cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PLATAX
ISSN : 23023589     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Mencakup Penulisan yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara mandiri, atau kelompok, dan berdasarkan Ruang Lingkup Pengelolaan Wilayah Pesisir, Konservasi, Ekowisata, dan Keanekaragaman Hayati Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016" : 9 Documents clear
Allometry Analysis and Physiological Index of Sea Urchin Heliocidaris crassispina (A. Agassiz, 1864) (Camarodonta, Echinometridae) on the Reef Flat in Tongkeina and Malalayang Dua, Manado, Sulawesi Muhammad S. Hasi; Lawrence J. L. Lumingas; Anneke V. Lohoo
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.13774

Abstract

The purpose of this study was to analysis the structure of the size, morphometry (test diameter-high relationship, test diameter-weight relationship) as well as gonad indices, intestine indices, and Aristotle lantern indices of Heliocidaris crassispina in two different habitats, Malalayang Dua and Tongkeina. At each habitat, free sampling on the reef flat have be done one time for approximately two hours at the lowest tide. The abundance of individuals H. crassispina in Malalayang Dua was much lower than in Tongkeina. The means diameter of sea urchins test were not significantly different between habitats. The comparison of regression lines of both diameter-high and diameter-weight relationships were not differ significantly between habitats. Its morphometry reveal an isometric relationship of high-diameter (slope = 1) in both habitats, while the relationship of weight-diameter reveals a negative allometric growth (slope < 3) in Tongkeina but isometric growth in Malalayang Dua.  The gonad index in Malalayang Dua was higher than in Tongkeina. The intestine index in Tongkeina was higher than in Malalayang Dua. The lantera index in Tongkeina was higher than in Malalayang Dua. The difference in abundance of sea urchins and the acquisition of the energetic value of food presumably serve as the factors affecting the differences of these indices and its weight growth pattern. ________________________________________________________________ Keywords: Heliocidaris crassispina, allometry analysis, physiological index ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur ukuran, morfometri (hubungan diameter-tinggi cangkang, hubungan diameter-berat) serta indeks gonad, indeks usus, dan indeks lentera Aristoteles dari Heliocidaris crassispina di dua habitat yang berbeda, Malalayang Dua dan Tongkeina. Pada setiap habitat, sampling bebas di rataan terumbu telah dilakukan satu kali selama kurang lebih dua jam pada saat pasang terrendah. Kelimpahan individu H. crassispina di Malalayang Dua jauh lebih rendah daripada di Tongkeina. Diameter rata-rata cangkang bulu babi tidak berbeda nyata antara habitat. Perbandingan garis regresi hubungan diameter-tinggi dan diameter-berat tidak berbeda secara signifikan antara habitat. Analisis morfometri menunjukkan hubungan isometrik tinggi-diameter (slope = 1) di kedua habitat, sedangkan hubungan berat-diameter menunjukkan pertumbuhan alometrik negatif (kemiringan <3) di Tongkeina tetapi di Malalayang Dua menunjukkan pertumbuhan isometrik. Indeks gonad di Malalayang Dua lebih tinggi daripada di Tongkeina. Indeks usus di Tongkeina lebih tinggi daripada di Malalayang Dua. Indeks lantera di Tongkeina lebih tinggi daripada di Malalayang Dua. Perbedaan kelimpahan bulu babi dan perolehan nilai energik makanan diduga berperan sebagai faktor yang mempengaruhi perbedaan indeks ini dan pola pertumbuhan beratnya. ________________________________________________________________ Kata kunci: Heliocidaris crassispina, analisis allometri, indeks fisiologis ____________________ 1Bagian dari Skripsi 2Mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK-UNSRAT 3Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSRAT
The inventory of macroalgae in the Mantehage Island waters, Wori sub-district, North Minahasa district in North Sulawesi Province Preisy Meicy Meriam Watung; Rene Charles Kepel; lawrence J. L Lumingas
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.14077

Abstract

This study was carried out in Mantehage Island waters, covering Bango, Tinongko, Buhias, and Tangkasi, with an objective of knowing the taxa composition of macroalgae through morphological studies. Data collection  used  Line Transect method with quadrat. Three 100 m-transect line were placed perpendicular to the coastline. Distance between transects was 50 m, and the quadrat used was 1 x 1 m². Results found 44 species of microalgae, consisting of 3 divisions, 3 classes, 10 orders, 18 families, and 26 genera. Green algae comprised 3 orders, 6 families, 11 genera, and 23 species. Brown algae consisted of 3 orders, 3 families, 5 genera, and 5 species. Red algae had 4 orders, 8 families, 10 genera and 16 species. Keyword : Macroalga, species, Mantehage Island. Abstrak Penelitian ini dilakukan di pulau Mantehage, yakni Desa Bango, Tinongko, Buhias, dan Desa Tangkasi,  dengan tujuan untuk mengetahui komposisi taksa makroalga melalui pendekatan morfologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode Line Transect kuadrat. Tiga garis transek sepanjang 100 m diletakkan tegak lurus garis pantai dengan jarak antar transek 50 m dan jarak antar kuadrat 10 m. Ukuran kuadrat yang dipakai adalah 1 x 1 m². Hasil penelitian menemukan 44 spesies, yang terdiri dari 3 divisi, 3 kelas, 10 ordo, 18 famili dan 26 genera. Alga hijau terdiri atas 3 ordo, 6 famili, 11 genera dan 23 spesies. Alga cokelat terdiri atas 3 ordo, 3 famili, 5 genera dan 5 spesies. Adapun alga merah terdiri atas 4 ordo, 8 famili, 10 genera dan 16 spesies. Kata Kunci : makroalga, species, Pulau Mantehage   2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Water Quality And Community Macroalgae In Jikumerasa Coastal Waters, Buru Island Hairati Arfah; Simon I Patty
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.14132

Abstract

ABSTRACT The study of water quality and macroalgae community in Jikumerasa coast, Buru Island, Maluku, was conducted in June 2014. This study aims to determine the water quality in terms of physico-chemical parameters and community structure of macroalgae. Physico-chemical parameters observed are the essential parameters for the livelihood of macroaelgae ecosystem such as temperature, salinity, water clarity, current, pH, dissolved oxygen, phosphate and nitrate. The result showed that water quality in these waters still within the water quality standard threshold for marine biota (KMLH, 2004) and still in the optimum range for growth of macroalgae. 21 species of macroalgae were found with varying density between 0.25 ind./m2-1.13 types ind./m2. The highest biomass were found in Gracilaria salocornia, which reached 1132.00 g/m2. Macroalgae diversity index (H ') were average, ranged from 2.716 to 2.978 and dominance index (D) were categorized as low, ranged from 0.0539 to 0.0697, while the index of uniformity (e) were ranged from 0.9754 to 0.9796, categorized as evenly distributed or stable. Keywords: Water quality, macroalgae, Community Structure.   ABSTRAK Studi tentang kualitas air dan komunitas makroalga di perairan pantai Jikumerasa, Pulau Buru, Maluku telah dilakukan pada bulan Juni 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan ditinjau dari parameter fisika-kimia dan struktur komunitas makroalga.  Parameter fisika-kimia yang diamati merupakan parameter utama bagi ekosistem makroalga diantaranya suhu, salinitas, kecerahan air, arus, pH, oksigen terlarut, fosfat dan nitrat.  Hasilnya menunjukkan bawa kualitas air di perairan ini masih dalam ambang batas baku mutu air untuk biota laut (KMLH, 2004) dan masih berada pada kisaran optimal untuk pertumbuhan makroalga.  Makroalga yang ditemukan sebanyak 21 jenis dengan kepadatan jenis bervariasi antara 0,25 ind./m2-1,13 ind./m2. Biomassa tertinggi terdapat pada jenis Gracilaria salocornia mencapai 1132,00 g/m2. Indeks keanekaragaman makroalga cukup tinggi yakni (H’) 2,716-2,978 dikategorikan sedang dan indeks dominasi (D) 0,0539-0,0697 dikategorikan rendah sedangkan indeks keseragaman (e) 0,9754-0,9796 dikategorikan stabil atau merata. Keywords: Kualitas Perairan, Makroalga, Struktur Komunitas.   1 Proyek Penelitian Biota Laut di Perairan Jikumerasa, Pulau Buru, DIKTI 2014 2 Pusat Penelitian Laut Dalam Ambon-LIPI 3 UPT. Loka Konservasi Biota Laut Bitung-LIPI
Phytoplankton Composition and Factors Of Physics – Chemical Water Depth On Water Lake Tondano Ade Primanur B. Wiyono; Jan F. W. S Tamanampo; Gaspar D. Manu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.13876

Abstract

Research on phytoplankton composition and physico-chemical factors of the Central part of Tondano waters was done by taking water samples from the depths of 5 M, 10 M and 20 M, respectively. The purpose of the study was to identify the phytoplankton, determine the species density and diversity index, and the physico-chemical factors of water with depth. Results revealed that 8 species of phytoplantkon were found at 8 m depth dominated by Chlorophyceae (2 species with 228 cells/liter), and Bacillariophyceae (3 species with 168 cells / liter). Thirteen species were recorded at 10 m depth dominated by  Clorophyceae (7 species with 1728 cells / liter), and Bacillariophyceae (3 species with 984 cells / liter). Meanwhile, there were 8 species found at 20 m depth dominated by Bacilariophyceae (4 species with 3828 cells / liter) and Chlorophyceae (one species with 84 cells / liter). The results of the analysis of the ecological index at a water depth of 5 m to 20 meters earn variation of species diversity index (H ', H'miax, H'min) with a value of 1779-1039, 1832-1069, 1707-1008), the dominance index (D) with value of 0.204 - 0.4722, and harmony with the index value of 0.7406 - 0.3535.Based on t-test, species diversity index(H) of the phytoplankton at all 5 M depth was not different from that at  10 M), but the spesies diversity index was different between 5 M and 20 M depth and between 10 M and 20 M. The results of measurements of chemical physics parameters of water at a depth of 5 M to 20 M has a range of concentrations (TDS 149- 151 mg / L, DHL 232-234 mg / L, pH 7.2 - 6.79, Total Phosfat 0.0008 - 0.062 mg / L, dissolved Phosfat 0.0 mg / L, Total Nitrogen 0065-0027 mg / L, Ammonia 0031-0012 mg / L, and Nitrate 0.83 - 1.70 mg / L Keyword : Tondano Lake, Phytoplankton, Density   ABSTRAK Penelitian tentang komposisi fitoplankton dan faktor fisika-kimia dari bagian Tengah perairan Tondano dilakukan dengan mengambil sampel air dari kedalaman masing – masing  5 M, 10 M dan 20 M. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan kepadatan populasi phytoplankton, indeks-indeks ekologi, dan faktor lingkungan fisik kimia perairan berdasarkan kedalaman air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8 spesies fitoplankton ditemukan pada kedalaman 8 m didominasi oleh Chlorophyceae (2 spesies dengan 228 sel / liter), dan Bacillariophyceae (3 spesies dengan 168 sel / liter). Tiga belas spesies tercatat di kedalaman 10 m didominasi oleh Clorophyceae (7 spesies dengan 1.728 sel / liter), dan Bacillariophyceae (3 spesies dengan 984 sel / liter). Sementara itu, ada 8 spesies yang ditemukan pada kedalaman 20 m didominasi oleh Bacilariophyceae (4 spesies dengan 3828 sel / liter) dan Chlorophyceae (satu spesies dengan 84 sel / liter). Hasil analisis indeks ekologi pada kedalaman air  5 m sampai 20 meter mendapatkan variasi  Indeks keanekaragaman spesies (H’, H’miax, H’min) dengan nilai 1.779 – 1.039, 1.832 – 1.069, 1.707 – 1.008), indeks dominasi (D) dengan nilai 0.204 – 0.4722, dan indeks keserasian dengan nilai 0.7406 – 0.3535. Berdasarkan t-tes, indeks keanekaragaman spesies (H) dari fitoplankton di semua kedalaman 5 M tidak berbeda dengan  10 M), tetapi indeks spesies keanekaragaman berbeda antara kedalaman 5 M dan 20 M dan antara 10 M dan 20 M. Hasil pengukuran parameter fisika kimia perairan pada kedalaman 5 M sampai 20 M mempunyai kisaran konsentrasi (TDS 149- 151 mg/L, DHL 232 – 234 mg/L, pH  7.2 – 6.79, Total Phosfat 0.0008 – 0.062 mg/L, Phosfat terlarut  0.0 mg/L, Total Nitrogen 0.065 – 0.027 mg/L, Amoniak  0.031 – 0.012 mg/L, dan Nitrat  0.83 – 1.70 mg/L Kata kunci : Danau Tondano, Fitoplankton, Kepadatan 1 Mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, FPIK Unsrat 2 Staf Pengajar Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, FPIK Unsrat
Inventory of Fish Species and Local Fishermen Profile in Tagulandang Island, Sitaro District of North Sulawesi Province Meikel A Marthin; Rose O. S. E. Mantiri; Jan F. W. S. Tamanampo
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.14076

Abstract

This research was carried out on July-August 2016 in the villages of Apengsala, Mohongsawang and Balehumara in SITARO District of North Sulawesi Province. It aims to make inventory of fish species, record the number of the fish caught, and get the local fishermen profile. Samples were bought from local fishermen who just returned from fishing areas in the traditional fish market “Burias”. The data of fishermen profile and fishing gears were retrieved from 30 respondents of Apengsala, Mohongsawang and Balehumara fishermen. Based on the results of the identification, interviewing and questionnaire filling, the conclusions are as follows: 1) there are 23 species of fish usually captured by local fishermen. 2.) there are 5 types of fishing gears often used by fishermen :  Spear gun (Jubi),  “ Darape” net (soma darape), traps (bubu), “Rawai” Rod (pancing rawai) and “Cang” net (soma cang). 3.) The average age and the length of fishing profession from 30 respondents data, ranges from 27-60 years old and 4-41 years of profession (Apengsala) ; 32-50 years old and 9-31 years of  profession (Mohongsawang) ; and 20-65 years old and 1-41 years of profession (Balehumara). Only 1 respondens who is not married yet, mostly finished their study until elementary school, and only 9 respondents have odd jobs. Local fishermen can still meet the needs of the family life with a dependent varied with 3-7 person/family.   Key Words: Fish, Fishermen In Profile, Tagulandang.   Abstrak Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2016 di Desa Apengsala, Desa Mohongsawang dan Desa Balehumara Pulau Tagulandang Kabupaten SITARO Provinsi Sulawesi Utara.   Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis ikan hasil tangkapan,  mendata jumlah ikan hasil tangkapan dan alat penangkapan ikan, dan mendapatkan profil nelayan Pulau Tagulandang. Pengambilan sampel dilakukan di tempat pendaratan ikan pasar tradisional Burias. Sampel yang diambil merupakan ikan hasil tangkapan nelayan yang baru saja kembali dari melakukan kegiatan penangkapan.  Pengambilan data profil nelayan dan jenis alat tangkap diambil dari 30 responden dari ketiga desa. Bedasarkan hasil identifikasi, wawancara dan pengisian kuisioner pada nelayan Pulau Tagulandang, kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut : 1). Ada 23 Jenis ikan yang sering ditangkap oleh nelayan Pulau Tagulandang. 2). Terdapat 5 jenis alat tangkap yang sering digunakan oleh nelayan Pulau  Tagulandang, yakni Spear gun (jubi), soma darape, bubu, pancing rawai dan soma cang. 3). Berdasarkan data dari 30 responden,  rata-rata usia dan lamanya berprofesi sebagai nelayan : usia 27-60 tahun dan 4-41 tahun profesi (Desa Apengsala) ; 32-50 tahun, 9-31 tahun (Desa Mohongsawang) ;  20-65 tahun, 1-41 tahun (Desa Balehumara). Hanya 1 responden yang belum kawin, mayoritas hanya mampu tamat sekolah dasar,  dan hanya 9 responden yang memiliki pekerjaan sambilan. Adapun dari penghasilan dan pengeluaran, nelayan masih dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan tanggungan yang berkisar 3-7 orang/keluarga. Kata Kunci : Ikan, Profil Nelayan, Tagulandang. 1Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UNSRAT 2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi.
Water quality management for aquaculture at Lake Tutud, North Sulawesi Suzanne L. Undap; Reiny A. Tumbol
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.15225

Abstract

Southeast Minahasa Regency has potential natural resources, one of them related aquculture in Lake Tutud. Considering the conditions and opportunities for the development of aquaculture in Lake Tutud, improvement efforts and increase the potential for fish production needs to be done. Some of the factors that caused the current problems include declining water level of Lake Tutud drastically in recent years caused by the death of most of spring water coming into the lake causing sedimentation, high content of sulfur from the irrigation run off. All of these problems can be a barrier to tilapia fish culture, so it is necessary to periodically measure the water quality in Lake Tutud in order to improve and enhance the quality of the water before it is used for culture efforts. Referring to the current economic conditions of the community around Lake Tutud of Tombatu 3 Village include community leaders and the fish farmers are also public observers who are interested in this program, through the Program Implementation of science and technology for the Community (IbM) of PNBP UNSRAT given counseling, training and mentoring such as water quality management technology. The methods used in the implementation of science and technology program are education, training, discussion and mentoring. Materials used were proper method of producing fish seeds, the stages of the production process, the use immunostimulatory in fish feed for fish disease management, maintain and improve water quality. With the Community Service Program through the application of science and technology, it is expected that there will be a transferred in science and technology in water quality management of Tutud lake so hopefully their business development, creation of business opportunity, income generation and welfare of the people in this Tombatu 3 village. The results revealed that the implementation of this community service activity in the form of the application of science and technology are: lecture activities, training, discussion and question and answer, including the lake water quality measurements that have been going well with good response of the fish farmers indicated by the presence of participants as much as 80%, show that a). increased production of tilapia fish farmers through water quality management can be implemented, b). tilapia fish farming is feasible and can provide profit if done properly, so it can be an alternative in an effort to help the reduction of unemployment and poverty. Interaction with the community on this community service activity, it is found that there were many people who still do not understand much about the overall material included engineering, water quality management and proper fish feed and feeding method. One of the barriers was the language, so it is necessary for the lectures and trainers to use the local language. It can be recommended in the future to keep on doing this kind of community service considering the inherent of the knowledge and application of water quality management is still a new thing and has a business prospective opportunities in the Tombatu 3 village. Keywords: water quality, community, management. Abstrak Kabupaten Minahasa Tenggara mempunyai potensi sumber daya alam yang banyak salah satunya yang berkaitan dengan bidang Perikanan budi daya air tawar adalah Danau Tutud. Memperhatikan kondisi dan peluang pengembangan pembudidayaan ikan di Danau Tutud maka upaya perbaikan dan peningkatan potensi produksi ikan perlu dilakukan. Budi daya ikan khususnya di Danau Tutud adalah pembudidayaan pembesaran ikan nila di Keramba Jaring Tanjap (KJT). Dalam usaha pengembangan budi daya ikan air tawar harus diimbangi dengan pengelolaan kualitas air danau dan penanganan penyakit ikan yang baik. Oleh sebab itu aspek-aspek yang menjadi factor pembatas dalam hal peningkatan produksi perlu dicari jalan keluarnya yang baik. Beberapa faktor yang menjadi masalah yang dihadapi saat ini antara lain adalah menyusutnya secara drastis permukaan air Danau Tutud dalam beberapa tahun belakangan ini akibat dari matinya sebagian besar mata air yang masuk ke danau sehingga mengalami sedimentasi, selain itu kandungan sulfur atau belerang cukup tinggi dari air irigasi yang berasal dari danau yang mana akan dapat menjadi hambatan usaha pembenihan ikan nila, sehinggan diperlukan adanya pengukuran kualitas air Danau Tutud untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas air sebelum dipergunakan untuk usaha budi daya. Mengacu pada kondisi tersebut maka untuk masyarakat sekitar Danau Tutud di Desa Tombatu 3 antara lain para tokoh masyarakat dan para pembudidaya ikan juga masyarakat pemerhati yang tertarik pada program ini, melalui Program Penerapan Ipteks bagi Masyarakat (IbM) dari PNBP UNSRAT diberikan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan berupa teknologi pengelolaan kualitas air. Metode yang digunakan dalam Program Penerapan Ipteks ini adalah penyuluhan, pelatihan, diskusi dan pendampingan. Materi kegiatan pengabdian penerapan Ipteks ini meliputi cara memproduksi benih ikan yang benar dan baik, tahapan-tahapan proses produksi pakan ikan yang diberi imunostimulan untuk penanganan penyakit ikan, tahapan tahapan untuk memelihara dan meningkatkan kualitas air. Dengan Program Pengabdian Kepada Masyarakat melalui penerapan Ipteks ini diharapkan dapat ditransfer ilmu dan teknologi pengelolaan kualitas air Danau Tutud sehingga diharapkan adanya pengembangan usaha, penciptaan peluang berusaha, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di Desa Tombatu 3 ini. Hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk penerapan ipteks ini adalah: kegiatan ceramah, pelatihan, diskusi dan tanya jawab, termasuk dengan pengukuran kualitas air Danau Tutud telah berjalan dengan baik respon kehadiran peserta sebanyak 80%. Dari hasil pelatihan, diskusi tanya jawab dan prakek dilapangan menunjukkan bahwa a). peningkatan produksi pembudidaya ikan nila melalui pengelolaan kualitas air ini dapat dilaksanakan, b). pembudidayaan ikan nila ini layak dan dapat memberikan profit bila dilaksanakan dengan baik dan benar, sehingga dapat menjadi alternatif lapangan usaha baru untuk membantu program pengentasan penggangguran dan penanggulangan kemiskinan. Dari hasil interaksi dengan masyarakat pada kegiatan pengabdian ini diketahui bahwa banyak masyarakat yang masih belum banyak mengerti tentang keseluruhan materi termasuk pada materi teknik dan proses pengelolaan kualitas air dan pakan ikan yang baik dan benar, salah satu kendala adalah bahasa, sehingga perlu ceramah dan pelatihan yang menggunakan bahasa setempat. Untuk selanjutnya dapat direkomendasikan agar terus digalakkan dan dilakukan pembinaan yang melekat mengingat pengetahuan dan penerapan pengelolaan kualitas air ini masih merupakan hal yang baru dan merupakan peluang usaha yang prospektif di Desa Tombatu 3. Keywords: Kualitas Perairan, Komunitas, Manajemen.
Implementation of Environmentally Friendly Monitoring Method: "Green Watch" and "Image Analysis" in Sustainable Resource Utilization in the Coast Community of the Gulf of Amurang, North Sulawesi Fontje Georis Judri Kaligis; Medy Ompi
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.14204

Abstract

Monitoring the condition of coral reefs using 'green watch' and 'image analysis' in the use of sustainable resource in the coastal communities of the Gulf of Amurang North Sulawesi has been conducted with the purpose of (1) to understand the condition of coral reefs in the waters of TEEP and Kapitu, (2) the coastal communities can utilize the method of 'green watch' and 'image analysis', and also can do the monitoring themselves both groups and individuals. Results of research by two methods illustrates that there are seven types of coral growth in the waters of Teep, and 8 types in the waters Kapitu village, where each type of coral growth showed different in percent cover. Overall reef condition for waters in the village of TEEP is very good with 79% of live coral, while the  Kapitu village is good with a percentage of live coral is 64%. With this condition is expected that the community can do the monitoring continuously, and also rehabilitate the damage corals. By doing so the resources will be always available for both village.   Keywords: Coral Reef, associate organisms, 'green watch', 'image analysis', live coral  and dead coral, percent cover, Abstrak Monitoring kondisi terumbu karang dengan menggunakan metode ‘green watch’ dan ‘ image analysis’ dalam pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan di komunitas pesisir Teluk Amurang Sulawesi Utara telah dilakukan dengan tujuan (1) memahami kondisi terumbu karang di perairan Teep dan Kapitu, (2) masyarakat nelayan dapat memanfaatkan metode ‘green watch’ dan ‘image analysis’, sekaligus melakukan monitoring secara mandiri baik kelompok maupun individu.  Hasil penelitian dengan dua metode ini menggambarkan bahwa ada 7 tipe pertumbuhan karang di desa Teep, dan 8 tipe di perairan desa Kapitu, di mana masing masing tipe pertumbuhan karang hadir dengan presentase tutupan yang berbeda.  Kondisi karang secara keseluruhan untuk perairan di Desa Teep adalah yang sangat bagus dengan 79 % karang hidup, sedang untuk desa Kapitu adalah cukup bagus dengan presentase karang hidup adalah 64 %.  Dengan kondisi ini diharapkan masyarakat dapat mempertahankan, dengan cara melakukan kegiatan monitoring secara berkesinambungan, sekaligus merehabilitasi kondisi karang yang telah rusak. Dengan  mempertahankan kondisi yang baik ini maka servis dari ekosistem ini terhadap masyarakat di kedua Desa ini akan terus ada.   Kata kunci: Terumbu Karang, organisme asosiasi, ‘green watch’, ‘image analysis’, karang hidup, karang mati, persentase tutupan.
Morphometric Structure of Seagrass Halophila ovalis in Tongkeina, Bunaken Subdistrict, Manado City and Mokupa, Tombariri Subdistrict, Minahasa District Coastal Waters Delya Amale; Khristin I. F. Kondoy; Ari B. Rondonuwu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.14018

Abstract

Seagrass is vascular plant with rhizome roots system, trunk system and leafs that can be differenciated. Genesal characteristic of this family, amoy others, the leaf tend to have two branches, (and absent of) ligula as been found an Potamogetonaceae family, linier form af leaf, round, oval, sessile, enlarge branch with paraleel vfinger like ciramferule connected wirb crossed lower duct or perpendicular. This study was conducted in two locations namely Tongkeina, Bunaken Subdistrict, Manado City and Mokupa, Tombariri Subdistrict, Minahasa District coastal waters. Until recently there is no study yet been done regarding the comparison on morphological size of H. ovalis based on different sample location (near mangroves, seagrass beds and coral reefs) and comparing the result of morphological measurement among the locations studied. Data collection was done by using exploratory survey method where samples are directly collected, washed with seawater and put it on plastic bag. The sampling site was determined by using GPS before collecting the sample of H. ovalis that consist of 20 individuals from each station. The samples that been washed and labeled were then put in the plastic bag with alcohol to avoid the damage on seagrass sample. The results show that H. ovalis from Mokupa village is smaller than from Tongkaina. This is possibly caused the pressure of villager in Mokupa usually having their main activity to catch fish along the coastal areas which is treatening also the life of seagrass.  The discarded of both organic and non organic garbages remained from house holds and local tradiitional market also can hinder the growth of H. ovalis. Keyword : Morphometric, Halophila ovalis, Tongkaina, Mokupa   Abstrak Lamun adalah tumbuhan vascular sejati, memiliki akar dengan sistem perakaran rhizoma, struktur batang dan daun yang dibedakan dengan jelas. Halophila ovalis termasuk dalam family Hydrocharitaceae. Ciri-ciri umum dari famili ini antara lain daun cenderung bercabang dua, daunnya tidak memiliki ligula seperti yang dimiliki oleh famili Potamogetonaceae, bentuk daun linier (lurus), membulat, oval, sessile atau bercabang membesar dengan jari-jari paralel yang dihubungkan dengan saluran silang menurun atau perpendikuler. Penelitian ini dilaksanakan di dua lokasi yaitu di Perairan Pantai Tongkaina Kecamatan Bunaken Kota Manado dan Pantai Desa Mokupa Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa. Penelitian ini dilakukan karena belum ada data mengenai perbandingan morfometrik lamun Halophila ovalis di dua lokasi ini. Tujuan penelitian yaitu membandingkan ukuran morfologi Halophila ovalis berdasarkan stasiun pengambilan sampel (daerah dekat mangrove, Lamun, dan Terumbu Karang) dan membandingkan ukuran morfologi Halophila ovalis berdasarkan lokasi pengambilan sampel. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode survei jelajah, sampel langsung dikumpulkan, dicuci dengan air laut dan dimasukkan ke dalam kantung plastik sampel. Saat pengambilan sampel dilakukan, posisi diplot dengan menggunakan GPS dan dilanjutkan dengan pengambilan sampel lamun Halophila ovalis sebanyak 20 individu setiap stasiun, kemudian sampel lamun di cuci dan di masukan dalam plastik yang sudah di berikan lebel, dan diisi alkohol agar sampel lamun tidak rusak. Pada hasil yang di peroleh terlihat bahwa Spesies Halophila ovalis di desa Mokupa lebih kecil dibandingkan Halophila ovalis di Tongkaina. Hal ini disebabkan aktivitas masyarakat desa Mokupa dilakukan dipinggir pantai dan juga aktivitas pembuangan sampah organik. Kata Kunci : Morfrometrik, Halophila ovalis, Tongkaina, Mokupa 1Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UNSRAT 2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Mangrove Community Characteristics and Local Fishermen’s Utilization in North Sulawesi Province: Case study on boat raft fishermen in Sauk village, Labuan Uki bay, Bolaang Mongondow regency Ridwan Lasabuda; Lawrence J. L. Lumingas; Rose O. S. E. Mantiri
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.19011

Abstract

This study aims to analyze the characteristics of mangrove vegetation in Sauk village, Labuan Uki bay, and to know the exploitation activities and the community’s perception on mangrove ecosystem. Mangrove vegetation characteristic data were collected using transect line method in 3 stations, while mangrove utilization and community’s perception data were obtained through field observation, questioners, and structured interviews. Respondent sampling used purposive sampling, and the respondents were representatively selected based on profession background as boat raft fishermen.Results showed that mangroves in Sauk village consisted of 8 species, Avicennia officinalis Aegiceras floridum, Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, and S. casiolari. The density level was 689 trees.ha-1 (categorized as rare according to the decree of Living Evironment Minister Numbered 201/2004) and the mean vegetation spread was 95.16 M widely available from 22.70 Ha.People used the mangrove for firewood, building materials, boat frame, fish drying place, net dye material (tree skin), dahannya dibuat wadah bunga buatan, and fishing ground. Some people of the village clear cut the mangroves for boat sailing route, despite violating Indonesian Law numbered 27/ 2007 jo Low numbered 1/2014 concerning coastal area and small islands management.Sixty percent of the respondents understood that mangroves can be cut for various benefits, 40% knew that mangrove area is source of income, 40% as source of firewood, 10% as place where fish lay their eggs, and 10% as coast protection from abrasion.Keyword : mangrove, boat raft fishermen, Sauk village, Labuan Uki bay.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk   menganalisis karaktersitik vegetasi mangrove yang ada di desa Sauk Teluk Labuan Uki dan  mengetahui aktivitas pemanfaatan serta  persepsi masyarakat tentang ekosistem mangrove. Data karakteristik vegetasi  mangrove diambil menggunakan metode transek line  di 3  stasiun. Sedangkan data pemanfaatan mangrove dan persepsi masyarakat dikumpulkan melalui teknik observasi lapangan, pengisian kuesioner dan wawancara terstruktur. Pengambilan sampel responden menggunakan metode purposive sampling. Responden dipilih secara representatif berdasarkan latar belakang profesi sebagai nelayan bagan perahuHasil penelitian menggambarkan bahwa mangrove yang ada di  desa Sauk terdiri dari 8  spesies : Avicennia officinalis (api-api), Aegiceras floridum (api-api), Rhizophora apiculata (lolaro), Rhizophora mucronata(lolaro), Rhizophora stylosa (lolaro), Bruguiera gymnorrhiza (ting), Sonneratia alba (lolaro)  dan Sonneratia casiolari (posi-posi). Tingkat kerapatan 689 pohon/ha (kategori jarang sesuai Kepmen Lingkungan Hidup No 201 Tahun 2004). Ketebalan vegetasi mangrove rata2 95,16 meter dari luas yang tersedia 22,70 Ha.Masyarakat memanfaatkan mangrove untuk : sumber kayu bakar, dibuat bahan bangunan, dibuat rangka kapal, tempat menjemur ikan, kulitnya sebagai pewarna jaring, dahannya dibuat wadah bunga buatan, tempat menangkap ikan dan biota air lainnya. Selain itu ada oknum masyarakat desa Sauk yang menebang mangrove untuk membuat lintasan perahu,  dimana kegiatan ini bertentangan dengan UU No.27 Tahun 2007 jo UU No.1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau2 Kecil. 60 % responden memahami bahwa mangrove adalah tumbuhan yang bebas ditebang untuk dimanfaatkan berbagai kepentingan. 40 % responden memahami kawasan mangrove adalah sumber pencaharian masyarakat lokal, 40 % responden memahami sebagai sumber untuk mencari kayu bakar, 10 % responden memahami sebagai tempat bertelur ikan, dan 10 % responden memahami sebagai penahan abrasi pantai.Keyword : mangrove, nelayan bagan perahu, desa Sauk, Teluk Labuan Uki

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026 Vol. 13 No. 2 (2025): ISSUE JULY-DECEMBER 2025 Vol. 13 No. 1 (2025): ISSUE JANUARY-JUNE 2025 Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024 Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024 Vol. 11 No. 2 (2023): ISSUE JULY-DECEMBER 2023 Vol. 11 No. 1 (2023): ISSUE JANUARY-JUNE 2023 Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022 Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022 Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021 Vol. 9 No. 1 (2021): ISSUE JANUARY - JUNE 2021 Vol. 8 No. 2 (2020): ISSUE JULY-DECEMBER 2020 Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020 Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019 Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019 Vol 7, No 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019 Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018 Vol 6, No 1 (2018): ISSUE JANUARY-JUNE 2018 Vol 6, No 1 (2018): EDISI JANUARI-JUNI 2018 Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017 Vol. 5 No. 1 (2017): ISSUE JANUARY - JUNE 2017 Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016 Vol. 4 No. 1 (2016): EDISI JANUARI-JUNI 2016 Vol 3, No 2 (2015): EDISI JULI - DESEMBER 2015 Vol. 3 No. 1 (2015): EDISI JANUARI-JUNI 2015 Vol. 2 No. 3 (2014): EDISI SEPTEMBER-DESEMBER 2014 Vol. 2 No. 2 (2014): EDISI MEI - AGUSTUS 2014 Vol. 2 No. 1 (2014): Edisi Januari - April 2014 Vol. 1 No. 4 (2013): Edisi September - Desember 2013 Vol. 1 No. 3 (2013): EDISI MEY - AGUSTUS 2013 Vol. 1 No. 2 (2013): EDISI JANUARI - APRIL 2013 Vol. 1 No. 1 (2012): (Edisi September - Desember 2012) More Issue