cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik" : 12 Documents clear
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN PROTEIN DAN ZAT BESI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER ANGKATAN 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Matayane, Shanon G.; Bolang, Alexander S. L.; Kawengian, Shirley E. S.
e-Biomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i3.5742

Abstract

Abstract: Hemoglobin is the oxygen-carrying compound in red blood cells. Someone hemoglobin level scan be affected by several other factors: age, gender, systemic disease and diet. Nutrient intake plays a role in the formation of redblood cells. Disruption of the formation of redblood cells could be due to lack of food consumed contains essential nutrients such as iron, folic acid, vitamin B12, protein, vitamin C and other important nutrients. This study aims to determine the relation ship between the intake of protein and iron in hemoglobin level student of medical education force in 2013 Sam Ratulangi University School of Medicine. The design is an analytical study using cross-sectional approach. The study sample is determined and carried out systematic random sampling proportional to the gender of men and women and who met the inclusion criteria sample amounted to75 people. Data were collected through questionnaires and food recall by measuring hemoglobin levels, then the data were analyzed using the Spearman rank test. Protein intake is less 52.0%, 16.0% protein and enough protein intake over 32.0%. Iron intake less than 98.7% and 1.3% more protein intake. Normal hemoglobin levels of 93.3% and 6.7% is not normal. Conclusion: The results of the study with Spearman rank test for protein and hemoglobin levels obtained p-value is 0.138 (p>α=0.05) which means that there is no significant relationship between iron intake with hemoglobin levels. For intake of iron and hemoglobin levels obtained p value is 0.198 (p>α=0.05), which means there is nosignificant relationship between iron intake with hemoglobin levels. Keywords: Proteinintake, intake ofIron, Hemoglobin.   Abstrak: Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Kadar hemoglobin seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor lain: usia, jenis kelamin, penyakit sistemik dan pola makan. Asupan zat gizi berperan dalam pembentukan sel darah merah. Terganggunya pembentukan sel darah merah bisa disebabkan makanan yang dikonsumsi kurang mengandung zat gizi penting seperti besi, asam folat, vitamin B12, protein, vitamin C dan zat gizi penting lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan protein dan zat besi dengan kadar hemoglobin mahasiswa program studi pendidikan dokter angkatan 2013 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Rancangan penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini ditentukan secara systematic random sampling dan dilakukan proposional untuk jenis kelamin laki-laki dan perempuan dan sampel yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 75 orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner food recall dan melalui pengukuran kadar hemoglobin, kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji spearman rank. Asupan protein yang kurang 52,0%, asupan protein cukup 16,0% dan asupan protein lebih 32,0%. Asupan zat besi kurang 98,7% dan asupan protein lebih 1,3%. Kadar hemoglobin normal 93,3% dan 6,7% tidak normal. Simpulan: hasil penelitian dengan uji spearman rank untuk asupan protein dan kadar hemoglobin diperoleh nilai p yaitu 0,138 (p>α=0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan zat besi dengan kadar hemoglobin. Untuk asupan zat besi dan kadar hemoglobin diperoleh nilai p yaitu 0,198 (p>α=0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan zat besi dengan kadar hemoglobin. Kata kunci: Asupan Protein, Asupan Zat Besi, Hemoglobin.
KEMAMPUAN ANALISIS TERHADAP NILAI MODUL BIOFISIKA MAHASISWA ANGKATAN 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Kindangen, Randy V. S.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Engka, Joice N. A.
e-Biomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i3.5739

Abstract

Abstract: Analytical skill is the ability to visualize, express, and solve problems or concepts both simple and complex and make the right decisions. Studies showed positive effects of analytical skill onacademic achievement and learning process. This study aims to determine the effect of analytical skills on academic achievement using Biophysics module grade as a reference. The study is an observational analytic with cross-sectional study method that was conducted to students ofFaculty of Medicine of Sam Ratulangi University. Data of analytical skill were obtained by using Intelligence Structure Test (IST). The data then analyzed with Kendall's tau b correlation test. Statistical test of Kendall's tau b shows the correlation coefficient of 0.120 and p = 0.206 (> 0.05), which means there is no significant effect of analytical skill on Biophysics module score. Keywords: Analytical skill, biophysics module, academic achievement     Abstrak: Kemampuan analisis adalah kemampuan untuk memvisualisasikan, mengekspresikan, dan memecahkan masalah atau konsep baik yang kompleks maupun sederhana dan membuat keputusan yang tepat.  Terdapat penelitian yang menunjukkan pengaruh positif kemampuan analisis terhadapprestasi belajar dan proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemampuan analisis terhadap prestasi belajar dengan menggunakan nilai modul Biofisika sebagai acuan.Penelitian bersifat observasional analitik dengan metode penelitian potong lintang yang dilakukan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.Data kemampuan analisis diperoleh dengan menggunakan Intelligenz Structure Test (IST). Data yang didapat kemudian dianalisa dengan uji korelasi Kendall’s tau b. Uji statistik Kendall’s tau b menunjukkan correlation coefficientsebesar 0,120 dan p = 0,206 (>0,05) yang berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan oleh kemampuan analisis terhadap nilai modul Biofisika. Kata Kunci: Kemampuan analisis, modul biofisika, prestasi belajar
GAMBARAN PROSES RADANG LUKA POSTMORTEM PADA HEWAN COBA Angel, Patricius Geraldo; Kalangi, Sonny; Wangko, Sunny
eBiomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.2.3.2014.5899

Abstract

Abstract: Skin is the largest and heaviest organ in human body. Its role as a barrier and its location at the surface of human body make it susceptible to trauma which in consequence to wound formation. Human body responses to wound by initiating wound healing process. The fundamental aspect of this process consists of four phases: inflammation, initiation, proliferation, and remodeling. In order to obtain sucessfull wound healing all four phases must occur in a proper sequence and a time frame. Several factors have been known to interfere one or more of these phases. In postmortem condition, wound healing can still occur but the process is different compared to those in antemortem condition. A domestic pig was used on account of the similarity in skin structure and histophysiology with human being to observe the inflammatory process in postmortem wounds. This was an experimental descriptive research. Cut wounds were made at the back of the postmortem pig then skin tissues were taken and reserved in series of time to observe histological features of wound healing process. The results showed that an increase of cells’ number in dermis layer of the skin was observed 15 minutes after the cut wounds. The increase of cells’ number in the first wounds reached its peak at 150 minutes postmortem, meanwhile the increase of cells’ number in second wounds reached its peak at 45 minutes postmortem, 90 minutes after the cut wounds were made. Moreover, the increase of cells’number could be observed until 3 hours postmortem. It was concluded that the inflammatory process of wound healing observed by increases of cells’ number still occured postmortem for a certain time. Keywords: Inflammatory process, postmortem, wound.     Abstrak: Kulit merupakan organ terbesar dan terberat dari tubuh manusia. Keberadaannya yang membungkus seluruh permukaan tubuh sebagai fungsi proteksi menyebabkan kulit rentan terhadap trauma dan terjadinya luka. Ketika terjadi luka, tubuh manusia akan merespon dengan memulai proses penyembuhan luka. Secara umum, proses penyembuhan luka terdiri dari empat fase, yaitu  fase inflamasi, inisiasi, proliferasi dan remodeling. Untuk terjadi penyembuhan luka dengan baik, fase penyembuhan luka ini harus berlangsung dengan urutan dan waktu yang tepat. Banyak faktor yang dapat mengganggu satu atau lebih fase ini. Dalam keadaan postmortem, penyembuhan luka masih dapat berlangsung, namun proses yang terjadi berbeda dengan penyembuhan luka sebelum kematian. Dalam penelitian ini digunakan babi domestik sebagai hewan coba karena babi  termasuk hewan omnivora dengan struktur dan histofisiologi kulit yang mirip manusia. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian deskriptif eksperimental. Luka sayatan dibuat pada punggung babi setelah mati lalu jaringan kulit diambil dalam beberapa tahapan waktu untuk melihat gambaran histologik sebagai penanda radang dalam proses penyembuhan luka. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah sel pada lapisan dermis terlihat sejak 15 menit setelah terjadinya luka. Peningkatan jumlah sel pada luka tahap pertama berlanjut dan memuncak pada 150 menit postmortem. Peningkatan jumlah sel pada luka tahap kedua berlanjut dan memuncak pada 45 menit yang diambil 90 menit setelah pembuatan luka. Proses inflamasi yang dinilai dari peningkatan jumlah sel pada penelitian ini tetap berlangsung sampai 3 jam postmortem. Penelitian ini memperlihatkan bahwa reaksi inflamasi tetap berlangsung normal pada kondisi postmortem untuk suatu tenggang waktu tertentu. Kata kunci: Inflamasi, luka, postmortem.
KETAHANAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN NYAMUK Aedes spp PADA BERBAGAI JENIS AIR PERINDUKAN Jacob, Aprianto; Pijoh, Victor D.; Wahongan, G. J. P.
e-Biomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i3.6039

Abstract

Abstract: In Indonesia there are two vectors are known, the main vector Aedes aegypti and Aedes albopictus as a potential vector, Aedes spp mosquito breeding varies but generally prefer clear water reservoirs. Eggs Aedes spp mosquitoes can hatch in the sewage, although not known survival and growth of larvae into pupae and adult mosquitoes. Objective: To determine the survival and growth of Aedes spp in various types of water breeding. Methods: Four types of breeding water taken directly from the settlement, and immediately used. Eggs Aedes spp laboratory strains incubated in water media. Larvae reared until the age of 4 days. A sample of 25 healthy larvae included six types of breeding water. The number of surviving larvae, pupae and adult mosquitoes be observed and counted every day for 15 days. Data security and growth of larvae processed manually in the form of percentages and graphs. Results: Aedes spp shown to survive in water dug wells (SGL), sewage water (sewer), as well as tap water. The presence of mosquitoes living in the sewer water can last up to 15 days with the same amount of mosquitoes from the first day until the last day. This phenomenon is different in the SGL and PAM water where mosquitoes can survive until day 15, although with a small percentage. Aedes spp proved unable to survive in wastewater soap. Conclusion: Water drains were left in place and clear become breeding places for Aedes spp good to note that its presence in the cleaning mosquito breeding. Keywords: The larvae of Aedes spp, life, death, pupa, adult mosquitoes, breeding water.     Abstrak: Di Indonesia dikenal ada dua vektor, vektor utama nyamuk  Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagaivektor potensial, perindukan nyamuk Aedes spp sangat bervariasi tetapi umumnya lebih menyukai tempat penampungan air jernih. Telur Aedes sppdapat menetas pada air comberan,meskipun belum diketahui ketahanan hidup dan pertumbuhan larva menjadi pupa dan nyamuk dewasa. Tujuan: mengetahui ketahanan hidup dan pertumbuhan nyamuk Aedes spp pada berbagai jenis air perindukan. Metode: Empat jenis air perindukan diambil secara langsung dari pemukiman penduduk dan langsung digunakan. Telur Aedes spp strain laboratorium ditetaskan pada media air bersih. Larva dipelihara hingga berumur 4 hari. Sampel sebanyak 25 ekor larva sehat dimasukkan ke enam jenis air perindukan. Jumlah larva yang bertahan hidup, menjadi pupa dan nyamuk dewasa diamati dan dihitung setiap hari selama 15 hari. Data ketahanan dan pertumbuhan larva diolah secara manual dalam bentuk persentase dan grafik. Hasil: Nyamuk Aedes spp terbukti dapat bertahan hidup pada air sumur gali (SGL), air comberan (got), serta air PAM.  Keberadaan nyamuk hidup pada air got  mampu  bertahan  sampai 15 hari dengan jumlah nyamuk yang sama dari hari pertama sampai hari terakhir. Fenomena ini berbeda pada air SGL dan PAM dimana nyamuk mampu bertahan sampai hari ke-15 meskipun dengan persentase kecil. Nyamuk Aedes spp terbukti tidak dapat bertahan hidup pada air limbah sabun. Simpulan:  Air got yang didiamkan dan jernih menjadi tempat perindukan yang baik bagi Aedes spp sehingga keberadaannya perlu diperhatikan dalam pembersihan sarang nyamuk. Kata kunci: Larva Aedes spp, hidup, mati, pupa, nyamuk dewasa, air perindukan.
GAMBARAN HISTOPATOLOGI HATI TIKUS WISTAR YANG DIBERIKAN BORAKS Tatukude, Rico Lukas; Loho, Lily; Lintong, Poppy M.
e-Biomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i3.6209

Abstract

Abstract: Borax is an ingredient that is widely used for industrial or antiseptic cleaning agents that are toxic, but borax is used as an additive ind foods and any experience accumulated in the liver that can cause liver disfumction. Methods: The aim of  research is to see macroscopic and microscopic of live wistar rats were given different doses of borax. Rats were used as much as  10 animals were divided into 4 groups. The control group (K1) 1 rat, K2 ( borax 20mg), K3 (borax 30 mg), K4 (borax 40 mg) each of 3 rats by administration for 1,5 and 10 days. Result: The result showed the rats had grossly enlarged liver size, liver weight gain and blackish brown in the group given 40 mg of borax and microscopically, the cells were exposed to borax liver showed hydropic degeneration, proliferation fibrolas and fibrosis.  From this study it can be concluded that the administraion of borax 20mg, 30mg, 40mg for 10 days caused fatty liver and mild fibrosis. Keywords: Borax, Liver Disfunction.     Abstrak: Latar Belakang: Boraks merupakan bahan industri yang banyak digunakan untuk antiseptik atau zat pembersih. Akan tetapi boraks juga masih digunakan sebagai bahan tambahan pada makanan dan dapat memberikan efek karsinogenik dan disfungsi hati. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran histopatologi hati tikus wistar yang diberi boraks. Tikus yang digunakan sebanyak 10 ekor. Kelompok kontrol (K1) sebanyak 1 ekor tikus, K2, K3, K4 masing-masing 3 ekor tikus yang diberikan dosis 20mg, 30mg, dan 40mg yang diterminasi pada hari ke 1,5, dan 10. Hasil: Dari hasil penelitian menunjukkan secara mikroskopik sel hati yang terpapar boraks mengalami degenerasi hidropik, proliferasi fibrolas, dan secara makroskopis sel hati hewan coba mengalami perbesaran dan berwarna coklat kehitaman. Pemberian boraks 20mg, 30mg, dan 40mg dapat menyebabkan kerusakan hati. Kata Kunci: Boraks, Disfungsi Hati.
KEMAMPUAN INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ) MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Mangiwa, Rinto; Wungouw, H. I. S.; Pangemanan, D. H. C.
e-Biomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i3.5741

Abstract

Abstract: In education, intelligence utilized to determine the extent of achievement of learning that can be achieved by an individual. Intelligence factors that result in the difference between someone with another intelligence is innate, environmental, physical condition, social background and socioeconomic. Research purposes to describe the ability of qoutient intelligence ( IQ ). Descriptive survey study was conducted using the method of cross -sectional study to measure the ability of student’s Intelligence Quotient ( IQ ) of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. Number of respondents 100 people, consisting of 50 men and 50 women. Based on the results obtained IQ `measurement capability results in 11 respondents ( 22 % ) of male respondents have the ability IQ with Superior category, the other 11 people ( 22 % ) categorized as Above Average, the remaining 28 men ( 56 % ) had Average IQ ability . Women on the ability of IQ respondents only 1 ( 2 % ) are categorized as Superior, 9 people ( 18 % ) categorized as Above Average, and the remaining 40 ( 80 % ) were classified as having the ability IQ category average. Keywords: Intelligence Capabilities Qoutien, Student’s.   Abstrak: Dalam bidang pendidikan, intelegensi dimanfaatkan untuk mengetahui sejauh mana prestasi belajar yang dapat dicapai oleh suatu individu. Faktor-faktor intelegensi yang mengakibatkan terjadinya perbedaan antara intelegensi seseorang dengan yang lain yaitu pembawaan, lingkungan hidup, kondisi fisik, latar belakang sosial ekomoni dan pendidikan. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran kemampuan intelligence qoutient (IQ). Penelitian dilakukan secara survey deskriptif dengan mengunakan metode cross sectional study untuk mengukur kemampuan Intelligence Quotient (IQ) mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jumlah responden 100 orang, terdiri dari Laki-laki 50 orang dan Perempuan 50 orang. Berdasarkan hasil penelitian pengukuran kemampuan IQ diperoleh hasil pada responden 11 orang (22%) responden laki-laki memiliki kemampuan IQ dengan kategori Superior, sebanyak 11 orang (22%) masuk kategori diatas rata-rata, sisanya 28 orang (56%) memiliki kemampuan IQ rata-rata. Pada responden perempuan pada kemampuan IQ hanya 1 orang (2%) yang masuk kategori Superior, 9 orang (18%) masuk kategori diatas rata-rata, dan sisanya 40 orang (80%) memiliki kemampuan IQ yang tergolong kategori rata-rata. Kata kunci: Kemampuan Intelligence Qoutient, mahasiswa.
FORCED EXPIRATORY VOLUME IN ONE SECOND (FEV-1) PADA PENDUDUK YANG TINGGAL DI DATARAN TINGGI Molenaar, Ray E.; Rampengan, J. J. V.; Marunduh, S. R.
eBiomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.2.3.2014.6200

Abstract

Abstract: Livingin highlands as geographical factors related to the nature of the climate influences the shape of the human body. There is a tendency of people who live in the highlands have bigger circle chest and lungs than the people who live in the lowlands. Numerous studies shows the degree of lung function in people living at highlandsare greater than the people living in the lowlands. This study aims to determine the profile of FEV-1 of the people who lives in highlands. This is a descriptive type of research that uses distribution tables. The subject of this researchare people aged 20-70 years made ​​up of 30 womens who live in the highlands. The data is obtained through the measurement of FEV-1 using Spirometer Sibel TS8248 / 1. Different fromthe results of previous studies and based on the results of the measurement and distribution table of FEV-1 obstructive degree, 29 people of the population have normal value and 1 person has a mild obstructive value. The is, almost all of the subjectsthat were studied has normal value of FEV-1. Keywords: FEV-1, Highlands.   Abstrak: Ketinggian tempat tinggal sebagai faktor geografis yang berhubungan dengan sifat iklim berpengaruh terhadap bentuk tubuh. Ada kecenderungan orang-orang yang tinggal di dataran tinggi memiliki lingkaran dada dan paru-paru yang lebih besar dari pada orang-orang yang tinggal di dataran rendah.Sejumlah penelitian menunjukkan derajat fungsi paru pada penduduk yang tinggal di dataran tinggi lebih besar dari pada penduduk yang tinggal di dataran rendah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil pengukuran FEV-1 pada penduduk yang tinggal di dataran tinggi.Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi.Subjek dari penelitian ini berusia 20-70 tahun terdiri dari 30 orang perempuan yang tinggal di dataran tinggi.Data di peroleh melalui pengukuran FEV-1 menggunakan spirometer SIBEL TS8248/1.Berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya dan berdasarkan hasil pengukuran dan tabel distribusi derajat obstruktif FEV-1, 29 orang penduduk memiliki nilai normal dan 1 orang memiliki nilai obstruktif ringan.Kesimpulan dari hasil peneletian ini adalah, rata-rata subyek yang diteliti memiliki nilai FEV-1 normal. Kata kunci: FEV-1, dataran tinggi.
PERBEDAAN KEBAHAGIAAN PADA KELUARGA SEJAHTERA DAN PRA SEJAHTERA DI DESA WINANGUN ATAS KECAMATAN PINELENG KABUPATEN MINAHASA Bella, Jilly; Sinolungan, Sammy; Opod, Hendrik
eBiomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.2.3.2014.5740

Abstract

Abstract: Happiness is the meaning and purpose of life and the ideals of all people. For ordinary people, happiness means different things to each individual , and often overlap with welfare. All people have different levels of happiness. One of the things that can affect the level of welfare. Prosperity is a safe feeling tranquil and prosperous. Not everyone can feel the happiness and well-being. Purpose: The purpose of this study was to determine differences in pre-prosperous family happiness and prosperous family in Winangun Atas village. Methods: This study is an observational analytic study using cross-sectional methods. Subjects were families who lived in Winangun Atas village. Results: Of the 80 respondents consisting of 40 families and 40 more prosperous pre-prosperous families who are willing to study respondents, found no significant differences. The results of the 80 respondents was 83.8 % and 16.3 % feel happy not being happy. Conclusion: There were no significant differences regarding family welfare and happiness of the underprivileged families in Winangun Atas village, Minahasa. Keywords: Happiness, prosperous.    Abstrak: Kebahagiaan adalah makna dan tujuan hidup dan cita-cita semua orang. Bagi masyarakat awam, kebahagiaan mempunyai arti yang berbeda bagi tiap individu dan seringkali menjadi tumpang tindih dengan kesejahteraan. Semua orang memiliki perbedaan kadar kebahagiaan. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi yaitu tingkat kesejahteraan. Sejahtera adalah perasaan aman sentosa dan makmur. Tidak semua orang dapat merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kebahagiaan pada keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera di Desa Winangun Atas. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan metode cross-sectional. Subjek penelitian adalah keluarga-keluarga yang tinggal di Desa Winangun Atas. Hasil: Dari 80 responden terdiri dari 40 keluarga sejahtera dan 40 lagi keluarga pra sejahtera yang bersedia menjadi responden penelitian, didapatkan perbedaan yang tidak signifikan. Hasil dari 80 responden adalah 83,8% merasa bahagia dan 16,3% tidak merasa bahagia. Simpulan: Terdapat perbedaan yang tidak signifikan mengenai kebahagiaan pada keluarga sejahtera dan keluarga pra sejahtera di Desa Winangun Atas Kecamatan Pineleng. Kata kunci: Kebahagiaan, sejahtera.
PENGARUH HIPERTENSI TERHADAP DISFUNGSI EREKSI Antou, Edmond Kevin Rainier; Satiawati, Lusiana; Tendean, Lydia
e-Biomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i3.5776

Abstract

Abstract: Hypertension is a condition where a person experiences an increase in blood pressure above normal on examination of blood pressure.Research by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia in 2009, the prevalence of hypertension in Indonesia in 2007 reached 32.2 %, while 30.5 % occurred in the North of Sulawesi. Erectile dysfunction is the inability to maintain an erection that is experienced by men due to various factors. Uncontrolled hypertension can damage blood vessels, causing blood vessels lose their elasticity and the volume of blood that flows to the penis during erection. The purpose of the study to determine the effects and erectile dysfunction and treatment in hypertensive men. The method used is descriptive research method. The research took place in the Hypertension Clinic (Internal Medicine) Government General Hospital of Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Samples taken in the study were hypertensive men with the age group 40-65 years. The research is conducted by using the IIEF-5 questionnaire. The number of samples obtained 45 patients with hypertension, with the following results: 11 mild erectile dysfunction (24%), moderate-mild dysfunction 19 people (42%), moderate dysfunction 12 people (27%), severe dysfunction 3 people (7%). This research concludes that all men participating in research, is having an erectile dysfunction. Keywords: Hypertension , Erectile Dysfunction.   Abstrak: Hipertensi adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal pada pemeriksaan tekanan darah. Riset Depkes RI 2009, prevalensi hipertensi di Indonesia pada tahun 2007 mencapai angka 32.2%, sedangkan Sulawesi Utara 30.5%. Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan mempertahankan ereksi yang dialami oleh pria karena berbagai faktor.Hipertensi tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah, menyebabkan pembuluh darah kehilangan elastisitasnya dan volume darah yang dialirkan ke penis saat ereksi.Tujuan penelitian untuk mengetahui disfungsi ereksi serta pengaruh dan penanganannya pada pria hipertensi.Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif.Tempat penelitian dilakukan di Poliklinik Hipertensi (Ilmu Penyakit Dalam) RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sampel yang diambil dalam penelitian adalah pria hipertensi dengan kelompok usia 40-65 tahun. Penelitian menggunakan kuesioner IIEF-5. Jumlah sampel yang didapat 45 penderita hipertensi, dengan hasil penelitian sebagai berikut: disfungsi ereksi ringan 11 orang (24%), disfungsi sedang-ringan 19 orang (42%), disfungsi sedang 12 orang (27%), disfungsi berat 3 orang (7%). Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah semua sampel penelitian, mengalami disfungsi ereksi Kata-kata kunci: Hipertensi, Disfungsi ereksi.
HUBUNGAN KINERJA OTAK DENGAN SPIRITUALITAS DIUKUR MENGGUNAKAN INDONESIA SPIRITUAL HEALTH ASSESSMENT PADA GURU SMA DI TIDORE Rachmatika, Ditha; Wongkar, Djon
e-Biomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i3.6040

Abstract

Abstract: The human brain is the center of the structure which has a volume around 1.350cc and consists of 100 million nerve cells or neuron. The human brain is responsible for the whole body and way of thinking. Brain also influential on human spirituality. Spirituality has 4 thing that can be observed is a ritual, spiritual experience, the meaning of life and positive emotions. Neuroscience is the science which studies human self as a pocess that takes at the level of neural cells to the human nexus with God.  Indonesian Spiritual Health Assessment is a checks are made based on the theoretical concept of the spiritual which consists of 3 components, namely spiritual health item, brain system assessment  and neurofeedback. Objective: Determine the relationship of spirituality human brain performance with high school teacher in the town of tidore. Methods: Type of observational study with cross-sectional research design. Study sample is a high school teacher in the town of Tidore totaling 65 people.  Data collected by distributing questionnaires to the respondents in the form of Indonesia Spiritual Health Assessment (ISHA). Result and Conclusion: Based on research that has been conducted on 65 subjects were obtained results that there is a relationship between the performance of human brain with spirituality. The result can be concluded that there is a relationship between the performance of the human brain with spirituality. The result can be concluded: (1) Cortex prefrontal have no association with a spiritual experience and the meaning of  life, but there is relationship with positive emotions and rituals; (2) system limbic have no association with spiritual experiences, positive emotion, the meaning of life and rituals; (3) ganglia basalis have no association with spiritual experiences, positive emotions and the meaning of life, but there is relationship with rituals; (4) gyrus cingulatus have no association with spiritual experiences, positive emotion and meaning of life, but there is relationship with rituals; (5) temporal lobe have relationship with spiritual experience, but no association with positive emotions, the meaning of life and rituals. Keywords: Brain performance, Spirituality.     Abstrak: Latar Belakang:Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh tubuh dan cara berpikir. Otak juga sangat berpengaruh terhadap spiritualitas manusia.Spiritualitas memiliki 4 hal yang dapat diamati yaitu ritual, pengalaman spiritual, makna hidup, dan emosi positif. Neurosains adalah ilmu yang mengkaji diri manusia sebagai proses yang berlangsung pada tingkat sel saraf hingga proses perhubungan manusia dengan Tuhan. Indonesia Spiritual Health Assessment adalah pemeriksaan yang dibuat berdasarkan konsep teoritis spiritualitas, yang terdiri dari tiga komponen yaitu Spiritual Health Item, Brain System Assessment, dan Neurofeedback. Tujuan: Mengetahui hubungan kinerja otak dengan spiritualitas manusia pada guru SMA di Kota Tidore. Metode: Jenispenelitian ini yaitu penelitian observasional dengan desain penelitian crosssectional.Sampel penelitian yaitu guru SMA di Kota Tidore Kepulauan yang berjumlah 65 orang. Data diambil dengan cara membagikan kuesioner yang berupa Indonesia Spiritual Health Assessment (ISHA) kepada responden. Hasil dan simpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada 65 subjek penelitian diperoleh hasil yaitu ada hubungan antara kinerja otak dengan spiritualitas manusia. Dari hasil dapat disimpulkan bahwa: (1) Korteks prefrontal tidak ada hubungan dengan pengalaman spiritual dan makna hidup, tetapi ada hubungan dengan emosi positif dan ritual; (2) Sistem limbic tidak ada hubungan dengan pengalaman spiritual, emosi positif makna hidup dan ritual; (3) Ganglia basalis tidak ada hubungan dengan pengalaman spiritual, emosi positif dan makna hidup, tetapi ada hubungan dengan ritual; (4) Girus singulatus tidak ada hubungan dengan pengalaman spiritual, emosi positif dan makna hidup, tetapi ada hubungan dengan ritual; (5) Lobus temporal ada hubungan dengan pengalaman spiritual, tetapi tidak ada hubungan dengan emosi positif, makna hidup dan ritual. Kata Kunci: Kinerja Otak, Spiritualitas.

Page 1 of 2 | Total Record : 12