cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni
ISSN : 23547154     EISSN : 27988678     DOI : -
Core Subject : Art,
The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches.
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 (2015): November" : 25 Documents clear
Dinamika Seni Patung Abiansemal Badung Utara Sebagai Obyek Wisata I Ketut Buda; I Made Radiawan
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.846 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.217

Abstract

Abiansemal adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Badung yang memiliki beberapa sentra seni patung dan telah berkembang sejak lama. Ada tiga wilayah sentra seni patung yang sangat terkenal yaitu Jagapati, Angantaka, dan Sedang yang sering disebut dengan JAS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam dinamika seni patung JAS. terutama yang terjadi setelah bom Bali I dan II dan masuknya pasar bebas dalam era Globalisasi. Penelitian ini akan bermanfaat bagi masyarakat, seniman, akademisi, dan pemerintah sebagai studi komparatif dalam penciptaan dan pembinaan karya lebih lanjut Penelitian ini menggunakan adalah metode kualitatif karena masalah yang dibahas lebih banyak berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat, terutama sikap pematung dalam menghadapi persaingan pemasaran yang sangat ketat. Hasil penelitian lebih bersifat deskripsi, narasi melalui kata-kata. Teknik pengumpulan datanya yaitu studi pustaka, observasi, dan wawancara dengan beberapa imforman seperti seniman, perajin, pencinta seni, budayawan dan yang lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini, seni patung JAS mengalami keterpurukan yang sangat drastis, banyak pematung yang tidak bisa melanjutkan pekerjaannya karena pemasaran seni patung sangat lesu. Pematung banyak yang beralih propesi yaitu kembali sebagai petani, peternak, tukang bangunan, dan pelaku wisata, karena penghasilan mengerjakan seni patung sangat rendah dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Abiansemal is one of districts in Badung regency which has some art sculpture collection and they have developed since a long ago. There are three regions of art sculpture that are very famous such as Jagapati, Angantaka, and Sedang and they are often called with JAS. This study aimed at finding out deeply about the dynamics of JAS art sculpture especially after the tragedy of first and second of bomb Bali and the existence of free market in globalization era. This study will be beneficial to society, artist, academician, and government as comparative study in creating and developing the work next.The method of the study was qualitative method with problems that were discussed more in relation to social life of society, especially for carpenter’s attitude in facing the strict competition of technical marketing. The result of the study was description, narration through words. The process of data collection used literature review, observation, interview with informants such as artists and craftsmen, art lover, cultural observer, and so on. Nowadays, JAS art sculpture decrease drastically, most of carpenters cannot continue their works because of the technical marketing which is so listless. Most of carpenters change their profession become farmer, breeder, builder, and guide. That situation happens because their salaries as carpenters are low and not enough to fulfil their necessary in daily life.
Jejak Karawitan Dalam Kakawin Arjuna Wiwaha: Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna Komang Sudirga; Hendra Santosa; Dyah Kustiyanti
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.148 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.218

Abstract

Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian dari “Melacak Jejak Karawitan dalam Naskah Jawa Kuno: Kajian Bentuk, fungsi dan Makna”. Karena penelitian pada tahun pertama ini menyangkut pada 22 Naskah dan sangat sulit untuk ditemukan naskah-naskahnya, maka dalam penulisan artikel ini hanya akan menampilkan jejak-jejak karawitan yang tersurat dalam Kakawin Arjuna Wiwaha saja, sehingga bahasan artikel ini lebih fokus dan dapat dikembangkan menjadi bahasan untuk tulisan yang lain dengan mengambil bahasan pada karya kesusastraan lainnya. Dengan demikian diharapkan pembahasan bentuk, fungsi, dan makna istilah karawitan pada tahun 1028 -1035 di Jawa Timur penguraiannya dapat lebih jelas. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, yaitu melalui heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Khusus untuk artikel ini, pada tahap heuristik ditemukan dua buah Kekawin Arjuna Wiwaha yaitu koleksi Perpustakaan Nasional dan Koleksi Gedong Kertya. Kritik dilakukan secara internal melalui penerjemahan, yang dilanjutkan dengan interpretasi terhadap terjemahan dari dua naskah Kekawin Arjuna Wiwaha, dan terakhir adalah historiografi yaitu penulisan mengenai jejak karawitan dalam kakawin Arjuna Wiwaha: Kajian Bentuk, fungsi dan makna. Perubahan bentuk atau perwujudan dan juga penyebutan nama dari instrumen karawitan yang tersurat dalam kakawin Arjuna Wiwaha ada yang berubah dan ada pula yang tetap, seperti Mredangga yang sekarang dikenal dengan Istilah bedug. Perubahan nama juga terjadi dari berebet menjadi Cengceng. Hal ini bisa saja dikarenakan penyebutan nama instrumen didasarkan pada bunyi yang dihasilkannya seperti bedug karena bunyinya dug dug dug, dan cengceng karena karena ketika dibunyikan, bunyinya ceng ceng ceng. Ada istilah karawitan yang saat ini tidak ditemukan di belahan Nusantara seperti kata wina sejenis kecapi dan rawanahasta sejenis rebab. Wina kalau memang sejenis kecapi kemungkinan bentuknya lain dengan kecapi mungkin saja berkembang di belahan nusantara yang lain karena kecapi hanya berkembang di Sunda. Sama halnya dengan Rawanahasta yang diartikan sejenis rebab maka instrumen ini berkembang di belahan nusantara yang lain.This writing is a part of research entitled “Tracing Karawitan in Old Java Script: The Study of Form, Function and Meaning”. The first year research is that of 22 scripts and they are very difficult to find, hence in the writing of this article will merely put forward the traces of karawitan written in Kakawin Arjuna Wiwaha. Therefore, the discussion of this article is more focus and can be developed as a reference to another writing about different literature. Thereby, it hopes that the commentary about form, function and meaning of the term karawitan in 1028 -1035 in East Java can be clearer.This research uses historical method that is through heuristic, criticism, interpretation and historiography. Specifically for this article, in the stage of heuristic it was found two Kekawin Arjuna Wiwaha that are collection of National Library and Gedong Kertya. Criticism was done internally through translation then interpreting the translation of two Kekawin Arujna Wiwaha scripts. Finally, the historiography is writing about karawitan trace in kakawin Arjuna Wiwaha: Study about Form, Function and Meaning. Changes of form or materialization and mentioning the name of karawitan instrument written in kakawin Arjuna Wiwaha are present, but there is also the unchanged ones, such as Mredangga nowadays known as bedug. The changes of name also occur from berebet to cengceng. This can be happened because mentioning the instrument name is usually based on the sound produced such as bedug which sounds dug dug dug and cengceng produces the sounds ceng ceng ceng. There is karawitan term that can’t be found in Indonesian archipelago nowadays such as wina, a sort of kecapi, and rawanahasta, a sort of rebab. If Wina was a sort of kecapi, the form was probably different with kecapi. It was probably developing in another part of Indonesian archipelago because kecapi was only developing in Sunda. The same as Rawanahasta which is interpreted as a sort of rebab, therefore this instrument was developing in another part of Indonesian archipelago.
Prototipe Gamelan Sistem Sepuluh Nada Dalam Satu Gembyang Hendra Santosa; - Saptono; I Ketut Sudhana
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.058 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.219

Abstract

Konsep sepuluh nada dalam satu gembyang pernah dirumuskan oleh dua orang musikolog Indonesia yaitu Raden Mahyar Angga Kusumadinata dan R. Hardjo Subroto. Pada gamelan Bali hal tersebut tersirat dalam lontar Prakempa. Konsep musikal yang sesungguhnya menarik ini, belum pernah diteliti dan dilakukan pengkajian yang mendalam. Dalam konteks inilah, sistem nada pada gamelan dengan menggunakan sembilan nada dalam satu gembyang penelitiannya terapan dilakukan.Tujuan Jangka panjang penelitian ini adalah membuat sebuah model gamelan dengan sistem sepuluh nada dalam satu Gembyang. Jika penelitian dapat diwujudkan, akan memberikan kosntribusi yang sangat signifikan dalam menunjang kreativitas seniman karawitan. Penelitian ini diperkirakan akan memakan waktu antara tiga tahun dengan masing-masing capaian setiap tahunnya berupa sebuah model instrumen gamelan. Penelitian terapan ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi lapangan untuk mencari nada dasar. Metode observasi kepustakaan untuk menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan interval nada. Metode observasi laboratorium yang menggunakan sofware Nuendo H2O serta Plug in RMIV untuk mencari sampler nada dan interval. Hasil yang didapat, kemudian direalisasikan dalam bentuk instrumen yang terbuat dari kayu, dan selanjutnya diujicobakan dalam bentuk praktik berkarawitan. Setelah dinilai cocok kemudian dibuatkan prototipe yang selanjutnya diujicoba baik melalui gending yang sudah ada, maupun gending baru. Pengukuran nada-nada secara matematis tidaklah tepat dipergunakan dalam pembuatan prototipe gamelan sistem sepuluh nada ini. Hal ini terjadi ketika apa yang ditemukan dalam penelitian gamelan Nawa Swara ternyata dari sisi rasa terasa ada yang tidak pas walaupun secara rasa dalam laras selendro sudah benar namun ternyata nada sisipannya yang menggunakan hitungan matematis terasa tidak enak didengar.The concept of ten tones in one gembyang been formulated by two people musicologist Indonesia RadenAnggaMahyarKusumadinata and R. HardjoSubroto. In the Balinese gamelan it is implied in the Prakempa manuscript. The real interesting musical concepts, have not been investigated and conducted in-depth assessment. In this context, the gamelan tuning system using nine tones in one gembyang applied research carried out. The long term goal of this research is to create a model of the system gamelan with ten tones in one Gembyang. If research can be realized, will give contributions significant in supporting the creativity of musical artists. This study is expected to take between three years with each achievement annually in the form of a gamelan instrument models. Applied research was conducted using the method of observation to find the basic tone. Observation methods literature to examine the results of previous studies related to tone intervals. Laboratory observation method which uses H2O Nuendo software and plug-in RMIV to find sampler tones and intervals. The results obtained, then realized in the form of instruments made of wood, and subsequently tested in the form music practice. Having considered suitable then created a prototype which further tested through gending existing or new gending. Measurement tones mathematically it is not appropriate used in the manufacture of the gamelan prototype this ten tone system. This happens when what was found in the study gamelan NawaSwara turns of the flavor was there that do not fit in the barrel flavor although selendro are correct but in fact the tone of additions that use mathematical calculation was not pleasant to hear.
Teks Bahasa Bali Pada Desain T-Shirt (Analisis Wacana) Ida Ayu Dwita Krisna Ari; Cok Istri Puspawati Nindhia
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.006 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.220

Abstract

Saat ini muncul sebuah paradigma baru yang unik pada kalangan remaja di Bali yakni maraknya pemakaian t-shirt menggunakan teks bahasa Bali, T-Shirt tersebut bertuliskan pesan atau kata-kata mulai dari pesan yang lucu, bersifat sindiran, pernyataan pribadi, dan ada juga pesan- pesan yang porno, tema yang diangkat adalah pengalaman yang dijumpai dalam kehidupan sehari - hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk teks dan ilustrasi pada T-Shirt menggunakan teks bahasa Bali, makna yang terkandung dalam teks dan ilustrasi pada T-Shirt serta faktor – faktor pendorong yang mempengaruhi pemakai sehingga memilih menggunakan T-Shirt tersebut. Tahapan penelitian pertama, mengidentifikasi elemen-elemen visual yang terdapat dalam T-Shirt selanjutnya menganalisis makna apa yang terkandung dalam teks dan ilustrasi yang terdapat pada t-shirt. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis wacana. Kontribusi penelitian ini adalah dapat memberikan pengetahuan teoritis di bidang ilmu desain komunikasi visual bagaimana menciptakan sebuah desain T-Shirt yang menarik minat remaja sehingga mampu menjadi trend fashion baru agar nantinya dapat dijadikan rujukan bagi praktisi di bidang usaha konveksi, distribution outlet dan industri kecil bagaimana merancang desain T-Shirt agar menarik dan diterima oleh khalayak sasaran.Currently emerged a new paradigm that is unique in teenagers in Bali namely the rampant use of t-shirts using text language Bali, T-Shirt that reads the message or words - words from the message humorous, satirical, personal statements, and there is also a message - a message that is pornographic, the theme is the experience encountered in daily life - today. The aim of this study was to determine the form of text and illustrations on t-shirts using text language Bali what meaning is contained in the text and illustrations on a T-Shirt as well as a factor - the driving factors that influence the user to choose to use the t-shirt. The steps of this research: first, to identify the elements - visual element anything contained in the T-Shirt next to analyze the meaning of what is contained in the text and illustrations contained in t-shirts using a qualitative descriptive od with approach discourse analysi. The contribution of this study is that it can provide theoretical knowledge in the field of visual communication design how to create a T-Shirt designs that appeal to adolescents so that they can become a new fashion trend that can later be used as a reference for practitioners in the field of convection, distribution outlets and small businesses how to design design t-shirts in order to attract and received by the target audience.
Style Bali Dalam Foto Prewedding Cok Istri Puspawati Nindhia; Ida Ayu Dwita Krisna Ari
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.344 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.221

Abstract

Foto prewedding style Bali sebagai wujud kreativitas fotografer, dikarenakan dalam pembuatannya foto ini membutuhkan kreativitas tinggi agar penyatuan ide antara obyek foto dan fotografer dapat terjalin sempurna sehingga menghasilkan foto yang bagus. Penelitian ini akan membahas tentang Foto prewedding sebagai wujud kreativitas fotografer, dikarenakan dalam pembuatannya foto ini membutuhkan kreativitas tinggi agar penyatuan ide antara obyek foto dan fotografer dapat terjalin sempurna sehingga menghasilkan foto yang bagus. Kreativitas adalah suatu faktor bawaan individual yang dikendalikan oleh motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk foto prewedding berdasarkan tingkat kreatifitas fotografer. Hasil yang diperoleh yakni, bentuk ide dalam pembuatan foto prewedding berdasarkan ide adalah bentuk foto prewedding berlatar belakang arsitektur Bali, foto prewedding style Bali berdasarkan kehidupan sosial masyarakat dan bentuk prewedding style Bali berdasarkan tata busana Bali. Struktur bentuk foto prewedding style Bali diperoleh berupa foto prewedding bentuk hitam putih, berbentuk warna dan inframerah. Selanjutnya dalam konsep-konsep estetika, yakni nilai-nilai keindahan foto berdasarkan estetika ideational, keindahan foto berdasarkan konsep ide pembuatan, dan estetika technikal berupa penggunakan teknik dalam pemotretanPrewedding photo style Bali as a form of creativity, because in this photograph manufacture requires high creativity that pooling of ideas between the object image and the photographer can be perfectly interwoven to produce good photographs. This research will discuss prewedding photos as a form of creative photographer, because in this photograph manufacture requires high creativity that pooling of ideas between the object image and the photographer can be perfectly interwoven to produce good photographs. Creativity is an innate factors individually controlled motivation. This study aims to assess the forms of photos prewedding based on the level of creativity of photographers. The results obtained, the form of ideas in the manufacture prewedding picture based on an idea is a form of prewedding photo background Balinese architecture, prewedding photo Bali style based social life and shape prewedding Bali based fashion style Bali. Structure form prewedding photo Bali style obtained in the form of photos prewedding form of black and white, color and infrared shaped. Furthermore, the concepts of aesthetics, namely the values of beauty photos by ideational aesthetics, the beauty of the picture is based on the concept of the idea of making, top technical and aesthetic form of the use of the technique in photograph

Page 3 of 3 | Total Record : 25