cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Pesisir dan Laut Tropis mewadahi kajian-kajian ilmiah dalam bidang bio-ekologi pesisir dan laut, hidro-oesanografi dan morfologi pesisir, toksikologi dan farmasitika, kajian substansi kimiawi biota dan perkembangan bioteknologi kelautan lainnya, di lingkup pesisir dan laut di daerah tropis. Kajian ilmiah dimaksud bisa berupa hasil penelitian maupun critical review. Jurnal ini terbit 3 (tiga) kali dalam satu tahun (Februari, Juni, September). Diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Kelautan FPIK-UNSRAT
Arjuna Subject : -
Articles 358 Documents
An Assessment of Resource Suitability and Visitor Perceptions in The Bahowo Mangrove Ecotourism Area Tommy M. Kontu; Dannie R. S. Oroh; Meidy Wollah; Oktavianus Lintong
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.62331

Abstract

Mangrove ecotourism is a strategic approach to coastal area management that integrates environmental conservation and community empowerment. This study aims to assess the resource suitability level and evaluate visitor perceptions in the Bahowo mangrove ecotourism area, Manado City. Primary data were collected through field surveys using the Tourism Suitability Index (IKW) and perception questionnaires based on a Likert scale. Five ecological parameters were analysed to obtain the IKW score, while six visitor perception aspects were evaluated to assess satisfaction and revisit intention. The results revealed an IKW score of 1.84, classified as "not suitable", primarily due to limited mangrove width (79 m) and low vegetation density (11 ind/100 m²). Although tidal range and biodiversity parameters scored high, their contribution was insufficient to improve the overall suitability classification. Visitor perceptions indicated satisfaction with visual aesthetics, but evaluations of facilities, educational value, and revisit intention were notably low. The ecological unsuitability and poor tourism service quality indicate that Bahowo is currently not ideal for sustainable ecotourism. The study recommends ecosystem improvement through mangrove rehabilitation and enhancement of interpretive infrastructure as prerequisites for developing an adaptive and sustainability-oriented ecotourism area. Keywords: mangrove, ecotourism, suitability, Bahowo Abstrak Ekowisata mangrove merupakan pendekatan strategis dalam pengelolaan kawasan pesisir yang mengintegrasikan konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesesuaian sumber daya dan mengevaluasi persepsi pengunjung di kawasan ekowisata mangrove Bahowo, Kota Manado. Data primer dikumpulkan melalui survei lapangan dengan pendekatan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) dan kuesioner persepsi berbasis skala Likert. Lima parameter ekosistem dianalisis untuk memperoleh nilai IKW, sedangkan enam aspek persepsi pengunjung dievaluasi guna mengetahui kepuasan dan niat kunjungan ulang. Hasil menunjukkan nilai IKW sebesar 1,84 yang termasuk kategori “tidak sesuai”, disebabkan oleh ketebalan mangrove (79 m) dan kerapatan vegetasi (11 ind/100 m²) yang rendah. Meskipun pasang surut dan keanekaragaman biota menunjukkan skor tinggi, kontribusinya tidak cukup untuk menaikkan kelas kesesuaian. Persepsi pengunjung mengindikasikan kepuasan terhadap keindahan visual, namun penilaian terhadap fasilitas, nilai edukatif, dan intensi kunjungan ulang tergolong rendah. Ketidaksesuaian ekologis dan rendahnya layanan wisata menunjukkan bahwa kawasan Bahowo saat ini belum ideal untuk ekowisata berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan perbaikan ekosistem melalui rehabilitasi mangrove dan penguatan infrastruktur interpretatif sebagai prasyarat pengembangan kawasan ekowisata yang adaptif dan berorientasi pada keberlanjutan. Kata kunci: mangrove, ekowisata, kesesuaian, Bahowo
Gastropod in The Intertidal Zone Tiwoho and Tongkaina, North Sulawesi Budi A.R.D. Juliantoro; Erly Y. Kaligis; Natali D.C. Kumampuk; Kurniati Kemer; Carolus P. Paruntu; Medy Ompi
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.62358

Abstract

This study aimed to identify the species, measure species density, and assess the diversity, similarity, and dominance of gastropod communities in the intertidal zones of Tiwoho and Tongkaina. The belt transect method was used. A measuring tape was stretched for 30 meters along the lowest tide line, with a 1-meter width on each side (total width of 2 meters), running parallel to the shoreline. The distance between each transect was 5 meters, and three transects were set up at each site.  Gastropods were collected within the 30 × 2 meter transect area. Before collection, photographs of each gastropod still attached to the substrate were taken. Each sample was then placed in a labelled plastic bag according to its transect number. Samples were stored in a deep freezer in the laboratory before identification and measurement of their length and width. Identification was done to the lowest possible taxonomic level (genus or species) using identification guides. The results showed that 14 gastropod species were found at the Tiwoho site and 11 species at the Tongkaina site. The most abundant species at Tiwoho was Drupina grossularia, while Engina alveolata and Clivipollia incarnata were the most common at the Tongkaina. Both sites showed moderate diversity and high evenness, indicating a stable gastropod community. There were no dominant species at either site. Environmental conditions at both locations were considered suitable for gastropod habitation Keywords: Gastropod, Tiwoho, Tongkaina, belt transect, litoral zone   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kepadatan, keanekaragaman, kesamaan, dan dominasi gastropoda di zona intertidal Tiwoho dan Tongkaina. Metode yang digunakan adalah belt transect dengan panjang 30 meter dan lebar efektif 2 meter (1 meter ke kiri dan kanan garis utama), diletakkan di batas surut terendah sejajar garis pantai. Jarak antar transek adalah 5 meter dengan tiga kali ulangan di setiap lokasi. Sampel gastropoda dikumpulkan sepanjang transek (30 × 2 m), difoto saat masih menempel di substrat, kemudian dimasukkan ke dalam plastik berlabel nomor transek. Sampel disimpan dalam deep freezer sebelum dilakukan identifikasi hingga tingkat genus atau spesies di laboratorium, serta dilakukan pengukuran panjang dan lebar menggunakan buku identifikasi sebagai panduan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 14 spesies gastropoda di stasiun Tiwoho dan 11 spesies di stasiun Tongkaina. Spesies dengan kepadatan tertinggi di Tiwoho adalah Drupina grosullaria, sedangkan di Tongkaina adalah Engina alveolata dan Clivipollia incarta. Keanekaragaman tergolong sedang, keseragaman populasi tinggi, dan tidak ditemukan spesies yang mendominasi di kedua lokasi. Parameter lingkungan di kedua stasiun mendukung kelangsungan hidup gastropoda. Kata kunci: Gastropoda, Tiwoho, Tongkaina, belt transect, zona litoral
Exploring the Composition and Diversity of Handline Fishery Catches in Pulau Panggang Nurani Khoerunnisa; Hanif Dzulpikah Darojat; Lady Ayu Sri Wijayanti; Mochhamad Ikhsan Cahya Utama; Nora Akbarsyah
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.62369

Abstract

Handline fishing is a traditional fishing method widely used by small-scale fishers in Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, due to its efficiency, selectivity, and environmentally friendly nature. This study aims to evaluate the species diversity and catch composition of handline fisheries in Pulau Panggang based on production data from 2021 to 2023. The analyzed data include catch volume, production value, and species composition. The results indicate that narrow-barred Spanish mackerel (Scomberomorus commerson) was the dominant species caught over the three-year period, comprising approximately 30–33% of the total catch, followed by frigate tuna, snapper, and emperor fish. The Shannon-Wiener diversity index revealed a moderate level of species diversity (ranging from 1.411 to 1.960), reflecting a relatively stable community structure. Catch volume and production value fluctuated over the study period, peaking in 2022 and declining in 2023. These findings highlight the importance of data-driven management and policies that account for seasonal variability and fishing pressure to ensure the sustainability of the handline fishery in the region. Keywords: catch, fish diversity, handline fishing, Pulau Panggang   Abstrak Pancing ulur merupakan alat tangkap tradisional yang banyak digunakan nelayan skala kecil di Pulau Panggang Kepulauan Seribu karena efisien, selektif, dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keanekaragaman dan komposisi hasil tangkapan pancing ulur di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, berdasarkan data produksi tahun 2021 hingga 2023. Data yang dianalisis mencakup volume tangkapan, nilai produksi, serta jenis spesies hasil tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan tenggiri (Scomberomorus commerson) merupakan spesies dominan selama tiga tahun berturut-turut dengan persentase sekitar 30–33%, diikuti oleh tongkol, kakap, dan lencam. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener menunjukkan tingkat keragaman sedang (nilai 1,411-1,960), yang mencerminkan struktur komunitas yang cukup stabil. Produksi dan nilai hasil tangkapan mengalami fluktuasi, dengan puncak tertinggi pada tahun 2022 dan penurunan pada 2023. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengelolaan berbasis data dan kebijakan yang mempertimbangkan musim serta tekanan penangkapan untuk menjaga keberlanjutan perikanan. Kata kunci: hasil tangkapan, keanekaragaman ikan, pancing ulur, Pulau Panggang
Variability of Oceanographic Parameters During and After Tropical Cyclone Kammuri in Talaud Islands Waters Khoirul Insan; Wilhelmina Patty; Indri S. Manembu; Rignolda Djamaluddin; Diane J. Kusen; James J. H. Paulus; Deiske A. Sumilat; Johannes E. X. Rogi
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.62642

Abstract

Tropical cyclones are meteorological phenomena in tropical regions that can bring extreme weather, including heavy rain, thunderstorms, and strong winds along their path. These conditions can pose a threat to human safety, particularly fishermen and other maritime activities. The waters of the Talaud Islands, located near the western Pacific Ocean, are frequently traversed by tropical cyclones. This study aims to analyze the variability of oceanographic parameters spatially dan temporally during and after Tropical Cyclone Kammuri in the Talaud Islands waters. The oceanographic parameter data, including wind direction and speed, current direction and speed, sea surface temperature, and chlorophyll-a, are obtained from remote sensing data and numerical modeling, which can be accessed through the CMEMS website. Result of this study shows that During the cyclone, maximum wind speed reached 9.1 m/s, triggering an increase in surface currents up to 0.55 m/s. Sea surface temperature decreased by 0.6 °C due to vertical mixing, while chlorophyll-a concentrations dropped to 0.06 mg/m³ before rising again to 0.11 mg/m³. After the cyclone passed, wind and current speeds declined, while sea surface temperature and chlorophyll-a concentrations increased over the following three weeks. Keywords: Cyclone; Wind; SST; Chlorophyll-a; Talaud Abstrak Siklon tropis merupakan fenomena meteorologi di kawasan tropis yang dapat membawa cuaca ekstrem, termasuk hujan deras, badai petir, dan angin kencang di sepanjang jalurnya. Kondisi ini berpotensi membahayakan keselamatan manusia, terutama nelayan dan aktivitas pelayaran lainnya. Perairan Kepulauan Talaud terletak di dekat Samudera Pasifik Bagian Barat dimana pada wilayah tersebut sering menjadi jalur lintasan siklon tropis. Walaupun tidak termasuk lintasan siklon tropis, kondisi oseanografi di Perairan Kepulauan Talaud dapat menerima dampak tidak langsung dari fenomena tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas parameter oseanografi secara spasial dan temporal pada saat dan setelah terjadinya Siklon Tropis Kammuri di perairan Kepulauan Talaud. Data parameter oseanografi berupa arah dan kecepatan angin, arah dan kecepatan arus, suhu permukaan laut, serta klorofil-a diambil dari data penginderaan jarak jauh dan pemodelan numerik yang dapat diakses melalui website CMEMS. Hasil penelitian menunjukaan bahwa pada saat siklon tropis kecepatan angin meningkat yaitu mencapai 9,1 m/s, memicu peningkatan kecepatan arus permukaan hingga 0,55 m/s. Suhu permukaan laut menurun 0,6 °C akibat pencampuran vertikal, sedangkan klorofil-a sempat turun menjadi 0,06 mg/m³ sebelum kembali naik ke 0,11 mg/m³. Setelah siklon berlalu, kecepatan angin dan arus menurun, sementara suhu laut dan klorofil-a meningkat dalam tiga minggu berikutnya. Kata kunci: Siklon; Angin; SPL; Klorofil-a; Talaud
Study on The Determination of Chitosan Functional Groups of Sotong (Sepia sp ) Bone Extract Tasya D.P. Br Sihotang; Inneke F.M. Rumengan; Stenly Wullur; Darus S.J. Paransa; Nickson J. Kawung; James J.H. Paulus
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.63121

Abstract

Chitosan of cuttlefish (Sepia sp). from North Sulawesi waters has never been reported yet. This study aims to (1) modify cuttlefish bone chitin into chitosan; (2) determine the yield of chitosan of cuttlefish bone raw materials; (3) determine the functional groups of chitosan obtained from cuttlefish bone using the FTIR analysis method. Samples of cuttlefish bone were collected from several locations, dried, and grinded. The steps of extraction of chitin consisted of demineralization with 1.5M HCl for 72 hours, neutralization with distilled water, deproteination with 3.5% NaOH solvent and heating at 600C for 4 hours, and then neutralization again and drying. Modification chitin to chitosan was conducted by deacetylation with 60% NaOH at 1100C for 4 hours. The results showed that the yield of chitosan was about 3.8%. The chitosan was then subjected to FTIR, and the results indicated that functional groups of the chitosan molecule, namely the -NH, -CH, CC-, -OH and -C=O groups, are in the wavelength range corresponding to the wavelength range of the standard chitosan molecule, with slight variations, especially in the -NH group. It can be concluded that the cuttlefish bone chitosan meets the criteria for functional groups of standard chitosan. Keywords: chitosan, cuttlefish bone, FTIR, deacetylation Abstrak Kitosan dari tulang sotong (Sepia sp). asal perairan Sulawesi Utara belum pernah dilaporkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) memodifikasi kitin tulang sotong menjadi kitosan; (2) mengetahui rendemen kitosan dari bahan baku tulang sotong; (3) mendeterminasi gugus fungsi kitosan dengan metode analisis FTIR. Sampel tulang sotong dikoleksi dari beberapa lokasi, dikeringkan dan digerus. Tahap-tahal ekstraksi kitin terdiri dari demineralisasi dengan HCl 1,5M selama 72 jam, netralisasi dengan akuades, deproteinasi dengan NaOH 3,5% dan pemanasan pada suhu 600C selama 4 jam, kemudian netralisasi dan pengeringan. Moodifikasi kitin menjadi kitosan dilakukan dengan deasetilasi dengan NaOH 60% dan dipanaskan pada suhu 1100C selama 4 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen kitosan yang dihasilkan sekitar 3,8%. Kitosan yang diperoleh kemudian dilakukan pengujian FTIR, ternyata hasilnya menunjukkan bahwa gugus fungsi molekul kitosan, yaitu gugus -NH, -CH, CC-, -OH dan -C=O, berada pada rentang panjang gelombang yang sesuai dengan rentang panjang gelombang molekul kitosan standar, dengan sedikit variasi terutama pada gugus -NH. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kitosan tulang sotong yang diteliti memenuhi kriteria gugus fungsi kitosan standar. Kata kunci: kitosan, tulang sotong, FTIR, deasetilasi
Gastropod Density and Diversity in Tasik Ria Beach Tourism Area, North Sulawesi Aldi Tharo; Indri S. Manembu; Noldy Mamangkey; Inneke F. M. Rumengan; Medy Ompi; Rosita A. J. Lintang
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64406

Abstract

  Baseline information on intertidal gastropod assemblages is critical for managing tropical shorelines subject to growing recreational pressure. This study quantified species composition, density and diversity of gastropods along the intertidal zone of the Tasik Ria Beach Tourism Area, North Sulawesi, Indonesia. Sampling was conducted once at low tide along three 13 m land‑to‑sea transects spaced 50 m apart. Five 1 × 1 m quadrats were placed at 2 m intervals along each transect. Epifaunal gastropods were hand‑collected, while infaunal taxa were excavated to a depth of ~25 cm; all specimens were preserved in 70 % ethanol and identified using regional monographs and the World Register of Marine Species.A total of 24 gastropod species were recorded. Mean densities at the three stations were within ranges typically associated with minimally disturbed sandy‑muddy shores, indicating that habitat remains in comparatively good condition. Shannon–Wiener diversity values (H′) fell within the low‑to‑moderate category, whereas Simpson dominance coefficients (C) were moderate at all stations, reflecting the numerical prominence of Nassarius pullus. The assemblage structure suggests a moderately healthy intertidal community that is beginning to show signs of faunal dominance. Continued periodic recommended to detect potential shifts attributable to intensifying tourism, and to inform evidence‑based coastal management and conservation strategies. Keywords: Gastropods, density, diversity, dominance, and tourist area   Abstrak Informasi dasar tentang komunitas gastropoda di zona pasang surut sangat penting untuk mengelola pantai tropis yang menghadapi tekanan rekreasi yang meningkat. Riset ini mengukur komposisi spesies, kepadatan, dan keragaman gastropoda di zona pasang surut Area Wisata Pantai Tasik Ria, Sulawesi Utara, Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan sekali saat air surut sepanjang tiga transek darat-ke-laut berukuran 13 m dan berjarak 50 m satu sama lain. Lima kuadrat berukuran 1 × 1 m ditempatkan dengan jarak 2 m di sepanjang setiap transect. Gastropoda yang hidup di permukaan dikumpulkan secara manual, sementara taksa infaunal digali hingga kedalaman ~25 cm; semua spesimen diawetkan dalam etanol 70% dan diidentifikasi menggunakan monografi regional dan World Register of Marine Species.Total 24 spesies gastropoda tercatat. Kepadatan rata-rata di tiga stasiun berada dalam rentang yang umumnya terkait dengan pantai berpasir-berlumpur yang minim gangguan, menunjukkan bahwa habitat masih dalam kondisi relatif baik. Nilai keragaman Shannon–Wiener (H′) berada dalam kategori rendah hingga sedang, sedangkan koefisien dominansi Simpson (C) moderat, mencerminkan dominasi numerik Nassarius pullus. Struktur komunitas menunjukkan komunitas intertidal yang sehat namun mulai menunjukkan tanda-tanda dominasi fauna. Pemantauan berkala direkomendasikan untuk mendeteksi pergeseran potensial akibat pariwisata, serta mendukung strategi pengelolaan dan konservasi pesisir berbasis bukti. Kata kunci: Gastropoda, kepadatan, keanekaragaman, dominansi, kawasan wisata.
Assessment of Sustainable Natural Tourism Objects in Coastal Areas: A Case Study of The Mangrove Trail Natural Tourism Attraction in Darunu Village, North Minahasa Jongky W.A. Kamagi; Pearl L. Wenas; , Frans V. Rattu; Youdy Gumolili; Margresye D. Rompas
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64643

Abstract

categories are sustainable, fairly sustainable, and unsustainable. The weights used are very important, important, moderate, less important, and unimportant. The scores used are 30, 25, 20, 15, and 10. The weightings were based on the assessment of experts with expertise in the tourism field. These tourism experts include academics, NGO workers in the tourism sector, tourism practitioners such as tour guides, and government employees from the Tourism Office at district, city, or provincial levels. This study defined five dimensions: environment (weighted 5), economy (weighted 5), social (weighted 4), governance/institutions (weighted 4), and infrastructure, communication, and promotion (weighted 5). The environmental dimension received a score of 525, categorizing it as sustainable. The economic dimension, received a score of 500, categorizing it as fairly sustainable. The social dimension received a score of 380, categorizing it as sustainable. The governance/institutional dimension received a score of 460, categorizing it as sustainable. The infrastructure, communication, and promotion dimension received a score of 750, categorizing it as sustainable. Almost all dimensions of the Darunu Village mangrove trail are considered sustainable, except for the economic dimension, which is considered quite sustainable. Keywords: Sustainable, tourist attraction, ADO-ODTWA, mangrove trail, Darunu   Abstrak Penilaian ini dilakukan dengan mengikuti cara penilaian ADO-ODTWA. Kategori penilaian adalah berkelanjutan, cukup berkelanjutan dan tidak berkelanjutan.Bobot yang digunakan adalah sangat penting, penting, moderat, kurang penting dan tidak penting.Nilai yang digunakan adalah 30,25,20,15 dan 10.  Penilaian bobot menggunakan penilaian pakar yang menguasai bidang kepariwisataan.  Ahli bidang pariwisata ini meliputi: akademisi, pekerja LSM/NGO di bidang pariwisata, praktisi dibidang pariwisata seperti tour guide, pegawai pemerintahan instansi Dinas Pariwisata di kabupaten, kotamadya ataupun propinsi. Dalam penelitian ini ditetapkan 5 dimensi yaitu: Lingkungan (bobot 5), ekonomi (bobot 5), sosial (bobot 4), tata Kelola/kelembagaan (bobot 4) serta infrastruktur, komunikasi dan promosi (bobot 5). Dimensi lingkungan mendapatkan skor 525 sehingga mendapatkan kategori berkelanjutan.  Dimensi ekonomi mendapatkan skor 500 dengan kategori cukup berkelanjutan.  Dimensi social mendapatkan skor 380 dengan kategori berkelanjutan.  Untuk dimensi tata Kelola/kelembagaan mendapatkan nilai 460 dengan kategori berkelanjutan. Serta dimensi infrastruktur, komunikasi dan promosi mendapatkan nilai 750 dengan kategori berkelanjutan.Hampir semua dimensi penilaian mangrove trail desa Darunu berkelanjutan kecuali dimensi ekonomi yang cukup berkelanjutan Kata kunci : Berkelanjutan, objek wisata, ADO-ODTWA, mangrove trail, Darunu
Phytochemical Screening of Indigofera zollingeriana Leaf Extract as Candidate Functional Ingredient in Fish Feed Lidiawati; Darus Sa’adah J. Paransa; Deiske Adeliene Sumilat; Diane Joula Kusen; Nickson J. Kawung; Juliet Merry Eva Mamahit
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64774

Abstract

This study aimed to identify the secondary metabolites in Indigofera zollengeriana leaves through phytochemical screening. The results revealed that the leaf extract contained alkaloids (+++), flavonoids (+), tannins (+), phenolics (+), and saponins (+), while steroids and triterpenoids were not detected. These phytochemical compounds possess various biological activities, including antibacterial, antioxidant, immunostimulant, and feed efficiency-enhancing properties. In aquaculture, alkaloids act as antimicrobial agents, flavonoids and phenolics reduce oxidative stress by controlling Reactive Oxygen Species (ROS), tannins support digestive health, and saponins improve nutrient absorption and pathogen control. The absence of steroids and triterpenoids adds to the safety profile, minimizing the risk of hormonal disruption and toxicity in fish. Therefore, this study highlights the potential of Indigofera leaves as a source of functional feed additives in sustainable aquaculture to enhance fish growth and health. Keywords: Indigofera zollengeriana, phytochemicals, secondary metabolites, aquaculture   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder pada daun Indigofera zollengeriana melalui uji skrinning fitokimia. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak daun Indigofera mengandung alkaloid (+++), flavonoid (+), tanin (+), fenolik (+), dan saponin (+), sedangkan senyawa steroid dan triterpenoid tidak terdeteksi. Kandungan fitokimia tersebut diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis, antara lain antibakteri, antioksidan, imunostimulan, serta peningkat efisiensi pakan. Dalam konteks budidaya perikanan, alkaloid berfungsi sebagai agen antimikroba, flavonoid dan fenolik berperan dalam menekan stres oksidatif dengan mengendalikan produksi Reactive Oxygen Species (ROS), tanin mendukung kesehatan pencernaan, sementara saponin dapat meningkatkan absorpsi nutrien dan pengendalian patogen. Ketiadaan steroid dan triterpenoid menjadi nilai tambah karena mengurangi risiko efek hormonal dan toksisitas pada ikan. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan potensi daun Indigofera sebagai sumber bahan pakan fungsional dalam akuakultur berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan ikan. Kata kunci: Indigofera zollengeriana, fitokimia, metabolit sekunder, budidaya
Microplastic Identification and Density In Coastal Sediments of Manado Bay Angelyca P. Novadah Novadah; , Natalie D.C. Rumampuk; Nickson J. Kawung; Royke M. Rampengan; James J. H. Paulus; Darus S. J. Paransa
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64777

Abstract

  Most plastics originating from anthropogenic activities generate plastic waste in aquatic environments, which is difficult to degrade even when floating on the surface, suspended in the water column, or deposited in sediment. The increasing volume of plastic waste in marine waters requires global attention to develop rapid and effective solutions for managing plastic pollution. Microplastics are small plastic particles measuring less than 5 mm, and due to their small size, they are difficult to detect. Microplastics are categorized into two types: secondary microplastics and primary microplastics. This study aims to identify the types and quantify the density of microplastics based on their types and colors. Sediment samples were collected at two stations: station 1, located at the Tondano River estuary, and station 2, located on the coast of Mandolang Beach. The characteristics and density of microplastics were determined through sampling using a 50 meter transect line. The identification of shapes and colors and the counting of microplastics were conducted using a microscope. The results of this study show that Manado Bay is accumulated with microplastics characterized by three types fragments, fibers, and films and exhibiting colors such as black, blue, red, green, and white. The average microplastic density at station 1 was 73.33 particles/kg, and at station 2 was 44.67 particles/kg, indicating the average number of microplastics found in each kilogram of sediment sample from both stations. This finding indicates that the coastal area of Manado Bay has a considerable accumulation of microplastics. Keywords: microplastic, sediment, density, coast of Manado Bay, types of microplastic   Abstrak Sebagian besar plastik dari aktivitas antropogenik menghasilkan sampah plastik di lingkungan perairan, yang sulit terurai meskipun berada di permukaan, tersuspensi di kolom air, maupun mengendap di sedimen. Bertambahnya volume sampah plastik di perairan laut memerlukan perhatian global untuk mendapatkan solusi cepat dan efektif untuk penanganan pencemaran sampah plastik. Mikroplastik merupakan partikel plastik kecil yang berukuran <5 mm, dengan ukuran yang kecil mikroplastik sulit dideteksi. Mikroplastik terbagi menjadi dua yaitu mikroplastik sekunder dan mikroplastik primer. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan menghitung kepadatan mikroplastik, dengan mengidentifikasi berdasarkan jenis dan warna. Sampel sedimen diambil di 2 stasiun, stasiun 1 terletak di muara Sungai Tondano, stasiun 2 terletak di pesisir Pantai Mandolang. Karakteristik dan kepadatan mikroplastik ditentukan melalui pengambilan sampel yang dilakukan dengan metode garis transek sepanjang 50 meter. Identifikasi bentuk dan warna serta perhitungan jumlah mikroplastik dilakukan menggunakan mikroskop. Berdasarkan hasil dari penelitian ini diketahui Teluk Manado terakumulasi mikroplastik dengan karakteristik berdasarkan jenis berupa fragmen, fiber, dan film serta mikroplastik yang ditemukan memiliki warna hitam, biru, merah, hijau, dan putih. Kepadatan mikroplastik rata-rata pada Stasiun 1 sebesar 73,33 partikel/kg dan pada Stasiun 2 sebesar 44,67 partikel/kg, yang menunjukkan jumlah rata-rata mikroplastik dalam setiap 1 kilogram sampel sedimen di masing-masing stasiun. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan pesisir Teluk Manado terdapat akumulasi mikroplastik yang cukup signifikan. Kata kunci: mikroplastik, sedimen, kepadatan, pesisir Teluk Manado, jenis mikroplastik
The Abundance of Microplastics in Gastropods in The Molas Waters of North Sulawesi Nadia I. Khoirunnisa; Nickson J. Kawung; Natalie D. C. Rumampuk; Elvy L. Ginting; N. Gustaf F. Mamangkey; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64778

Abstract

Marine debris is a global problem faced by many countries. One of the most common types of waste found in marine environments is plastic. Plastic takes about 200–1000 years to fragment without being completely degraded. In aquatic environments, plastics are exposed to ultraviolet rays, causing degradation and breaking down into smaller sizes known as microplastics. Microplastics are particles less than 5 mm in size derived from the breakdown of larger plastics. The types of microplastics include film, fiber, fragment, granule, and foam. Microplastics can enter gastropods through contaminated water or sediments. This study aims to identify the types and abundance of microplastics in gastropods. Samples were collected in Molas Waters at two different times, July 2024 and April 2025, using the roaming method. The gastropods sampled were Tylothais sp. and Terebralia sp.. The results showed that in July 2024, the number of microplastics was 3.05 particles/20 individuals, while in April 2025 it decreased to 2.2 particles/20 individuals. There was a difference in abundance between the two species, where in July 2024 Tylothais sp. had the highest number, whereas in April 2025 Terebralia sp. showed the highest. The most common type of microplastic found was fiber. Keywords: plastic, mikroplastic, particle, gastropod, abundance   Abstrak Sampah laut merupakan masalah global yang dihadapi banyak negara. Salah satu jenis sampah yang paling sering ditemukan di perairan adalah plastik. Plastik membutuhkan waktu 200–1000 tahun untuk terpecah tanpa bisa benar-benar terurai. Di perairan, plastik terpapar sinar ultraviolet sehingga mengalami degradasi dan berubah menjadi ukuran lebih kecil yang dikenal sebagai mikroplastik. Mikroplastik adalah partikel berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari pecahan plastik lebih besar. Jenis mikroplastik meliputi film, fiber, fragmen, granul, dan foam. Mikroplastik dapat masuk ke tubuh gastropoda melalui air maupun sedimen yang terkontaminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan mikroplastik pada gastropoda. Sampel diambil di Perairan Molas pada dua waktu berbeda, yaitu Juli 2024 dan April 2025, menggunakan metode jelajah. Gastropoda yang dijadikan sampel adalah Tylothais sp. dan Terebralia sp.. Hasil analisis menunjukkan pada Juli 2024 jumlah mikroplastik sebesar 3,05 partikel/20 individu, sedangkan pada April 2025 turun menjadi 2,2 partikel/20 individu. Terdapat perbedaan kelimpahan antara kedua spesies, di mana pada Juli 2024 Tylothais sp. memiliki jumlah tertinggi, sedangkan pada April 2025 tertinggi terdapat pada Terebralia sp.. Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah fiber. Kata kunci: plastik, mikroplastik, partikel, gastropoda, kelimpahan

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 3 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 1 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 3 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 2 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 3 (2022): JURNAL PESISiR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 3 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 2 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 1 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 3 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 2 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 1 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 2 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 2 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 5 No. 3 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 2 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 1 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 2 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 1 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 3, No 2 (2015): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 3, No 1 (2015): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 2, No 1 (2014): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 3 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 2 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 1 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS More Issue