cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3 (2012)" : 5 Documents clear
Interpretasi data geolistrik untuk penentuan batas antara air tanah tawar dan payau di daerah Dalen, Provinsi Drenthe, Belanda Intining Intining
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 3 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1837.907 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i3.45

Abstract

ABSTRAKDaerah penelitian terletak di Dalen, Provinsi Drenthe, Belanda. Di area ini terdapat sumur produksi air bersih yang telah berproduksi sejak awal abad 20 dan air yang dihasilkan tetap bersifat tawar. Padahal menurut studi TNO (1978), di selatan Dalen, yaitu di Coevorden, batas antara air tanah tawar dan payau (interface) pada tahun 1976 berada pada kedalaman sekitar 20 m di bawah permukaan tanah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui posisi interface dengan menggunakan data geolistrik. Data geolistrik diinterpretasi untuk mengetahui posisi batas litologi beserta nilai resistivitas batuan dengan acuan data litologi dari sumur bor serta data resistivitas yang diperoleh dari loging. Kemudian berdasarkan pada data kualitas air tanah, nilai konduktivitas batuan dikaitkan dengan nilai kadar klorida, sehingga didapat posisi kedalaman interface. Interface ini terletak pada kadar klorida 150 mg/L, sesuai dengan standar air minum Belanda. Pola posisi kedalaman interface yang diperoleh dari studi ini pada dasarnya sama dengan hasil studi TNO (1978). Interface terdangkal berada pada permukaan tanah, terletak di selatan Coevorden, di area antara Sungai Vecht dan Schoonebeker Diep. Dangkalnya interface tidak terkait dengan keberadaan sumur produksi di daerah ini. Sehingga sumur-sumur tersebut, termasuk yang terdapat di Dalen, masih aman dari kemungkinan terjadinya upconing air payau.Kata kunci: geolistrik, kadar klorida, interface, air tanah payauABSTRACTThe study area is located in Dalen, Drenthe Province, The Netherlands. In this area, there is a fresh water producing well that has been in production since the early 20th century. Meanwhile, based on TNO study (1978), to the south of Dalen, namely in Coevorden, the boundary between fresh and brackish groundwater (interface) in 1976 was at a depth of approximately 20 m below the ground surface. The purpose of this research is to determine the interface position using geoelectrical data. The geoelectrical data is interpreted to determine the depth of each lithology and its resistivity using borehole data and loging data as the reference. Furthermore, based on the water quality data, a relationship between chloride concentration and electrical conductivity values is established. Based on this relationship, interface positions can be determined. The interface is located at groundwater with chloride concentration of 150 mg/L, according to the drinking water standard in The Netherlands. The interface positions obtained from this study has a similar pattern with the result of TNO’s research (1978). The shallowest interface is at the surface, located in Coevorden, between Vecht River and Schoonebeker Diep. The interface positions are not connected with the production wells operating in the study area. So that, those wells are still safe from the upconing brackish water.Keywords: geoelectrical, chloride concentration, interface, brackish groundwater
Skenario matriks perbandingan berpasangan dalam analisis risiko aliran piroklastik Gunung Api Semeru, Jawa Timur Novie N. Afatia; Albertus Deliar; Riantini Virtriana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 3 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1294.026 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i3.46

Abstract

ABSTRAKPenduduk Indonesia yang bermukim di lingkungan gunung api disebabkan kawasan gunung api merupakan daerah subur untuk pertanian dan berpotensi bahan galian/tambang. Salah satunya adalah Gunung Semeru yang merupakan gunungapi tertinggi (3.676 m dpl.) di Pulau Jawa. Mahameru merupakan puncak tertinggi Gunung Semeru, dengan kawahnya yang disebut Jonggring Seloko yang terbuka ke arah tenggara. Pada saat terjadi erupsi salah satu produk yang dominannya adalah aliran piroklastik. Ancaman bahaya aliran piroklastik di gunung api berpotensi menimbulkan bencana berupa korban jiwa dan kerugian harta benda. Kerugian akibat bencana tersebut perlu dilakukan analisis risiko aliran piroklastik. Analisis ini dilakukan dengan melakukan pembobotan pada masing-masing kriterianya dengan menggunakan metode perbandingan berpasangan dalam konteks Analytic Hierarchy Process. Analisis risiko ini memberikan beberapa macam alternatif skenario pada matriks perbandingan berpasangannya. Matriks perbandingan berpasangan digunakan untuk membandingkan antara berbagai kriteria yang akan diberi bobot, untuk menunjukkan seberapa penting satu kriteria terhadap kriteria yang lain. Pembobotan pada subkriteria dari masing-masing kriteria dengan menggunakan ranking, yaitu metoda Rank Sum. Kriteria yang dibandingkan adalah bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Subkriteria dibagi menjadi indikator dan klasifikasi. Indikator dari kriteria bahaya berupa aliran piroklastik, indikator dari kriteria kerentanan berupa tataguna lahan, dan indikator dari kriteria kapasitas berupa alat pemantauan, akses jalan serta lembaga kebencanaan. Hasil penelitian ini adalah adanya beberapa alternatif pilihan yang akan dihasilkan dari lima skenario yang telah disusun. Semua desa memiliki daerah yang mempunyai nilai risiko paling tinggi, kecuali Desa Sidomulyo dan Desa Taman Ayu. Desa Oro Oro Ombo memiliki daerah yang paling luas dengan nilai risiko tertinggi, yaitu sebesar 187.993,7756 m2.Kata kunci: analisis risiko, ranking, perbandingan berpasangan, aliran piroklastik, bencana, Gunung Semeru ABSTRACTThe Indonesia’s population prefer to live in volcanic areas because of their fertile soil which is good for agriculture and it is potential in mineral deposits/mining. One of them is Mt. Semeru (3.676 m asl), the highest volcano in Java Island. Mahameru is the highest peak of Mt. Semeru, its crater is called Jonggring Seloko which open southeastward. Pyroclastic flow is the dominant product erupted during eruption. Pyroclastic flows are potential threat to cause loss of life and property. Due to loss of life and property a risk analysis of pyroclastic flows is required. This analysis is carried out by weighing on each criterion using pairwise comparison method in the context of Analytic Hierarchy Process. This risk analysis provides several kinds of alternative scenarios on its pairwise matrix comparison. Pairwise comparison matrix is used to compare between various criteria which will be weighed, to show how important a criterion to others. Weighing on subcriteria of each criterion by using ranking, namely Rank Sum method. The compared criteria are hazards, vulnerabilities and capacities. Subcriteria is divided into indicator and classification. Indicator of hazard criteria is pyroclastic flow, indicator of vulnerability criteria is land use, and indicator of capacity criteria is in the form of monitoring instruments, access roads and disaster management agencies. The results of this study that there are several options that would be resulted from five scenarios that had been prepared. All villages have the highest risk value areas, except Sidomulyo and Taman Ayu villages. Oro-oro Ombo has the most extensive area with the highest risk namely 187,993.7756 m2.Keywords: risk analysis, ranking, pairwise comparison, pyroclastic flows, disaster, Mount Semeru
Gejala awal letusan Gunung Lokon Februari 2011 - Maret 2012 Kristianto Kristianto; Hendra Gunawan; Nia Haerani; Iyan Mulyana; Ahmad Basuki; Sofyan Primulyana; Farid Uskanda Bina
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 3 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1400.899 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i3.42

Abstract

ABSTRAKGunung Lokon memiliki karakter erupsi yang diawali oleh letusan freatik yang berlangsung beberapa bulan dan biasanya berakhir dengan letusan magmatik yang berlangsung singkat. Aktivitas tahun 2011 diawali oleh letusan freatik pada 22 Februari 2011 dan berulang pada 26 Juni 2011. Pada Juli 2011 kejadianletusan semakin intensif. Sampai dengan Maret 2012 letusan terjadi setiap bulan. Gejala awal setiap periode letusan diamati secara visual serta instrumental dengan menggunakan metoda kegempaan, geokimia, dan deformasi. Pengamatan kegempaan menunjukkan bahwa setiap kejadian letusan selalu diawali oleh peningkatan jumlah gempa vulkanik dangkal dan gempa hembusan serta membesarnya amplituda tremor. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tekanan fl uida sebelum letusan. Peningkatan tekanan fl uida terjadi akibat proses pelepasan gas yang diikuti proses pembentukan sumbat lava yang menyebabkan kelebihan tekanan dalam konduit, ditandai dengan peningkatan gempa vulkanik dangkal. Erupsi eksplosif terjadi jika tekanan menurun secara tiba-tiba akibat rekahan pada sumbat lava. Hasil pengamatan kegempaan berkorelasi dengan hasil pengukuran deformasi yang menunjukkan adanya pemendekan dan hasil pengukuran nilai fl ux SO2 yang turun menjelang letusan.Kata kunci: letusan, freatik, gempa vulkanik dangkal, gempa hembusanABSTRACTThe characteristics of Lokon eruption is preceded by phreatic eruptions that lasted within several months and usually ends with a short magmatic eruption. The activity in 2011 was preceded by phreatic eruption on 22 February and repeated on 26 June. In July 2011, the eruptions occurred more intensively. As of March 2012 the eruption occured every month. The precursor of each eruption period was observed visually and instrumentally using seismicity, geochemistry and deformation methods. Seismicity observation showed that every eruption event was preceded by the increase in number of shallow volcanic and gasemission earthquakes and enlargement of tremor amplitude. These phenomena indicated that an increase in fluid pressure occurred prior to eruptions. The increase in fl uid pressure occurred due to gas release process followed by lava plug formation that causes over pressure of the magma in the conduit, whichwas characterized by the increase in shallow volcanic earthquakes. Explosive eruption occurs when the pressure decreases suddenly due to lava plug cracking. The results of seismicity observation correlate
Prediksi tingkat pencemaran air tanah dangkal daerah Bandung, Jawa Barat Suhari Suhari
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 3 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2073.738 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i3.43

Abstract

ABSTRAKPeta penggunaan lahan daerah Bandung dan sekitarnya dikonversikan menjadi peta potensi sumber pemcemaran terhadap air tanah dangkal. Peta ini kemudian ditumpangsusunkan dengan peta sensitivitas pencemaran air tanah menghasilkan peta baru yaitu peta prediksi tingkat pencemaran air tanah dangkal. Terdapat lima kategori tingkat pencemaran yaitu rendah, agak rendah, sedang, agak tinggi, dan tinggi. Sebagian besar daerah kajian memiliki tingkat pencemaran sedang dan agak tinggi.Kata kunci: pencemaran air tanah, BandungABSTRACTLanduse map of Bandung area and its surroundings is converted into pollutant potential to groundwater contamination map. Overlaying such the map with groundwater vulnerability map produces a new map namely predicted groundwater pollution map. There are five prediction levels of groundwater pollution namely low, rather low, moderate, rather high, and high. Most parts of the area are of moderate and rather high levels.Keywords: groundwater pollution, Bandung
Geokimia Air Danau Gunung Kelimutu Flores, Nusa Tenggara Timur Prettiina Sitinjak
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 3 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2528.586 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i3.44

Abstract

SARIGunung Kelimutu yang terletak di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur memiliki tiga buah danau kawah, yaitu danau Tiwu Nua Muri Kooh Fai, danau Tiwu Ata Polo dan danau Tiwu Ata Mbupu. Danau kawah tersebut sering berubah warna karena kandungan unsur kimia yang berbeda yang dapat juga dipengaruhi oleh aktivitas gunung api. Segitiga Cl-SO4-HCO3 menunjukkan air di lereng Gunung Kelimutu seperti air sungai Muru Keba, air panas Kolorongo, air panas Liasembe, air sungai Mboeli bertipe bikarbonat, sementara air panas Toba, air panas Jopu, air dingin Toba, air panas Mutu Loo, air panas Watugana, air panas Ae Lawa, dan air sungai Ae Mutu bertipe sulfat. Berdasarkan hasil analisis kimia diketahui bahwa komposisi kimia air dingin Toba yang mengalir di desa Roga lereng Gunung Kelimutu, memiliki pH: 3,21, suhu air: 26,20 C, dengan konsentrasi Fe: 0,51 ppm, air panas Toba memiliki pH: 2,30, suhu air 48,7°C, dengan konsentrasi Fe: 10,43 ppm, Cl: 311,61 ppm, SO4: 1.046,26 ppm, dan Fluorida: 12,89 ppm. Air sungai Ae Mutu di dusun Waturaka memiliki pH: 2,33, suhu air 19,2°C, konsentrasi Fe: 76,26 ppm, Cl: 1848,97 ppm, SO4: 3765,18 ppm, Fluorida: 15,43 ppm, dan Boron: 3,94 ppm. pH yang asam dengan tingginya konsentrasi Cl, SO4, Fe, Fluorida, Boron, dan gas CO2 berkisar 80.907,02 ppm menunjukkan kemungkinan aliran air sungai tersebut berasal dari celah-celah batuan dinding danau kawah atau kebocoran danau. Di lereng Barat Gunung Kelimutu di desa Waturaka muncul aktivitas vulkanik yang baru berupa pemunculan titik solfatara dan air panas. Suhu solfatara 96,4o C, suhu air panas 87,1o C, pH 6,80. Bila dibandingkan pengukuran suhu air tahun 2007 sebesar 90,4 o C dengan tahun 2011 sebesar 87,1o C menunjukkan adanya penurunan suhu air.Kata kunci: Kelimutu, danau kawah, mata air panas, solfatara, kebocoran, air sungai, mata air dinginABSTRACTMt. Kelimutu is located on Flores Island, East Nusa Tenggara has three crater lakes, namely Lake Tiwu Nua Muri Kooh Fai, Lake Tiwu Ata Polo, and Lake Tiwu Ata Mbupu. The colors of these crater lakes are changed oftenly because they have different chemical composition, moreover, it is also influenced by volcanic activity. The Cl-SO4-HCO3 triangle shows that the water found at Mount Kelimutu slope such as the Keba Muru river water, Kolorongo spring, Liasembe hotspring, Mboeli river water are of bicarbonate types, whereas Toba hotspring, Jopu hotspring, Toba spring, Loo hotspring, Watugana hotspring, Ae Lawa hotspring, and Ae Mutu river water are of sulfate types. Based on chemical analysis results it is known that the composition of Toba spring found at Roga village-Kelimutu flank has a pH of 3.21, the temperature is 26.2° C, with Fe concentration of 0.51 ppm, the Toba hotspring has a pH of 2.30, water temperature is Ae Mutu river water at Waturaka village has a pH of: 2.33, temperature of 19.20 C, concentration of Fe: 76.26 ppm, Cl: 1848.97 ppm, SO4: 3765.18 ppm, Fluoride: 15.43 ppm , and Boron: 3.94 ppm. The acid pH with its high concentrations of Cl, SO4, Fe, Fluoride, Boron, and CO2 gas which is about 80907.02 ppm, indicates that possibly the river water is originating from the cracks of the crater wall rock or leakage of the crater lake. At Waturaka village, in the west slope of Mt. Kelimutu there was a new volcanic activity appeared, in the form of solfatar and hot springs. The temperature of the solfatar is 96.4 ° C, the hot spring temperature is 87.10 C, and the pH is 6.80. When it is compared, the water temperature measurement in 2007 which was 90.40 C with the year 2011 which was 87.10 C showed that there was a decrease in water temperature.Keywords: Kelimutu, crater lake, hot springs, solfatar, leakage, river water, spring water

Page 1 of 1 | Total Record : 5