cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Pesisir dan Laut Tropis mewadahi kajian-kajian ilmiah dalam bidang bio-ekologi pesisir dan laut, hidro-oesanografi dan morfologi pesisir, toksikologi dan farmasitika, kajian substansi kimiawi biota dan perkembangan bioteknologi kelautan lainnya, di lingkup pesisir dan laut di daerah tropis. Kajian ilmiah dimaksud bisa berupa hasil penelitian maupun critical review. Jurnal ini terbit 3 (tiga) kali dalam satu tahun (Februari, Juni, September). Diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Kelautan FPIK-UNSRAT
Arjuna Subject : -
Articles 364 Documents
Comparison of Zooplankton Abundance Vertically and Horizontally in The Waters of Boulevard II, Manado City Utomo, Victoria O.S.E.; Rimper, Joice R.T.S.L; Bara, Robert A.; Mamuaja, Jane M.; Wagey, Billy T.; Sumilat, Deiske A.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.65009

Abstract

Zooplankton are microscopic organisms that play an important role in the marine food chain as primary consumers and as a food source for other organisms. Their presence and composition can serve as indicators of the health of aquatic ecosystems. This study was conducted in the waters of Boulevard II, Manado City, using a plankton net equipped with a cod end. Samples were collected vertically at a depth of 5 m and horizontally along a 10 m transect. Physico-chemical parameters such as temperature, salinity, and dissolved oxygen (DO) were measured in situ at each station using a Water Quality Monitor. Zooplankton identification was carried out at the Bio-Ecology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Science, using a microscope and referring to Illustrations of the Marine Planktons of Japan (Yamaji, 1979) and WoRMS data. The results showed that the zooplankton found belonged to the class Copepoda, e.g. Nauplii, Acartia sp., Oithona sp., and Paracalanus sp.. The highest vertical abundance was recorded at station 1 with 11.51 Ind/L, while the lowest was at station 2 with 6.99 Ind/L. Horizontally, the highest abundance occurred at station 2 with 6.04 Ind/L and the lowest at station 1 with 3.21 Ind/L. These variations were influenced by temperature, salinity, and dissolved oxygen, which affect the distribution of zooplankton. Keywords : comparison, horizontal, vertical, zooplankton   Abstrak Zooplankton merupakan organisme mikroskopis yang berperan penting dalam rantai makanan laut sebagai konsumen primer dan sumber makanan bagi organisme lain. Kehadiran serta komposisi zooplankton dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem perairan. Penelitian ini dilakukan di Perairan Boulevard II, Kota Manado, menggunakan plankton net yang dilengkapi cod end. Pengambilan sampel dilakukan secara vertikal pada kedalaman 5 m dan horizontal sepanjang 10 m. Parameter fisika-kimia seperti suhu, salinitas, dan oksigen terlarut (DO) diukur secara in situ menggunakan Water Quality Monitor di setiap stasiun. Identifikasi zooplankton dilakukan di Laboratorium Bio-Ekologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan menggunakan mikroskop dengan acuan Illustrations of the Marine Planktons of Japan (Yamaji, 1979) dan data WoRMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zooplankton yang ditemukan berasal dari kelas Copepoda, yaitu Nauplii, Acartia sp., Oithona sp., dan Paracalanus sp.. Kelimpahan vertikal tertinggi terdapat di stasiun 1 sebesar 11,51 Ind/L dan terendah di stasiun 2 sebesar 6,99 Ind/L. Secara horizontal, kelimpahan tertinggi terdapat di stasiun 2 sebesar 6,04 Ind/L dan terendah di stasiun 1 sebesar 3,21 Ind/L. Variasi kelimpahan ini dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan oksigen terlarut yang memengaruhi penyebaran zooplankton. Kata kunci: perbandingan, horizontal, vertikal, zooplankton
Ecological Analysis of Megabenthos in Coral Reef Ecosystems of The Waters Surrounding Bahoi Village, North Minahasa Regency Grathia Charity; Manembu, Indri S.; Mamangkey, N. Gustaf F.; Rumengan, Antonius P.; Boneka, Farnis B.; Tilaar, Sandra O.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.65927

Abstract

Megabenthos are a group of organisms larger than 1 cm that inhabit the seafloor and are sensitive to environmental changes. Information regarding megabenthos in Bahoi Village has not yet been published; therefore, this study was conducted to fill the data gap related to benthic community structure in the area. Data were collected at three stations representing different levels of ecological pressure using the Benthos Belt Transect  method, with a transect length of 70 m and an observation width of 2 m, resulting in a total surveyed area of 140 m² per station. Target megabenthos recorded included Diadema spp., Linckia laevigata, Tridacninae, and Drupella cornus. Based on the analysis, Station 1 (near settlement and non-MPA) showed densities of Diadema spp. of 2.11 ind/m², Linckia laevigata of 0.04 ind/m², Tridacninae of 0.03 ind/m², and Drupella cornus of 0.07 ind/m², with H’ = 0.29, C = 0.88, and E = 0.2. Station 2 (MPA) recorded densities of Diadema spp. of 0.007 ind/m², Linckia laevigata of 0.029 ind/m², Tridacninae of 0.014 ind/m², and Drupella cornus of 0.014 ind/m², with H’ = 1.27, C = 0.30, and E = 0.9. Station 3 (far from settlement and non-MPA) showed densities of Linckia laevigata of 0.19 ind/m² and Diadema spp. of 0.07 ind/m², with H’ = 0.58, C = 0.61, and E = 0.8. The patterns of ecological indices indicate a strong relationship between the intensity of human intervention and habitat characteristics in determining the stability of megabenthic communities. Keywords: megabenthos, coral reefs, community, benthos belt transect, Bahoi Village   Abstrak Megabentos merupakan kelompok organisme yang hidup di dasar laut dan berukuran lebih dari 1 cm yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Informasi mengenai megabentos di Desa Bahoi hingga kini belum dipublikasikan sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan data terkait struktur komunitas bentik di wilayah tersebut. Pengumpulan data dilakukan pada tiga stasiun yang mewakili perbedaan tingkat tekanan ekologis menggunakan metode Benthos Belt Transect sepanjang 70 m dengan lebar pengamatan 2 m sehingga total area pengamatan 140 m² per stasiun. Megabentos target yang ditemukan meliputi Diadema spp., Linckia laevigata, Tridacninae, dan Drupella cornus. Berdasarkan analisis data, Stasiun 1 (dekat permukiman & non-DPL) memiliki kepadatan Diadema spp. sebesar 2,11 ind/m², Linckia laevigata sebesar 0,04 ind/m², Tridacninae sebesar 0,03 ind/m² dan Drupella cornus sebesar 0,07 ind/m² dengan H’=0,29, C=0,88, dan E=0,2. Stasiun 2 (DPL) memiliki kepadatan Diadema spp. sebesar 0,007 ind/m², Linckia laevigata sebesar 0,029 ind/m², Tridacninae sebesar 0,014 ind/m² dan Drupella cornus sebesar 0,014 ind/m² dengan H’=1,27, C=0,3 dan E=0,9. Stasiun 3 (jauh dari permukiman & non-DPL) memiliki kepadatan Linckia laevigata sebesar 0,19 ind/m² serta Diadema spp. sebesar 0,07 ind/m² dengan H’=0,58, C=0,61 dan E=0,8. Pola indeks ekologi menunjukkan hubungan kuat antara tingkat tekanan intervensi manusia dan karakteristik habitat terhadap stabilitas komunitas megabentos. Kata kunci: megabentos, terumbu karang, komunitas, benthos belt transect, Desa Bahoi
Identification and Density of Bivalves on Coral Reef Flats in The Water of Mandolang and Malalayang, North Sulawesi Lolaro, Wildy; Ompi, Medy; Manembu, Indri; Djamaludin, Rignolda; Roeroe, Kakaskasen; Rimper, Joice
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.66011

Abstract

The research problems addressed in this study were what species of bivalve and what densities each species of bivalves inhabit on the coral reef flats both  Mandolang and Malalayang, North Sulawesi. This study aimed to identify the species of bivalves and the species density of bivalves.  Data were collected using a belt transect method measuring 20 m in length and 1 m in width on both the left and right sides of the transect line at a depth of 3 m. Three belt transects as replicates were deployed at each site of coral reef.  All specimens of bivalves encountered were documented and identified, and species density values were subsequently calculated. The results revealed four bivalve species, namely Tridacna maxima, Tridacna crocea, Ruditapes philippinarum, and Barbatia barbata. T. crocea, T. maxima, and R. philippinarum were identified only in Mandolang, whereas R. philippinarum, B. barbata, and T. crocea were identified in Malalayang. Furthermore, R. philippinarum and T. crocea were found in both Mandolang and Malalayang. Bivalve density in Mandolang varied among species, with T. crocea at 2.67 ind/40 m² (0.07 ind/m²), T. maxima at 1.33 ind/40 m² (0.03 ind/m²), and R. philippinarum at 0.67 ind/40 m² (0.02 ind/m²). Similarly, in Malalayang waters, R. philippinarum showed the highest density at 10.33 ind/40 m² (0.26 ind/m²), while B. barbata and T. crocea exhibited the same average density of 1.33 ind/40 m² (0.03 ind/m²). Key words: Bivalves, Density, Coral reef, Mandolang, Malalayang   Abstrak Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa saja jenis- jenis bivalva yang menempati habitat terumbu karang di Perairan Mandolang dan Malalayang, Sulawesi Utara, dan bagaimana kepadatan jenis-jenis bivalvia di perairan Mandolang dan Malalayang Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis bivalva yang menempati substrat karang serta mengetahui kepada jenis-jenis bivalva yang menempati rataan karang di Mandolang dan Malalayang Sulawesi Utara. Metode pengambilan data menggunankan belt transect sepanjang 20m dengan lebar 1m ke kiri dan 1m ke kanan garis transek pada ke dalaman 3 meter. Tiga ‘belt transek’ sebagai ulangan telah digunakan dalam pengambilan sampel di setiap rataan karang ini.  Sampel yang ditemukan didokumentasikan dan diidentifikasi, kemudian nilai kepadatan jenis bivalvia dihitung.  Hasil penelitian terdapat empat jenis bivalvia, yaitu T. maxima, T. crocea, Ruditapes philippinarum, dan  Barbatia barbata.  T. crocea, T. maxima, Ruditapes philippinarum teridentifikasi hanya di Mandolang, sedangkan Ruditapes philippinarum, Barbatia barbata, T. crocea teridentifikasi hanya di Malayang.  Ruditapes philippinarum, dan T. crocea teridentifikasi baik di Mandolang dan Malalayang.  Kepadatan bivalvia pada perairan Mandolang bervariasi menurut jenis, yaitu T. crocea (2,67 ind/40m2) atau 0,07 ind./m2, T. maxima (1,33 ind/40m2) atau 0,03 ind./ m2, dan Ruditapes philippinarum 0,67 ind/40m2 atau 0,02ind./ m2), demikian pula dengan yang di Malalayang, yaitu: Ruditapes philippinarum dengan 10,33 ind/40m2, atau 0,26 ind./m2, selanjutnya masing jenis memiliki kepadatan rata-rata yang sama, yaitu Barbatia barbata dan T. crocea dengan 1,33 ind./40m2, atau 0,03 ind./ m2. Kata kunci: Bivalvia, Kepadatan, Terumbu karang, Mandolang, Malalayang
Shoreline Changes in The Coastal Areas of Kendal Regency, Semarang City, and Demak Regency 1996-2024 Falah, Jhonata; Muta’ali, Luthfi; Saputra, Erlis
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.67339

Abstract

The coastal regions of Kendal Regency, Semarang City, and Demak Regency are strategic areas experiencing significant environmental dynamics, particularly regarding shoreline shifts and land-use changes. These transformations are driven by a combination of natural factors—such as waves, currents, tides, and sedimentation—and anthropogenic factors, including land subsidence, infrastructure development, reclamation, and land-use conversion. This study aims to identify shoreline changes between 1996 and 2024. Using a quantitative descriptive method, the research utilized multitemporal satellite imagery from Landsat 5,7, and 8 year 1996-2024. Shoreline extraction was performed using the Normalized Difference Water Index (NDWI), while change analysis was conducted through the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) using Net Shoreline Movement (NSM) and Linear Regression Rate (LRR) parameters. The results indicate that the majority of the study area experienced accretion, with an average change rate of 9,08 m/year. Accretion accounted for 45.84% of the shoreline, followed by erosion (38.34%), stable conditions (2.67%), and reclamation (13.15%). The highest accretion was observed in Wedung District (Demak Regency), the most significant erosion in Sayung District (Demak Regency), stable conditions in Rowosari District (Kendal Regency), and the most extensive reclamation in Tugu District (Semarang City). These findings serve as a reference for Spatial Planning in Jawa Tengah. Keywords: shoreline change, coastal, DSAS Abstrak Wilayah pesisir Kabupaten Kendal, Kota Semarang, dan Kabupaten Demak merupakan kawasan strategis yang mengalami dinamika lingkungan sangat tinggi, khususnya terkait perubahan garis pantai dan penggunaan lahan. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor alami seperti gelombang, arus, pasang surut, dan sedimentasi, serta faktor antropogenik seperti penurunan muka tanah, pembangunan infrastruktur, reklamasi, dan konversi penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan garis pantai tahun 1996–2024. Metode penelitian yang digunakan yakni deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder berupa citra satelit multitemporal berupa Landsat 5,7 dan 8 tahun 1996-2024. Untuk ekstraksi garis pantai dari citra menggunakan teknik Normalized Difference Water Index (NDWI), sedangkan perubahan garis pantai menggunakan teknik Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dengan parameter Net Shoreline Movement (NSM) dan Linear Regression Rate (LRR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mengalami akresi dengan rata-rata laju perubahan sebesar 9,08 m/tahun dengan persentase kondisi akresi (45,84%,), disusul abrasi (38,34%,), kondisi tetap (2,67%,), dan reklamasi (13,15%.). Pada kondisi akresi tertinggi berada di Kecamatan Wedung Kabupaten Demak, kondisi abrasi tertinggi berada di Kecamatan Sayung Kabupaten Demak, kondisi tetap pada Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal, sedangkan reklamasi tertinggi terjadi di Kecamatan Tugu Kota Semarang. hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dalam Rencana Tata Ruang di Jawa Tengah. Kata kunci: perubahan garis pantai, pesisir, DSAS

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 3 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 1 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 3 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 2 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 3 (2022): JURNAL PESISiR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 3 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 2 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 1 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 3 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 2 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 1 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 2 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 2 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 5 No. 3 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 2 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 1 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 2 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 1 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 3, No 2 (2015): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 3, No 1 (2015): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 2, No 1 (2014): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 3 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 2 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 1 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS More Issue