cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
AGRIKAN Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan
ISSN : 19796072     EISSN : 26210193     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Bidang kajian dimuat meliputi agribisnis, teknologi budidaya, sumberdaya perikanan, kelautan, sosial ekonomi kelautan dan perikanan, bioteknologi perikanan. Sejak tahun 2017 mulai diterbitkan secara elektronik kerjasama Pusat Studi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna Raha.
Arjuna Subject : -
Articles 34 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2018)" : 34 Documents clear
Pemanfaatan Eucheuma cottonii dan Sargassum crassifolium dalam Cookies Sagu untuk meningkatkan Kadar Iodium Tikus (Rattus novergicus) Rehena, Zasendy; Ivakdalam, Lydia M.
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.11.2.74-80

Abstract

Disorders due to iodine deficiency (GAKI) are very serious nutrit ional problems, because they affect the survival and quality of human resources.  The effect that is well known to people due to lack of iodine is goiter, suffering from mental disability, namely midget, mute, deafness, and mental disorders. Central Maluku Regency has a very high IDD prevalence rate, which is 33.39%. The strategy is to reduce the search for local food  alternatives  such  as  seaweed.  Seaweed  contains  high  iodine  and  can  be  consumed  to  prevent  iodine deficiency.  Central  Maluku  Regency  has  abundant  and  high  quality  seaweed,  but  the  level  of  consumption directly by the people as food is still low, thus it is necessary to develop food technology that utilizes seaweed to produce snack / snack products such as cookies. Cookies are generally made from raw flour but can be replaced by  using  sago  flour  which  is  rich  in  carbohydrates  (starch).  The  purpose  of  this  study  was  to  determine  the effect of the type and concentration of seaweed in sago cookies on iodine levels of rats (Rattus norvegicus). The results  showed  that  rats  given  iodine  standard  rations  had  iodine  levels  with  moderate  deficiency,  and  mice given adequate iodine ration had normal iodine levels. The results also showed that the administration of ration cookies containing Sargassum crassifolium 20%, 30%, and 40%, as well as Eucheuma cottonii 30% and 40% could increase rat iodine levels to be optimal. Hypothesis test results showed that the treatment of seaweed type and concentration in the ration of cookies had a significant effect on rat iodine levels. The interaction of types of Sargassum crassifolium 40% was more influential in increasing rat iodine levels. Based on the results of this study it is recommended: Cultivation needs to be developed especially on the types of Eucheuma cottonii and Sargassum crassifoliumin the Central Maluku Regency.Disorders due to iodine deficiency (GAKI) are very serious nutritional problems, because they affectthe survival and quality of human resources. The effect that is well known to people due to lack of iodine isgoiter, suffering from mental disability, namely midget, mute, deafness, and mental disorders. Central MalukuRegency has a very high IDD prevalence rate, which is 33.39%. Thestrategy is to reduce the search for localfood alternatives such as seaweed. Seaweed contains high iodine and can be consumed to prevent iodinedeficiency. Central Maluku Regency has abundant and high quality seaweed, but the level of consumptiondirectly by the people as food is still low, thus it is necessary to develop food technology that utilizes seaweed toproduce snack / snack products such as cookies. Cookies are generally made from raw flour but can be replacedby using sago flour which is rich in carbohydrates (starch). The purpose of this study was to determine theeffect of the type and concentration of seaweed in sago cookies on iodine levels of rats (Rattus norvegicus). Theresults showed that rats given iodine standard rations had iodine levels with moderate deficiency, and micegiven adequate iodine ration had normal iodine levels. The results alsoshowed that the administration of rationcookies containing Sargassum crassifolium 20%, 30%, and 40%, as well as Eucheuma cottonii 30% and 40%could increase rat iodine levels to be optimal. Hypothesis test results showed that the treatment of seaweed typeand concentration in the ration of cookies had a significant effect onrat iodine levels. The interaction of types ofSargassum crassifolium 40% was more influential in increasing rat iodine levels. Based on the results of thisstudy it is recommended: Cultivation needs to be developed especially on the types of Eucheuma cottonii andSargassum crassifolium in the Central Maluku Regency.
Karakterisasi Morfologi Daun dan Anatomi Stomata pada Beberapa Species Tanaman Jeruk (Citrus sp) Tuasamu, Yati
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.11.2.85-90

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian eksplorasi yang dilakukan di Negeri Liang Kec. Salahutu pada bulan Maret hingga April 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi daun dan karakteristik anatomi stomata pada beberapa species tanaman jeruk (Citrus sp).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa, karakteristik morfologi daun pada ke-4 spesies tanaman jeruk yaitu Jeruk manis (Citrus sinensis),  Jeruk nipis (Citrus aurentifolia), Jeruk purut (Citrus hystrix D.C.) dan Jeruk cui (Citrus microcarpa) memiliki perbedaan yang tampak jelas baik pada warna daun, bentuk daun,  permukaan daun, tepi daun (jumlah gerigi) serta ukuran panjang dan lebar daun. Sebaliknya karakteristik anatomi stomata dan sel epidermis pada ke-4 species terutama pada permukaan daun bagian bawah (abaxial) memiliki kesamaan. Bentuk sel epidermis daun dari ke-4 spesies terdiri atas selapis sel dengan bentuk  yang bervariasi antara satu sel dengan sel lainnya, demikian pula pada tipe stomatanya. Tipe stomata pada ke-4 species tanaman jeruk adalah tipe parasitik yaitu setiap sel penjaga bergabung dengan satu atau lebih sel tetangga dengan sumbu membujurnya sejajar dengan sumbu sel penjaga dan apertur.  Sebaliknya kesamaan bentuk sel epidermis dan tipe stomata berbeda dengan hasil analisis kerapatan dan indeks stomata pada ke-4 spesies tanaman jeruk.  Kerapatan dan indeks stomata pada ke-4 spesies tanaman jeruk berbeda nyata antar species bedasarkan hasil uji statistik. Karakteristik anataomi dari bentuk sel epidermis dan tipe stomata inilah yang kemungkinan digunakan dalam sistem taksonomi untuk mengelompokan berbagai species tanaman jeruk dalam takson yang sama.
Identifikasi Daya Saing Bawang Merah Topo Varietas Unggul Lokal di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara Muhammad, Munawir; Ekaria, Ekaria
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.11.2.22-30

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal daya saing bawang merah topo varietas unggul lokal dan untuk menganalisis strategi pengembangan daya saing bawang merah topo varietas unggul lokal di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara. Manfaat dari penelitian ini adalah menggugah pemerintah daerah agar terus mengembangkan komoditas bawang merah topo varietas unggul lokal yang mampu bersaing. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif analisis, dengan teknik pengumpulan data melalui pengisian quesioner dan diikuti dengan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian Identifikasi daya saing bawang merah topo varietas unggul lokal yaitu terdapat V kekuatan, IV kelemahan, IV peluang dan IV ancaman. Untuk Hasil analisis SWOT yaitu nilai IFAS sebesar 3,24 dan nilai EFAS sebesar 3,04. Dalam diagram SWOT menunjukan bahwa posisi strategi pengembangan bawang merah lokal topo terletak pada kuadran I atau strategi yang dibuat dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang strategi agresif yaitu mendorong petani untuk memaksimalkan lahan bawang merah lokal topo sebagai pemasok bahan baku, memberikan penyuluhan secara bertahap kepada petani oleh dinas pertanian, peningkatan kemampuan SDM terhadap teknologi, peningkatan produktivitas melalui intensifikasi dan kualitas bawang merah lokal topo dan pembuatan kebijakan jangka panjang untuk pengembangan bawang merah sebagai varietas unggul lokal Kota Tidore Kepulauan.
The Effect Of White Sugar Cristal Concentration Towards Red Peanut Selai Organoleptic Quality (Arachis hypogea) Masuku, Mustamina Anwar
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.11.2.124-132

Abstract

Jam is part of one of the food ingredients that tastes very sweet and can be made from various types of fruits, such as banana, pineapple, apple, strawberry, blueberry, apricot and grape jams. The sweet taste is due to the addition of white crystalline sugar in the product which shows its characteristic as jam. Various opinions of experts have stated that jam can be made from various kinds of fruit but no one has mentioned tubers or legumes or secondary crops. One of the most possible palawija plants is peanuts which have the potential to be used as ingredients for jam production. The purpose of this study was to determine the effect of variations in sugar concentration on the quality of peanut butter, especially on organoleptic parameters and is expected to provide new information about differences in sugar concentrations in peanut butter. This study used an experimental method, Completely Randomized Design (CRD) consisting of one factor with 5 (five) treatments and 3 (three) replications, so that there were 15 treatment units. Parameters observed include analysis of organoleptic properties of jam products such as color, taste, aroma and texture.
Potensi Puding Ikan Toman (Channa micropeltes) dan Ikan Gabus (Channa striata) untuk Percepatan Penyembuhan pada Hewan Uji Tikus Firlianty, Firlianty; Pratasik, Silvester B.
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.11.2.65-69

Abstract

Everyone has different activities with different risks and often gets injured. Since wound healing process takes time, better handling and alternative medicinal administration are needed to accelerate the health recovery from trauma caused either by sharp or hard materials.  Fish are high nutritive food enriched with minerals, fat, and protein. This study was intended to know the effect of snakehead fish extract on the healing process of white rat (Rattus novergicus). It applied an experimental method with 3 treatments. Results showed that fish pudding added with the snakehead fish extract gave good effect on the acceleration of wound healing process in the white rat.
Peran Pupuk Organik dalam Mengurangi Pupuk Anorganik pada Budidaya Padi Gogo Gusmiatun, Gusmiatun; Marlina, Neni
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.11.2.91-98

Abstract

Kendala budidaya di lahan kering adalah kesuburan tanah yang rendah.  Penggunaan pupuk anorganik/kimia secara intensif dapat menurunkan bahan organik tanah menjadi sangat rendah, selanjutnya menurunkan produksi.  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi pupuk anorganik + organik yang tepat serta varietas yang dapat beradaptasi dengan baik untuk meningkatkan produksi padi pada kering. Penelitian di lapangan disusun berdasarkan Rancangan Petak Terbagi (Split-plot design) dengan 12 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. Sebagai petak utama adalah  kombinasi pupuk (P) yaitu: P1 =100% pupuk anorganik (kontrol), P2= 75 % pupuk anorganik + 25% pupuk organik, P3 =  50% pupuk anorganik + 50% pupuk organik, P4= 25% pupuk anorganik + 75% pupuk organik. Sedangkan perlakuan untuk Anak Petak adalah: Varietas, yaitu : V1  = Inpago 11,  V2  = Limboto, dan V3  = JTLDR-G-416 ( Genotipe ).  Parameter yang diamati meliputi: tinggi tanaman (cm), jumlahanakan maksimum, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa (%), berat 1000 butir (g), berat gabah per rumpun (g),  produksi gabah per petak  panen(kg).  Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: 1. Penggunaan pupuk organik dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik/kimia, pada kombinasi pupuk anorganik 50% + organik 50%, dapat meningkatkan hasil tanaman padi sebesar 23.8% dibandingkan tanpa menambahkan pupuk organik. 2. Varietas Inpago-11 menghasilkan produksi paling tinggi dibandingkan varietas Limboto dan genotipe baru JTLDR-G-416. 3. Varietas Inpago-11 yang diberi pupuk anorganik 50% + organik 50%, dapat menghasilkan gabah sebesar  ±6,0 ton/ha.
Pertumbuhan Regenerasi Mikropropagul Rumput Laut Kappaphycus alvarezii pada Kultur Jaringan dengan Media yang Berbeda Ode, Inem
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.11.2.31-37

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pertumbuhan mikropropagul rumput laut Kappaphycus alvarezii pada kultur jaringan dengan media yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2017, bertempat di laboratorium Kultur Jaringan Rumput Laut, Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon (BPBLA). Hasil penilitian menunjukkan bahwa pada media PES laju pertumbuhan mikropropagul rumput laut Kappaphycus alvarezii mingguan sebesar (0,354) dan media F2 sebesar (0,225). Nilai rata-rata laju pertumbuhan optimal pada media PES sebesar (0.337) dan pada media F2 sebesar (0,214).
Senyawa Kimia Kayu Marsegu (Nauclea orientalis L) Wali, Martini; Tuharea, M Saleh; Uar, Ningsie Indahsuary
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.11.2.70-74

Abstract

Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui senyawa kimia kayu Marsegu (Nauclea orientalis L).  Penelitian  ini  dilaksanakan selama 4 bulan di Laboratorium Kimia Universitas Hasanuddin Makassar. Analisis dilakukan menggunakan metode GCMS-Pyrolysis dengan alat kromotografi Shimadzu Pry- GCMS QP2010, sedangkan  bahan utama dalam Penelitian  ini adalah bahan utama satu batang kayu Marsegu (N. orientalis L.) sampel kayu Marsegu yang dipakai diperoleh dari hutan tanaman rakyat. Berumur  ± 7 tahun dengan diameter 35 cm dan tinggi bebas cabang   ±  8m. Hasil penelitian senyawa kimia yang terkandung dalam kayu Marsegu (N. orientalis L)  pada tiga bagian batang yakni pangkal, tengah dan ujung menunjukkan bahwa terdapat senyawa terpenoid yakni jenis triterpenoid, minyak atsiri senyawa golongan fenol jenis fenol sederhana, asam fenolat, tanin dan flavonoid dan berpotensi sebagai tanaman obat.
Keanekaragaman Fungi Ektomikoriza di Hutan Pinus merkusii Desa Matarawa Kecamatan Watopute Kabupaten Muna Marfi, Wa Ode Ernawati
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.11.2.116-123

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai indeks keanekaragaman jenis-jenis fungi ektomikoriza di bawah tegakan Pinus merkusii di Desa Matarawa. Penelitian ini menggunakan metode survei yaitu secara sensus. Fungi ektomikoriza yang ditemukan di lokasi I yaitu Inocybe sp. 1, Inocybe sp. 2, Inocybe sp. 3, Inocybe sp. 4, dan Russula sp. 1. Fungi ektomikoriza yang hanya dapat ditemukan di Desa Matarawa lokasi II yaitu Inocybe sp. 5, Russula sp. 2 dan Amanita sp. 1. Fungi ektomikoriza yang hanya dapat ditemukan di Desa Matarawa lokasi III yaitu Amanita sp.2. Terdapat perbedaan nilai indeks keanekaragaman di ketiga lokasi penelitian, lokasi I yaitu 1,209, lokasi II yaitu 0,765, sedangkan nilai 0,00 berasal dari lokasi III. Nilai yang ada menunjukkan nilai yang rendah dan sangat rendah.
Identifikasi Jenis Tanaman Pewarna Tenun Ikat di Desa Kaliuda Kecamatan Pahunga Lodu Kabupaten Sumba Timur Seran, Wilhelmina; Hana, Yanete Wori
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.11.2.1-8

Abstract

Pembuatan kain tenun ikat di Sumba Timur menggunakan zat pewarna alam yang berasal dari bagian tumbuhan penghasil warna (kulit kayu, batang, daun, akar, dan daging buah) dan merupakan salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis tanaman pewarna tenun ikat di Desa Kaliuda Kecamatan Pahunga Lodu Kabupaten Sumba Timur, (2) Mengetahui bentuk pemanfaatan dan upaya Konservasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Maret di Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur menggunakan metode studi kepustakaan, wawancara dan pengamatan (observasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengrajin tenun ikat menggunakan 5 spesies. Spesies tersebut berhasil teridentifikasi terdiri dari 4 famili yakni Fabaceae, Rubiaceae, Symplocaceae, dan Euphorbiaceae. Dari kelima jenis tanaman pewarna yang digunakan sebagai pewarna tenun ikat yaitu tanaman Nila (Indigofera tinctoria L.), Mengkudu (Morinda citrifolia L.), Loba (Symplocos sp.), Kemiri (Aleurites moluccana (L.) Willd.) dan Dadap (Erythrina variegata L.). Habitus tanaman pewarna yang paling banyak ditemukan adalah habitus pohon dengan 4 spesies. Bagian tanaman pewarna yang paling banyak digunakan adalah daun dan kulit batang/cabang. Tanaman pewarna diperoleh paling banyak yaitu dari kebun, dimana tanaman tersebut sudah dibudidayakan oleh masyarakat. Tanaman pewarna tenun ikat tumbuh di ketinggian mulai dari 0-250 mdpl s/d 750-1000 mdpl dan tingkat kemiringan mulai dari daerah datar s/d daerah landai.

Page 3 of 4 | Total Record : 34