AGRIKAN Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan
Bidang kajian dimuat meliputi agribisnis, teknologi budidaya, sumberdaya perikanan, kelautan, sosial ekonomi kelautan dan perikanan, bioteknologi perikanan. Sejak tahun 2017 mulai diterbitkan secara elektronik kerjasama Pusat Studi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna Raha.
Articles
826 Documents
Analisis usaha pengolahan kopi jahe instan di Ternate
Yonette Maya Tupamahu
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.7.2.68-74
Penelitian bertujuan untuk mengetahui proses produksi kopi jahe instan, mengetahui besarnya keuntungan industri kecil,, dan menganalisis besarnya nilai tambah pengolahan kopi jahe instan. Metode analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis kualitatif mengenai proses produksi kopi jahe instan dan analisis kuantitatif, yaitu analisis pendapatan dan nilai tambah Metode Hayami. Hasil penelitian menunjukkan proses produksi kopi jahe instan adalah : a) kopi dan jahe dicuci bersih lalu jahe dikupas dan diiris; b) kopi dan jahe dijemur; c) kopi dan jahe disangrai secara terpisah; d) kopi dan jahe digiling secara terpisah hingga menjadi bubuk; e) bubuk kopi dan jahe dicampur; f) pengemasan; g) pemasaran. Besarnya pendapatan industri kecil kopi jahe instan adalah Rp 103.706.496 per tahun. Nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan 1 kg bahan baku kopi jahe adalah Rp. 26.355,52 per kg. Nilai tambah yang diperoleh masih merupakan nilai tambah kotor, karena belum dikurangi dengan imbalan tenaga kerja. Rasio nilai tambah yang diperoleh yaitu 57,29%, berarti dalam pengolahan kopi dan jahe menjadi produk bubuk kopi jahe, memberikan nilai tambah sebesar 57,29% dari nilai produk. Imbalan tenaga kerja pengolahan kopi jahe yaitu sebesar Rp 4.750 atau 18,02 % dari nilai tambah. Sedangkan keuntungan adalah sebesar Rp 21.605,52 atau 81,98 % dari nilai produk.
Karakteristik komunitas lamun di perairan Selat Lonthoir Kepulauan Banda
Munira Munira;
Johny Dobo
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.6.2.33-39
Penelitian ini dilakukan sejak bulan Juli hingga Desember 2009 yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik komunitas lamun di Selat Lonthoir, Kepulauan Banda, Maluku. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa padang lamun di daerah ini termasuk heterospesifik yang terdiri dari 7 (tujuh) spesies, dengan kerapatan jenis tertinggi adalah Cymodocea rotundata di stasiun I dan II serta Thalassia hemprichii di stasiun III. Frekuensi kehadiran relatif tertinggi di stasiun II dan II adalah C. rotundata (56,7% dan 42,8%) sedangkan di stasiun III adalah T. hemprichii (39,8%). Penutupan relatif jenis lamun di stasiun I dan II didominasi oleh C. rotundata masing-masing sebesar 58,39% dan 44,34% sedangkan di stasiun III T. hemprichii merupakan jenis yang memiliki nilai penutupan relative tertinggi yaitu 44,39%.
Analisis karakteristik transformasi industri penangkapan dalam komunitas masyarakat nelayan (Studi kasus masyarakat nelayan di Desa Panambuang Kab. Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara)
Armain Naim
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.4.2.22-17
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi Karakteristik transformasi industri penangkapan yang berlangsung pada komunitas masyarakat nelayan di Desa Panambuang Kec. Bacan Selatan terkait dengan perkembangan investasi, teknologi alat tangkap dan manajemen, (2) Menganalisis proses berlangsungnya transformasi ikatan Patron-klien, akibat terjadinya kelompok kerja pada alat tangkap pole and line, (3) Menganalisis strategi masyarakat nelayan dalam pengembangan usaha perikanan tangkap yang berkelanjutan ditengah terus berlangsungnya proses diferensiasi sosial, komersialisasi ekonomi akibat transformasi teknologi alat tangkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi teknologi alat tangkap pole and line pada waktu yang akan datang diharapkan dapat memberikan dampak yang baik dalam upaya memperoleh hasil tangkapan yang optimal. Hal ini dapat dipahami mengingat dalam pelaksanaannya di lapangan bahwa akses kebutuhannya terhadap sumberdaya perikanan sangat dipengaruhi oleh kekuatan modal yang dimiliki oleh pemilik kapal. Mekanisme patron klien sebagai (institusi ekonomi) tidak bisa memberikan solusi bagi pemerataan kesempatan dan akses yang merata terhadap sumberdaya alam. Bila hal ini terus berlangsung dan sumberdaya ikan terus menurun karena tingkat penangkapan yang tinggi, dikhawatirkan dapat menjadi pemicu pecahnya konflik horizontal antar kelompok-kelompok nelayan
Profil pengrajin dan kontribusi dari usaha rumah tangga pengolahan gula aren (Studi kasus pada usaha rumah tangga gula aren di Desa Tuhaha Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah)
Johanna Martha Luhukay
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.4.1.74-81
Penelitian ini dilakukan di desa Tuhaha Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) profil pengrajin usaha rumah tangga gula aren di desa Tuhaha; 2) kontribusi dari usaha pengolahan gula aren pada pendapatan rumah tangga.3) peranan usaha rumah tangga pengolahan gula aren dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel secara sensus terhadap semua pengrajin gula aren yaitu 40 pengrajin. Untuk melihat profil pengrajin usaha rumah tangga pengolahan gula aren digunakan analisis kualitatif, kontribusi usaha rumah tangga gula aren terhadap pendapatan rumah tangga digunakan analisis kuantitatif, tingkat kesejahteraan rumah tangga digunakan analisis kualitati dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil pengrajin usaha rumah tangga pengolahan gula aren di Desa Tuhaha, berdasarkan komposisi umur termasuk dalam umur yang produktif dengan tingkat pendidikan yang rendah (SD) tetapi dari segi pengalaman usaha mereka termasuk dalam kategori yang berpengalaman dengan lama usaha rata-rata 18 tahun. Rata-rata ketrampilan pengrajin usaha rumah tangga pengolahan gula aren berasal dari belajar sendiri. Jumlah anggota keluarga juga merupakan salah satu alasan untuk menambah penghasilan pada usaha rumah tangga pengolahan gula aren. Kontribusi pendapatan usaha rumah tangga gula aren terhadap pendapatan total rumah tangga sebesar 80,02 persen. Usaha rumah tangga pengolahan gula aren mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga di atas garis kemiskinan, berdasarkan kriteria Sayogyo maka pengrajin di desa Tuhaha tidak miskin,sedangkan berdasarkan nilai GSR pengrajin usaha rumah tangga gula aren lebih sejahtera karena nilai GSR lebih kecil dari satu.
Kajian beberapa disain alat tangkap bubu dasar di perairan Kepulauan Ternate Propinsi Maluku Utara
Fikri R. Malik
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.6.1.52-57
Alat tangkap bubu dasar di perairan kepulauan ternate provinsi Maluku Utara masih banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendisain bubu dasar sehingga dapat meningkatkan hasil tangkapan yang diinginkan, menentukan efektifitas disain bubu dasar untuk menangkap ikan target berdasarkan aspek biologis, aspek teknis, dan aspek ekonomis, kemudian menganalisis kelayakan usaha dari desain alat tangkap bubu dasar. Penelitian ini menggunakan tiga jenis alat tangkap bubu dasar yaitu bubu dasar hasil disain tipe ‘+’, bubu dasar hasil disain tipe Y, dan bubu dasar tradisional yang biasa dipakai nelayan di Kepulauan Ternate. Pengoperasian ketiga tipe bubu dasar dilaksanakan selama 30 kali secara bersamaan. Analisis dilakukan terhadap aspek biologis, aspek teknis dan aspek ekonomis. Penelitian ini menunjukkan bahwa disain alat tangkap bubu dasar tipe ‘+’ lebih efektif untuk menangkap ikan target berdasarkan aspek biologis, aspek teknis, dan aspek ekonomis dibandingkan alat tangkap bubu dasar tradisional. Penggunaan desain alat tangkap bubu “+” dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan demersal ekonomis penting. Hasil analisis R/C rasio dan BEP, disain alat tangkap bubu dasar tipe ‘+’ layak secara ekonomis untuk dikembangkan oleh nelayan sebagai jenis alat tangkap bubu alternatif.
Bentuk Pengelolaan Hutan Dengan Kearifan Lokal Masyarakat Adat Tugutil
Sabaria Niapele
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 6 (2013): Publikasi Edisi Spesial
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.6.0.62-73
Masyarakat adat memiliki motivasi yang kuat dalam melindungi hutan dibandingkan pihak-pihak lain karena menyangkut keberlanjutan kehidupan mereka, pengetahuan asli yang dimiliki bagaimana memelihara dan memanfaatkan sumberdaya hutan yang ada di dalam habitat mereka. Memiliki hukum adat untuk ditegakkan serta memiliki kelembagaan adat yang mengatur interaksi harmonis antara mereka dengan ekosistem hutannya. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk kearifan lokal dalam mengelola hutan. untuk mengetahui bagaimana cara dalam memelihara dan mempertahankan kearifan lokalnya dalam mengelola hutan dan pemanfaatan tumbuhan hutan. Penelitian dilaksanakan di Dusun Tukur-Tukur Kecamatan Wasile Timur Kabupaten Halmahera Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah eksplorasi deskriptif dan pengambilan data dengan metode random sampling dan metode trigulasi. Data dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diketahui bentuk-bentuk kearifan lokal masyarakat adat tugutil antara lain sebagai berikut : Larangan merusak sagu raja, Buko, Nonaku, Ma ngadodo gomu pahiyara (batasan pemeliharaan). untuk memelihara dan mempertahankan kearifan lokal dalam mengelola hutan adalah dengan cara sebagai berikut : Penuturan lisan, Sangsi-sangsi adat, Penerapan secara langsung (praktek). ada terhadap 149 tumbuhan yang dimanfaatkan. yang dibagi atas 100 tumbuhan bahan pangan (71 spesies)dan 49 sumber tumbuhan obat (45 spesies).
Identifikasi jenis dan pengaruh faktor oseanografi terhadap fitoplankton di perairan Pantai Payum-Pantai Lampu Satu Kabupaten Merauke
Bonny Lantang;
Chalvin S. Pakidi
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.8.2.13-19
Perairan Pantai Payum-Pantai Lampu Satu Kabupaten Merauke merupakan kawasan perairan yang memiliki berbagai manfaat potensial yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar salah satunya untuk kegiatan penangkapan ikan maupun untuk biota laut lainnya untuk tujuan konsumsi. Kondisi perairan yang banyak menerima input massa air dari darat dimana bermuara sungai besar seperti Sungai Maro yang turut mempengaruhi berfluktuasinya faktor lingkungan di perairan Pantai Payum-Pantai Lampu Satu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan pengaruh faktor oseanografi seperti suhu, salinitas, pH dan kecerahan perairan bagi keberadaan fitoplankton di perairan Pantai Payum-Pantai Lampu Satu Kabupaten Merauke. Hasil identifikasi ditemukan 5 Kelas Fitoplankton yaitu kelas Bacillariophyceae dengan 18 Jenis, Cynophyceae dengan 1 Jenis, Chylorophyceae dengan 1 Jenis, Chrysophyceae dengan 1 Jenis dan Dinophyceae dengan 1 Jenis. Hasil Uji statistik menunjukkan bahwa suhu dan salinitas mempengaruhi keberadaan fitoplankton di perairan Pantai Payum-Pantai Lampu Satu.
Potensi kepiting bakau Scylla serrata (Forsskal, 1775) di Kabupaten Merauke Provinsi Papua
Masiyah, Siti
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.7.2.31-35
Kabupaten Merauke yang memiliki potensi yang sangat besar salah satunya adalah potensi sumberdaya alam yang dapat diperbaharui. Potensi mangrove yang masih sangat alami mendatangkan kepiting bakau semakin melimpah. Penelitian yang menggunakan data Time series dari Dinas Perikanan dan Kelautan maupun dari laporan tahunan Badan Pusat Statistik Kabupaten Merauke. Pengambilan data dari tahun 2005 - 2011. Analisis data menggunakan Metode dari Schaefer dan Fox. Dari hasil analisis didapatkan bahwa Nilai MSY menurut Schaefer dan Fox upaya penangkapan optimum masing-masing sebesar 109059.8191 ton/unit dan 72382.9154 ton/unit, tingkat eksploitasi kepiting bakau menurut Schaefer sebesar 285.6854% dengan jumlah hasil tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 87247.8553ton/per unit. Menurut analisis dengan menggunakan Teori Fox didapatkan Tingkat eksploitasinya sebesar 430,44% dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 57906.33ton/tahun. T ingkat Tingkat eksploitasi kepiting bakau di Kabupaten Merauke mengalami kondisi tingkat over explotedatau lebih tangkap.
Analisis potensi perikanan pelagis kecil di Kota Ternate
Aisyah Bafagih
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.7.1.87-94
Potensi sumberdaya perikanan tangkap di kota ternate merupakan komoditi unggulan bagi masyarakat nelayan, karena komoditi ini memiliki mekanisme pemasaran langsung, efekif dan efisien ke wilayah sekitarnya, yang tentunya memberikan keuntungan yang cukup besar. Hal ini akan memberikan manfaat sosial dan ekonomi kepada masyarakat secara keseluruhan, dan yang lebih penting untuk masyarakat nelayan sehingga tercapainya keadilan (equity), pertumbuhan (growth) dan keberlanjutan (sustainability.)Tujuan penelitian untuk mengkaji tingkat potensi sumberdaya perikanan tangkap, khususnya ikan pelagis kecil di kota Ternate yang dihubungkan dengan faktor-faktor teknis untuk mengetahui potensi lestari. Alat tangkap yang digunakan mempunyai pengaruh terhadap dampak dari potensi yang dimiliki dan faktor pendukung terhadap hasil produksi yang dicapai. Nilai MSY yang diperoleh dari analisis dengan model Schaefer terhadap upaya tangkap (effort) dan hasil tangkapan (catch) menunjukan penagngkapan lestari sebesar 10.999.564 ton/tahun dengan upaya penangkapan sebesar 11.150,173 unit alat tangkap. Faktor teknis produksi dari perhitungan regresi untuk alat tangkap Pole and Line (huhate) dan Purse Seine (pajeko) menunjukan hasil tangkapan sangat berpengaruh terhadap jumlah tenaga kerja, hari operasi penangkapan, jumlah bahan bakar serta kapasitas ukuran kapal.