cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 35 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC" : 35 Documents clear
Gambaran Health Belief Model pada Penanganan Fraktur Umboh, Jesica C.; Wagiu, Angelica M. J.; Lengkong, Andreissanto C.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.1.2021.32364

Abstract

Abstract: Alternative medicine or traditional medicine is still widely used as a treatment option, especially in dealing with fractures. A person's belief in curing a disease has a healing effect, albeit, it can also cause various complications in case of mishandling. This condition will affect health behavior related to health belief model. This study was aimed to obtain the health belief model in fracture treatment. This was a descriptive and observational study with a survey design. Data were obtained by using questionnaires. Subjects were all WKI GMIM Kalvari Parigi Tujuh as many as 230 females. The results showed that most subjects were >50 years old, had high school/vocational school education, and work as housewives. The majority of subjects chose to go to a masseuse as the initial action when they encountered fracture cases and admission to the hospital was in the third position, after the choice to consume over-the-counter drugs. Based on the health belief model, there were four aspects of perception, namely perceptions of seriousness, vulnerability, benefits, and barriers. Some of the subjects considered that: 1) fracture was not a serious disease; 2) fracture was not a threatening disease; 3) fracture treatment did not provide many benefits; and 4) there were many barriers in treating fractures. In conclusion, the public perception of fracture cases is good, but there is still room for improvement. Although the community prefers masseurs to get the initial treatment, the hospital remains a destination if the initial action is not successful.Keywords: health belief model, fractures, fracture management, traditional medicine Abstrak: Pengobatan alternatif atau pengobatan tradisional masih banyak dipakai sebagai pilihan pengobatan terutama dalam menangani fraktur. Kepercayaan seseorang dalam kesembuhan sebuah penyakit tidak hanya membawa dampak penyembuhan, tetapi dapat menyebabkan berbagai komplikasi bila terjadi kesalahan penanganan. Kondisi sakit ini akan memengaruhi perilaku kesehatan sehubungan dengan health belief model. Jenis penelitian ialahj deskriptif observasional dengan desain survei. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Subjek penelitian ialah seluruh WKI GMIM Kalvari Parigi Tujuh.  Hasil penelitian mendapatkan 230 subjek penelitian, mayoritas berusia >50 tahun, memiliki tingkat pendidikan SMA/SMK, dan bekerja sebagai ibu rumah tangga. Mayoritas subjek penelitian memilih untuk pergi ke tukang pijat sebagai tindakan awal ketika menemui kasus fraktur dan rumah sakit menempati posisi ketiga, di bawah pilihan mengonsumsi obat warung. Berdasarkan health belief model, dilakukan pengukuran pada empat aspek persepi yaitu keseriusan, kerentanan, manfaat, serta hambatan. Didapatkan bahwa sebagian subjek menganggap bahwa: 1) fraktur bukan suatu penyakit yang serius; 2) fraktur bukan suatu penyakit yang mengancam; 3) penanganan fraktur tidak memberikan banyak manfaat; dan 4) banyak hambatan yang dihadapi untuk mengobati fraktur. Simpulan penelitian ini ialah persepsi masyarakat mengenai kasus fraktur sudah termasuk baik, tetapi masih terdapat ruang untuk peningkatan. Masyarakat lebih memilih tukang pijat untuk mendapatkan tindakan awal, namun rumah sakit tetap menjadi tujuan bila tindakan awal tidak berhasil.Kata kunci: health belief model, patah tulang, penanganan fraktur, pengobatan tradisional
Efektivitas Pemeriksaan Serologis Sifilis Baguna, Tirsa; Niode, Nurdjannah J.; Pandaleke, Herry E. J.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.1.2021.32118

Abstract

Abstract: High prevalence of syphilis can be reduced by doing screening. Tests used for screening and diagnosis of syphilis are serological tests of syphilis consisting of nontreponemal tests and treponemal tests. Nontreponemal tests consist of Rapid Plasma Reagin (RPR) and Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) meanwhile Treponemal tests consist of Treponema Pallidum Haemagglutination Assay (TPHA) and Treponema Pallidum Rapid (TP Rapid). This study was aimed to determine the effectiveness of syphilis serological tests. This was a literature review study using the keywords namely serology OR serological OR serologic AND syphilis in PubMed and ClinicalKey. The literatures were written in English and/or Indonesian, published in the last 10 years (2011-2020), and can be accessed in full text. The results obtained 25 literatures. High sensitivity was found in RPR of 9.1%-100%, VDRL of 44.4% -100%, and TP Rapid of 50.0%-100%. High specificity was found in TPHA of 99.7% and TP Rapid of 85.3% -100%. In conclusion, effective syphilis screening is performed with RPR and VDRL, while effective syphilis diagnostic is performed with TP Rapid and TPHA.Keywords: syphilis, serology tests, effectiveness of tests  Abstrak: Prevalensi kasus sifilis yang tinggi dapat diturunkan dengan adanya skrining. Pemeriksaan yang digunakan untuk skrining dan diagnosis sifilis ialah pemeriksaan serologis sifilis, terdiri atas pemeriksaan serologis non spesifik treponema dan pemeriksaan serologis spesifik treponema. Pemeriksaan serologis non spesifik treponema antara lain Rapid Plasma Reagin (RPR) dan Venereal Disease Research Laboratory (VDRL). Pemeriksaan serologis spesifik treponema antara lain Treponema Pallidum Haemagglutination Assay (TPHA) dan Treponema Pallidum Rapid (TP Rapid). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemeriksaan serologis sifilis. Jenis penelitian ialah literature review menggunakan kata kunci serology OR serological OR serologic AND syphilis di PubMed dan ClinicalKey. Literatur yang digunakan memiliki bahasa Inggris dan/atau bahasa Indonesia, terbitan 10 tahun terakhir (2011-2020), dan dapat diakses teks lengkap. Sensitivitas tinggi ditemukan pada RPR sebesar 9,1%-100%, VDRL sebesar 44,4%-100%, dan TP Rapid sebesar 50,0%-100%. Spesifisitas tinggi ditemukan pada TPHA sebesar 99,7% dan TP Rapid sebesar 85,3%-100%. Simpulan penelitian ini ialah skrining sifilis efektif dilakukan dengan RPR dan VDRL, sedangkan diagnostik sifilis efektif dilakukan dengan TP Rapid dan TPHA.Kata kunci: sifilis, pmeriksaan serologis, efektivitas pemeriksaan
Perbedaan Pengetahuan dan Sikap Remaja tentang Infeksi Menular Seksual di SMA/SMK Perkotaan dan Pedesaan Lanes, Erald J.; Mongan, Suzanna P.; Wantania, John J. E.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.1.2021.31856

Abstract

Abstract: Premarital sexual behavior in adolescence is a high risk factor for sexually transmitted infections. Sexually transmitted infections (STIs) are infections that are generally transmitted through sexual contact. Differences in social, cultural, and economic factors were found to affect the incidence and prevalence of sexually transmitted infections between different groups in a population. These are likely caused by differences in the knowledge and attitudes of adolescents living in urban and rural areas. This study was aimed to obtain the differences in the level of knowledge and attitudes toward STIs of adolescents in urban and rural area schools. This was a descriptive study with a cross-sectional design conducted on 50 adolescents of urban senior high schools and 50 adolescents of rural senior high schools/vocational high schools. Questionnaires were distributed via email by using Google form. The results showed that adolescents living in urban areas had good knowledge about STIs meanwhile adolescents living in rural areas had fair knowledge. The attitudes about STIs of most adolescents living in urban areas and rural areas were good. In conclusion, adolescents living in urban areas had better knowledge about STIs than those living in rural areas, however, there was no significant difference in attitudes about STI between the two regions. Equal distribution of education in Indonesia is needed in urban as well as in rural areas.Keywords: sexually transmitted infections, adolescents, knowledge, attitudes, urban and rural Abstrak: Perilaku seksual pranikah pada usia remaja merupakan faktor risiko tinggi terhadap infeksi menular seksual (IMS). Infeksi menular seksual merupakan infeksi yang umumnya ditularkan melalui hubungan seksual. Perbedaan faktor sosial, kultural maupun ekonomi dapat memengaruhi insiden dan prevalensi IMS antara kelompok yang berbeda dalam suatu populasi. Hal tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh adanya perbedaan pengetahuan dan sikap remaja yang tinggal di wilayah perkotaan dan pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap IMS di sekolah wilayah perkotaan dan pedesaan. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang dan kuesioner didistribusikan secara daring menggunakan Google Form. Responden ialah 50 remaja di SMA wilayah perkotaan dan 50 remaja di SMA/SMK wilayah pedesaan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa pengetahuan remaja tentang IMS pada siswa SMA perkotaan sebagian besar berada dalam kategori baik sedangkan pada siswa SMA/SMK pedesaan sebagian besar berada dalam kategori cukup. Sikap remaja tentang IMS pada siswa SMA/SMK perkotaan dan pedesaan sebagian besar baik. Simpulan penelitian ini ialah remaja perkotaan memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai IMS dibandingkan remaja di pedesaan namun tidak terdapat perbedaan sikap remaja yang bermakna mengenai IMS antara kedua wilayah. Pemerataan pendidikan di Indonesia dibutuhkan di wilayah perkotaan dan pedesaan.Kata kunci: infeksi menular seksual, remaja, pengetahuan, sikap, perkotaan dan pedesaan
Hubungan antara hs-CRP, Adiponektin, Fetuin A terhadap Resistensi Insulin pada Pria Dewasa Muda dengan Obesitas Sentral Amudi, Tulus; Pandelaki, Karel; Palar, Stella
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.1.2021.32476

Abstract

Abstract: Obesity has quite a lot of risk factors for the incidence of metabolic diseases such as insulin resistance, diabetes mellitus, dyslipidemia, and metabolic syndrome. The accumulation of adipocytes causes the formation of chronic inflammatory mediators, and disrupts adipokine derived from adipocytes. These inflammatory mediators cause hepatocytes to secrete several types of proteins such as C-reactive protein and fetuin A into the blood circulation that are thought to cause insulin resistance in obesity cases. This study was aimed to determine the relationship among levels of hs-CRP, adiponectin, and fetuin A, and insulin resistance in adult male subjects with central obesity. This was an observational study with a cross sectional design. Subjects were young adult males with central obesity at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado. The results showed that 30 subjects had a mean hs-CRP level of 0.18 mg/dL (±0.16) which was higher than normal value. There was a positive and significant correlation between hs-CRP and HOMA-IR (r=0.380, p<0.023). There was a negative and insignificant correlation between adiponectin and Homa IR (r =-0.278, p=0.136), and there was no significant correlation between fetuin A and HOMA IR (r -0.048, p=0.801). In conclusion, among young adult males with central obesity there was an increase in hs-CRP level above normal value and there was a significant relationship between increased hs-CRP and insulin resistanceKeywords: fetuin-A, high sensitive C-reactive protein, adiponectin, HOMA-IR, central obesity Abstrak: Obesitas memiliki faktor risiko yang cukup banyak terhadap kejadian penyakit metabolik seperti resistensi insulin, diabetes melitus, dislipidemia, dan sindrom metabolik. Akumulasi adiposit menyebabkan terbentuknya mediator inflamasi kronik sehingga sintesis adipokin oleh adiposit terganggu. Mediator inflamasi tersebut juga menyebabkan hepatosit menyekresi beberapa jenis protein seperti C-reaktif protein dan fetuin A ke dalam sirkulasi darah yang diduga meyebabkan resistensi insulin pada kasus obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar hs-CRP, adiponektin, dan fetuin A dengan resistensi insulin pada subjek pria dewasa dengan obesitas sentral. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain potong lintang. Subyek penelitian ialah pria dewasa muda dengan obesitas sentral di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian mendapatkan 30 subyek dengan rerata kadar hs-CRP 0,18 mg/dl (±0,16) lebih tinggi dari nilai normal. Terdapat hubungan korelasi positif dan bermakna antara hs-CRP dan HOMA-IR (r=0,380, p<0,023); hubungan korelasi negatif dan tidak bermakna antara adiponektin dan Homa IR (r=-0,278, p=0,136); tidak didapatkan hubungan bermakna antara Fetuin A dengan HOMA IR (r=-0.048 dan p=0,801). Simpulan penelitian ini ialah pada pria dewasa muda dengan obesitas sentral terdapat peningkatan kadar hs-CRP melebihi nilai normal dan terdapat hubungan bermakna antara peningkatan hs-CRP dengan resistensi insulin.Kata kunci: fetuin-A, high sensitive C-reactive protein, adiponectin, HOMA-IR, obesitas sentral
Pneumonia Covid-19 dengan Gangguan Ginjal Akut Wahab, Rivaldy; Poli, Efata; Sugeng, Cerelia
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.1.2021.32303

Abstract

Abstract: SARS-CoV-2 infection causes various symptoms, including mild, moderate, severe, and critical symptoms. Severe SARS-CoV-2 infection can cause pneumonia, acute respiratory syndrome, kidney failure, and even death. This study was aimed to evaluate patients with COVID-19 pneumonia associated with acute kidney injury (AKI). This was a literature review study using three databases, namely PubMed, ClinicalKey, and Google Scholar. The keywords used were acute kidney injury AND pneumonia AND COVID-19. The results showed 10 selected literatures based on inclusion and exclusion criteria. All literatures stated that males dominated the study samples (52.4-73%). The risk factors of AKI in COVID-19 pneumonia were co-morbidities which were predominantly hypertension, diabetes mellitus, COPD, cardiovascular diseases, and respiratory diseases, as well as nephrotoxic drugs. AKI was the complication of pneumonia COVID-19. The mortality rate was higher among pneumonia COVID-19 patients with AKI compared to pneumonia COVID-19 patients without AKI. In conclusion, AKI is the complication of COVID-19 pneumonia. Nephrotoxic drugs and co-morbidities are the risk factors of AKI in COVID-19 pneumonia.  The mortality rate is higher in patients with AKI compared to those without AKI.Keywords: acute kidney injury, pneumonia COVID-19, coronavirus disease 2019  Abstrak: Infeksi SARS-CoV-2 menimbulkan berbagai gejala baik yang ringan, sedang, berat        hingga kritis. Infeksi SARS-CoV-2 yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, bahkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pneumonia COVID-19 dengan gangguan ginjal akut (GGA). Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan ialah acute kidney injury AND pneumonia AND COVID-19. Hasil penelitian mendapatkan 10 literatur berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pada semua literatur didapatkan jenis kelamin laki-laki yang mendominasi sampel penelitian (52,4-73%). Riwayat penyakit didominasi oleh hipertensi, diabetes melitus, PPOK, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit pernapasan. GGA merupakan komplikasi pada pneumonia COVID-19. Pasien pneumonia COVID-19 dengan gangguan ginjal akut memiliki angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien pneumonia COVID-19 tanpa gangguan ginjal akut di rumah sakit. Faktor risiko gangguan ginjal akut pada pneumonia COVID-19, antara lain: penggunaan obat yang bersifat nefrotoksik, memiliki komorbid (usia tua, diabetes mellitus, penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal kronis, dll). Sinpulan penelitian ini ialah GGA merupakan komplikasi pada pneumonia COVID-19. Penggunaan obat yang bersifat nefrotoksik dan adanya komorbid merupakan faktor risiko terjadinya GGA pada pasien pneumonia COVID-19. Angka kematian lebih tinggi terdapat pada pasien pneumonia COVID-19 dengan GGA dibandingkan dengan yang tanpa GGA.kata kunci: gangguan ginjal akut, pneumonia COVID-19, coronavirus disease 2019
Pengaruh penggunaan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI) dan angiotensin receptor blocker (ARB) pada pasien coronavirus disease 2019 (covid-19) dengan hipertensi Linelejan, Briando; Umboh, Octavianus; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31963

Abstract

Abstract: Hypertension is considered as one of the highest death-caused disease worldwide. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) pandemic caused by severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) most frequently occurred in elderly and those who had comorbid diseases, one of them is hypertension. The first line drugs that are usually used in hypertension are angiotensin converting enzyme inhibitors (ACEIs) and angiotensin receptor blockers (ARBs). It is assumed that these drugs coud influence the progress of COVID-19 due to the similiar target receptor. This study was aimed to evaluate the influence of ACEIs and ARBs to patients with COVID-19 and hypertension. This was a literature review study using literatures published in medical journal databases such as PubMed and ClinicalKey. The results obtained 10 literatures that fulfilled the inclusion and exclusion criteria. These ten literatures stated that there was no influence of using ACEIs and ARBs in COVID-19 patients. In conclusion, ACEIs and ARBs do not influence the mortality or progresivity of COVID-19 disease and are suggested to be consumed continually.Keywords: ACEIs, ARBs, COVID-19, hypertension, hypertension in COVID-19 Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Pandemik coronavirus disease 2019 (COVID-19) dengan severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) sebagai etiologinya kebanyakan terjadi pada usia tua serta yang memiliki penyakit komorbid, salah satu yang tersering ialah hipertensi. Obat lini pertama yang biasa digunakan untuk hipertensi yaitu angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI) dan angiotensin receptor blockers (ARB) dikatakan dapat memengaruhi perkembangan penyakit COVID-19 karena memiliki reseptor atau tempat kerja yang mirip. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan ACEI dan ARB pada pasien COVID-19 dengan hipertensi. Jenis penelitian ialah literature review dengan menggunakan literatur-literatur yang dipublikasi dalam database jurnal kedokteran PubMed dan ClinicalKey sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil penelitian mendapatkan 10 literatur; kesemuanya menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh penggunaan ACEI dan ARB terhadap pasien COVID-19. Simpulan penelitian ini penggunaan ACEI dan ARB tidak memengaruhi mortalitas maupun progresivitas penyakit COVID-19 dan disarankan untuk tetap dilanjutkan.Kata kunci: ACEI, ARB, COVID-19, hipertensi, hipertensi pada COVID-19
Gambaran Tingkat Pengetahuan tentang Pterygium pada Pengendara Bentor di Kecamatan Mananggu Ama, Dewinta P.; Manoppo, Rillya D. P.; Supit, Wenny P.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31706

Abstract

 Abstract: Pterygium is a degenerative and invasive fibrovascular tissue growth in bulbar conjunctiva triggered by ultraviolet rays, therefore, outdoor activities for a long period may increase the risk of pterygium. This study was aimed to obtain an overview of knowledge levels regarding pterygium among bentor drivers at Mananggu District. This was a descriptive and survey study. Samples were 36 respondents who met the inclusion criteria, collected by using the accidental sampling technique. Data of respondents were obtained by using questionnaires of 10 questions related to pterygium and then were analyzed by using the univariate analysis. The results showed that 8 respondents (22.2%) had good knowledge level, 14 respondents (38.9%) had fair knowledge level, and 14 respondents (38.9%) had poor knowledge level. In conclusion, most of bentor drivers at Mananggu district did not have good knowledge level regarding pterygiumKeywords: pterygium, knowledge level, bentor drivers Abstrak: Pterigium merupakan suatu pertumbuhan jaringan fibrovaskular pada konjungtiva bulbar yang bersifat degeneratif dan invasif. Faktor utama pemicu terjadinya pterigium ialah sinar ultraviolet sehingga beraktivitas diluar ruangan dalam waktu yang cukup lama dapat meningkatkan risiko terjadinya pterigium. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tingkat pengetahuan tentang pterigium pada pengendara bentor di Kecamatan Mananggu. Jenis penelitian ialah survei deskriptif. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik accidental sampling dan diperoleh 36 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Data penelitian diperoleh melalui kuesioner yang berisi 10 pertanyaan terkait pterigium dan dianalisis secara univariat. Terdapat 8 responden (22,2%) memiliki tingkat pengetahuan baik mengenai pterigium, 14 responden (38,9%) memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan 14 responden (38,9%) memiliki tingkat pengetahuan kurang. Simpulan penelitian ialah sebagian besar pengendara bentor di Kecamatan Mananggu belum memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai pterigiumKata kunci: pterigium, tingkat pengetahuan, pengendara bentor
Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil dalam Pencegahan Anemia pada Kehamilan di Indonesia Devi, Delviana; Lumentut, Anastasia M.; Suparman, Eddy
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32415

Abstract

Abstract: The level of knowledge and behavior of pregnant women regarding anemia during pregnancy affects how they maintain their pregnancies, therefore, the occurrence of anemia during pregnancy can be prevented. This study was aimed to obtain the knowledge and attitudes of pregnant women in preventing anemia in pregnancy in Indonesia. This was a literature review study by using four databases, as follows: Pubmed, ClinicalKey, ScienceDirect, and Google Scholar. Keywords used were anemia AND pregnant woman AND knowledge OR attitude AND Indonesia in Pubmed, ClinicalKey, and ScienceDirect; and anemia AND pregnant women AND knowledge AND attitudes in Google Scholar. There were 11 literatures selected in this study. According to the knowledge of pregnant women about anemia, five literatures showed that the majority of pregnant women had sufficient knowledge, the other four literatures showed poor knowledge, while good knowledge was obtained in two literatures. According to attitude, seven studies got positive attitudes, three studies got negative attitudes, and one study got the same number of positive and negative attitudes. In conclusion, the majority of pregnant women in several regions in Indonesia have sufficient knowledge about anemia and its prevention, and have a positive attitude towards anemia prevention in pregnancy.Keywords: knowledge, attitudes, pregnant women, anemia. Abstrak: Tingkat pengetahuan dan perilaku ibu hamil mengenai anemia saat kehamilan berpengaruh terhadap cara ibu hamil menjaga kehamilannya sehingga dapat membantu dalam mencegah anemia selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap ibu hamil dalam pencegahan anemia pada kehamilan di Indonesia. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian literatur menggunakan empat database yaitu Pubmed, ClinicalKey, ScienceDirect dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu anemia AND pregnant woman AND knowledge OR attitude AND Indonesia pada Pubmed, ClinicalKey, dan ScienceDirect, dan menggunakan kata kunci anemia AND ibu hamil AND pengetahuan AND sikap pada Google Scholar. Hasil seleksi mendapatkan 11 literatur yang diteliti. Hasil penelitian mendapatkan bahwa menurut pengetahuan ibu hamil mengenai anemia, lima penelitian menunjukkan mayoritas ibu hamil memiliki pengetahuan cukup, empat literatur lainnya menunjukkan hasil pengetahuan buruk, sedangkan hasil pengetahuan baik didapatkan pada dua penelitian. Menurut sikap, tujuh penelitian mendapat hasil sikap positif, tiga penelitian mendapat hasil sikap negatif, dan satu penelitian mendapat hasil yang sama banyak untuk positif dan negatif. Simpulan penelitian ini ialah mayoritas ibu hamil di beberapa daerah di Indonesia memiliki pengetahuan cukup mengenai anemia dan pencegahan, serta memiliki sikap positif terhadap pencegahan anemia pada kehamilan.Kata kunci: pengetahuan, sikap, ibu hamil, anemia
Efektivitas Pengobatan Topikal pada Pitiriasis Versikolor Pusung, Andreas V.; Suling, Pieter L.; Niode, Nurdjannah J.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.1.2021.32119

Abstract

Abstract: Pityriasis versicolor is a chronic mild superficial fungal infection of the skin due to lipophilic fungi Malassezia. It commonly affects the face, neck, abdomen, proximal extremities, axilla, groin, and genitalia. The occurrence of this disease is not influenced by sex, albeit, age influences its incidence since it is more common in adolescents and young adults.Therefore, an effective, safe, and affordable treatment should be considered. The first-line therapy for pity-riasis versicolor is topical treatment, classified into specific and non-specific antifungal agents. This study was aimed to determine the efficacy of topical treatment in pityriasis versicolor. This was a literature review study using three databases, namely PubMed, ClinicalKey, and Google Scholar and the keywords of "topical treatment AND pityriasis versicolor". The results obtained 10 literatures that fulfilled the inclusion and exclusion criteria. Theseliteratures discussed about the efficacy of topical treatment in patients with pityriasis versicolor based on clinical and mycological cure rate and the highest percentage was more than 80% in each study. In conclusion, topical treatment was effective for pityriasis versicolor.Keywords: topical treatment, pityriasis versicolor Abstrak: Pitiriasis versikolor adalah penyakit jamur superfisial ringan akibat infeksi kulit kronis oleh jamur lipofilik genus Malassezia. Infeksi ini biasanya ditemukan pada wajah, leher, perut, ektremitas proksimal, aksila, lipat paha, dan genitalia. Kejadian penyakit ini tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, tetapi dapat dipengaruhi oleh usia, yaitu lebih banyak terjadi pada remaja dan dewasa muda. Pengobatan topikal merupakan terapi lini pertama untuk pitiriasis versikolor dan dibagi menjadi agen antijamur nonspesifik dan agen antijamur spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengobatan topikal pada pitiriasis versikolor. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu “topical treatment AND pityriasis versicolor”.Hasil seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi mendapatkan 10 literatur. Kasjian literatur penelitian menunjukkan efektivitas penggunaan pengobatan topikal pada pitiriasis versikolor berdasarkan penyembuhan klinis maupun penyembuhan mikologis dengan persentase tertinggi mencapai angka >80% pada masing-masing literatur. Simpulan penelitian ini ialah pengobatan topikal pada pitiriasis versikolor terbukti efektif.Kata kunci: pengobatan topikal, pitiriasis versikolor
Diagnosis dan Tatalaksana Terkini Gagal Jantung Akut Saroinsong, Lifi; Jim, Edmond L.; Rampengan, Starry H.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31857

Abstract

Abstract: Acute heart failure (AHF) is an emergency condition with rapid onset that requires immediate treatment. Many factors play a role in the incidence of AHF thus providing various of clinical manifestation. Prevalence and mortality of AHF is still a major health problem in Asia with the highest prevalence rate. This study intended to determine the tests needed to establish a diagnosis and recent treatment needed for AHF. This was a literature review study. The results showed the development of diagnosis and management of AHF based on the class of recommendation and levels of evidence updated by ESC 2016 and ACC/AHA/HFSA 2017. Furthermore, 4 journals discussed the development of troponin as biomarkers, multiple biomarkers, miRNA, and Lung Ultrasound (LUS). The development in AHF management was using tolvaptan, serelaxin, and neuromuscular electrical stimulation (NMES). In conclusion, diagnosis through anamnesis, physical examination, and supporting AHF can be done by understanding the causes of fluid retention and decreased cardiac output of the patient, therefore, it can provide pharmacological and non-pharmacological treatment appropriately.Keywords: diagnosis, treatment, acute heart failure Abstrak: Gagal jantung akut (GJA) merupakan kondisi darurat dengan tipe serangan yang cepat sehingga membutuhkan penanganan segera. Banyak faktor yang berperan dalam kejadian GJA sehingga memberikan gambaran klinis yang beragam. Prevalensi dan mortalitas GJA di dunia terus mengalami peningkatan dan masih merupakan masalah kesehatan utama di Asia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis GJA dan perkembangan tatalaksana terkini GJA. Jenis penelitian ialah literature review. Hasil penelitian mendapatkan perkembangan diagnosis dan tatalaksana GJA berdasarkan kelas rekomendasi dan tingkatan bukti yang diperbaharui oleh ESC 2016 dan ACC/AHA/HFSA 2017. Selain itu, 4 jurnal membahas perkembangan penggunaan biomarker troponin, biomarker multipel, miRNA, serta USG Paru. Perkembangan tatalaksana GJA menggunakan tolvaptan, serelaksin, dan neuromuscular electrical stimulation (NMES). Simpulan penelitian ini ialah penegakan diagnosis lewat anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang GJA dapat dilakukan dengan memahami penyebab retensi cairan dan penurunan curah jantung pasien sehingga dapat memberikan tatalaksana farmakologis dan non-farmakologis dengan tepat.Kata kunci: diagnosis, tatalaksana, gagal jantung akut 

Page 1 of 4 | Total Record : 35