Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PENGARUH BRISK WALKING (JALAN CEPAT) TERHADAP FUNGSI HATI PADA OBESITAS SENTRAL Nuryanto, Heri; Wantania, Frans E. N.; Waleleng, B. J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10954

Abstract

Abstract: Central obesity is considered as a risk factor that strongly associated with several chronic diseases. Men with waist circumference ≥ 90 cm and women with waist circumference ≥80 cm are stated as central obesity. This study aimed to determine the effect of brisk walking on liver function in central obesity. This was an experimental field study with a non-randomized pre-post one group test and control group. This study used consecutive sampling method. There were 30 samples divided into two groups; 15 samples were given intervention and 15 samples as the control group. Data were analyzed with Wilcoxon signed ranks test.   The results showed that brisk walking for 1 month decreased the SGPT and SGOT levels, however, statistically there was no significant difference before and after intervention with a p value >0.05. Conclusion: There was no significant influence of brisk walking on liver function in central obesity. Keywords: central obesity, liver function, brisk walking  Abstrak: Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang berkaitan erat dengan beberapa penyakit kronis. Laki-laki dengan lingkar pinggang ≥90 cm atau perempuan dengan lingkar pinggang ≥80 cm dinyatakan sebagai obesitas sentral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh brisk walking (jalan cepat) terhadap fungsi hati pada obesitas sentral.  Metode penelitian ini yaitu eksperimental lapangan dengan rancangan non – randomized pre-post test with control. Sampel ditentukan dengan teknik pengambilan sampel konsekutif sampling. Terdapat 30 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok yakni 15 sampel yang diberi perlakuan dan 15 sampel sebagai kontrol. Data dianalisis dengan SPSS 20 dan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian memperlihatkan terjadi penurunan kadar enzim hati SGPT dan SGOT pada sampel yang melakukan brisk walking selama 1 bulan tetapi secara statistik tidak ada perbedaan bermakna sebelum dan sesudah mendapatkan perlakuan dengan nilai p > 0,05.  Simpulan: Tidak terdapat pengaruh bermakna dari brisk walking (jalan cepat) terhadap fungsi hati pada obesitas sentral. Kata kunci: obesitas sentral,  fungsi hati,  brisk walking
HUBUNGAN TAPSE DENGAN GGT PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK DI BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM RSUP PROF DR. R. D. KANDOU MANADO Patandean, Alvionita; Wantania, Frans E. N.; Rotty, Luciana
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10978

Abstract

Abstract: Right ventricular dysfunction is associated with chronic heart failure prognosis. TAPSE is one of the right ventricular systolic function tests which is routinely performed and adds prognostic information in patients with chronic heart failure (CHF). Gamma-glutamyl transferase (GGT) is a liver enzyme used to assess hepatobiliary dysfunction with high sensitivity. GGT is related to the severity of CHF and right ventricular dysfunction. This study aimed to determine the relationship of TAPSE and GGT in patients with CHF. This was an observational analytical study with a cross sectional design, conducted to CHF patients at Internal Medicine Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results showed 25 samples, aged 30-79 years. There were more males than females. The bivariate analysis showed the value of r = -0.212 and P = 0.156. Conclusion: There was no association between TAPSE and GGT in patients with chronic heart failure. Keywords: CHF, TAPSE, GGT, right ventricular dysfunction Abstrak: Disfungsi ventrikel kanan berhubungan dengan prognosis jangka panjang gagal jantung. TAPSE merupakan salah satu pemeriksaan fungsi sistolik ventrikel kanan yang rutin dilakukan dan menambah informasi prognostik pada pasien gagal jantung kronik (CHF). Gamma-glutamyl transferase (GGT) merupakan enzim hati untuk menilai fungsi hepatobiliaris dengan sensitifitas tinggi. GGT berhubungan dengan beratnya CHF dan disfungsi ventrikel kanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan TAPSE dan GGT pada pasien gagal jantung kronik. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang terhadap pasien gagal jantung kronik di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP Prof. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian mendapatkan 25 sampel, usia 30-79 tahun. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai r = -0,212 dan nilai P = 0,156 >0,05. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara TAPSE dan GGT pada pasien gagal jantung kronik.Kata kunci: gagal jantung kronik, TAPSE, GGT, disfungsi ventrikel kanan
Hubungan Lama Berobat dan Keteraturan Berobat dengan Kadar HbA1c Pasien DM Tipe 2 di Poli Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Sumakul, Ridhel G.; Pandelaki, Karel; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.23540

Abstract

Abstract: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is caused due to insulin target cells fail or are unable to respond to insulin normally (insulin resistance). Acute or chronic complications can occur in DM patients. Complications of DM can be prevented by optimal control of glycemia, in this case, the concentration of blood glucose and HbA1c. Regularity in medication consumption is important to prevent the occurence of diabetic complications. This study was aimed to determine the relationship of the duration and the regularity of diabetes treatment with HbA1c levels in T2DM patients at Endocrinology Polyclinic at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design, using paients’ medical record data. There were 60 samples obtained by using purposive sampling technique. The results of Chi-Square test showed that there was no corelation between duration of treatment and HbA1c level (P=0.111) and there was no corelation between the regularity of treatment and HbA1c level (P=0.224). Conclusion: There was no relationship between the duration and regularity of treatment with HbA1c levels of T2DM patients in the Endocrinology Polyclinic at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado.Keywords: T2DM, duration of treatment, regularity of treatment, HbA1c Abstrak: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) disebabkan karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespon insulin secara normal (resistensi insulin). Komplikasi yang terjadi pada pasien DM dapat bersifat akut maupun kronis. Komplikasi DMT2 dapat dicegah dengan kontrol glikemia yang optimal yaitu terkendalinya konsentrasi glukosa dalam darah dan HbA1c. Keteraturan minum obat pada pasien DM merupakan hal penting dalam mencegah terjadinya komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama berobat diabetes dan keteraturan berobat dengan kadar HbA1c pasien DMT2 di Poli Endokrin RSUP Prof . Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang, menggunakan data rekam medik. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 60 pasien. Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan lama berobat DMT2 dengan kadar HbA1c (P=0,111). Juga tidak terdapat hubungan keteraturan berobat dengan kadar HbA1c (P=0,224). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara lama berobat dan keteraturan kunjungan berobat dengan kadar HbA1c pasien DM tipe 2 di Poli Endokrin RSUP Prof . Dr. R. D. Kandou Manado.Kata kunci: DMT2, lama berobat, keteraturan berobat, HbA1c
Seorang Pasien Penyakit Jantung Koroner dengan “Silent Angina” Wowor, Ribka E.; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.1.2019.23189

Abstract

Abstract: Coronary artery disease (CAD) is the leading cause of death for men and women in the United States. Prevalence of CAD in Indonesia in 2013 based on doctor’s diagnosis was 0.5%. Clinical manifestations of CAD may vary from asymptomatic (silent angina) to sudden cardiac death. Episodes of this asymptomatic myocardial ischemia were approximately 25-50% in CAD. Diagnostic criteria of CAD are clinical manifestation, laboratory examination, ECG, and cardiac catheterization. Management of CAD patients consists of lifestyle modification, pharmacological therapy, and myocardial revascularization. We reported a male aged 50 years with reccurent epigastric pain. Echocardiography resulted in mild MR cc annulus dilatation with ischemia as the differential diagnosis. The angiography revealed 80% stenosis in the proximal RCA and distal RCA as well as 70% stenosis in mid LAD. A percutaneous coronary intervention (PCI) was performed on this patient with BMS stent in mid RCA, DES stent in proximal RCA, and POBA in mid LAD. The patients was treated with Thrombo aspilets, clopidogrel, simvastatin, lisinopril, and Nitrokaf retard. The general condition of the patient was good without any complaint. Modification of changeable risk factors had been done. The five-year survival rate of this patient was 70% with dubia prognosis.Keywords: coronary artery disease, silent angina Abstrak: Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian pria dan wanita di Amerika Serikat. Manifestasi klinis PJK dapat bervariasi mulai dari tanpa gejala (silent angina) hingga kematian mendadak. Angka kejadian silent angina berkisar 25%-50% dari keseluruhan PJK. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan antara lain EKG, ekokardiografi, enzim jantung, CT kardiak, treadmill test, hingga pemeriksaan invasif seperti kateterisasi jantung. Penatalaksanaan PJK meliputi penangangan non farmakologik dan farmakologik. Penanganan non farmakologik berupa modifikasi gaya hidup, sedangkan terapi farmakologik berupa obat-obatan sampai pada revaskularisasi jantung. Kami melaporkan seorang penderita PJK laki-laki berusia 50 tahun dengan keluhan utama nyeri ulu hati hilang timbul. Hasil ekokardiografi menyimpulkan MR mild cc dilatasi anulus dd iskemik. Pemeriksaan angiografi mendapatkan stenosis 80% di proksimal RCA, dan distal RCA, stenosis 70% di mid LAD. Pada penderita ini dilakukan intervensi koroner perkutan dan dilakukan pemasangan stent BMS pada mid RCA, stent DES pada proksimal RCA, POBA pada mid LAD. Pengobatan yang diberikan ialah Thrombo aspilets, clopidogrel, simvastatin, lisinopril, dan Nitrokaf retard. Keadaan umum penderita baik, keluhan menghilang dan telah dilakukan upaya modifikasi terhadap faktor risiko yang bisa diubah. Five-year survival rate penderita ini 70% dengan prognosis dubia.Kata kunci: penyakit jantung koroner, silent angina
Prehipertensi sebagai Prediktor Perlemakan Hati Non Alkoholik pada Obesitas Sentral Usia Dewasa Muda Dewantara, Fadil; Wantania, Frans E. N.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 11, No 2 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.11.2.2019.23326

Abstract

Abstract: Fatty liver is one of the early complications of obesity in adolescents. This state may develop to steatohepatitis and liver cirrhosis in the future. Recent studies show the association between prehypertension and left ventricular hypertrophy in adolescents. This study was aimed to determine prehypertension as a risk factor of non alcoholic fatty liver disease (NAFLD) in central obesity. This study was conducted at the Department of Internal Medicine Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado. There were 50 medical students (undergraduate and postgraduate) aged 20-40 years of either sex included in this study. Blood pressure, body weight, and waist circumferences were measured. According to JNC-7 guidelines, a systolic blood pressure of 120 to 139 mmHg and/or diastolic blood pressure of 80 to 89 mmHg is considered as prehypertension. The results showed that of 25 subjects with NAFLD, there were 18 subjects with prehypertension, while only 9 subjects with prehypertension in non NAFLD group. There was a significant association between prehypertension and the incidence of NAFLD in central obesity (OR=4,571; CI 95%=1,383-15,109; P=0,011). Conclusion: Prehypertension is a risk factor of NAFLD in young adults with central obesity. We may use prehypertension to predict the occurence of NAFLD in young adults with central obesity.Keywords: prehypertension, fatty liver, central obesityAbstrak: Perlemakan hati merupakan salah satu komplikasi dini dari obesitas yang bisa terjadi sejak usia muda dan dapat berlanjut menjadi sirosis bila tidak segera ditangani. Penelitian terdahulu telah melaporkan adanya hubungan antara prehipertensi dengan pembesaran jantung kiri pada laki-laki usia dewasa muda dengan obesitas sentral. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah prehipertensi dapat dijadikan prediktor penyakit perlemakan hati non alkoholik (PPHNA) pada dewasa muda dengan obesitas sentral. Jenis penelitian ialah analitik dengan studi kohort retrospektif (case-control study). Penelitian dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Subyek penelitian ialah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (FK Unsrat) dan PPDS Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRAT dengan obesitas sentral (lingkar perut >90 cm). Diagnosis PPHNA ditegakkan oleh dua radiolog yang berbeda. Diagnosis prehipertensi ditegakkan bila tekanan darah sistolik ≥130 mmHg tetapi <140 mmHg, dan atau tekanan darah diastolik >85 mmHg tetapi < 90 mmHg. Dari 50 subyek penelitian ini, 25 di antaranya dengan PPHNA dan 25 non PPHNA sebagai kelompok kontrol. Pada kelompok PPHNA terdapat 18 subyek dengan prehipertensi dan 7 subyek normotensi. Pada kelompok non PPHNA terdapat 9 subyek dengan prehipertensi dan sisanya dengan normotensi. Uji chi square terhadap hubungan antara prehipertensi dengan kemungkinan terjadi PPHNA pada obesitas sentral mendapatkan adanya hubungan bermakna antara prehipertensi dengan kejadian PPHNA pada subyek (OR=4,571; CI 95%=1,383-15,109; P=0,011). Simpulan: Prehipertensi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya NAFLD pada obesitas sentral usia dewasa muda. Peningkatan ringan tekanan darah dapat dijadikan prediktor terjadinya PPHNA pada obesitas sentral.Kata kunci: prehipertensi, perlemakan hati, obesitas sentral
Pengaruh penggunaan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI) dan angiotensin receptor blocker (ARB) pada pasien coronavirus disease 2019 (covid-19) dengan hipertensi Linelejan, Briando; Umboh, Octavianus; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31963

Abstract

Abstract: Hypertension is considered as one of the highest death-caused disease worldwide. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) pandemic caused by severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) most frequently occurred in elderly and those who had comorbid diseases, one of them is hypertension. The first line drugs that are usually used in hypertension are angiotensin converting enzyme inhibitors (ACEIs) and angiotensin receptor blockers (ARBs). It is assumed that these drugs coud influence the progress of COVID-19 due to the similiar target receptor. This study was aimed to evaluate the influence of ACEIs and ARBs to patients with COVID-19 and hypertension. This was a literature review study using literatures published in medical journal databases such as PubMed and ClinicalKey. The results obtained 10 literatures that fulfilled the inclusion and exclusion criteria. These ten literatures stated that there was no influence of using ACEIs and ARBs in COVID-19 patients. In conclusion, ACEIs and ARBs do not influence the mortality or progresivity of COVID-19 disease and are suggested to be consumed continually.Keywords: ACEIs, ARBs, COVID-19, hypertension, hypertension in COVID-19 Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Pandemik coronavirus disease 2019 (COVID-19) dengan severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) sebagai etiologinya kebanyakan terjadi pada usia tua serta yang memiliki penyakit komorbid, salah satu yang tersering ialah hipertensi. Obat lini pertama yang biasa digunakan untuk hipertensi yaitu angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI) dan angiotensin receptor blockers (ARB) dikatakan dapat memengaruhi perkembangan penyakit COVID-19 karena memiliki reseptor atau tempat kerja yang mirip. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan ACEI dan ARB pada pasien COVID-19 dengan hipertensi. Jenis penelitian ialah literature review dengan menggunakan literatur-literatur yang dipublikasi dalam database jurnal kedokteran PubMed dan ClinicalKey sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil penelitian mendapatkan 10 literatur; kesemuanya menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh penggunaan ACEI dan ARB terhadap pasien COVID-19. Simpulan penelitian ini penggunaan ACEI dan ARB tidak memengaruhi mortalitas maupun progresivitas penyakit COVID-19 dan disarankan untuk tetap dilanjutkan.Kata kunci: ACEI, ARB, COVID-19, hipertensi, hipertensi pada COVID-19
Hubungan Performa Fisik dengan Prognosis Pasien Gagal Jantung Palilati, Nurfadhilah H.; Wantania, Frans E. N.; Rotty, Linda W. A.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32116

Abstract

Abstract: Heart failure is a serious health problem and a leading cause of death, illness, and poor quality of life. Although the diagnosis and treatment of this disease has significant progress, the prognosis is still poor. The physical performance of patients with heart failure, for example, measured by a 6-minute walking test can be used to assess the functional capacity and assess the prognosis of the patient. This study was aimed to determine the relationship between physical performance and prognosis of patients with heart failure. This was a literature review study using literatures obtained from three databases, namely Pubmed, Science Direct, and Google Scholar. The keywords used in searching the literatures were "physical performance OR 6 minutes walking test AND heart failure prognosis" and their variations and translations. After the selection, 10 literatures were reviewed. The results showed that any decreases in distance of the 6-minute walking test and in walking speed would increase the risk of rehospitalization and mortality as reported in nine literatures. In conclusion, there was a significant relationship between physical performance and prognosis of patients with heart failure.Keywords: physical performance, prognosis of heart failure Abstrak: Gagal jantung merupakan masalah kesehatan yang serius dan penyebab utama kematian, kesakitan, serta kualitas hidup yang buruk. Meskipun diagnosis dan pengobatan penyakit ini telah mengalami banyak kemajuan namun prognosisnya masih buruk. Performa fisik pasien gagal jantung contohnya diukur dengan tes jalan 6 menit dapat digunakan untuk menilai kapasitas fungsional dan menilai prognosis dari pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan performa fisik dengan prognosis pasien gagal jantung. Jenis penelitian ialah literature review menggunakan  literatur yang diperoleh dari tiga database yaitu Pubmed, Science Direct. dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian artikel yaitu “physical performance OR 6 minutes walking test AND heart failure prognosis” dan berbagai variasi serta terjemahan. Hasil seleksi, mendapatkan 10 literature yang dikaji. Hasil penelitian mendapatkan bahwa setiap penurunan jarak yang ditempuh dalam uji jalan 6 menit dan penurunan waktu kecepatan berjalan dapat meningkatkan risiko rehospitalisasi dan kematian yang dilaporkan pada 9 literatur. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara performa fisik dengan prognosis pada pasien gagal jantung.Kata kunci: performa fisik, prognosis gagal jantung 
Gejala Gastrointestinal pada Pasien COVID-19 Silangen, Kristianty T; Waleleng, Bradley J; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32851

Abstract

Abstract: Patients suffering from corona virus desease of 2019 (COVID-19) could have gastro-intestinal symptoms such as diarrhea, vomiting, and stomach pain. Studies show that human receptor for COVID-19 namely the angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) receptors are also expressed in small intestinal epithelial cells. This study was aimed to determine the gastrointestinal symptoms often found in patients with COVID-19. This was a literature review study using data-bases of Google Scholar, the keywords were (“Covid” AND “gastrointestinal symptoms”), and filtering data by time 2019-2020. The results obtained 10 literatures that fulfilled the inclusion and exclusion criteria. The review obtained that viral infection causes changes in intestinal permeability. SARS-CoV was also identified in ileal and terminal colon biopsy. Gastrointestinal symptoms are accompanied by inflammation of the intestines. The highest percentage of gastrointestinal symptoms were anorexia, followed by diarrhea, nausea/vomiting, abdominal pain. Gastrointestinal symptoms could be the first symptoms or even the only symptoms that appeared in Covid-19 patients. Gastrointestinal symptoms were also associated by impaired hepatic function. In conclusion, gastrointestinal symptoms in Covid-19 patients had a relatively high prevalence, and often appeared as anorexia, diarrhea, nausea/vomiting, and abdominal pain. Some of these symptoms were related to the severe course of Covid-19. Impaired liver function also exacerbated these symptoms as well as a marker of a poor clinical course of Covid-19.  Keywords: COVID-19, gastrointestinal symptoms                                                                                            Abstrak: Penderita COVID-19 dapat disertai gejala gastrointestinal seperti diare, muntah, dan sakit perut. Studi menunjukkan bahwa reseptor manusia untuk COVID-19 yaitu reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) diekspresikan juga dalam sel epitel usus kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala gastrointestinal yang sering ditemukan pada pasien dengan COVID-19. Jenis penelitian ialah literature review yang menggunakan database Google Cendekia, dan kata kunci (“Covid” DAN “gejala gastrointestinal”) dengan filter rentang waktu tahun 2019-2020 Hasil penelitian mendapatkan 10 literatur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Kajian mendapatkan infeksi virus menyebabkan perubahan permeabilitas usus. SARS-CoV juga diidentifikasi pada biopsi ileum dan kolon terminal. Masalah usus dikaitkan dengan tingkat keparahan infeksi. Gejala gastrointestinal disertai dengan peradangan atau kerusakan usus. Beberapa penelitian menunjukkan persentase gejala gastrointestinal tertinggi ialah anoreksia, diikuti diare, mual/muntah, dan terakhir nyeri perut. Juga disebutkan bahwa gejala gastrointestinal dapat merupakan yang pertama muncul atau bahkan satu-satunya gejala pada pasien Covid-19. Gejala gastrointestinal juga dikaitkan dengan gangguan fungsi hati. Simpulan penelitian ini ialah gejala gastrointestinal pada pasien Covid-19 memiliki prevalensi yang relatif tinggi dan sering berupa anoreksia, diare, mual/muntah, dan nyeri perut. Beberapa gejala tersebut berhubungan dengan perjalanan Covid-19 yang berat. Gangguan fungsi hati juga turut memper-berat gejala tersebut sekaligus menjadi penanda perjalanan klinis yang buruk dari Covid-19.Kata kunci:  COVID-19, gejala gastrointestinal
Hubungan Kadar HbA1c dengan Nilai Ankle Brachial Index pada Lanjut Usia dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Samuel, Patricia G. M.; Wantania, Frans E. N.; Sedli, Bisuk P.
Medical Scope Journal Vol. 7 No. 1 (2025): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v7i1.58526

Abstract

Abstract: The prevalence of type 2 diabetes mellitus (T2DM) increases with aging and unhealthy lifestyles, especially after the age of 40 years. Hyperglycemia is a risk factor for atherosclerosis. Ankle brachial index (ABI) is an option for early diagnosis of this pathological condition because it is non-invasive, low cost, and easy to perform. This study aimed to determine the relationship between HbA1c level and ankle brachial index value ​​in elderly with T2DM. This was a quantitative study using a cross sectional approach. Samples were 30 elderly DMT2 patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during October –December 2023 that fulfilled the inclusion and exclusion criteria. Data of HbA1c were obtained from the patients’ medical records. Ankle brachial index was assessed using the Doppler ultrasound dan sphygmomanometer. The results showed a moderate and significant negative correlation between HbA1c level and ABI value ​​(r=-0.425; p=0.019). In conclusion, there is a relationship between HbA1c level and ABI value ​​in elderly T2DM patients. The higher the HbA1C level, the lower the ABI value. Keywords: HbA1c; ankle brachial index; type 2 diabetes mellitus; elderly    Abstrak: Prevalensi diabetes melitus tipe 2 (DMT2) meningkat sejalan dengan proses penuaan dan gaya hidup yang tidak sehat terutma pada usia di atas 40 tahun. Hiperglikemi ialah salah satu faktor risiko terjadinya aterosklerosis. Ankle brachial index (ABI) merupakan pilihan untuk diagnosis dini pada keadaan patologi ini karena bersifat non-invasive, murah, dan mudah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar HbA1c dengan nilai Ankle Brachial Index pada subjek lanjut usia (lansia) dengan DMT2. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian ialah 30 pasien lansia DMT2 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama Oktober –Desember 2023 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data HbA1c diperoleh dari data rekam medik pasien. Penilaian ABI menggunakan doppler ultrasound dan sfigmomanometer. Hasil penelitian mendapatkan korelasi negatif kekuatan sedang yang bermakna pada hubungan antara kadar HbA1c dengan nilai ABI (r=-0,425; p=0,019). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara kadar HbA1c dengan nilai ABI pada pasien lansia dengan DMT2. Semakin tinggi kadar HbA1c, maka semakin rendah nilai ABI. Kata kunci: HbA1c; ankle brachial index; diabetes melitus tipe 2; lanjut usia
Hubungan Kualitas Tidur dengan Tekanan Darah pada Penyandang Hipertensi di Kelurahan Paslaten Satu Lingkungan 1 Pitoy, Michael H.; Awaludin, Muhammad; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.53864

Abstract

Abstract: Hypertension is a condition of persistent increase in blood pressure in repeated examinations. Cases of hypertension is expected to increase each year. Various factors can result in the increase of blood pressure, including sleep quality. This study aimed to identify the relationship between sleep quality and blood pressure in people with hypertension at Kelurahan Paslaten Satu Lingkungan 1. This was a quantitative study with a cross-sectional design. Sample were obtained by using consecutive sampling method. Primary data were collected directly using the Pittsburgh Sleep Quality Index questionnaire and blood pressure test, and then were analyzed using the chi-square test.  The results obtained 32 people with hypertension as respondents. The chi-square test showed no relationship between sleep quality and blood pressure among the respondents (p=1.000). However, data analysis showed that clinically blood pressure in hypertensive people with poor sleep quality was higher compared with those that had good sleep quality, with mean differences of 15.05 mmHg in systolic blood pressure and 6.37 mmHg in diastolic blood pressure. In conclusion, people with hypertension need to maintain good sleep quality to achieve controlled blood pressure. Keywords: hypertension; sleep quality; blood pressure    Abstrak: Hipertensi merupakan kondisi meningkatnya tekanan darah yang menetap pada pemeriksaan berulang. Kasus hipertensi diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya. Berbagai faktor dapat memengaruhi peningkatan tekanan darah, salah satunya ialah kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada penyandang hipertensi di Kelurahan Paslaten Satu Lingkungan 1. Jenis penelitian ialah analitik kuantitatif dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh dengan consecutive sampling dan menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index serta pemeriksaan tekanan darah. Analisis statistik data menggunakan chi-square, Hasil penelitian mendapatkan 32 penyandang hipertensi sebagai responden. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa kualitas tidur tidak memiliki hubungan dengan tekanan darah responden (p=1,000). Namun, analisis data menunjukkan secara klinis tekanan darah penyandang hipertensi dengan kualitas tidur yang buruk lebih tinggi daripada penyandang hipertensi dengan kualitas tidur yang baik, dengan perbedaan rerata tekanan darah sistolik sebesar 15,06 mmHg dan diastolik sebesar 6,37 mmHg. Simpulan penelitian ini ialah penyandang hipertensi perlu memerhatikan kualitas tidur untuk mencapai tekanan darah terkontrol. Kata kunci: hipertensi; kualitas tidur; tekanan darah