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jumlah responden sebanyak 31 orang yang diambil dengan metode total sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar pemeriksaan status gingiva dengan indeks gingiva. Hasil penelitian menunjukkan status gingiva pada 29 pasien (93,6%) pengguna GTC termasuk kategori peradangan ringan (indeks gingiva 0,7). Simpulan: Status gingiva pada sebagian besar pasien pengguna gigi tiruan cekat di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado termasuk dalam kategori peradangan ringan. Kata kunci: status gingiva, gigi tiruan cekat
Uji daya hambat ekstrak alga coklat (Padina australis Hauck) terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis secara in vitro Sari, Dewi P.; Pangemanan, Damajanty H. C.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13652

Abstract

Abstract: Padina australis Hauck is one of the brown algae used as human food, cattle woof, and as antibacterial in medicine. This brown algae contains some antibacterial compounds such as alkaloid, phenol, tannin, steroid, and saponin. Periodontitis is a disease that causes infection and inflammation around tooth’s supportive tissue. One of the alternatives to treat periodontitis is using the brown algae Padina australis Hauck. This study aimed to obtain the effectiveness of Padina australis Hauck to inhibit the growth of Porphyromonas gingivalis. This was an experimental study using wells with modified Kirby-Bauer method. Samples were obtained from Molas coastal areaa, sub district of Bunaken, Manado city, North Sulawesi. The samples were extracted by maceration method. Porphyromonas gingivalis was obtained from pure stock bacteria at the Microbiology Laboratory Faculty of Medicine, University of Hassanuddin Makassar. The results showed that the total diameter of inhibition zones of Padina australis Hauck extract was 91.0 mm from five Petri dishes with an average of 18.2 mm. Conclusion: Padina australis Hauck extract had sttrong antibacterial effect to inhibit the growth of porphyromonas gingivalis bacteria.Keywords: padina australis hauck, porphyromonas gingivalis, zona hambatAbstrak: Padina australis Hauck merupakan salah satu jenis alga coklat yang berguna sebagai makanan manusia, pakan ternak, dan antibakteri dalam bidang kesehatan. Padina australis Hauck mengandung berbagai senyawa yang bersifat antibakteri seperti alkaloid, fenol, tannin, steroid dan saponin. Periodontitis merupakan penyakit yang menyebabkan infeksi dan peradangan jaringan pendukung gigi. Salah satu alternatif untuk menanggulanginya yaitu dengan tumbuhan alga coklat (Padina australis Hauck). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Padina australis Hauck dalam menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Jenis penelitian ini ialah eksperimental secara in vitro dengan metode modifikasi Kirby-Bauer menggunakan sumuran. Sampel diperoleh dari pesisir pantai Molas Kecamatan Bunaken Kota Manado Sulawesi Utara dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi. Porphromonas gingivalis yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari stok bakteri murni di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. Hasil penelitian menunjukkan total diameter zona hambat yang dihasilkan ekstrak Padina australis Hauck pada lima cawan Petri sebesar 91,0 mm dengan nilai rerata 18,2 mm. Simpulan: Ekstrak Padina australis Hauck memiliki efek antibakteri yang tergolong dalam katagori kuat dalam menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis.Kata kunci: Padina australis Hauck, Porphyromonas gingivalis, zona hambat
Perbandingan pengaruh promosi kesehatan menggunakan media audio dengan media audio-visual terhadap perilaku kesehatan gigi dan mulut siswa SD Papilaya, Eko A.; Zuliari, Kustina; ., Juliatri
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14261

Abstract

Abstract: Dental health education conducted to the elementary school students is one of the promotive efforts to increase oral and dental health, however, it needs an appropriate media. This study was aimed to evaluate the difference between health promotion using audio media and using audio-visual media to dental health behavior of elementary school students. This was a quasy experimental study using questionnaire as the instrument. This study was conducted among elementary school students of Sekolah Dasar Inpres at Tiwoho North Minahasa. There were 56 students as respondents obtained by using simple random sampling method. The result of independent T-test showed a difference between the average behavior value of the audio group and of the audio-visual group (p= 0.004). Conclusion: There was a significant difference between health promotion using audio media and using audio-visual media to care dental health behavior among elementary school students. Keywords: health promotion, audio, audio-visual Abstrak: Promosi kesehatan gigi dan mulut pada siswa sekolah dasar merupakan salah satu upaya promotif dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut anak. Untuk melakukan hal tersebut diperlukan penggunaan media yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbandingan pengaruh promosi kesehatan menggunakan media audio dengan media audio-visual terhadap perilaku kesehatan gigi dan mulut pada siswa SD. Penelitian dilakukan di SD Inpres Tiwoho Minahasa Utara, dengan jenis penelitian quasy eksperimental menggunakan kuesioner. Jumlah responden sebanyak 56 siswa diperoleh dengan teknik simple random sampling. Hasil uji statistik independent T-test menunjukkan perbedaan antara nilai rerata kelompok audio-visual dan kelompok audio (p=0,004). Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna antara promosi kesehatan menggunakan media audio dengan media audio-visual terhadap perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada siswa SD.Kata kunci: promosi kesehatan, audio, audio-visual
Perbedaan efektivitas jus tomat (Lucopersicon esculentum Mill.) dan jus apel (Mallus sylvestris Mill.) sebagai bahan alami pemutih gigi Lumuhu, Enny F. S.; Kaseke, Martha M.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13488

Abstract

Abstract: Teeth appearance plays an important role in human interaction. One of its problems is tooth discoloration which can affect personal self confidence and appearance. Chemicals for whitening the teeth can cause negative effects such as decreased enamel hardness and gingival iritaion. An alternative material that can be used for that purpose is natural substance inter alia tomato juice (Lucopersicon esculentum Mill.) which contains hydrogen peroxide and apple juice (Mallus sylvestris Mill.) which contains malic acid. This study aimed to determine the difference in effectiveness of tomato juice and apple juice as natural bleaching agents. This was a true experimental study with a pretest postest only control group design. There were 30 samples of post-extraction anterior teeth soaked in coffee for 12 days and were further divided into 3 groups, each of 10 samples. Group 1 was immersed in tomato juice; group 2 was immersed in apple juice; and group 3 as the positive control was immersed in carbamide peroxide 10%. Each group was observed after 1 day, 3 days, and 5 days. The color change was measured by using CIEL*a*b method. The results showed that tomato juice, apple juice, and carbamide peroxide 10% could whiten the teeth. However, tomato juice was more effective compared to apple juice and carbamide peroxide 10%. Apple juice and carbamide peroxide 10% did not show any significant difference in color change. Keywords: tomato juice, apple juice, carbamide peroxide 10%, tooth discolorationAbstrak: Penampilan gigi berperan dalam interaksi manusia. Masalah dalam penampilan gigi salah satunya ialah perubahan warna gigi yang dapat memengaruhi kepercayaan diri dan keindahan penampilan seseorang. Penggunaan bahan kimia untuk memutihkan gigi dapat berdampak negatif seperti penurunan kekerasan email dan iritasi gingiva. Bahan alternatif yang dapat digunakan untuk memutihkan gigi yaitu dengan bahan alami antara lain jus tomat (Lucopersicon esculentum Mill.) yang mengandung hidrogen peroksida dan jus apel (Mallus sylvestris Mill.) yang mengandung asam malat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas jus tomat dan jus apel sebagai bahan alami pemutih gigi. Terdapat 30 sampel gigi anterior pasca ekstraksi yang direndam kopi selama 12 hari. Sampel dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing terdiri dari 10 sampel. Kelompok 1 direndam dalam jus tomat; kelompok 2 direndam dalam jus apel; dan kelompok 3 sebagai kontrol positif menggunakan karbamid peroksida 10%. Setiap kelompok dilakukan pengamatan 1 hari, 3 hari dan 5 hari. Perubahan warna diukur menggunakan metode CIEL*a*b. Hasil penelitian mendapatkan jus tomat, jus apel, dan karbamid peroksida 10% dapat memutihkan gigi. Jus tomat lebih efektif memutihkan gigi dibandingkan jus apel dan karbamid peroksida 10%. Jus apel dan karbamid peroksida 10% tidak memiliki perbedaan memutihkan gigi yang signifikan.Kata kunci: jus tomat, jus apel, karbamid peroksida 10%, perubahan warna gigi
Uji daya hambat ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis Paliling, Agrianto; Posangi, Jimmy; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14159

Abstract

Abstract: Cloves (Syzygium aromaticum) are commonly found in tropical territory. Flower bud of cloves contains cloves essential oil with its main compound is eugenol. Porphromonas gingivalis is an anaerob Gram negative bacterium which is one of the normal floras in oral cavity. However, it has the ability to cause an infection such as periodontitis. This study was aimed to determine the inhibition effect of cloves flower bud extract on Porphyromonas gingivalis growth through the diameter magnitude of the inhibition zone. The category of inhibition zone was based on Davis and Stout. This was an experimental study using Kirby-bauer modification method. Cloves flower bud samples were obtained from Senduk Tanawangko and were extracted with maseration method using etanol 96%. Porphyromonas gingivalis bacteria were obtained from pure bacteria stock in the Laboratory of Microbiology Faculty of Medicine, University of Hasanuddin Makassar. The results showed that the average diameter of inhibition zone of cloves flower bud extract against Porphyromonas gingivalis was 13.01 mm. Conclusion: Cloves flower bud extract had a strong ability to inhibit Porphyromonas gingivalis growth.Keywords: cloves flower bud, Porphyromonas gingivalis, inhibition zone Abstrak: Tanaman cengkeh (Syzygium aromaticum) merupakan tanaman yang banyak tumbuh di daerah beriklim tropis. Bunga cengkeh mengandung minyak atsiri (clove essential oil) dengan kandungan utama ialah eugenol. Porphyromonas gingivalis ialah bakteri anaerob Gram negatif yang merupakan salah satu bakteri flora normal dalam rongga mulut tetapi jika berlebihan dapat menyebabkan penyakit periodontitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak bunga cengkeh terhadap Porphyromonas gingivalis yang dinilai melalui besar diameter zona hambat yang terbentuk. Kategori daya hambat berdasarkan penggolongan Davis dan Stout. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan metode modifikasi Kirby-Bauer menggunakan sumuran. Sampel bunga cengkeh diambil dari Desa Senduk Tanawangko kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Porphyromonas gingivalis diambil dari stok bakteri murni yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Hasil penelitian mendapatkan nilai rerata diameter zona hambat ekstrak bunga cengkeh terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis sebesar 13,01 mm. Simpulan: Ekstrak bunga cengkeh memiliki daya hambat kuat berdasarkan kategori Davis dan Stout terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis. Kata kunci: bunga cengkeh, Porphyromonas gingivalis, zona hambat
Pengaruh konsumsi nanas (Ananas comosus L. Merr) terhadap penurunan indeks plak pada anak usia 10-12 tahun di SD Inpres 4/82 Pandu Embisa, Yurnila A.; Tendean, Lydia; Zuliari, Kustina
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13769

Abstract

Abstract: To date, the most common oral health problem in children is dental caries. Plaque is one of the causes of caries. There are several ways to control plaque, as follows: mechanical, chemical and naturally methods. Plaque can naturally be controled by consumption of fiber-rich and watery fruits, inter alia pineapple. This study is aimed to obtain the effect of pineapple consumption on plaque index reduction in children aged 10-12 years old at SD Inpres 4/82 Pandu. This was a quasy experimental study with a pre and post-test group design. There were 48 students as samples obtained by using simple random sampling method. The result of paired t-test showed that the significance probability value was 0.000 (p < 0.05), which meant that there was a significant reduction in plaque index between before and after pineapple consumption. Conclusion: Pineapple consumption could reduce plaque index in children aged 10-12 years old.Keywords: pineapple, plaque index.Abstrak: Masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak yang banyak ditemukan ialah karies gigi. Plak merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya karies. Untuk menghilangkan plak dapat dilakukan tindakan pengontrolan plak, yaitu mekanis, kimiawi, dan alamiah. Pengontrolan plak secara alamiah dapat dilakukan dengan mengonsumsi buah yang mengandung serat dan air, antara lain buah nanas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mengonsumsi nanas terhadap penurunan indeks plak pada anak usia 10-12 tahun. Jenis penelitian ialah eksperimental semu dengan pre and post-test group design. Sampel sebanyak 48 siswa usia 10-12 tahun yang duduk di kelas V dan VI di SD Inpres 4/82 Pandu, diperoleh dengan simple random sampling. Hasil uji paired t-test mendapatkan nilai probabilitas signifikansi 0,000 (p < 0,05) yang artinya terdapat perbedaan penurunan indeks plak yang bermakna antara sebelum dan sesudah mengonsumsi nanas. Simpulan: Konsumsi nanas dapat menurunkan indeks plak pada anak usia 10-12 tahun.Kata kunci: nanas, indeks plak
Uji daya hambat ekstrak buah pala (myristica fragrans Houtt) terhadap bakteri penyebab periodontitis porphyromonas gingivalis secara in vitro Kaawoan, Pricillia T.; Abidjulu, Jemmy; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13504

Abstract

Abstract: Periodontal disease is preceded by a buildup of plaque that contains a collection of bacteria. The most common bacteria found in plaques are Porphyromonas gingivalis that cause periodontitis. There are several ways to treat periodontitis inter alia the usage of natural materials. Nutmeg (Myristica fragrans Houtt) contains volatile oil, saponins, and alkaloids known as antibacterials. This study aimed to investigate the inhibitory effect of nutmeg extract on Porphyromonas gingivalis. This was an experimental laboratory study in vitro with a post test only control group design. The testing method used in this study was a modified method of Kirby-bauer. Nutmeg was extracted by using maceration method with ethanol 96%. Porphyromonas gingivalis bacteria were ordered from University of Hasanuddin Makassar and then were rejuvenated in the Laboratory of Microbiology Pharmacy FMIPA University of Sam Ratulangi Manado. The results showed that the average inhibitory zone of nutmeg extract was 13,5 mm. Conclusion: Nutmeg (Myristica fragrans Houtt) extract had an inhibitory effect on the Porphyromonas gingivalis bacteria.Keywords: nutmeg (Myristica fragrans Houtt), inhibition zone, periodontitis, Porphyromonas gingivalisAbstrak: Penyakit periodontal berawal dari penumpukan plak yang mengandung kumpulan bakteri. Bakteri yang paling banyak ditemukan yaitu bakteri Porphyromonas gingivalis yang menyebabkan penyakit periodontitis. Terdapat beberapa cara untuk mengobati periodontitis, salah satunya dengan penggunaan bahan alami. Pala (Myristica fragrans Houtt) memiliki kandungan minyak atsiri, saponin, dan alkaloida yang diketahui berefek antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya daya hambat ekstrak buah pala terhadap bakteri penyebab periodontitis Porphyromonas gingivalis. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik secara in vitro dengan post test only control group design. Metode pengujian yang digunakan yaitu modifikasi Kirby-bauer menggunakan sumuran. Sampel buah pala diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Porphyromonas gingivalis yang digunakan dalam penelitian ini dikirim dari Universitas Hasanuddin Makassar yang telah diremajakan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian mendapatkan zona hambat ekstrak buah pala sebesar 13,5 mm. Simpulan: Ekstrak buah pala (Myristica fragrans Houtt) mempunyai daya hambat terhadap bakteri penyebab periodontitis Porphyromonas gingivalis.Kata kunci: pala (Myristica fragrans Houtt), zona hambat, periodontitis, porphyromonas gingivalis

Page 3 of 4 | Total Record : 36