cover
Contact Name
Roni Koneri
Contact Email
ronicaniago@unsrat.ac.id
Phone
+6281340275276
Journal Mail Official
j.bioslogos@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sam Ratulangi
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Bios Logos
JURNAL BIOS LOGOS is the journal published by Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University. The aims of the journal are to publish original research papers and article review in biology science i.e. botany, zoology, molecular biology, microbiology, ecology, diversity and conservation, taxonomy and biogeography. BIOS LOGOS is published two times per year (February and August)
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos" : 6 Documents clear
Perubahan Morfologi dan Anatomi Kalus Catharanthus roseus dengan Perlakuan Triptofan (The morphological and anatomical changes on tryptophan-treated callus of Catharanthus roseus) Pandiangan, Dingse
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.379

Abstract

AbstrakPenelitian tentang perubahan morfologi dan anatomi kalus Catharanthus roseus dengan pemberian perlakuan triptofan telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk melengkapi informasi tentang perubahan yang terjadi pada kalus khususnya struktur anatomi dan morfologi sel kalus Catharanthus roseus setelah diberi perlakuan prekursor triptofan 175 mg/L. Pengamatan anatomi kalus dilakukan dengan metoda Parafin yang didokumentasikan dengan mikroskop Nikon Halogen 100 W perbesaran 10X10 dan difoto dengan camera Nikon DXM 1200F. Penampakan morfologi kalus didokumentasikan dengan camera digital Cannon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan kalus yang diberi perlakuan triptofan lebih lambat pada awalnya, namun bertahan hidup sampai 40 hari kultur. Kalus tanpa triptofan cepat bertumbuh pada awalnya sampai hari ke 18 kultur, setelah itu tidak ada pertumbuhan lagi. Setelah kultur 40 hari kultur, kalus dengan perlakuan triptofan tetap bertumbuh dengan baik sedangkan kontrol sudah rusak atau lisis. Struktur sel kalus perlakuan triptofan setelah 28 kali subkultur menunjukkan adanya penebalan dinding sel, sedangkan sel kalus kontrol mengalami lisis atau kerusakan sel.Kata kunci: anatomi, Catharanthus roseus, kalus, morfologi, triptofanAbstractA research on the morphological and anatomical changes on tryptophan-treated callus of Catharanthus roseus was conducted. This study aimed to complete the information about the changes, particularly on anatomical and morphological structure of Catharanthus roseus callus cells after treatment of 175 mg/L precursor tryptophan. Anatomical observations was conducted using paraffin method, documented using a Nikon microscope with a 10x10 magnification and the photograph was taken using the Nikon DXM 100 W Halogen 1200F camera. The appearance of callus morphology was documented by Cannon digital camera. The results showed that the growth of tryptophan-treated callus was slower at the beginning, but it survived by 40-day culture. Non-tryptophan callus grew rapidly by 18-day culture and did not grow later on. Tryptophan-treated callus for 40 days grew well, whereas control callus was damaged or lysis. The tryptophan-treated callus after 28 times subcultures showed cell wall thickening, whereas the control callus cells are lysis or damaged.Keywords: anatomy, callus, Catharanthus roseus, morphology, tryptophan
Transformasi dan Ekspresi Transien Gen Pelapor Gusa pada Andrographis paniculata (Burm.F.) Wallich Ex Ness (Transformation and Expression of Reporter Gene Gusa on Andrographis paniculata (Burm.F.) Wallich Ex Ness) Tangapo, Agustina Monalisa
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.375

Abstract

AbstrakAndrographis paniculata diketahui mengandung senyawa andrografolid, yaitu suatu metabolit sekunder yang memberikan efek farmakologi berupa hepatoprotektif, antiviral dan antikanker. Dalam penelitian ini dilaporkan studi awal prosedur transformasi genetik A. paniculata dengan perantara Agrobacterium tumefaciens. Eksplan daun A. paniculata diinkubasi dengan Ag. tumefaciens strain LBA4404 yang mengandung vektor ganda pCAMBIA1304 dengan gen hpt sebagai gen penanda untuk resistensi higromisin dan gen gusA sebagai gen pelapor. Setelah kokultivasi, eksplan daun dikultur pada medium seleksi yang mengandung higromisin 20 mg L-1 dan sefotaksim 400 mg L-1. Hasil uji histokimia GUS pada potongan daun setelah tiga hari kokultivasi menunjukkan ekspresi transien GUS mencapai 18,83%. Sebanyak 64,44% jaringan A. paniculata yang telah berhasil ditransformasi menunjukkan regenerasi sel dengan menghasilkan kultur kalus transforman pada medium yang mengandung 20 mg/L higromisin.Kata kunci: transformasi genetik, Agrobacterium tumefaciens, Andrographis paniculata, asai GUS.AbstractAndrographis paniculata is known to contain andrographolide, a secondary metabolite which shows pharmacology effects such as hepatoprotective, antiviral and anticancer. We established an Agrobacterium tumefaciens-mediated transformation procedure for A. paniculata. Leaf explants of A. paniculata were incubated with Ag. tumefaciens strain LBA4404 containing a binary vector pCAMBIA1304 with the hpt gene as a selectable marker for hygromycin resistance and an gusA gene as a reporter gene. Following co-cultivation, leaf explants were cultured on selective medium containing 20 mg L-1 hygromycin and 400 mg L-1 cefotaxime. GUS assays showed that only 18.83 % transformation frequency was obtained in leaf disk tissues after 3 days co-cultivation. As much as 64.44 % of the transformed tissue on MS medium containing selection agent 20 mg/L hygromycin showed cell regeneration to produce calluses.Keywords: genetic transformation, Agrobacterium tumefaciens, Andrographis paniculata, GUS assay.
Keanekaragaman Lamun di Pesisir Pantai Molas, Kecamatan Bunaken Kota Manado (Biodiversity of Seagrass on Molas Seashore in Bunaken Subdistrict, Manado) Maabuat, Pience Veralyn
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.376

Abstract

AbstrakEkosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif. Selain sebagai sumber produktifitas primer di perairan, ekosistem lamun juga memiliki arti penting bagi hewan yang hidup di area padang lamun. Penelitian ini dilaksanakan di Pesisir Pantai Molas dengan menggunakan metode garis transek kuadrat, yang dilakukan pada bulan Januari – Juni 2011. Analisis data meliputi perhitungan dengan rumus Krebs dan Fachrul, identifikasi jenis lamun dan penentuan indeks keanekaragaman menggunakan Shannon Wiener. Ada lima jenis lamun yang ditemukan yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Syringodium isoetifolium. Lamun E. acoroides dan S. isoetifolium memiliki penyebaran terluas, karena ditemukan di seluruh transek pada lokasi penelitian. Jenis yang jarang dijumpai adalah H. ovalis. Jumlah individu yang ditemukan adalah 130 individu. Nilai indeks keanekaragaman di pesisir Pantai Molas memperlihatkan di wilayah ini keanekaragaman jenis lamun sedang dibandingkan 13 lokasi lainnya di Indonesia.Kata kunci: biodiversitas, Molas, rumput lautAbstractSeagrass ecosystem is one of the productive marine ecosystems. This ecosystem is a source of primary productivity in waters and it is significant for the animals that live in the seagrass areas. This study was conducted in the Molas coastal using the method of transect line squares, in January-June 2011. The analysis included calculation using the formula of Krebs and Fachrul, identification of seagrass species and determination Shannon Wiener diversity index. Five species of seagrass species were found, i.e. Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata and Syringodium isoetifolium. The total number of individual weres 130. Index value of diversity in the Molas coastal showed that the seagrass diversity in this region were medium compared with 13 other locations in Indonesia.Key Words : biodiversity, Molas, seagrass
Pengaruh Ekstrak Urang Aring (Eclipta alba L. Hask.) terhadap Pertumbuhan Jamur Fusarium oxysporum f. lycopersici (Sacc.) Snyder & Hans (The effect of urang aring extract (Eclipta alba L. Hask.) on the growth of Fusarium oxysporum f. lycopersici (Sacc.) S Siahaan, Parluhutan
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.377

Abstract

AbstrakTelah dilakukan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak etanol urang aring (Eclipta alba L. Hask.) terhadap daya hambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum f. lycopersici. Uji hayati dilakukan dengan mengencerkan ekstrak dengan konsentrasi 0,5%,1% , 1,5% , 2% , dan 2,5%(berat/volum). Hasil uji hayati secara in vitro menunjukkan bahwa ekstrak etanol dapat menghambat pertumbuhan jamur. Pada konsentrasi 0,5% jamur memiliki diameter pertumbuhan 4,5 cm dan tidak berbeda nyata dengan kontrol yang berdiameter 4,7 cm, tetapi pada konsentrasi 2,5% diameter koloninya 0,81 cm dan tidak berbeda nyata dengan fungisida benlate 0,03% yang berdiameter 0,75 cm.Kata kunci: urang aring, Eclipta alba L. Hask., Fusarium oxysporum f. lycopersici, daya hambatAbstractA research was conducted to evaluate the effect of ethanol extracts of urang aring (Eclipta alba L. Hask.) on the inhibition capacity of the growth of fungi Fusarium oxysporum f. lycopersici. The bioassay was done by diluting extracts to obtain the concentration of 0,5%,1%, 1,5%, 2%, dan 2,5% (w/v). The results indicated that ethanol extracts inhibited the growth of Fusarium oxysporum f. lycopersici. The 0.5% concentration ethanol extract did not inhibit the growth of fungi (colony diameter was 4.7 cm), however, the 2.5% concentration (colony diameter 0.18 cm) was not significantly different from 0.03% benlate, a synthetical fungicide, whose colony diameter was 0.75 cm.Keywords: urang aring, Eclipta alba L. Hask., Fusarium oxysporum f. lycopersici, inhibiton capacity
Pendugaan Emisi Metana pada Sistem Pengelolaan Tanaman Padi di Kabupaten Minahasa (The Estimation of Methane Emission in The Rice Management System in Minahasa Rregency) Mambu, Susan Marlein
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.378

Abstract

AbstrakPemanasan bumi secara global karena emisi gas rumah kaca ke atmosfir yang disebabkan oleh kegiatan manusia, cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pertanian padi sawah, khususnya sawah teririgasi juga merupakan penyumbang terbesar gas metana ke atmosfer. Oleh karena itu, perlu adanya upaya pengurangan emisi CH4 dari kegiatan budidaya tanaman padi sawah. Penelitian dilakukan untuk mengetahui emisi CH4 dari budidaya padi sawah di kabupaten Minahasa, dengan melakukan estimasi emisi CH4 menggunakan model perhitungan formula untuk estimasi emisi CH4 pada padi sawah. Hasil penelitian ini memberikan informasi keberadaan CH4 dan jumlah produksi emisi CH4 dari lahan padi sawah di Kabupaten Minahasa, yang cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (data tahun 2002 – 2010). Peningkatan emisi CH4 dari lahan padi sawah di Kabupaten Minahasa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu luas panen, jenis tanah, jenis varietas, jenis pengairan dan kegiatan budidaya lainnya seperti pemupukan dan pemberian bahan organik (jerami).Kata kunci: emisi metana, padi sawahAbstractGlobal warming from greenhouse gas emissions to the atmosphere that is caused by human activities tends to be increased over time. Fields of wetland rice, particularly irrigated rice, are also the largest contributor to methane gas to the atmosphere. Therefore, CH4 emissions should be reduced from paddy rice cultivation. This research aimed to measure the production of CH4 emission in the wetland rice fields of Minahasa, using a model calculation formula to estimate CH4 emissions in the rice fields. The results informed the existence and the amount of CH4 production resulted from wetland rice fields in Minahasa, which tended to be increased from year to year (data of year 2002 to 2010). The increment of CH4 emission from wetland rice fields in Minahasa was caused by several factors, i.e. the harvested area, soil types, types of variety, types of irrigation and other cultivation activities such as fertilization and providing organic material (straw).Keywords: methane emission, wetland rice
Keanekaragaman Makrozoobentos sebagai Indikator Kualitas Air Sungai Cisadane, Jawa Barat – Banten (Macrozoobenthos diversity as indicator of water quality of Cisadane River) Siahaan, Ratna
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.374

Abstract

AbstrakSungai Cisadane memiliki multifungsi untuk kebutuhan pertanian, rumah tangga dan industri. Namun, kegiatan manusia di Daerah Aliran Sungai/DAS Cisadane dan di Sungai Cisadane dapat mengancam fungsi dan nilai ekosistem S.Cisadane. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanakeragaman makrozoobentos sebagai indikator kualitas air S.Cisadane. Penelitian dilakukan di sembilan (9) titik di sepanjang Sungai Cisadane dari hulu hingga hilir. Sampel makrozoobentos dikoleksi dengan jala surber dan Eckman Grabb. Pada musim kemarau, kekayaan taksa makrozoobentos terendah di bagian tengah dan hilir hilir (8 taksa) dan tertinggi di hulu (20 taksa). Kualitas air sungai ditentukan berdasarkan Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’). Kualitas air S.Cisadane yaitu baik/tercemar sangat ringan di hulu (Stasiun 1), cukup baik/tercemar ringan di hulu - tengah (Stasiun 2-5), sedang/tercemar sedang tengah mendekati hilir (Stasiun 6), dan buruk/tercemar berat di hilir (Stasiun 7-9).Kata kunci: kualitas air, makrozoobentos, Sungai CisadaneAbstractCisadane River has multifunction i.e. agriculture, domestic and industry. All human activities in Cisadane Watershed and in Cisadane River could threat function and value of Cisadane River. The aim of this research was to analysis macrozoobenthos diversity as bioindicator of Cisadane River. Nine (9) stations were designed along Cisadane River from up to downstream. Samples were collected with Surber net and Eckman Grabb. The taxa richness decreased from upstream (20 taxa) to downstream (8 taxa).Based on Shannon-Wiener (H’), the water quality of Cisadane River were classified i.e. good (Station 1), quite good/slightly polluted (Station 2-5), moderate/moderately polluted (Station 6), and not good/ heavily polluted (Station 7-9).Keywords: Cisadane River, water quality, macrozoobenthos

Page 1 of 1 | Total Record : 6