cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
JURNAL ENGGANO
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 26155958     EISSN : 25275186     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Enggano is published twice a year, in April and September, and contains a mixture of academic articles and reviews on all aspects of marine science and fisheries.
Arjuna Subject : -
Articles 212 Documents
Bioekologi Ikan Sidat (Anguilla sp) dari Perairan Provinsi Bengkulu Maya Anggraini Fajar Utami; Dewi Purnama; Suprianty JH Sinaga; Dwanda Fachlevy; Tri Gusti Sumarni; Yenni Putri Sari
JURNAL ENGGANO Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eel (Anguilla spp.) is a food fish with significant economic value and is found in rivers that border the ocean. Studying the relationship between the biological and ecological factors of eel is essential to determine species diversity, fish size, and environmental aspects. This study aims to identify eel catches based on external morphological characteristics and ecological aspects found in Bengkulu Province. The method used in this research is a survey method with eel samples collected through purposive sampling and measurements of water parameters from three rivers: the Jenggalu River, Riak Siabun, and Air Manna. Based on the research results, Anguilla bicolor was found in the Jenggalu and Riak Siabun rivers. In the Manna River, two species of eel were identified: Anguilla marmorata and Anguilla bicolor. Water quality parameter measurements indicatedin the optimal condition for eel growth in all three rivers, which featured sandy mud and rocky gravel substrates Keywords: Biology, Ecology, Eel, Water Quality, River
Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga Nelayan di Desa Bontolebang Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar Hasriyanti; Maisarah Munirah Latief; Ernawati S. Kaseng
JURNAL ENGGANO Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.11.1.74-81

Abstract

This study aims to find out what opportunities exist in fishing villages to diversify jobs as a strategy to maintain survival in Bontolebang Village, Galesong District, Takalar Regency, how are the efforts made by fishing families to diversify these jobs, and what kinds of jobs are fishermen's families and anyone (family members) involved in the work. Furthermore, interpretation is carried out by giving meaning, explaining patterns or categories and also looking for interrelationships between various concepts. The results of the study stated that the strategy carried out was to adapt, diversify jobs, empower fisherwomen and female heads of household (WKRT) fishermen as much as possible, both related to fishing activities and outside. The possibility to diversify occupations depends on the available resources in the fishing villages. Each fishing village has different characteristics of the natural environment.
Aktivitas Senyawa Aktif Rumput Laut (Eucheuma spinosum) dari Perairan Sulawesi Utara Miranto Stevanus Tappy; Aef Permadi; Niken Dharmayanti; Nova M. Tumanduk
JURNAL ENGGANO Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.11.1.26-35

Abstract

Rumput laut atau alga merupakan bagian terbesar dari tanaman laut yang menyediakan sumber daya alam melimpah, salah satunya Eucheuma spinosum (E. spinosum). Rumput laut adalah tanaman tingkat rendah yang tidak memiliki perbedaan susunan kerangka seperti akar, batang dan daun yang sejati dan lebih dikenal dengan nama tumbuhan talus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rendemen rumput laut, menganalisis senyawa fitokimia secara kualitatif dan menganalisis aktivitas antioksidan dengan metode DDPH yang diekstraksi menggunakan metanol teknis dan metanol pro analisis. Hasil uji rendemen ekstrak metanol teknis 1,64% dan rendemen ekstrak metanol pro analisis 1,59%. Senyawa fitokimia dengan pelarut metanol teknis dan metanol pro analisis mendapatkan hasil yang sama-sama (+) pada golongan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid dan fenol. Aktivitas antioksidan E. spinosum sebagai penangkal radikal bebas menggunakan pelarut metanol teknis dan metanol pro analisis menunjukkan nilai IC50 kuat dan sangat kuat ditandai dengan nilai IC50 metanol teknis 30,73±1,49 ppm dan metanol pro analisis 17,62±11,85 ppm. Kata kunci: Eucheuma spinosum, Rumput Laut, Senyawa Aktif
Struktur Komunitas Terumbu Karang di Perairan Pulau Soetan di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat Rehan Febrian; Aditya Bramana; Hendra Irawan; Meuthia Aula Jabbar; Dadan Zulkifli; Ratna Suharti; Siti Mira Rahayu
JURNAL ENGGANO Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.11.1.48-59

Abstract

Ekosistem terumbu karang merupakan keanekaragaman hayati pesisir dan lautan Indonesia yang berhubungan dengan berbagai ekosistem pesisir dan lautan lainnya. Semakin baiknya indeks kesehatan terumbu karang semakin banyak juga ketersediaan tempat bagi ikan untuk melangsungkan siklus hidupnya. Ikan karang adalah salah satu kelompok taksa ikan yang berasosiasi dengan ekosistem terumbu karang. Terdapat 2057 spesies dengan 113 famili dan 6 famili yang tergolong sebagai famili indikator yang dapat mempresentasikan ikan karang yang ada di perairan di Indonesia. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Agustus hingga Oktober 2023 di perairan Pulau Soetan Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Pengamatan tutupan karang dilakukan dengan metode foto transek bawah air dengan panjang transek 50 meter, sedangkan pengamatan ikan karang menggunakan metode under water visual census. Persentase tutupan terumbu karang di kedalaman 5 m berkisar antara 4,20% - 27,77% dan kedalaman 10 m berkisar antara 1,46% - 14,12%. Indeks dominansi, indeks keanekaragaman dan indeks keseragaman terumbu karang termasuk dalam kategori sedang. Hasil pengamatan pada kedalaman 5 m ditemukan 14 famili, 36 spesies, 429 individu, sedangkan pada kedalaman 10 m ditemukan 6 famili, 11 spesies, dan 126 individu, dengan rata-rata kelimpahan ikan karang sebesar 7,72 ind/m2 di kedalaman 5 m dan 2,56 ind/m2 di kedalaman 10 m. Pada kondisi ini, faktor pembatas masih memenuhi syarat untuk pertumbuhan terumbu karang dan biota yang berasosiasi. Hasil pengamatan kualitas perairan menunjukkan hasil yang masih sesuai untuk mendukung pertumbuhan terumbu karang. Kata Kunci : Ikan Karang, Pulau Soetan, Terumbu Karang
Pola Migrasi Zooplankton Berdasarkan Waktu dan Kedalaman di Perairan Kampung Bugis, Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau Sisiliawati; Tri Apriadi; Andi Zulfikar
JURNAL ENGGANO Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.11.1.60-73

Abstract

Zooplankton merupakan mikroorganisme akuatik yang hidup melayang di kolom perairan, yang hanya bisa bergerak sedikit dan tidak bisa melawan arus. Pada umumnya zooplankton biasanya bermigrasi ke dasar perairan pada siang hari dan kembali ke permukaan pada malam hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola migrasi pada zooplankton Berdasarkan waktu dan kedalaman di Perairan Kampung Bugis, Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Agustus-September 2023 di Perairan Kampung Bugis. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling pada 3 titik sampling dengan 3 kedalaman yaitu, dekat permukaan, tengah, dan dekat dasar. Sampel zooplankton diambil 2 minggu sekali dengan 3 kali pengulangan, sebanyak 108 botol pada 3 titik sampling berdasarkan tingkat kedalaman perairan dan waktu sampling. Pengukuran parameter fisika dan kimia dilakukan secara in situ di lapangan. Hasil dari penelitian ini didapatkan kelimpahan zooplankton berdasarkan stasiun hulu, tengah, dan hilir, pada saat siang hari zooplankton lebih banyak di dekat dasar, sedangkan saat malam hari kelimpahan lebih banyak di dekat permukaan. Berdasarkan hasil indeks zooplankton antar stasiun, indeks keanekaragaman berkategori sedang, indeks keseragaman berkategori tinggi, sedangkan indeks dominasi berkategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa Perairan Kampung Bugis masih stabil dengan tekanan lingkungan yang rendah dari indeks dominasi. Pola migrasi zooplankton berdasarkan waktu dan kedalaman, di waktu pagi hari berada di dekat dasar dan saat malam hari akan bergerak menuju ke dekat permukaan.
Struktur Komunitas Mangrove di Pulau Mapur Utara Kabupaten Bintan Oktalistiana; Rika Anggraini; Jelita Rahma Hidayati
JURNAL ENGGANO Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.11.1.36-47

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dan mengetahui struktur komunitas mangrove di Pulau Mapur Utara Kabupaten Bintan. Penentuan stasiun menggunakan metode purposive sampling dengan tiga stasiun plot pengamatan. Pengambilan data mangrove menggunakan metode transek kuadran, dengan melakukan penarikan transek garis sepanjang ditemukan ekosistem mangrove, garis transek ditarik dari arah laut menuju darat dengan plot berukuran 10 x 10m untuk pohon, 5 x 5m untuk pancang, 1 x 1m untuk semai. Komposisi jenis yang ditemukan terdapat 6 jenis yaitu, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Xylocarpus granatum, Bruguiera gymnorrhiza dan Ceriops decandra. Hasil kerapatan yang diperoleh mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 201 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa mangrove ketiga stasiun di Pulau Mapur Utara mempunyai standar tingkat kepadatan vegetasi mangrove atau kategori yang berbeda. Stasiun 1 memiliki nilai 1550 ind/Ha termasuk kriteria baik (sangat padat), pada stasiun 2 nilainya 1717 ind/Ha termasuk kriteria baik (sangat padat), dan pada stasiun 3 nilainya 1083 ind/Ha termasuk kriteria baik (sedang). Pada stasiun 1,2, dan 3 jenis yang paling mendominasi yaitu Rhizophora sp. Berdasarkan hasil INP di Pulau Mapur Utara dapat dilihat bahwa jenis Rhizophora sp. sangat mendominasi dan tersebar merata hampir di seluruh area ekosistem mangrove. Kata kunci: Mangrove, Komposisi jenis, Pulau Mapur Utara
Uji Aktivitas Antibakteri pada Karang Lunak Villogorgia dari Pulau Ketawai, Bangka Tengah, terhadap Dua Jenis Bakteri Penyebab Penyakit Kulit (Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus) Siska Anggraini; Mu’alimah Hudatwi; La Ode Wahidin
JURNAL ENGGANO Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.11.1.1-10

Abstract

Indonesia has quite extensive waters and abundant natural resources with the highest diversity of coral reefs. The high diversity of coral reefs makes several areas dependent on this area. The rapid advances in technology today mean that many marine organisms have metabolite compounds that are used as medicinal ingredients, which come from animals, plants or bacteria in the sea, one of which is the gorgonian organism. The aim of this research is to determine whether the gorgonian organism can be an antimicrobial agent against bacteria that cause skin diseases (Pseudomonas aeruginosa and Staphylococcus aureus) and the difference in sensitivity of the two bacteria. This research was conducted in December 2023 - February 2024. The gorgonia samples used were taken in the waters of Ketawai Island using a random sampling method. Then an antibacterial test was analyzed and carried out using the Kirby-Bauer disc diffusion method at the Biology Laboratory of Bangka Belitung University. After obtaining the results of the inhibition zone from the antibacterial test, a descriptive analysis was carried out by looking at the categories from the provisions of David and Stout 1971. The research results showed that the gorgonia type Plexauridae can be an antibacterial agent with an average zone of inhibition of 6,80 mm for Pseudomonas aeruginosa bacteria, 2,90 mm for Staphylococcus aureus bacteria. The sensitivity obtained was different in the two test bacteria with different average values of the inhibition zone but fell into the same category, namely resistant. Keywords: Antibacterial Test, Gorgonia, Ketawai Island, Kirby-Bauer Disc Diffusion, Random Sampling
Penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) pada Pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Tambak Plastik di Kota Tegal Jawa Tengah Elmi Hidayah; Purwanto; Shinta Septiana; Agung Doni Anggoro; Muchtar; Taufik Hadi Ramli; Alfiatun Hasanah
JURNAL ENGGANO Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.11.1.11-18

Abstract

Budidaya udang vaname menggunakan plastik merupakan salah satu teknologi budidaya udang yang sudah banyak berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) pada budidaya udang vaname di tambak plastik Kota Tegal, Jawa Tengah. Pengamatan dilakukan pada Bulan Maret hingga Bulan Mei 2024. Lahan yang digunakan untuk budidaya udang vaname pada tambak plastik di Kota Tegal berjumlah 97,7 hektar yang tersebar di Kecamatan Tegal Timur, Margadana, dan Tegal Barat. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan instrumen penelitian, yaitu kuesioner dan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya udang vaname tambak plastik di Kota Tegal Jawa Tengah menghasilkan nilai rata-rata 63,91% untuk 10 parameter penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Persentase penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) di Kecamatan Tegal Timur mencapai 66,78%, 63,57% Tegal Barat dan 62,85% Margadana. Faktor yang mempengaruhi penerapan cara budidaya ikan yang baik adalah pemilihan lokasi, tambak untuk usaha budidaya udang vaname lokasinya dekat dengan daerah pemukiman dan industri, kurangnya tandon IPAL dan pengendapan, tindakan isolasi terhadap biota yang terserang penyakit, dan belum intensifnya sosialisasi tentang materi CBIB oleh pemerintah. Pengetahuan perihal Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) yang diperoleh petambak berasal dari sales pabrik pakan maupun probiotik udang. Kata kunci : CBIB, Pembesaran Udang, Tambak Plastik
Monitoring the Biophysical Profile of the Mangrove Ecosystem in Sedari Village, Cibuaya District, Karawang Regency, West Java Endy Handayani; Dwi Rosalina; Riza Rizkiah; R. Moh. Ismail; Suko Wardono; Muhammad Yusuf; Budi Sulistiyo
JURNAL ENGGANO Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.11.1.19-25

Abstract

Monitoring the biophysical profile of the mangrove ecosystem is an activity aimed at collecting data related to the physical, biological, and chemical conditions of the mangrove ecosystem. This monitoring activity was conducted in Sedari Village, Cibuaya District, Karawang Regency, which has coastal topography, from September 9 to November 18, 2024. The objective of this study is to analyze the physical and biological characteristics of the mangrove ecosystem in Sedari Village and to evaluate the water quality in the surrounding area. Data collection was carried out through a combination of field survey techniques, direct measurements, laboratory analyses, and the use of photogrammetry techniques with drone platforms.  The results of the study on physical parameters showed that water temperature ranged between 30–34.1°C, pH values ranged from 5 to 6, salinity was 30 ppt, and the tidal range in the waters of Sedari reached a maximum high tide of 0.6 meters.  The analysis of mangrove density along the coastline of Sedari Village showed a value of 0.33 trees/m², equivalent to 3,300 trees/hectare.  Water quality data revealed the following results: the Total Dissolved Solids (TDS) values at the three observation stations exceeded 30,000 mg/L, with the highest BOD value recorded at Station 1 reaching 211 mg/L, and COD at 704 mg/L. The concentrations of nitrate and phosphate were very low, at 0.01 mg/L and 0.015 mg/L respectively.  Overall, these conditions reflect significant environmental stress on the mangroves, primarily due to organic and chemical pollution. Keywords: Monitoring, Biophysical, Water quality, Sedari mangroves
Analisis Hubungan Panjang-Berat dan Pola Pertumbuhan Gurita Batu (Octopus cyanea) di Perairan Kabupaten Simeulue Provinsi Aceh Mira Mauliza Rahmi; Friyuanita Lubis; Neneng Marlian
JURNAL ENGGANO Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.11.1.82-92

Abstract

Gurita batu (Octopus cyanea) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi di Kabupaten Simeulue yang memerlukan pengelolaan berbasis ilmiah untuk menjamin keberlanjutannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan panjang-berat dan pola pertumbuhan gurita batu sebagai dasar estimasi stok dan biomassa. Sampel berjumlah 310 ekor dikumpulkan menggunakan metode purposive sampling dari hasil tangkapan nelayan pada Februari hingga Mei 2025. Parameter yang diukur meliputi panjang total (L) dan berat tubuh (W), yang kemudian dianalisis menggunakan model regresi linear dari data yang ditransformasikan ke logaritma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode pengamatan, gurita batu secara konsisten memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif dengan nilai b berkisar antara 2,23 hingga 2,43. Hal ini mengindikasikan bahwa laju pertambahan panjang tubuh lebih dominan dibandingkan pertambahan berat, sehingga individu cenderung menjadi lebih ramping seiring bertambahnya ukuran. Koefisien determinasi (R2) yang tinggi (0,79–0,88) menegaskan bahwa panjang tubuh merupakan prediktor yang akurat untuk menentukan variasi berat. Tren kenaikan nilai b dari Maret ke Mei merefleksikan adanya perbaikan kondisi lingkungan atau peningkatan ketersediaan pakan di habitat perairan Simeulue. Kesimpulannya, model matematis yang dihasilkan dapat digunakan oleh pengelola perikanan untuk memantau biomassa dan menetapkan batas ukuran layak tangkap guna mencegah eksploitasi berlebihan (overfishing).