cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Pesisir dan Laut Tropis mewadahi kajian-kajian ilmiah dalam bidang bio-ekologi pesisir dan laut, hidro-oesanografi dan morfologi pesisir, toksikologi dan farmasitika, kajian substansi kimiawi biota dan perkembangan bioteknologi kelautan lainnya, di lingkup pesisir dan laut di daerah tropis. Kajian ilmiah dimaksud bisa berupa hasil penelitian maupun critical review. Jurnal ini terbit 3 (tiga) kali dalam satu tahun (Februari, Juni, September). Diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Kelautan FPIK-UNSRAT
Arjuna Subject : -
Articles 358 Documents
Comparative Study of The Number and Types of Seagrass in The Mangrove Forest Tourism Area of Budo Village and Darunu Mangrove Park Tourism Village, Wori District, North Minahasa Regency Dannie R.S. Oroh; Easter Ch. M. Tulung; Margresye D. Rompas; Meiske M. Sangian
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.61482

Abstract

Indonesia is the largest archipelagic country in the world consisting of 16,344 large and small islands with a coastline length of 81,000 km which is rich in biodiversity and has a very distinctive marine ecosystem such as coral reefs, mangrove forests and seagrass beds. Seagrass ecosystems in Indonesia are usually located between mangrove ecosystems and coral reefs, or near sandy beaches and coastal forests. The aim of research is finding out the comparison of the number and types of seagrass found between Budo village and Darunu village, Wori District, North Minahasa Regency. The data collection method starting with determining the location, it is carried out by conducting a direct survey using transects to determine the condition or existence of seagrass beds. A quadratic transect consists of a quadrant-shaped frame. Data collection of one transect per location, namely one transek in Budo village and one transek in Darunu village. From the results of the research in two research locations in Budo Village and Darunu Village, Wori District, North Minahasa Regency, it can be concluded that: the total number of seagrass found in the two research locations, namely 6 types of seagrass spread across two research locations, namely there are 4 types of seagrass found in Budo Enhalus acoroiedes Village, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium. Meanwhile, in Darunu Village, there are 6 types of seagrass, namely Enhalus acoroiedes, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis and Halodule pinifoli. Keywords: seagrass, Budo Village, Darunu Village    ABSTRAK Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 16.344 pulau besar dan kecil dengan panjang garis pantai 81.000 km yang kaya akan keanekaragaman hayati memiliki ekosistem laut yang sangat khas seperti terumbu karang, hutan mangrove dan padang lamun. Ekosistem padang lamun di Indonesia biasanya berada diantara ekosistem mangrove dan terumbu karang, atau berada di dekat pantai berpasir dan hutan pantai. Tujuan penelitian untuk mengetahui Perbandingan Jumlah dan jenis Lamun yang terdapat antara desa Budo dan desa Darunu Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Metode pengumpulan data diawali dengan penentuan lokasi dilakukan dengan melakukan survei langsung dengan menggunakan transek untuk mengetahui kondisi atau keberadaan padang lamun. Transek kuadran terdiri dari frame berbentuk kuadran. Pengambilan data satu transek tiap lokasi, yaitu satu transek di desa Budo dan satu transek di desa Darunu. Dari hasil penelitian di dua lokasi penelitian Desa Budo dan Desa Darunu Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara dapat disimpulkan bahwa: jumlah lamun total keseluruhan yang terdapat pada dua lokasi penelitian yakni 6 jenis lamun yang tersebar di dua lokasi penelitian yaitu ada 4 jenis lamun yang terdapat di Desa Budo yaitu Enhalus acoroiedes, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium. Sedangkan di Desa Darunu terdapat 6 jenis lamun adalah yaitu Enhalus acoroiedes, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis dan Halodule pinifoli.   Kata Kunci: lamun, Desa Budo, Desa Darunu
High Wave Events in The Java Sea to Support Maritime Transportation Safety Triyono; Wilhelmina Patty; Johnny Budiman; Rose O.S.E. Mantiri; Billy Th. Wagey; Revols D. Ch. Pamikiran; Deiske A. Sumilat; Usman Efendi
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.61485

Abstract

The Java Sea plays a strategic role in supporting maritime transportation and trade in Indonesia, particularly as a key connector between Java Island and surrounding regions. However, the high intensity of maritime activity in this area is accompanied by a significant risk of maritime accidents, often triggered by high waves and extreme weather conditions. This study aims to analyze the characteristics of high wave events in the Java Sea to support maritime safety and disaster risk mitigation, in accordance with the SOLAS (Safety of Life at Sea) international standards. The analysis utilizes numerical wave model data from Wavewatch III and wind speed data from the Semarang Maritime Meteorological Station for the period of 2004–2023. The results reveal a bimodal annual pattern, with two peaks and two troughs in both wave height and wind speed cycles. Monthly occurrences of high wave events are most frequent in January and August. Annual trend analysis shows an increase of 1–2 events per year for waves with heights of 1.25–1.5 meters, and 1–3 events per year for waves of 1.5–2.5 meters. Meanwhile, waves exceeding 2.5 meters exhibit either a constant trend or statistically insignificant changes. These findings are expected to contribute to the development of early warning systems and policy frameworks aimed at enhancing maritime safety in the Java Sea region. Keywords: Java sea, high wave, wind speed, numerical model, SOLAS ABSTRAK Laut Jawa memiliki peran strategis dalam mendukung pelayaran dan perdagangan laut di Indonesia, khususnya sebagai penghubung utama Pulau Jawa dengan wilayah sekitarnya. Namun, tingginya intensitas aktivitas maritim di kawasan ini juga disertai dengan tingginya risiko kecelakaan laut, yang salah satunya dipicu oleh kondisi gelombang tinggi dan cuaca ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kejadian gelombang tinggi di Laut Jawa sebagai upaya mendukung keselamatan pelayaran dan mitigasi bencana maritim, sejalan dengan standar internasional SOLAS (Safety Of Life At Sea). Analisis dilakukan menggunakan data model numerik Wavewatch III serta data kecepatan angin dari Stasiun Meteorologi Maritim Semarang selama periode 2004–2023. Hasil menunjukkan adanya pola dua puncak maksimum dan dua minimum dalam siklus tahunan tinggi gelombang dan kecepatan angin. Kejadian gelombang tinggi bulanan tertinggi terjadi pada Januari dan Agustus. Tren tahunan memperlihatkan peningkatan kejadian gelombang dengan ketinggian 1,25–1,5 m sebanyak 1–2 kejadian per tahun, serta gelombang 1,5–2,5 m sebanyak 1–3 kejadian per tahun. Sementara itu, gelombang lebih dari 2,5 m menunjukkan tren yang cenderung konstan atau tidak signifikan secara statistik. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan sistem peringatan dini serta kebijakan keselamatan pelayaran di wilayah Laut Jawa. Kata kunci: laut Jawa, gelombang tinggi, kecepatan angin, model numerik, SOLAS
Yellowfin Tuna Catch Demographics By Size and Sex Ratio at Bitung Ocean Fishing Port Chris B. Sinambela; Silvester B. Pratasik; Daisy M. Makapedua; Deiske A. Sumilat; Alfret Luasunaung; Johnny Budiman; Jardie A. Andaki; Dessy A. Natalia
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.61486

Abstract

Yellowfin tuna is one of the most in-demand commodities for commercial exploitation due to its premium market value and nutritional content. This study examines the size structure and sex ratio of yellowfin tuna (Thunnus albacares) landed at Bitung Ocean Fishing Port. A total of 890 samples were obtained from 23 handline vessels operating in Fisheries Management Area 715 from August to October 2024. Length and weight measurements were recorded directly at the research site. The collected data were used to characterize the size structure and sex ratio. This study found a size distribution of length 96.7-163.2 cm FL and weight 13-75.9 kg. Results indicated that the predominant size class was 114.7-120.9 cm FL, comprising 279 individuals (31.35% of the sample). The sex ratio maintained a balanced 1:1 proportion, consisting of 471 males and 419 females, suggesting a healthy reproductive population structure. Keywords: size structure, length and weight measurement, sex ratio ABSTRAK Ikan tuna sirip kuning merupakan salah satu komoditi yang paling diminati untuk dieksploitasi karena memiliki harga dan kandungan gizi yang tinggi. Penelitian ini mendeskripsikan struktur ukuran dan perbandingan jenis kelamin ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung. Sebanyak 890 sampel diperoleh dari 23 kapal hand line yang beroperasi di Wilayah Pengelolaan Perikanan 715 dari bulan Agustus-Oktober 2024. Data panjang dan berat ikan diperoleh langsung di lokasi penelitian. Data yang terkumpul digunakan untuk mengkarakterisasi struktur ukuran dan sex ratio. Penelitian ini menemukan sebaran ukuran panjang cagak 96,7 – 163,2 cm FL dan berat 13 – 75,9 kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi ikan sebagian besar terdiri dari individu-individu dengan kisaran panjang 114,7-120,9 cm FL (279 individu). Perbandingan individu jantan dan betina adalah 1:1 dengan jumlah 471 individu jantan dan 419 individu betina. Kata kunci: struktur ukuran, pengukuran panjang dan berat, sex ratio
The Impact of Tropical Cyclone Man-Yi on Oceanographic Conditions in the Philippine Sea David Ristianto; Lefrand Manoppo; Alfret Luasunaung; Wilmy E. Pelle; Patrice N.I. Kalangi; Suzanne L. Undap; Deiske A. Sumilat; Andersen Panjaitan
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.61590

Abstract

Tropical cyclones are extreme weather phenomena that can significantly influence the interaction between the atmosphere and oceans. Tropical Cyclone Man-Yi, which formed on November 15, 2024, passed through the Philippine Sea. This study aims to analyze the impact of Tropical Cyclone Man-Yi on oceanographic conditions, including sea surface temperature, chlorophyll-a concentration, and wave height in the Philippine Sea. A quantitative approach was employed, utilizing spatial and temporal analyses, as well as mean calculations to determine anomaly values. The data used include daily measurements from the period before, during, and after the occurrence of Tropical Cyclone Man-Yi, along with 15 years of monthly data. These datasets consist of reanalysis data and satellite data from Copernicus. The results indicate that Tropical Cyclone Man-Yi caused a decrease in sea surface temperature, an increase in chlorophyll-a concentration, and an increase in wave height in the Philippine Sea. Temporally, sea surface temperature decreased by up to 0.4°C, chlorophyll-a concentration increased by up to 0.018 mg/m³, and wave height increased by up to 2.5 meters. Based on spatial, temporal, and anomaly value analyses, Tropical Cyclone Man-Yi had a significant impact on wave height changes. Keywords: tropical cyclone, sea surface temperature, chlorophyll-a, wave height   ABSTRAK Siklon tropis merupakan fenomena cuaca ekstrim yang dapat mempengaruhi interaksi antara atmosfer dan lautan. Siklon tropis Man-Yi terbentuk pada tanggal 15 November 2024 dan melewati Laut Filipina. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak siklon tropis Man-Yi terhadap kondisi oseanografi seperti suhu permukaan laut, klorofil-a, dan tinggi gelombang di Laut Filipina. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis spasial, temporal, dan perhitungan rata-rata untuk menghitung nilai anomalinya. Data yang digunakan meliputi data harian periode sebelum, saat, setelah kejadian siklon tropis Man-Yi, dan data bulanan  selama 15 tahun. Data tersebut merupakan data reanalisis dan data satelit dari Copernicus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklon tropis Man-Yi memberikan dampak penurunan suhu permukaan laut, peningkatan konsentrasi klorofil-a dan peningkatan tinggi gelombang di Laut Filipina. Secara temporal, suhu permukaan laut menurun hingga 0.4 °C, konsentrasi klorofil-a meningkat hingga 0.018 mg/m³, dan tinggi gelombang meningkat hingga 2.5 m. Berdasarkan hasil analisis spasial, temporal, dan nilai anomalinya, siklon tropis Man-Yi memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan tinggi gelombang. Kata kunci: siklon tropis, suhu permukaan laut, klorofil-a, tinggi gelombang
Antioxidant Activity Assay of Fractionated Extracts of Red Alga Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty, 1996 Nurfadillah Kadang; Desy M.H. Mantiri; Deiske A. Sumilat; Darus S.J. Paransa; Verly Dotulong; Leonardus R. Rengkung
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.61592

Abstract

Indonesia with more than 70% of its territory covered by oceans, is rich in marine resources such as the red alga Kappaphycus alvarezii, which contains bioactive compounds with antioxidant activity. This study aims to analyse the antioxidant effectiveness of fractionated extracts of K. alvarezii using ethanol, ethyl acetate, and n-hexane as solvents. Samples were collected from aquaculture in the Arakan Village, Tatapaan District, South Minahasa Regency. Extraction began with salt, removal, followed by maceration using 96.5 ethanol, then concentration using a rotary evaporator. The extract was fractionated based on solubility in polar, semi-polar, and non-polar solvents. Antioxidant activity was evaluated using the DPPH method by calculating the percent inhibition at a concentration of 1000 ppm. Results showed that each fraction exhibited different abilities in reducing free radicals. The n-hexane fraction showed the highest activity with an average inhibition of 54.36%, followed by ethyl acetate (45.33%) and ethanol (44.81%). The higher activity of the n-hexane fraction is attributed to non-polar bioactive compounds. This study supports the potential of K. alvarezii as a natural antioxidant for pharmaceutical or cosmetic applications and encourages further exploration of its health-related benefits. Keywords: red algae Kappaphycus alvarezii, antioxidant, DPPH, fractionation     ABSTRAK Indonesia memiliki wilayah lebih dari 70% berupa lautan yang kaya akan sumber daya hayati salah satunya alga merah Kappaphycus alvarezii, yang mengandung senyawa bioaktif dengan aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas antioksidan dari fraksi ekstrak            K. alvarezii menggunakan pelarut etanol, etil asetat, dan n-heksan. Sampel diambil dari budidaya perairan Desa Arakan, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Ekstraksi dimulai dengan dekantasi garam, kemudian dimaserasi menggunakan etanol 96%, lalu dipekatkan dengan rotary evaporator. Setelah diekstraksi, dilakukan fraksinasi untuk memperoleh fraksi berdasarkan kelarutannya dalam dalam pelarut polar, semi polar, non-polar. Aktivitas diuji menggunakan metode DPPH dengan menghitung nilai persen inhibisi dari masing-masing fraksi pada konsentrasi 1000 ppm. Pengujian aktivitas antioksidan pada fraksi ekstrak K.alvarezii menunjukkan bahwa setiap fraksi memiliki kemampuan yang berbeda dalam mereduksi radikal bebas. Fraksi n-heksan menunjukkan aktivitas tertinggi dengan nilai inhibisi rata-rata 54,36%, diikuti oleh fraksi etil asetat (45,33%) dan etanol (44,81%). Fraksi n-heksan  lebih efektif dalam menetralkan radikal bebas oleh kandungan senyawa bioaktif yang terdapat pada pelarut (non-polar). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan alga merah Kappaphycus alvarezii sebagai antioksidan alami, yang berpotensi untuk digunakan dalam industri farmasi atau kosmetik dan membuka peluang lebih lanjut mengenai pemanfaatan alga dalam bidang kesehatan. Kata kunci: alga merah Kappaphycus alvarezii, antioksidan, DPPH, fraksinasi
Portable Tidal Monitoring System for Coastal Observation in North Sulawesi Christian Mala; Alfet Luasunaung; Patrice Kalangi; Robert Bara; Rosita Lintang; Stephanus Mandagi; , Deiske A. Sumilat; Intan Pangerti
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.61705

Abstract

Tidal data play a critical role in supporting maritime weather forecasting and providing disaster-related information, such as early warnings for tidal flooding. However, the limited distribution of tide gauge instruments across Indonesia remains a significant challenge in obtaining comprehensive data. This study aims to design and implement a portable tidal measurement device as an alternative solution to enhance data availability. The system is developed to monitor sea level heights in the operational area of the Bitung Maritime Meteorological Station, North Sulawesi, utilizing a JSN-SR04T ultrasonic sensor as the primary measurement instrument. The collected data are transmitted wirelessly using an ESP8266 NodeMCU module connected to the internet via a modem, subsequently stored in a database, and displayed through an Internet of Things (IoT)-based user interface. The device calibration was conducted by comparing the prototype’s measurements with those obtained from the standard Automatic Weather Station (AWS) at Bitung Maritime Station. Performance testing was carried out at Manado Port from October 5,2022 to October 7, 2022 2022. The observational data were validated using the Root Mean Square Error (RMSE) method to evaluate measurement accuracy. Validation results indicate that the closer the RMSE value approaches zero, the higher the accuracy of the data produced. Keywords: tidal monitoring, internet of things, ultrasonic sensor ABSTRAK Data pasang surut laut merupakan komponen krusial dalam mendukung prediksi cuaca maritim serta penyediaan informasi kebencanaan, seperti peringatan dini banjir rob. Namun demikian, keterbatasan distribusi alat pengamatan pasang surut di Indonesia masih menjadi kendala dalam memperoleh data yang komprehensif. Penelitian ini merancang dan mengimplementasikan perangkat pengukur pasang surut portabel sebagai solusi alternatif untuk meningkatkan ketersediaan data. Sistem dirancang untuk memantau ketinggian muka air laut di wilayah Stasiun Meteorologi Maritim Bitung, Sulawesi Utara, dengan memanfaatkan sensor ultrasonik JSN-SR04T sebagai alat ukur utama. Data hasil pengukuran dikirim secara nirkabel menggunakan modul ESP8266 NodeMCU yang terhubung ke jaringan internet melalui modem, kemudian disimpan dalam basis data dan ditampilkan melalui antarmuka berbasis Internet of Things (IoT). Kalibrasi perangkat dilakukan dengan metode komparatif terhadap alat standar Automatic Weather Station (AWS) Maritim Bitung. Uji performa perangkat dilaksanakan di Pelabuhan Manado selama 5 Oktober hingga 7 Oktober 2022. Data hasil pengamatan divalidasi menggunakan metode Root Mean Square Error (RMSE) untuk mengukur tingkat akurasi. Hasil validasi menunjukkan bahwa semakin mendekati nilai nol pada RMSE, maka tingkat akurasi data semakin tinggi. Kata kunci: pasang surut laut, internet of things, sensor ultrasonic
Study of Mangrove Ecosystem Potential in Management as Ecoturism Area in Teling Village, Tombariri District, Minahasa Regency, North Sulawesi Province Rolley M.E.F. Pesik; Adnan S. Wantasen; Febri S.I. Menajang; Anthonius P. Rumengan; Noldy G.F. Mamangkey; Joice R.T.S.L. Rimper; Deiske A. Sumilat; Joshian N.W. Schaduw
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.61839

Abstract

The purpose of this study is to analyze the potential conditions of the mangrove ecosystem, land suitability, conditions and perceptions of the Teling village community to be developed as an ecotourism area. The survey of the potential of the mangrove ecosystem used the transect-quadrant method, while the potential for socio-economic conditions, infrastructure and perceptions of the Teling village community was carried out using the interview method. There are 6 (six) types of mangroves found in Teling Village, namely Avicennia officinalis, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba and Sonneratia caseolaris. The mangrove species with the highest average density value is R. mucronata at 33.33 individuals/300m², the highest average frequency value is found in the B. gymnorrhiza and R. stylosa species, which is 0.89, the highest average cover value is found in the S. alba species, which is 1.0265 m2/300 m2, the highest average Importance Value Index (INP) is found in the Rhizophora mucronata species, which is 111.0 with the "moderate" category, the average mangrove diversity index of Teling village is 2.66 with the "moderate" category, while the average mangrove evenness index is 0.693 with the "moderate" category. The mangrove tourism suitability index of Teling village is 2.5, which means that this area is "very suitable". Keywords: ecotourism, mangrove, Teling Village ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa potensi kondisi ekosistem mangrove, kesesuaian lahan, kondisi dan persepsi masyarakat Desa Teling untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. Survei potensi ekosistem mangrove menggunakan metode transek-kuadran, sedangkan potensi kondisi sosial ekonomi, infrastruktur dan persepsi masyarakat desa Teling melalui metode wawancara dan pengisian lembar kuisioner. Ada 6 (enam) jenis mangrove yang ditemukan di Desa Teling yaitu Avicennia officinalis, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris. Jenis mangrove dengan nilai rata-rata kepadatan jenis tertinggi adalah Rhizophora mucronata sebesar 33,33 individu/300m², nilai rata-rata frekuensi jenis tertinggi terdapat pada jenis B. gymnorrhiza dan R. stylosa yaitu sebesar 0,89, nilai rata-rata penutupan jenis tertinggi terdapat pada jenis Sonneratia alba yaitu 1,0265 m2/300 m2, rata-rata Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada jenis Rhizophora mucronata yaitu 111,0 dengan kategori “sedang”, rata-rata indeks keanekaragaman mangrove desa Teling sebesar 2,66 dengan kategori “sedang”, sedangkan rata-rata indeks kemerataan mangrove-nya yaitu 0,693 dengan kategori “sedang”. Indeks kesesuaian wisata mangrove desa Teling adalah 2,5 yang artinya kawasan ini “sangat sesuai” untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata mangrove. Kata kunci: ekowisata, mangrove, Desa Teling
Identification and Characterization of Marine Debris on Teluk Penyu Beach, Cilacap Lady Ayu Sri Wijayanti; Gilar Budi Pratama; Andini N.A.; Raziq Aldin; Ismail Maqbul; Mochamad Ramdhan Firdaus
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.61978

Abstract

This study was conducted at Teluk Penyu Beach, Cilacap Regency, with the aim of analyzing the composition, density, and primary sources of marine debris in the area. Sampling was carried out from October to November 2024 using a 5×5 m quadrat transect method along the shoreline, with a 20 m distance between transects. The results showed that a total of 2,021 debris pieces were collected, with the main composition consisting of wood debris (1,485 pieces; 62.80%), plastic (469 pieces; 19%), other materials (294 pieces; 14.58%), plastic foam (42 pieces; 2.60%), fabric (10 pieces; 1.12%), and rubber (7 pieces; 0.17%). The highest debris density was found in the wood category, with 12 pieces/m², followed by plastic (3.752 pieces/m²), plastic foam (0.336 pieces/m²), other materials (0.16 pieces/m²), fabric (0.133 pieces/m²), and rubber (0.14 pieces/m²). Based on the Clean-Coast Index (CCI) calculation, the beach cleanliness index score of 8 indicates that Teluk Penyu Beach falls into the "moderate" category. These findings suggest that the primary source of debris in the area originates from wood waste transported from Segara Anakan through the Nusakambangan Strait, as well as tourism and fishing activities. Sustainable coastal environmental management efforts are necessary to mitigate pollution impacts, including increasing public awareness and implementing ecosystem-based waste management strategies. Keywords: anthropogenic pollutants, Clean-Coast Index, coastal debris, lagoon, wood ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Pantai Teluk Penyu, Kabupaten Cilacap dengan tujuan untuk menganalisis komposisi, kepadatan, dan sumber utama sampah laut di kawasan tersebut. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Oktober–November 2024 menggunakan metode transek kuadrat 5x5 m di sepanjang garis pantai dengan jarak 20 m antar transek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total sampah yang terkumpul sebanyak 2.021 potongan dengan komposisi utama berupa sampah kayu (1.485 potongan; 62,80%), plastik (469 potongan; 19%), bahan lain (294 potongan; 14,58%), busa plastik (42 potongan; 2,60%), kain (10 potongan; 1,12%), dan karet (7 potongan; 0,17%). Kepadatan sampah tertinggi ditemukan pada kategori kayu dengan 12 potongan/m², diikuti plastik (3,752 potongan/m²), busa plastik (0,336 potongan/m²), bahan lain (0,16 potongan/m²), kain (0,133 potongan/m²), dan karet (0,14 potongan/m²). Berdasarkan perhitungan Clean-Coast Index (CCI), nilai indeks kebersihan pantai sebesar 8 menunjukkan bahwa Pantai Teluk Penyu masuk dalam kategori “sedang.” Temuan ini mengindikasikan bahwa sumber utama sampah di kawasan ini berasal dari limbah kayu yang terbawa dari Segara Anakan melalui Selat Nusakambangan, serta aktivitas wisata dan perikanan. Upaya pengelolaan lingkungan pesisir yang berkelanjutan diperlukan untuk mengurangi dampak pencemaran, termasuk melalui peningkatan kesadaran masyarakat dan pengelolaan limbah berbasis ekosistem. Kata kunci: antropogenik polutan, Clean-Coast Indeks, debris pesisir, kayu, laguna
Benthic Foraminifera in Intertidal Sediments Around UNSRAT Marine Station in Likupang, North Minahasa Jane M. Mamuaja; Markus T. Lasut; Royke M. Rampengan
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.62196

Abstract

Despite their biological and ecological importance, research on foraminifera is still very limited. In recent years (from 2018 to present), interest in foraminifera studies has begun to emerge and it was shown by publication of several research articles. The study was aimed to obtain basic information on the presence of foraminifera in intertidal area around UNSRAT Marine Station in Likupang, North Minahasa. Sampling for foraminifera was conducted in five stations in front of the marine station. Sediments were collected from the upper 2 cm of sediments, brought to the laboratory, washed through 63µm sieve, and air-dried. A number of > 300 foraminifera tests were picked for identification and photographed. A total of 16 genera were found and they were grouped into three functional groups: symbiont-bearing, opportunistic, and heterotrophic foraminifera. In symbiont-bearing group, Calcarina was found present in all stations and it was followed by Baculogypsina and Amphistegina. Genus Elphidium was found to be dominant in the opportunistic group, while Quinqueloculina was the only opportunistic foraminifera that was found in all stations. The study also revealed that most of the foraminifera tests were categorized intact, meaning that their morphological features were still well preserved. Keywords: benthic foraminifera, sediments, UNSRAT, Likupang
Diversity of Ascidians on Eastern Bunaken Island Manado City Monika M. O. Caroles; Deiske A. Sumilat; Joshian N. W. Schaduw; Farnis B. Boneka; Joice R. T. S. L. Rimper; , Deislie R. H. Kumampung
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.62200

Abstract

Bunaken National Park Manado City, North Sulawesi Province, has an extraordinary diversity of marine biota. Ascidia are essential in aquatic ecosystems, such as filter feeders, which control phytoplankton in waters. Ascidia is also known for its secondary metabolites, which have potential in the biomedical world. This research aims to determine the density and composition of Ascidia species, ecological indices (diversity, uniformity, and dominance), and air quality. Data collection was done using a purposive sampling method, and sampling was carried out assuming it could represent the population of Ascidia. Collecting data in the air uses the modified Coral Reef Visual Census method. Ascidia research results on the eastern part of Bunaken Island found 18 species of Ascidia. The total density of Ascidia at Location A (8,296 ind/m2), Location B (8,396 ind/m2), and Location C (7,552 ind/m2). The results of the ecological index calculation obtained are the diversity index at Location A is 0.26, Location B is 0.86, and Location C is 0.78 for the Uniformity index at Location A is 0.09, Location B is 0.29, and Location C is 0. 27, while the dominance index at Location A is 0.91, Location B is 0.64, and Location C is 0.69. Air quality has a temperature of 28oC-29oC, a 38-40 ppt salinity, and a pH of 7.2-7.3. Keywords: Bunaken, Ascidia, Coral Reef Visual Census, ecological index ABSTRAK Taman Nasional Bunaken merupakan salah satu destinasi wisata alam bawa laut yang ada di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki keanekaragaman biota laut yang luar biasa. Ascidia memiliki peran penting dalam ekosistem di laut yaitu, sebagai filter feeder yang berperan dalam pengendalian fitoplakton di perairan. Ascidia juga dikenal dengan metabolit sekundernya yang berpotensi dalam dunia biomedis. Tujuan dari penelitian ini yaitu, untuk mengetahui kepadatan dan komposisi spesies Ascidia, indeks ekologi (keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi), dan kualitas air. Pengambilan data digunakan dengan menggunakan metode purposive sampling, pengambilan sampel dilakukan dengan asumsi dapat mewakili populasi keanekaragaman dari Ascidia. Proses pengambilan data di dalam air menggunakan metode Coral Reef Visual Census yang telah dimodifikasi. Hasil penelitian Ascidia di Pulau Bunaken bagian timur terdapat 18 spesies Ascidia yang ditemukan. Kepadatan total Ascidia pada lokasi Lokasi A (8.296 ind/m2), Lokasi B (8.396 ind/m2), dan Lokasi C (7.552 ind/m2). Hasil perhitungan indeks ekologi yang didapatkan yaitu, indeks keanekaragaman pada Lokasi A 0,26, Lokasi B 0,86, dan Lokasi C 0,78 untuk indeks Keseragaman pada Lokasi A 0,09, Lokasi B 0,29, dan Lokasi C 0,27 sedangkan untuk indeks dominansi pada Lokasi A 0,91, Lokasi B 0,64, dan Lokasi C 0,69. Kualitas air memiliki suhu 28oC-29oC, salinitas 38-40 ppt, dan pH 7,2-7,3. Kata kunci: Bunaken, Ascidia, Coral Reef Visual Census, indeks ekologi

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 3 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 1 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 3 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 2 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 3 (2022): JURNAL PESISiR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 3 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 2 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 1 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 3 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 2 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 1 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 2 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 2 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 5 No. 3 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 2 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 1 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 2 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 1 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 3, No 2 (2015): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 3, No 1 (2015): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 2, No 1 (2014): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 3 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 2 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 1 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS More Issue