cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
JURNAL ENGGANO
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 26155958     EISSN : 25275186     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Enggano is published twice a year, in April and September, and contains a mixture of academic articles and reviews on all aspects of marine science and fisheries.
Arjuna Subject : -
Articles 23 Documents
Search results for , issue "Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL" : 23 Documents clear
KEANEKARAGAMAN JENIS KARANG PADA KEDALAMAN 1-5 METER DIPERAIRAN PULAU TIKUS, KOTA BENGKULU Dewi Purnama; Aradea Bujana Kusuma; Bertoka FSP Negara; Person Pesona Renta; Bona Loberto Pakpahan
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.529-547

Abstract

Terumbu karang adalah suatu habitat untuk berbagai interaksi antar organisme dalam ekosistem yang ada diperairan. terumbu karang juga  mempunyai berbagai fungsi yang antara lain sebagai gudang keanekaragaman hayati biota-biota laut, tempat tinggal sementara atau tetap, tempat mencari makan , memijah, daerah asuhan dan tempat berlindung bagi hewan laut lainnya.Identifikasi jenis karang di kawasan Perairan Pulau Tikus, Kota Bengkulu belum pernah dilakukan, oleh karena itu penelitian ini penting untuk dilakukan mengingat fungsi dan manfaat terumbu karang yang sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis karang yang ada di perairan pulau Tikus, Kota Bengkulu. Metode penelitian menggunakan metode survey. Metode pengambilan sampel menggunakan metode Purposive sampling. Identifikasi karang menggunakan metode morfometrik. Hasil penelitian ditemukan 8 genus dan 12 spesies yaitu : genus Acropora (Acropora Intermedia, Acropora Pulchra) genus Hydnopora (Hydnopora Pilosa) genus Pocillopora (Pocillopora Damicornis) genus Porites (Porites Cylindrica, Porites Lobata, Porites Synarea rus) genus Pavona (Pavona Clavus) genus Montipora (Montipora Foliosa, Montipora Samarensis) genus Ctenactis (Ctenactis Echinata) genus Palauastrea (PalauastreaRamosa)Coral reef is a habitat for various interactions between organisms in aquatic ecosystems. Coral reefs also have various functions, including as a place  for biodiversity of marine biota, temporary or permanent shelter, foraging, spawning, nursery and shelter for other marine animals. Identification of coral species in Pulau Tikus waters, Kota Bengkulu has never been conducted, therefore research is important to do considering the very important functions and benefits of coral reefs. This study aims to determine the types of corals in the waters of Tikus Island, Bengkulu City. The research method used was the survey method. The sampling method used was purposive sampling method. Coral identification using the morphometric method. The results found 8 genera and 12 species, namely: genus Acropora (Acropora intermedia, Acropora pulchra) genus Hydnopora (Hydnopora pilosa) genus Pocillopora (Pocillopora damicornis) genus Porites (Porites cylindrica, Porites lobata, Porites synarea rus) genus Pavona (Pavona clavus) genus Montipora (Montipora foliosa, Montipora samarensis) genus Ctenactis (Ctenactis echinata) genus Palauastrea (Palauastrea ramosa).
STUDI PRODUKTIVITAS IKAN HASIL TANGKAPAN KAPAL PURSE SEINE DI PPN SIBOLGA Bastian Putrayadi Silalahi; Irwan Limbong; Fitri Ariani; Mustika Nauli; Fani Fani
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.416-423

Abstract

Produktivitas alat tangkap telah menjadi hal penting bagi pengelolaan perikanan tangkap yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk Menghitung nilai produktivitas hasil tangkapan purse seine yang ada di wilayah perairan Sibolga mencakup pada analisis data produktivitas per trip yang diperoleh dari volume produksi dan jumlah per trip dalam satu tahun. Penelitian ini dimulai pada bulan November 2019 hingga April 2020 dengan lokasi penelitian di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga. Metode yang digunakan pada penelitian adalah dengan metode observasi. Data sekunder diambil dari instansi terkait yaitu PPN Sibolga. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui penyajian tabel dan grafik. Hasil analisis data yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah trip dan volume produksi (kg) tertinggi terjadi pada bulan Mei yaitu sebanyak 18.439 trip dengan volume produksi sebesar 3.317.070 kg/ trip. Pendataan kapal yang menggunakan alat tangkap purse seine dan menghitung nilai produksi dari ikan hasil tangkapan yang dihasilkan. Produktivitas trip perikanan pada data 2019 tercatat bahwa produktivitas data tahun 2019,produktivitas mengalami peningkatan pada bulan April dengan volume produksi 190,6965 kg/ trip dan mengalami penurunan pada bulan Juni yaitu sebesar 127,9559 kg/ trip.Fishing gear productivity has become important for responsible and sustainable management of fisheries. The aim of this study to calculate the productivity value of purse seine catches in the Sibolga waters area includes the analysis of productivity data per trip obtained from volume production and number of trip per year. This research began from November 2019 until April 2020 with a research location in the Sibolga Archipelago Fisheries Port. The method used in this research is the observation method. Secondary data were taken from PPN Sibolga. The analysis method using descriptively qualitatively through the presentation of tables and graphs. The results of data analysis showed that the highest number of trips and production volume (kg) in May, with 18,439 trips with a volume production amount 3,317,070 kg/ trip. The data collection of ships using purse seine boat  and calculates the production value of the catch fish produced. Fishery trip productivity in the 2019 data noted that the productivity data in 2019, productivity increased in April with a production volume of 190.6965 kg/ trip and decreased in June which amounted to 127.9559 kg / trip.
KONSTRUKSI ALAT TANGKAP JARING RAJUNGAN (Portunus pelagicus, Spp) DI KECAMATAN SUNGAI RAYA KABUPATEN BENGKAYANG Rasidi Burhan; Ira Patriani; La Baharudin
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.%p

Abstract

Beberapa alat tangkap dapat digunakan dalam melakukan penangkapan rajungan, antara lain; alat tangkap bubu, jaring gillnet, jaring arad, pukat garuk, cantrang dll. Jaring arad, pukat garuk dan cantrang masuk kedalam kelompok pukat dasar berkantong yang telah dilarang, sedangkan di kalimantan barat umumnya penangkapan rajungan menggunakan 2 alat tangkap saja, yaitu bubu dan gillnet. Alat tangkap jaring gillnet dapat mencapai 150- 200 kg (dalam 3-4 hari operasi), sihingga di pesisir Kalimantan Barat alat tangkap yang digunakan untuk menangkap rajungan didominasi oleh jaring gillnet, operasi penangkapan rajungan yang dilakukan sepanjang tahun dan penggunaan alat tangkap (gillnet) yang konstruksi berbeda-beda dapat menyebabkan kegiatan penangkapan tidak terkendali. Rajungan (Portunus pelagicus, Spp) merupakan kepiting laut yang banyak terdapat di Perairan Indonesia. Hal ini sesuai dengan kebijakan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dengan PERMEN KP No.1 Tahun 2015 tentang penangkapan Lobster, Kepiting, dan Rajungan, dimana dalam PerMen ini untuk menjaga populasi Khususnya Rajungan terdapat pelarangan untuk menangkap Rajungan dalam kondisi bertelur dan ukuran lebar kerapas lebih kecil dari 10 cm dengan berat 55gram. Penelitian ini bertujuan untuk membuat alat tangkap jaring gillnet rajungan yang selektif sesuai dengan PerMen KP No.1 Tahun 2015. Berdasarakan hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan ukuran mata jarring yang digunakan adalah 5 – 7 inchi, nilai shorthening berkisar 50-70%, pada trip 1 pada model no 25 s/d 30 mendapatkan hasil yang terbanyak yaitu 26 ekor rajungan dimana ukuran kerapas <10cm = 0,34% dan >10cm = 0,66%, sedangkan pada trip 2 dengan model yang sama mendapatkan 19 ekor rajungan dimana ukuran kerapas <10cm = 0,26% dan >10cm = 0,74%. Pada model 25 s/d model 30 ini kontruksi alat tangkap adalah ; Ukuran mata (MS) = 6” dan Nilai Shorthening = 40%.Several fishing gears can be used in catching small crabs, among others; traps, gillnet nets, arad nets, scratching nets, cantrangs etc. Arad nets, pukat scratches and cantrang are included in the banned pukat bottom trawling group, while in West Kalimantan, generally catching small crabs uses only 2 fishing gears, namely bubu and gillnet. The gillnet net fishing gear can reach 150-200 kg (in 3-4 days of operation), so that on the coast of West Kalimantan the fishing gear used to catch small crabs is dominated by gillnet nets, crab fishing operations are carried out throughout the year and the use of fishing gear (gillnet) whose constructions vary can lead to uncontrolled fishing activities. The crab (Portunus pelagicus, Spp) is a sea crab that is widely found in Indonesian waters. Based on the results of observations and measurements in the field, the size of the meshes used is 5 - 7 inches, the shorthening value ranges from 50-70%, on trip 1 on models no.25 to 30 get the most results, namely 26 crabs where the kerapas size <10cm = 0.34% and> 10cm = 0.66%, while on trip 2 with the same model, 19 crabs were obtained where the size of the crabs <10cm = 0.26% and> 10cm = 0.74%. In model 25 to model 30, the construction of fishing gear is; Eye size (MS) = 6 ”and Shorthening Value = 40%. 
ASPEK PERTUMBUHAN IKAN SELAR BENTONG (Selar crumenophthalmus) YANG DIDARATKAN DI PPN SIBOLGA Dian Fitria M; Rosmasita Rosmasita; Noni Ummu Salama Sibuea; Tengku Muhammad Ghazali
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.473-482

Abstract

Ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus) merupakan salah satu ikan ekonomis penting yang berada di PPN Sibolga, Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek pertumbuhan berupa distribusi ukuran, hubungan panjang berat dan nilai kemontokan ikan (faktor kondisi) S. crumenophthalmus. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik observasi dengan jumlah sampel S. crumenophthalmus yang sebanyak 115 ekor. Sebaran ukuran panjang S. crumenophthalmus yang diperoleh 155 – 255 mm. Berdasarkan hasil analisis korelasi antara panjang dan berat S. crumenophthalmus seluruhnya positif dan sangat kuat, S. crumenophthalmus memiliki nilai koefisien korelasi 0,85697 dengan koefisien determinasi (R2) 0,7344. Hal ini berarti terdapat hubungan yang erat antara berat dan panjang tubuh dari S. crumenophthalmus. Hasil uji regresi antara panjang dan berat S. crumenophthalmus adalah W = 0,0000027982L4,4609, dilanjutkan dengan uji nilai b (nilai koefisien regresi) diperoleh b>3 yang berarti pola pertumbuhan dari S. crumenophthalmus bersifat allometrik positif. Artinya bahwa pertambahan berat lebih cepat dibandingkan pertambahan panjang totalnya. Berdasarkan nilai faktor kondisi relatif (nilai kemontokan) S. crumenophthalmus tergolong ikan dengan tubuh yang kurang pipih/montok.Bigeye scad (Selar crumenophthalmus) is one of the important economical fish in the Fish Auction in Sibolga, North Sumatra. This study aimed to determine aspects of growth in the form of size distribution, length and weight relationship value of fish plaque (condition factor) S. crumenophthalmus. The method was used a descriptive method with observation techniques with a number of samples of S. crumenophthalmus as many as 115 individuals. Distribution of the length of S. crumenophthalmus was obtained 155 - 255 mm. Based on the results of the correlation analysis between the length and weight of S. crumenophthalmus were all positive and very strong, S. crumenophthalmus had a correlation coefficient of 0.85697 with a coefficient of determination (R2) of 0.7344. This means that there was a close relationship between body weight and length of S. crumenophthalmus. The result of regression test results between length and weight of S. crumenophthalmus were W = 0.0000027982L4.4609, followed by a test of value b (regression coefficient value) obtained b > 3, which means the growth of fish pattern shown allometric positive. This means that the weight gain is faster than total length increase. Based on the value of the relative condition factor S. crumenophthalmus classified as fish with a body that is less flat or plump.
KEANEKARAGAMAN IKAN GELODOK (MUDSKIPPER) DI HUTAN MANGROVE KECAMATAN UJUNG PANGKAH KABUPATEN GRESIK Apria Ningsih; Hari Santoso
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.367-376

Abstract

Ikan glodok (mudskipper) merupakan ikan yang hidup di daerah intertidal. Ikan ini memliki karakteristik menyerupai amphibi, yang dapat berjalan diatas lumpur dan memanjat akar mangrove. Informasi mengenai ikan glodok di Indonesia masih relative sedikit. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui keanekragaman ikan glodok (mudskipper) di hutan mangrove Kecamatan Ujung Pangka Kabupaten Gresik. Penelitian ini dilakuakan pada bulan Februari 2019 hingga Maret 2019. Metode pengambilan data dengan purposive sampling. Terdapat tiga titik pengambilan data yaitu pantai, hutan mangrove dan sungai. Identifikasi ikan glodok mengacu pada buku Saanin,H (1968). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 4 jenis ikan glodok yaitu Baleophtalamus boddarti, Baleophtalamus pectinirostris, Periphtalamus chyrospilos, Pherithalmodon schosseri. Rata-rata keanekaragaman ikan glodok pada kondisisi air laut surut adalah 1.4 ind/m2 di daerah pantai, 1.48 ind/m2 di daerah mangrove dan 1.58 ind/m2 didaerah sungai. Rata-rata keanekaragaman ikan glodok pada kondisi air laut pasang adalah 0.98 ind/m2 di daerah sungai. Berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP) Periphtalamus chyrospilos mendominasi di daerah pantai. Pherithalmodon schosseri mendominasi di daerah hutan mangrove. Baleophtalamus boddarti mendominasi di daerah sungai. Keanekaragaman ikan glodok di Kawasan hutan mangrove ujung pangka termauk katagori sedang. Diperlukan pelestarian hutan mangrove untuk menjaga keaneragaman satwa pada kawasan tersebut.Glodok fish (mudskipper) is a fish that lives in intertidal areas. This fish has characteristics like amphibians, which can walk on mud and climb mangrove roots. Information about glodok fish in Indonesia is still relatively little. The purpose of this study was to determine the diversity of glodok fish (mudskipper) in the mangrove forests of Ujung Pangka District, Gresik Regency. This research was conducted from February 2019 to March 2019. The data collection method was purposive sampling. There are three data collection points, namely beaches, mangrove forests and rivers. Glodok fish identification refers to the book Saanin, H (1968). Based on the research results obtained 4 types of glodok fish, namely Baleophtalamus boddarti, Baleophtalamus pectinirostris, Periphtalamus chyrospilos, Pherithalmodon schosseri. The average diversity of glodok fish in low tide conditions is 1.4 ind / m2 in coastal areas, 1.48 ind / m2 in mangrove areas and 1.58 ind / m2 in river areas. The average diversity of glodok fish in high tide conditions is 0.98 ind / m2 in the river area. Based on Importance Value Index (INP), the periphtalamus chyrospilos dominates in coastal areas. Pherithalmodon schosseri dominates in mangrove forest areas. Baleophtalamus boddarti dominates in river areas. Glodok fish diversity in the end of pangka mangrove forest is included in the medium category. The preservation of mangrove forests is needed to maintain the diversity of animals in the area.
ANALISIS USAHA PENANGKAPAN IKAN DENGAN ALAT TANGKAP JARING INSANG DI SENTRA PERIKANAN TANGKAP PASAR BAWAH, MANNA, BENGKULU SELATAN Tri Anggita; Zamdial Zamdial; Nurlaila Evina Herliany
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.548-565

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung dan menganalisis kelayakan usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap jaring insang berdasarkan segi aspek finansial di Pasar Bawah Kecamatan Pasar Manna Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengklu. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Data primer dil kumpulkan dengan metode obsevasi dan wawancara. Data hasil penelitian di analisis dengan metode statistik deskriptif. Jaring insang yang dioperasikan nelayan di Sentra Perikanan Pasar Bawah, Manna, memiliki panjang 3.300 meter dengan kedalaman 4 meter dan ukuran mata jaring 2 ¼ inchi. Perahu/kapal penangkapan yang digunakan adalah berupa perahu motor tempel, dengan ukuran 3,38 GT dengan kekuatan daya mesin 40 PK. Daerah penangkapan ikan sebagai lokasi operasi jaring insang berada pada  jarak 1-2 mil dari muara Sungai Manna. Jenis ikan hasil tangkapan adalah gebur (Caranx sexfasciatus), selar (Selaroides leptolepis), keling-keling (Megalaspis cordyla), layur (Trichiurus savala), tenggiri (Scomberomorus commersoni), kerong (Therapon theraps), tongkol (Auxis thazard), kape-Kape (Lactarius lactarius), manyung (Arius sp.), dan beberapa jenis ikan rucah. Berdasarkan analisis aspek finansial usaha penangkapan ikan dengan jaring insang oleh nelayan di Sentra Perikanan Tangkap Pasar Bawah, Manna diperoleh nilai NPV = Rp. 202.113.474,00 Net B/C Ratio = 1,15 , IRR = 77,86 % , dan PP = 1,2 tahun atau 1 tahun 2 bulan. Usaha penangkapan ikan dengan jaring insang di Sentra Perikanan tangkap Pasar Bawah Manna, Bengkulu Selatan dinyatakan mempunyai kelayakan berdasarkan aspek finansial.This study aims to calculate and analyze the feasibility of fishing with bottom gillnet fishing gear based on financial aspects in Pasar Bawah, Pasar Manna District, South Bengkulu Regency, Bengklu Province. This research was conducted using a survey method. Primary data were collected using observation and interview methods. The research data were analyzed using descriptive statistical methods. The gill nets that operated by fishermen at the Pasar Bawah fishing base, Manna, are 3,300 meters long with a depth of 4 meters and a mesh size of 2 ¼ inches. The fishing boat/vessel that used is an outboard motor boat, with a size of 3.38 GT with an engine power of 40 PK. The fishing area as the location for the bottom gill net operation is 1-2 miles from the mouth of the Manna River. The species of fish caught are gebur (Caranx sexfasciatus), selar (Selaroides leptolepis), keling-keling (Megalaspis cordyla), layur (Trichiurus savala), mackerel (Scomberomorus commersoni), kerong (Therapon theraps), tongkol (Auxis thazard), kape-kape (Lactarius lactarius), manyung/sea catfish (Arius sp.), and several types of trash fish. Based on the analysis of the financial aspects of the fishing activities by gill nets by fishermen at the fishing base in Pasar Bawah, Manna obtained the NPV value = Rp. 202,113,474.00, Net B / C Ratio = 1.15, IRR = 77.86%, and PP = 1.2 years or 1 year 2 months. The fishing activities with bottom gill nets in the fishing base of Pasar Bawah Manna, South Bengkulu is declared to be feasible based on the financial aspect.
KERAGAMAN IKAN LAUT DANGKAL PROVINSI BENGKULU Abdul Rahman; Ariefa Primair Yani; Aziza Fajri
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.424-438

Abstract

Provinsi Bengkulu dengan 14.929,54 km2 perairan laut dan 525 km garis pantai diduga akan berhubungan dengan keragaman ikan laut yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis-jenis ikan laut dangkal di perairan Provinsi Bengkulu. Sampel ikan laut yang diinventarisasi terbatas pada hasil tangkapan nelayan menggunakan pukat tepi atau perahu tradisional tanpa lampu. Lokasi pengambilan sampel (sampling) pada penelitian ini adalah di kawasan Pantai Zakat dan Pulau Baai Kota Bengkulu, dan Desa Lubuk Tanjung Bengkulu Utara. Sampling dilakukan dengan metode sensus berupa koleksi terhadap semua jenis yang ditemukan, dan dihentikan jika temuan jenis baru kurang dari 10% dari jenis yang sudah didapatkan sebelumnya. Sampel dideskripsi berdasarkan struktur meristik dan morfometrik, dan diidentifikasi berdasarkan kunci identifikasi yang relevan. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 37 spesies (27 famili) ikan laut dangkal yang terdapat di Provinsi Bengkulu. Famili dengan keragaman terbesar adalah Clupeidae dan Carangidae, yaitu masing-masing sebanyak empat dan tiga jenis. Jenis yang konsisten ditemukan di ketiga lokasi adalah Arius thalassinus (Gaguk), Eleutheronema tetradactylum (Senangin), Johnius borneensis (Kerong), Johnius trachycephalus (Galama), Opisthopterus tardoore (Bleberan), dan Pentaprion longimanus (Kape-kape karang). Hanya satu jenis yang termasuk dalam Chondrichthyes yaitu Taeniura lymna. Lokasi Pantai Zakat memiliki keragaman jenis tertinggi, yaitu sebanyak 17 jenis. Lokasi dengan keragaman ikan laut terendah adalah Pulau Baai yaitu hanya sebanyak delapan jenis.Province of Bengkulu with its 14.929,54 km2 sea waters and 525 km shoreline is expected to correlate with a high diversity of marine fish. This research aims to inventorize the diversity of marine fishes in the epipelagic zone Province of Bengkulu. Sample in this research was restricted only to the fishes that was caught by using traditional boat or shore trawl. The sampling stations were in Pantai Zakat and Pulau Baai at city of Bengkulu, and Lubuk Tanjung village at Bengkulu Utara. Cencus method was applied by collecting all the located species, and sampling was terminated if the new species was found less than 10% of the total identified sample. Sample was described based on the meristic and morphometric structure, and then was identified for its scientific name by using some related references. This research found 37 species (27 family) of sea fish at epipelagic zone of Bengkulu Province. Family with the highest diversity were Clupeidae and Carangidae, with four and three species respectively. There are six species that were consistently found in all sampling locations, i.e. Arius thalassinus (Gaguk), Eleutheronema tetradactylum (Senangin), Johnius borneensis (Kerong), Johnius trachycephalus (Galama), Opisthopterus tardoore (Bleberan), and Pentaprion longimanus (Kape-kape karang). Only a species, Taeniura lymna, belongs to the Chondrichthyes. Pantai Zakat has the highest diversity with 17 species, while Pulau Baai was the lowest with only eight species.
MERANCANG USAHA PENGOLAHAN PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN UNTUK MENDUKUNG PESANTREN DALAM MENGHADAPI NEW NORMAL : PENDEKATAN SISTEM DINAMIK Ramli Ramli; Ismi Jasila
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.302-317

Abstract

Kementerian Agama telah membuat kebijakan tentang kegiatan Pesantren dalam menghadapi new normal. Salah satu kebijakannya adalah Pesantren dihimbau untuk menyediakan makanan sehat, aman dan bergizi seimbang bagi santri. Diantara produk pangan yang memiliki kandungan gizi yang baik adalah produk kelautan dan perikanan. Oleh karena itu dalam upaya penyediaan makanan sehat dan bergizi, pesantren dapat merancang usaha pengolahan produk kelautan dan perikanan. Rancangan usaha pengolahan produk kelautan dan perikanan selain dapat memberikan manfaat dalam penyediaan makanan sehat dan bergizi bagi santri juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi pesantren karena selama ini santri membeli aneka ragam makanan diluar pesantren. Namun begitu keberlangsungan usaha pengolahan produk kelautan dan perikanan di pesantren akan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumberdaya manusia yang produktif, ketersediaan hasil kelautan dan perikanan sebagai bahan baku, manajemen produksi yang efisien dan produk olahan kelautan dan perikanan diterima dengan baik oleh pasar. Penelitian ini bertujuan merumuskan skenario kebijakan bagi Pesantren dalam merancang usaha pengolahan produk kelautan dan perikanan untuk menghadapi new normal. Metodologi penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan sistem dinamis. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa Rumusan skenario kebijakan bagi Pesantren dalam merancang usaha pengolahan produk kelautan dan perikanan untuk menghadapi new normal adalah 1) mempercepat waktu konversi pesanan agar pesanan secara cepat direspon menjadi sebuah permintaan definitif atau repeat order, 2) memperpanjang waktu persediaan dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja agar persediaan dapat lebih cepat memenuhi target persediaan, 3) mempercepat jeda perubahan persediaan dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja agar permintaan secara cepat dapat di penuhi, dan 4) meningkatkan produktivitas tenaga kerja untuk menurunkan kebutuhan tenaga kerja.Ministry of Religion has made a policy on the activities of Pesantren in the face of new normal. One of its policies is that Pesantren is encouraged to provide healthy, safe and nutritious food for santri. Among food products that have good nutritional content are marine and fishery products. Therefore, in the effort to provide healthy and nutritious food, pesantren can plan the business of marine and fisheries products processing. Planning the  business of marine and fishery products processing in addition can provide benefits in the provision of healthy and nutritious food for santri can also provide economic benefits for the pesantren because during this time santri buy a variety of food outside the pesantren. However, the sustainability of the business of marine and fishery products processing in Pesantren will be strongly influenced by the availability of productive human resources, the availability of marine and fishery results as raw materials and marine and fishery products are well received by the market. This Research aims to provide an policy alternative for Pesantren in plan the business of marine and fishery products processing. The Research methodology done on this research is to use a dynamic system approach. Based on the research that has been conducted, obtained the results that the policy alternative to Pesantren in planning the  business of marine and fishery products processing is 1) harmonize production with markets that include order-demand, inventory-inventory target and inventory-demand and 2) harmonize labour needs-availability labour
PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PENENTUAN KAWASAN WISATA DI KABUPATEN NIAS, SUMATERA UTARA Emma Suri Yanti Siregar; Rosmasita Rosmasita; Insaniah Rahimah; Fitri Ariani; Zufriwandi S; Elisabet R S
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.483-494

Abstract

Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan dalam pembangunan untuk meningkatkan pendapatan nasional, penyerap tenaga kerja, dan penyumbang devisa negara. Sistem informasi geografis merupakan perkembangan ilmu komputer dan geografis yang disatukan sehingga menjadi suatu sistem yang dapat dimanfaatkan guna pengambilan keputusan baik pemerintah maupun swasta. Riset ini bertujuan untuk; Menganalisa kesesuaian lahan untuk wisata bahari/pantai sebagai pengembangan ekowisata, merincikan zona/sub zona pariwisata dalam bentuk pembagian blok pemanfaatan ruang dan merumuskan strategi pengembangan ekowisata dan rekomendasi untuk pemangku kepentingan berdasarkan potensi wisatanya. Analisis kesesuaian kawasan dilakukan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis dengan berlandaskan pada Indeks Kesesuaian Wisata. Hasil analisis peta kesesuaian wisata menunjukan bahwa area di Kab. Nias dibagi menjadi 3 kategori kesesuaian yaitu: sesuai, sesuai bersyarat dan tidak sesuai. Alokasi ruang di Kec. Bawolato terdiri dari 3 zona pemanfaatan; wisata snorkeling (42,45 ha), wisata selam (245,32 ha) dan wisata memancing (237,88 ha) sedangkan di Kec. Idanogawo terdiri dari 2 zona pemanfaatan; wisata pantai (1,55 ha) dan wisata renang (6,27 ha). Pertimbangan berdasarkan luas area lima jenis wisata ini dapat dilakukan pengelolaan dan pengembangan wisata dalam membantu perekonomian masyarakat setempat.Tourism is one of the leading sectors in development to increase national income, absorb employment, and contribute to the country's foreign exchange. Geographic information systems are developments in computer science and geography that are put together so that it becomes a system that can be utilized for decision making both government and private. This research aims to; Analyzing land suitability for marine/beach tourism as ecotourism development, detailing tourism zones / sub-zones in the form of division of space utilization blocks and formulating ecotourism development strategies and recommendations for stakeholders based on tourism potential. Regional suitability analysis is carried out using a Geographic Information System based on the Tourism Suitability Index. The results of the analysis of the tourism suitability map show that the area in the district. The Nias district is divided into 3 categories of suitability, namely: suitable, conditionally suitable, and unsuitable. Space allocation in Bawolato sub-district consists of 3 utilization zones; snorkeling (42.45 ha), diving (245.32 ha), and fishing (237.88 ha) while in Idanogawo sub-district consists of 2 utilization zones; beach tourism (1.55 ha) and swimming tourism (6.27 ha). Consideration based on the area of the five types of tourism can be carried out through the management and development of tourism in helping the economy of the local community.
DIVERSITAS IKAN PADA KOMUNITAS PADANG LAMUN DI PANTAI KEMA, SULAWESI UTARA. Fione Yukita Yalindua; Putri Sapira Ibrahim; Nurdin Manik
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.377-391

Abstract

Kondisi padang lamun di perairan Pantai Kema akan terus mengalami perubahan sebagai dampak negatif dari berbagai aktivitas penduduk setempat yang tidak konservatif. Akibatnya diversitas jenis ikan yang berasosiasi di dalamnya juga akan semakin berkurang. Akan tetapi, informasi mengenai diversitas spesies ikan padang lamun di daerah ini masih sangat terbatas. Oleh karena itu, pada bulan April 2014 dilakukan penelitian pada ikan padang lamun untuk mengetahui diversitas jenis dan kelimpahan ikan serta struktur komunitasnya. Pengambilan sampel dilakukan di empat stasiun dengan metode swept area menggunakan beach seine.  Hasil tangkapan seluruhnya adalah 2.621 individu ikan, terdiri atas 60 spesies dari 26 famili. Jumlah spesies ikan yang ditemukan secara spasial bervariasi dari 27- 47 spesies dengan total kelimpahan relatif  antara 14,08–34,91%. Famili Labridae dan Atherinidae merupakan famili paling dominan di semua stasiun dengan total kelimpahan relative sebesar 33,62% dan 25,45%. Tiga jenis yang paling umum ditemukan adalah Hypoatherina temminckii, Halichoeres papilionaceus dan Halichoeres melanurus. Komunitas ikan di padang lamun Pantai Kema termasuk kategori sedang (moderat) dengan stabilitas komunitasnya tidak stabil. Tipe asosiasi padang lamun yang berbeda mempengaruhi perbedaan keragaman jenis dan kelimpahan ikan yang hidup di dalamnya. Walaupun demikian, seluruh padang lamun di perairan pantai Kema masih dalam kondisi kondusif sebagai habitat ikan.Seagrass condition at Kema coastal area will continue to change as a negative impact of various activities of local people who are not conservative. As a result, the diversity of fish species is going to decrease. However, information about the diversity of seagrass fish species in this area is still limited. Therefore, in April 2014 a study of seagrass fish community structure was carried out to know the diversity of species, fish abundance and community structure. Sampling was carried out at four stations with swept area method using beach seine. A total of 2.621 individuals were collected, consisting of 60 species from 26 families. The number of fish species found spatially varies from 27 to 47 species with a total relative abundance of 14.08-34.91%. Labridae and Atherinidae families are the most dominant families in all stations with a total relative abundance of 33.62% and 25.45%. The three most common species are H. temminckii, H. papilionaceus and H. melanurus. Community structure of seagrass fish at Kema coastal area is moderate and unstable. The difference of seagrass beds association type affect the diversity of species and fish abundance. However, all seagrass beds at Kema coastal area are still conducive for fish habitat.

Page 1 of 3 | Total Record : 23