cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI)
ISSN : 24422606     EISSN : 2548611X     DOI : -
JBBI, Indonesian Journal of Biotechnology & Bioscience, is published twice annually and provide scientific publication medium for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to biotechnology and bioscience. This journal accepts original papers, review articles, case studies, and short communications. The articles published are peer-reviewed by no less than two referees and cover various biotechnology subjects related to the field of agriculture, industry, health, environment, as well as life sciences in general. Initiated at the then Biotech Centre, the journal is published by the Laboratory for Biotechnology, the Agency for the Assessment and Application of Technology, BPPT.
Arjuna Subject : -
Articles 542 Documents
EFFECT OF NITROGEN SUPPLY IN CULTURE MEDIA AND LIGHT INTENSITY ON PHOTOSYNTHESIS OF Chlamydomonas reinhardtii Bedah Rupaedah; Yuichiro Takahashi
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 4 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.676 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v4i2.15

Abstract

Pengaruh Suplai Nitrogen pada Media Kultur dan Intensitas Cahaya Terhadap Proses Fotosintesis Chlamydomonas reinhardtiiOrganisms use nitrogen to produce, among others, amino acids, proteins, and nucleic acids. In this study, the effects of various concentrations of ammonium in culture media on the photosynthetic performance of Chlamydomonas reinhardtii were done under two light conditions: low and high intensity. The microbes were grown at low (75% NH4Cl dosage), normal (100% NH4Cl dosage, which was 2 M NH4Cl), and high (125% NH4Cl dosage) nitrogen content. Cells density and chlorophyll content were quantitatively determined. Immunoblotting technique was used to separate proteins based on molecular mass. In both low and high light intensity, cells grown in 75% NH4Cl dosage culture medium showed lower cell density and chlorophyll concentration than those grown in 100% and 125% NH4Cl dosage media. The later two media produced almost the same amount of cell density and chlorophyll concentration. In conclusion, 75% NH4Cl dosage was insufficient for C. reinhardtii cells to grow well. The results also showed that accumulation of photosystem I (PsaA and PsaD/F) and light harvesting complex II (LHCII) were higher in low light than in high light intensity.AbstrakOrganisme menggunakan nitrogen diantaranya untuk memproduksi asam amino, protein, dan asam nukleat. Dalam percobaan ini pengaruh berbagai konsentrasi amonium dalam media pada fotosintesis Chlamydomonas reinhardtii dilakukan di bawah dua kondisi cahaya: intensitas rendah dan tinggi. C. reinhardtii ditumbuhkan dalam medium dengan dosis nitrogen (N) rendah (75% dosis NH4Cl), normal (100% dosis NH4Cl, yakni NH4Cl 2 M), dan tinggi (125% dosis NH4Cl). Parameter yang diukur adalah  kepadatan sel dan konsentrasi klorofil. Analisis protein dilakukan dengan imunobloting untuk memisahkan protein berdasarkan massa molekul. Pada intensitas cahaya rendah dan tinggi, sel-sel pada medium dengan 75% NH4Cl menunjukkan kepadatan sel dan konsentrasi klorofil lebih rendah dibandingkan dengan 100% NH4Cl dan 125% NH4Cl, di mana kedua media ini menghasilkan kepadatan sel maupun konsentrasi klorofil yang hampir sama. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 75% NH4Cl tidak cukup bagi C. reinhardtii untuk tumbuh dengan baik. Selain itu, akumulasi fotosistem I (PsaA dan PsaD/F) dan kompleks pemanenan cahaya II (LHCII) lebih tinggi pada sistem fotosintesis dengan intensitas cahaya rendah dibandingkan cahaya tinggi.Kata kunci: Chlamydomonas reinhardtii, fotosintesis, intensitas cahaya, klorofil, nitrogen
OPTIMALISASI MEDIA PRODUKSI AMILOGLUKOSIDASE MENGGUNAKAN FERMENTASI MEDIA PADAT Rofiq Sunaryanto; Ahmad Marasabessy
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 1 (2016): June 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.689 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i1.19

Abstract

Amiloglukosidase merupakan salah satu enzim yang banyak digunakan dalam industri gula cair. Dalam proses fermentasi, komposisi medium fermentasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas amiloglukosidase. Optimalisasi media padat proses produksi amiloglukosidase secara fermentasi padat dengan menggunakan isolat Aspergillus niger telah dilakukan. Optimalisasi media padat dilakukan dengan menentukan rasio dedak:pati terbaik yang selanjutnya dikombinasikan dengan beberapa sumber nitrogen. Dalam penelitian ini sumber nitrogen yang digunakan adalah sumber nitogen organik dan sumber nitrogen anorganik. Sumber nitrogen organik yang digunakan antara lain Corn Step Liquor dan pepton, adapun sumber nitrogen anorganik yang digunakan adalah amonium nitrat, amonium sulfat, dan amonium pospat. Fermentasi dilakukan selama 120 jam pada suhu 30ºC.Hasil percobaan menunjukkan bahwa kombinasi perbandingan media sumber karbon dedak:pati 1:1 menghasilkan produktivitas amiloglukosidase tertinggi 724 Unit/ml. Amonium sulfat merupakan sumber nitrogen anorganik terbaik dan mampu menghasilkan produktivitas amiloglukosidase sebesar 823 Unit/ml, sedangkan Corn Step Liquor (CSL) yang merupakan sumber nitrogen organik mampu menghasilkan produktivitas amiloglukosidase lebih tinggi dibandingkan pepton dengan produktivitas sebesar 884 Unit/ml.Keywords: Aspergillus niger, amyloglucosidase, fermentation, carbon source, nitrogen source  ABSTRAKAmiloglukosidase adalah salah satu enzim yang banyak digunakan dalam industri gula cair. Dalam proses fermentasi, komposisi medium fermentasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas amiloglukosidase. Pada penelitian ini telah dilakukan optimalisasi media padat pada proses produksi amiloglukosidase secara fermentasi padat dengan menggunakan isolat Aspergillus niger. Optimalisasi media padat dilakukan dengan menentukan rasio dedak:pati terbaik yang selanjutnya dikombinasikan dengan beberapa sumber nitrogen. Sumber nitrogen yang digunakan adalah sumber nitrogen organik dan anorganik. Sumber nitrogen organik yang digunakan antara lain adalah Corn Step Liquor (CSL) dan pepton, adapun sumber nitrogen anorganik yang digunakan adalah amonium nitrat, amonium sulfat, dan amonium fosfat. Fermentasi dilakukan selama 120 jam pada suhu 30ºC. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kombinasi perbandingan media sumber karbon dedak:pati 1:1 menghasilkan produktivitas amiloglukosidase tertinggi, yaitu 724 unit/mL. Amonium sulfat merupakan sumber nitrogen anorganik terbaik dan mampu menghasilkan produktivitas amiloglukosidase sebesar 823 unit/mL, sedangkan CSL menghasilkan produktivitas amiloglukosidase lebih tinggi dibandingkan pepton, yakni sebesar 884 unit/mL.Kata kunci: Aspergillus niger, amiloglukosidase, fermentasi, sumber karbon, sumber nitrogen
PENANGANAN ANAKAN MUDA PADA KULTUR EX VITRO UNTUK MENGHASILKAN BIBIT SAGU (Metroxylon sagu Rottb.) SIAP TANAM Karyanti .; Yusuf Sigit; Teuku Tajuddin; Erwinda .; Minaldi .; Nadirman Haska
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 1 (2016): June 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.729 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i1.20

Abstract

To fulfill market demand and prevent its extinction, sago palm plantation need to be developed by planting elite varieties in other areas. For these reasons the large number of seedling is needed. In this study we developed the method for an ex vitro propagation technique combining with maintaining samples freshness for several days. Young suckers were treated using aquades, Na-hypochlorite or alcohol. After 3 days, suckers were sterilized, followed by dipping in vitamin solutions and IBA for an hour. The shoots were then planted in the mixture of soil and organic fertilizer. The results of our study showed that young sucker treated with alcohol 96% was the best treatment for maintaining the freshness of samples upto 3 days. During 20 weeks of culture, the optimum root induction was achieved after applying IBA 50 mg/L. Our result may serve as a base for mass propagation of sago palm.Keywords: Ex vitro, IBA, root induction, sample freshness, young suckers ABSTRAKUntuk memenuhi kebutuhan pasar serta mencegah kepunahannya, perkebunan sagu perlu dikembangkan dengan menanam tanaman sagu berkualitas di daerah lain yang sesuai. Untuk mendukung program ini, bibit sagu dibutuhkan dalam jumlah yang sangat besar. Dalam studi ini kami mengembangkan perbanyakan bibit sagu dengan teknik ex vitro yang dikombinasikan dengan metode untuk menjaga kesegaran sampel selama beberapa hari. Anakan muda sagu diberi perlakuan dengan aquades, Na-hipoklorit atau alkohol. Setelah disimpan selama 3 hari, anakan yang terlihat tetap segar dilanjutkan ke tahap sterilisasi, dan selanjutnya direndam dalam larutan campuran vitamin dan IBA selama 1 jam. Akhirnya anakan muda ditanam dalam media campuran tanah dan pupuk kandang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan alkohol 96% adalah yang terbaik untuk menjaga kondisi anakan tetap segar setelah disimpan hingga 3 hari. Selanjutnya setelah dikultur selama 20 minggu, induksi akar yang optimal dapat dicapai dari perlakuan IBA 50 mg/L. Hasil yang kami peroleh dapat menjadi acuan dalam perbanyakan bibit sagu secara masal.Kata kunci: Ex vitro, IBA, induksi akar, kesegaran sampel, anakan muda
REVIEW: POTENSI MIKOREMEDIASI LOGAM BERAT Andri Kurniawan; Nuraeni Ekowati
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 1 (2016): June 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.458 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i1.21

Abstract

Heavy metals contamination is a main issue which has negative impacts to environment and organisms. Various methods have been developed to reduce such pollutants, including utilization of organisms’ capability in order to minimize the contamination. Mycoremediation is one of remediation process in contaminated environment using fungi and its reduction mechanisms, involving intracellular, as well as extracellular system. There are some species of fungi that are frequently used as remediator agents, for example Aspergillus sp., Fusarium sp., Penicillium sp., Phanerochaete sp., Trichoderma sp. There are some methods that have been used for heavy metal reduction mechanisms such as biosorption, bioaccumulation, bioprecipitation, bioreduction, and bioleaching.Keywords: Mycoremediation, fungi, heavy metal, biosorption, bioaccumulation ABSTRAK Kontaminasi logam berat adalah suatu permasalahan utama yang berdampak negatif bagi lingkungan dan juga makhluk hidup. Berbagai metode telah dikembangkan untuk mereduksi cemaran, termasuk memanfaatkan kemampuan organisme untuk meminimalkan kontaminan tersebut. Mikoredemiasi adalah salah satu proses remediasi cemaran di lingkungan dengan melibatkan fungi beserta mekanisme reduksinya, baik secara intraselular maupun ekstraselular. Beberapa jenis fungi yang sering dijadikan agen remediator antara lain Aspergillus sp., Fusarium sp., Penicillium sp., Phanerochaete sp., Trichoderma sp. Beberapa prinsip yang digunakan untuk menghilangkan logam berat antara lain biosorpsi, bioakumulasi, biopresipitasi, bioreduksi, dan bioleaching. Kata kunci: Mikoremediasi, fungi, logam berat, biosorpsi, bioakumulasi
INDUKSI MUTASI DAN SELEKSI IN VITRO TANAMAN GANDUM (Triticum aestivum L.) Laela Sari; Agus Purwito; Didy Soepandi; Ragapadmi Purnamaningsih; Enny Sudarmonowati
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 2 (2016): December 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.087 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i2.36

Abstract

INDUCTION MUTATION AND SELECTION OF IN VITRO PLANT OF WHEAT (Triticum aestivum L.)The goal of this research was to produce wheat crop which is tolerant to lowland condition.Six varieties were used, Dewata, Selayar, Alibey, Oasis, Rabe and HP1744. This research consisted of 4 stages: production of the best callus on MS medium containing 3 g/L 2.4-D, induced mutation of embryogenic callus using EMS, in vitro selection of callus at temperature of 27–35°C, and callus regeneration. The best result for callus production was 76% for Dewata and 70% for Selayar varieties. Higher concentration of EMS and longer soaking time decreased the percentage of callus growth. LC50 for Dewata was 0.3% EMS at 30 minutes and that for Selayar was 0.1% EMS at 60 minutes. The higher the temperature was, the lower was the adaptation tolerant of the plants, and callus growth was inhibited. At the highest temperature (35°C) the callus did not grow at all.Keywords: Induced mutation, Triticum aestivum, EMS, in vitro selection, callusABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk merakit tanaman gandum yang toleran pada dataran rendah. Varietas yang digunakan ada 6 yaitu Dewata, Selayar, Alibey, Oasis, Rabe dan HP-1744. Penelitian terdiri atas empat tahap yaitu induksi pembentukan kalus terbaik menggunakan media MS + 3 g/L 2,4-D (dipilih dua varietas yang terbaik), induksi mutasi kalus embriogenik menggunakan EMS, seleksi kalus in vitro pada suhu 27–35°C, dan regenerasi. Hasil induksi kalus terbaik terdapat pada varietas Dewata sebesar 76% dan Selayar sebesar 70%. Semakin tinggi konsentrasi EMS dan semakin lama waktu perendaman yang digunakan maka semakin menurun persentase pertumbuhan kalus. LC50 varietas Dewata adalah EMS 0,3% waktu 30 menit sedangkan LC50 varietas Selayar adalah EMS 0,1% waktu 60 menit.Semakin tinggi suhunya maka semakin berkurang toleran adaptasi tanaman tersebut, dan pertumbuhan kalus semakin sedikit. Bahkan pada suhu tertinggi yaitu suhu 35°C tidak ada pertumbuhan kalus sama sekali.Kata Kunci: Induksi mutasi, Triticum aestivum, EMS, seleksi in vitro, kalus
PEMANFAATAN BIOFUNGISIDA BERBAHAN AKTIF Trichoderma spp. UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK BUAH KAKAO Winda Nawfetrias; Eka Nurhangga; Sutardjo .
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 1 (2016): June 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.504 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i1.39

Abstract

Cocoa black pod rot is caused by pathogenic fungi, Phytophtora palmivora, which decrease the cocoa production up to 90%. The use of biological control agents, Trichoderma spp., is one of the promising P. palmivora controllers since it is low-cost, easily found and safe for the environment. The aims of this research were to understand the compatibility, antagonistic and effectiveness of biofungicide containing active ingredient of Trichoderma spp. against P. palmivora in vitro and to test the effective concentration of biofungicide containing active ingredient of T. asperellum to control P. palmivora in vitro and in vivo. T. asperellum, T. harzianum, and T. viride were grown together on PDA medium to test their compatibility. Antagonistic and effectiveness test of Trichoderma spp. against P. palmivora were tested using the in vitro dual culture method. The effectiveness of T. asperellum biofungicide was tested in vivo on cocoa pot. Compatibility test showed that all three species were compatible and the best effectiveness showed by the combination of T. asperellum and T. viride. The result also showed that T. asperellum biofungicide had an ability to inhibit P. palmivora.   Keywords: Trichoderma spp., effectivity, compatibility, antagonistic, biofungicide  ABSTRAKPenyakit busuk buah kakao disebabkan cendawan patogen Phytophtora palmivora, yang dapat menurunkan produksi kakao sampai 90%. Penggunaan agensia pengendali hayati (APH), Trichoderma spp., merupakan salah satu pengendalian P. palmivora yang menjanjikan karena murah, mudah didapat dan aman terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian, antagonistik, dan efektivitas biofungisida berbahan aktif Trichoderma spp. secara in vitro. Di samping itu juga bertujuan mengetahui konsentrasi efektif biofungisida berbahan aktif T. asperellum untuk mengendalikan P. palmivora secara in vitro dan in vivo. T. asperellum, T. harzianum, dan T. viride, ditumbuhkan bersama pada media PDA untuk mengetahui kesesuaian antarspesies. Antagonistik dan efektivitas Trichoderma spp. terhadap P. palmivora secara in vitro diuji menggunakan metode dual culture. Biofungisida berbahan aktif T. asperellum diuji efektivitasnya secara in vivo pada buah kakao. Hasil uji kesesuaian menunjukkan bahwa ketiga spesies yang diuji berkesesuaian dan efektifitas terbaik ditunjukkan pada kombinasi T. asperellum dan T. viride. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa biofungisida berbahan aktif T. asperellum dengan konsentrasi tertinggi terbukti dapat menghambat pertumbuhan P. palmivora.Kata kunci: Trichoderma spp., efektivitas, kesesuaian, antagonis, biofungisida
STUDI POTENSI LIPASE Alcaligenes faecalis UNTUK APLIKASI BIODETERJEN Ika Rahmatul Layly; Nita Oktavia Wiguna
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 2 (2016): December 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.601 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i2.40

Abstract

In detergent industry, enzymes are used enormously in terms of quantity and economic value. Lipase catalyzes the hydrolysis of triglycerides into diglycerides and monoglycerides by releasing fatty acids. Lipase is produced by bacteria, fungi, and yeasts. This study aims to determine the potential of Alcaligenes faecalis lipase  for its application  as biodetergen, through stability testing of its lipase activity against detergent components by exposing the enzyme to the commercial detergents, as well as performance testing through washing. Alcaligenes faecalis lipase was produced using Luria Bertani (LB) culture medium supplemented with 1% olive oil inducer. Production is carried out for 24 hours, and the enzyme was harvested at the 18th hour. The harvested enzyme was tested for their stability after being exposed to commercial detergents at a concentration of 1-5%. Results showed that the exposure to the detergents decreased the enzyme activity to 22, 38, 48, 68 and 90%. Performance test showed that the olive oil impurity removal from the fabric was 29%.Keywords: Alcaligenes faecalis Lipase, biodetergent, lipase activities, washing test AbstrakPada industri detergen penggunaan enzim sangatlah besar baik secara jumlah maupun nilai ekonomi. Lipase mengkatalis hidrolisis trigliserida menjadi digliserida dan monogliserida dengan membebaskan asam lemak. Lipase dihasilkan oleh bakteri, jamur, dan yeast. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi lipase Alcaligenes faecalis untuk aplikasi biodeterjen, melalui uji stabilitas aktivitas lipase terhadap komponen deterjen dengan memaparkan terhadap deterjen komersial serta uji kinerja melalui washing test. Lipase Alcaligenes faecalis diproduksi menggunakan media Luria Bertani (LB) dengan penambahan induser minyak zaitun 1%. Produksi dilakukan selama 24 jam dengan waktu pemanenan enzim pada jam ke-18. Enzim yang sudah dipanen diuji stabilitasnya setelah dipapar dengan deterjen komersial pada konsentrasi 1-5%. Berdasarkan hasil pengujian aktivitas setelah dipapar terlihat penurunan aktivitas berturut-turut sebesar 22, 38, 48, 68 dan 90%. Hasil uji kinerja menunjukkan bahwa noda minyak zaitun yang hilang dari kain sebesar 29%.Kata kunci: Lipase Alcaligenes faecalis, biodeterjen, aktivitas lipase, washing test
KAJIAN PROSES PRODUKSI PUPUK HAYATI BIO-SRF DAN PENGUJIAN EFEKTIVITASNYA PADA TANAMAN BAWANG MERAH R Bambang Sukmadi; Agus Supriyo; Bedah Rupaedah; Farida Rosana Mira; Yenni Bakhtiar; Asep Ali; Mahmud Sugianto
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 1 (2016): June 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.342 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i1.46

Abstract

This study aimed to assess the production process of biofertilizer Bio-SRF and determine its effectiveness on the growth and productivity of shallot plants. The Study of biofertilizer Bio-SRF production covering the cultivation of microbial cell biomass, granulation, and formulation of  biofertilizer products. Testing the effectiveness of biofertilizers on shallot plants using a randomized complete block design (RCBD) with five replicates, involving nine biofertilizers treatments and one control. The results showed that the population of cells on the granulated biofertilizer Bio-SRF was Corynebacterium sp. 4 x 107 cfu/g, Lactobacillus sp. 3.8 x 107 cfu/g, Burkholderia seminalis 7.4 x 108 cfu/g, Pseudomonas stutzeri 4.5 x 108 cfu/g and 60 mycorrhizal spores/g products. The effectiveness test showed that the biofertilizer treatments significantly affected plant height, the number of bulbs, weight of wet and dried bulbs produced. Application of biofertilizer Bio-SRF on shallot plants gave the best results of plant height 34.80 cm at harvest time, the number of bulbs per plant 4.78 bulb, weight of wet bulbs 3,81 kg/m2, weight of dried bulbs 3,27 kg/m2 and increased the yield of shallot production by 55.71% compared with no biofertilizer application.Keywords: Biofertilizer, Bio-SRF, production process, effectivity test, shallot plant ABSTRAKBio-SRF merupakan formula produk pupuk hayati yang mengandung campuran beberapa jenis mikroba penyubur tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses produksi pupuk hayati Bio-SRF dan mengetahui efektivitasnya terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman bawang merah. Kajian produksi pupuk hayati Bio-SRF meliputi perbanyakan biomassa sel mikroba, granulasi dan formulasi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi sel pada produk pupuk hayati Bio-SRF bentuk granul adalah Corynebacterium sp. 4 x 107 cfu/g, Lactobacillus sp. 3,8 x 107 cfu/g, Burkholderia seminalis 7,4 x 108 cfu/g, Pseudomonas stutzeri 4,5 x 108 cfu/g dan mikoriza 60 spora/g produk. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah umbi, bobot basah dan bobot kering umbi bawang merah yang dihasilkan. Aplikasi pupuk hayati Bio-SRF pada tanaman bawang merah memberikan hasil terbaik yaitu dengan tinggi tanaman saat panen 34,80 cm, jumlah umbi per tanaman 4,78 umbi, berat basah umbi 3,81 kg/m2, berat kering umbi 3,27 kg/m2 dan dapat meningkatkan hasil produksi bawang merah sebesar 55,71% dibandingkan dengan tanpa aplikasi pupuk hayati.Kata kunci: Pupuk hayati, Bio-SRF, proses produksi, uji efektivitas, bawang merah
FERMENTATION OF KEPOK BANANA PEEL-CORN HOMINY MIXED SUBSTRATE FOR DIETARY INCLUSION IN BROILER RATION Fadilla Anwar; Catur Sriherwanto; Etyn Yunita; Imam Suja’i
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 1 (2016): June 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.093 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i1.54

Abstract

To reduce broiler production cost, a study was carried out on utilisation of alternative, less costly feed components, namely kepok banana peel and corn hominy which were mixed and fermented using the fungus Rhizopus oryzae. The fermented substrate was added into commercial feed in order to determine its influence on the poultry’s production performance. This study employed a completely randomized design (CRD) with four treatments: one using 100% pure commercial feed, and the other three commercial feed mixed with the fermented feed component at the levels of 5%, 10% and 15%. All treatments were repeated four times during 25 days growth period. The results showed that supplementation of the fermented ingredient in the broiler ration at the levels of 5%, 10%, or 15% had no significant effect (P>0,05) on the feed consumption, body weight gain, feed conversion ratio, and the final body weight of the animals. Although mixing the fermented feed ingredient up to 15% in the commercial feed promoted the growth of the broilers, the results were not yet comparable to pure commercial feed.Keywords: Corn hominy, broiler, fermentation, kepok banana peel, Rhizopus oryzae AbstrakUntuk mengurangi biaya produksi ayam pedaging, dilakukan pengkajian penggunaan bahan penyusun pakan alternatif yang lebih murah, yaitu kulit pisang kepok dan ampok jagung yang dicampur dan difermentasi menggunakan jamur Rhizopus oryzae. Hasil fermentasi tersebut lalu ditambahkan pada pakan komersial ayam pedaging dengan tujuan mengetahui pengaruhnya terhadap penampilan produksi ayam pedaging. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu satu perlakuan 100% pakan komersial murni, dan tiga perlakuan pakan komersial yang dicampur bahan pakan hasil fermentasi tersebut dengan kadar 5%, 10%, dan 15%. Seluruh perlakukan diulang empat kali selama 25 hari masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pakan terfermentasi ke dalam ransum ayam pedaging pada kadar 5%, 10%, atau 15% tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, nilai koversi pakan, dan bobot badan akhir hewan. Meskipun penambahan bahan pakan fermentasi tersebut hingga 15% dalam pakan komersial mendukung pertumbuhan ayam pedaging, namun capaian pertumbuhannya belumlah sebaik pakan komersial.Kata kunci: Ampok jagung, ayam pedaging, fermentasi, kulit pisang kepok, Rhizopus oryzae
PENGARUH AUKSIN DAN SITOKININ TERHADAP PERBANYAKAN MIKRO TANAMAN BINAHONG (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) . Suparjo; Juwartina Ida Royani; Syofi Rosmalawati; Teuku Tajuddin; Ahmad Riyadi
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 2 (2016): December 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.973 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i2.72

Abstract

EFFECT OF AUXIN AND CYTOKININ ON MICROPROPAGATION OF BINAHONG (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis)Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) is known as miraculous medicinal plant for its potential to cure for various kinds of diseases such as diabetes, stabilizing blood pressure and circulation, accelerating wound healing, and preventing stroke. In order to provide high quality seedlings of this medicinal plant continuously in large amount, the study on binahong micropropagation was performed. Plant growth regulators of auxins and cytokinins were applied in single or in combination so as to observe their effect on the growth of binahong explants. The results showed that 2,4-D induced callus formation in large diameter on all treatments. Nevertheless, this plant growth regulator had a negative effect on growth and development of shoot and leaves. In the combination treatments between IAA and BAP, it revealed that the higher the concentration of BAP in the media, the lower the number of leaves initiated on shoot explants. Increasing the concentration of IAA upto 1.5 ppm influenced the increasing of shoot tallness and the number of internodes. Our results can be useful for improving the binahong shoot propagation efficiency, as well as callus culture studies.Keywords: Auxin, cytokinin, callus, micropropagation, medicinal plantABSTRAKBinahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) dikenal sebagai tanaman obat ajaib karena dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam penyakit seperti diabetes, melancarkan peredaran dan tekanan darah, mempercepat penyembuhan luka, mencegah stroke. Dalam mendukung ketersediaan bibit tanaman obat herbal yang berkualitas secara berkelanjutan maka dilakukan kajian tentang perbanyakan bibit tanaman binahong. Zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin dalam bentuk tunggal maupun kombinasi diaplikasikan pada penelitian ini untuk melihat pengaruhnya terhadap berbagai eksplan binahong. Hasilnya menunjukkan bahwa 2,4-D merangsang pembentukan kalus dengan ukuran yang besar pada semua perlakuan. Namun demikian zat pengatur tumbuh ini memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tunas dan daun. Dari perlakuan kombinasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP, pertambahan konsentrasi BAP di dalam media menurunkan jumlah daun yang terbentuk pada eksplan pucuk binahong. Demikian pula dengan pertambahan konsentrasi IAA hingga 1,5 ppm sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan meninggi tunas dan pertambahan jumlah ruas. Hasil dari studi ini dapat dimanfaatkan untuk studi lanjutan dalam meningkatkan efisiensi perbanyakan tunas serta kultur kalus binahong.Kata kunci: Auksin, sitokinin, kalus, perbanyakan mikro, tanaman obat herbal