cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
CHEMISTRY PROGRESS
ISSN : 19795920     EISSN : 27158365     DOI : -
Core Subject : Science,
Majalah Ilmiah Chemistry Progress merupakan media untuk menyebarkan informasi ilmiah dan sarana komunikasi bagi para ilmuan dan cendekiawan melalui tulisan-tulisan ilmiah. Majalah Ilmiah Chemistry Progress terbit dua nomor dalam satu tahun (Mei dan November) berisi kajian penelitian dalam lingkup ilmu kimia (organik, anorganik, analitik, biokimia, fisika, bahan alam, lingkungan, pangan, kelautan, pertambangan, farmasi dan komputasi). Jumlah halaman pervolume adalah 55-65 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2012)" : 8 Documents clear
KINERJA ADSORPSI LEMPUNG CENGAR TERAKTIVASI UNTUK MENGHILANGKAN KATION Co(II) DARI FASA BERAIR ., Muhdarina; Bahri, Syaiful
CHEMISTRY PROGRESS Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.5.2.2012.770

Abstract

Mengaktifkan permukaan lempung bertujuan meningkatkan kemampuan permukaan dalam mengikat adsorbat. Lempung alam Cengar telah diaktifkan secara impregnasi di dalam larutan 1 molar garam amonium asetat dan amonium klorida, disentrifugasi dan dikeringkan. Serangkaian percobaan adsorpsi kation Co(II) oleh lempung aktif Cengar dipelajari melalui mekanisme, isoterm dan termodinamika adsorpsi. Adsorpsi kation Co(II) mengikuti mekanisme difusi film dan isoterm Langmuir. Proses adsorpsi kation Co(II) pada lempung aktif Cengar terjadi secara kemisorpsi dan tidak spontan. Kation Co(II) lebih banyak teradsorpsi pada lempung yang diaktifkan dengan amonium asetat.Activation of the clay surface is aimed to improve the ability of the surface to bind the adsorbate. Cengar natural clay was activated by impregnation in a solution of 1 M ammonium acetate and ammonium chloride salt respectively, followed by centrifugation and drying.A series ofadsorption experiments of cationsCo(II) on activatedCengarclay was studied throughmechanism, isothermandthermodynamicsof adsorption.Adsorption ofcationsCo(II) followed thefilmdiffusionmechanismandLangmuirisotherm. The adsorption process ofcationsCo(II) on the Cengar clay is occured under chemisorption and not spontaneous. The adsorption of cationsCo(II) is higher inammoniumacetate-activated rather than ammonium chloride-activated clays.
ISOLASI BAKTERI PROBIOTIK PENGHASIL PROTEASE DAN LAKTASE DARI FERMENTASI KAKAO VARIETAS HIJAU Utami, Lidya Sari; Syukur, Sumaryati; ., Jamsari
CHEMISTRY PROGRESS Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.5.2.2012.775

Abstract

Bakteri asam laktat (BAL) merupakan salah satu mikroorganisme yang terlibat pada fermentasi kakao. Bakteri ini umumnya dapat dimanfaatkan sebagai probiotik yang memberikan keuntungan bagi manusia seperti, menghambat pertumbuhan bakteri patogen, menghasilkan berbagai enzim untuk kesehatan pencernaan, contohnya, laktase dan protease. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi, dan mengidentifikasi bakteri probiotik protease dan laktase dari hasil fermentasi kakao, sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai sumber probiotik baru yang dapat digunakan dibidang kesehatan dan industri. Pulp kakao difermentasi selama 36 jam, suhu kamar pada media MRS Broth dan MRS agar didapatkan enam isolat bakteri. Bakteri yang didapatkan diuji ketahanan terhadap pH asam (pH 2, 2.5 dan 3), dan didapatkan empat bakteri yang dapat hidup pada kondisi asam, yang kemudian digunakan untuk uji antimikroba terhadap Escherichia coli ATCC 25922 dan Salmonella thypi NBRC14237. Zona hambat yang dihasilkan keempat isolat bakteri tersebut termasuk pada golongan yang sangat kuat kuat (20 mM). Media TSIA (Triple Sugar Iron Agar) digunakan pada uji laktase, hanya dua isolat yang mampu menghasilkan laktase. Kedua isolat tersebut selanjutnya digunakan pada uji protease, didapatkan satu isolat (G6) memiliki zona bening terbesar (15mm). Kadar protease dari isolat G6 diukur dengan metode Lowry, dan didapatkan kadar protease maksimum adalah 0,88mg/mL pada waktu inkubasi 18 jam. Identifikasi genomik (16SrRNA) menggunakan primer 9F dan 1541R diketahui bahwa isolat G6 memiliki kesamaan 86% dengan Lactobacillus brevis strain FE.Lacticacid bacteria(LAB) is a microorganisms involved in thefermentation of cocoa. These bacteria generally used as probiotics, because it has manybenefits forhumans, such as inhibitingthe growth ofpathogenic bacteria, and produce variousenzymes, such as, lactaseandprotease. The goal of this studywas toisolatedandidentified the probioticbacteria producing proteaseandlactase from fermentedcocoa as a new source ofprobiotics. Cocoa pulp fermented for 36 hours at room temperature, and the yields are six bacterial colonies which isolated on the MRS broth and MRS agar. The six isolates will be selected to resistance of acid pH (pH2; 2.5 and 3), then the bacteria were used to antimicrobials test for Escherichia coli ATCC 25922 and Salmonella typi NBRC14237. The yields showed that the inhibition zone (antimicrobial activities) of four isolates bacteria are powerful. TSIA medium (Triple Sugar Iron Agar)was used for lactase screening, and obtained two bacteria that produce lactase, then the isolates were tested for protease screening, and the yield is one isolate (G6) has a largest clear zone (15 mm). The Lowry method was used to determine of protease concentration, and the yield showed that maximum concentration of protease is 0.88mg/mL at 18 hours incubation time for isolate G6. The genomic identification of 16SrRNA used the 9F and 1541R primers resulted that the G6 isolate have 86% similarity with Lactobacillus brevis strain FE.
PERBANDINGAN KANDUNGAN MINYAK ATSIRI ANTARA JAHE SEGAR DAN JAHE KERING ., Supriyanto; Cahyono, Bambang
CHEMISTRY PROGRESS Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.5.2.2012.771

Abstract

Jahe (Zingiber officinale var emprit) merupakan salah satu komoditas andalan ekspor Indonesia yang memberikan peranan cukup berarti dalam penerimaan devisa negara. Daya guna bahan ini sangat erat hubungannya dengan komponen bioaktif yang terkandung didalamnya. Kualitas dan kuantitas minyak atsiri jahe emprit segar dan simplisia jahe kering dilaporkan guna memberi informasi kepada masyarakat mengenai efek dari pasca panen. Total minyak atsiri diperoleh melalui destilasi Stahl selama ± 6 jam, sedangkan analisis komponen minyak atsiri dilakukan dengan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar minyak atsiri jahe segar dan simplisianya masing-masing 3,71% (v/w) dan kadar 0,94 % (v/w). Data GC-MS memperlihatkan bahwa jahe segar memiliki jenis minyak atsiri lebih banyak daripada jahe kering, selain jumlah zingiberinenya lebih dominan. Hasil penelitian dapat memberikan informasi kepada masyarakat bahwa jahe segar lebih baik dibandingkan dengan simplisia jahe kering.Gingeris an important herbal commodities of Indonesia. The utilityof this ginger is related to itsbioactive components. The analysis of qualityandquantity ofessential oilof freshanddriedginger are necessary in order to informaboutpost-harvest to the public. Totalessential oilobtained byStahldistillation for ±6hours, and their components are performedbyGC-MS. The results showed that essential oil of fresh and dried ginger are 3.71% (v/w)and 0.94% (v/w), respectively. GC-MS spectra indicatethatfreshgingerhas many types of volatileessential oil and zingeberenethandriedginger. Therefore, the results of this research can explain the public understanding that the freshgingeris better thandriedginger.
PRAKONSENTRASI ION Cu(II) MENGGUNAKAN RESIN BERBASIS MIKROKAPSUL Ca-ALGINAT SECARA OFF-LINE DENGAN METODE KOLOM Panggabean, Aman S.; Pasaribu, Subur P.; Sari, Ika Y. L.
CHEMISTRY PROGRESS Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.5.2.2012.769

Abstract

Penelitian tentang pengembangan teknik prakonsentrasi ion logam Cu(II) dengan menggunakan kolom yang berisi resin Ca-Alginat telah dilakukan. Teknik prakonsentrasi ini dilakukan secara off-line, yaitu sampel air dimasukkan ke dalam kolom, dielusi dengan HCl 1,5 M, kemudian eluatnya ditampung dan diukur dengan spektrofotometer serapan atom. Beberapa parameter penting pada teknik prakonsentrasi ini telah dipelajari. Dari hasil penelitian diperoleh kondisi optimum untuk retensi ion Cu(II) yaitu pada pH 4, volume sampel 4 mL, volume eluen HCl 2 mL dengan konsentrasi 1,5 M, dan kapasitas retensi 3,8269 mg Cu/g resin. Kinerja analitik metode ini sangat baik untuk analisis ion Cu(II) ditunjukkan dari pengukuran nilai batas deteksi sebesar 3,73 μg/L dengan tingkat kebolehulangan yang dinyatakan sebagai nilai persentase koefisien variansi sebesar 1,2669 %. Metode ini dapat diaplikasikan untuk analisis ion Cu(II) pada sampel air dari lingkungan dengan nilai perolehan kembali > 95 %, dengan menggunakan teknik spike terlihat bahwa matriks sampel yang berasal dari Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus tidak mempengaruhi hasil pengukuran.Research about developing preconcentration technique of Cu(II) ion by using column technique filled with Ca-Alginate resin has been carried out. The preconcentration technique was developed by off-line method, water samples were passed through the column and eluted with 1.5 M HCl. The eluate was taken and detected by atomic absorption spectrophotometer. The important parameters for preconcentration technique had been studied. The optimum conditions obtained for the retention of Cu(II) ion was at pH 4, sample volume of 4 mL, the eluate volume of 2 mL with concentration of 1.5 M HCl, and retention capacity of 3.8269 mg Cu/g resin. The analytical performance of this method is good which are shown by the limit of detection of 3.73 μg/L and the reproducibility level shown by the precentage of the coefficient variance of 1.2636 %. The method could be applied for the determination of Cu(II) ion in the water samples from environment with a recovery percentage of > 95% by using the spike method it was shown that matrice of water from Mahakam and Karang Mumus Rivers did not effect the results of measurement.
ISOLASI DAN UJI TOKSISITAS SENYAWA AKTIF DARI EKSTRAK METILENA KLORIDA (MTC) LENGKUAS PUTIH (Alpinia galanga (L)Willd) Jayanti, Nolika Wiji; Astuti, Maria Dewi; Komari, Noer; Rosyidah, Kholifatu
CHEMISTRY PROGRESS Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.5.2.2012.774

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi senyawa hasil isolasi ekstrak metilena klorida lengkuas putih, Alpinia galanga (L) Willd berdasarkan data spektra UV-Vis dan spektra IR, serta menentukan nilai Lethal Concentration (LC)50 senyawa aktif hasil isolasi. Pemisahan ekstrak metilena kloridamenggunakan kromatografi kolom gravitasi (KKG) menghasilkan 220 vial yang digabung menjadi 12 fraksi gabungan (fraksi A-L). Uji Brine Shrimps Lethality Test (BSLT) menunjukkan fraksi I berpotensi sebagai antikanker. Fraksi I dimurnikan lebih lanjut menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) preparatif hingga didapatkan 3 fraksi (I1, I2, dan I3). Fraksi I1 dan I2 diuji kemurniannya dengan KLT tiga sistem eluen dan KLT dua dimensi, menghasilkan senyawa murni, I1 dan I2. Senyawa I1 didapat sebanyak 3,67 mg padatan berwarna kuning dan senyawa I2 didapat sebanyak 6,97 mg padatan berwarna putih. Spektra UV-Vis senyawa I1 menunjukkan adanya cincin aromatik. Spektra IR senyawa I1 menunjukkan adanya gugus –OH, -C=O, -CH alifatik dan –C-O. Senyawa I1 diduga kuat sebagai senyawa flavonoid golongan flavon. Spektra UV-Vis senyawa I2 menunjukkan adanya kromofor -C=C yang tidak terkonjugasi. Spektra IR senyawa I2 menunjukkan adanya gugus –CH alifatik, –C=O, –C=C dan –C–O. Senyawa I2 diduga kuat golongan triterpenoid. Uji toksisitas dilakukan pada senyawa I2 dengan metode Brine Shrimps Lethality Test (BSLT) diperoleh nilai LC50 sebesar 62,4979 ppm. Senyawa I2 berpotensi sebagai antikanker.Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi senyawa hasil isolasi ekstrak metilena klorida lengkuas putih, Alpinia galanga (L) Willd berdasarkan data spektra UV-Vis dan spektra IR, serta menentukan nilai Lethal Concentration (LC)50 senyawa aktif hasil isolasi. Pemisahan ekstrak metilena kloridamenggunakan kromatografi kolom gravitasi (KKG) menghasilkan 220 vial yang digabung menjadi 12 fraksi gabungan (fraksi A-L). Uji Brine Shrimps Lethality Test (BSLT) menunjukkan fraksi I berpotensi sebagai antikanker. Fraksi I dimurnikan lebih lanjut menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) preparatif hingga didapatkan 3 fraksi (I1, I2, dan I3). Fraksi I1 dan I2 diuji kemurniannya dengan KLT tiga sistem eluen dan KLT dua dimensi, menghasilkan senyawa murni, I1 dan I2. Senyawa I1 didapat sebanyak 3,67 mg padatan berwarna kuning dan senyawa I2 didapat sebanyak 6,97 mg padatan berwarna putih. Spektra UV-Vis senyawa I1 menunjukkan adanya cincin aromatik. Spektra IR senyawa I1 menunjukkan adanya gugus –OH, -C=O, -CH alifatik dan –C-O. Senyawa I1 diduga kuat sebagai senyawa flavonoid golongan flavon. Spektra UV-Vis senyawa I2 menunjukkan adanya kromofor -C=C yang tidak terkonjugasi. Spektra IR senyawa I2 menunjukkan adanya gugus –CH alifatik, –C=O, –C=C dan –C–O. Senyawa I2 diduga kuat golongan triterpenoid. Uji toksisitas dilakukan pada senyawa I2 dengan metode Brine Shrimps Lethality Test (BSLT) diperoleh nilai LC50 sebesar 62,4979 ppm. Senyawa I2 berpotensi sebagai antikanker.
BIOSORPSI CAMPURAN LOGAM PB2+ DAN ZN2+ OLEH CHAETOCEROS CALCITRANS Hala, Yusafir; Suryati, Emma; Taba, Paulina
CHEMISTRY PROGRESS Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.5.2.2012.772

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dampak jerapan campuran ion logam Pb(II) dan Zn(II) terhadap pertumbuhan mikroalga Chaetoceros calcitrans dan menentukan efisiensi penjerapan kedua ion logam dalam campuran. Pemaparan ion logam dengan berbagai variasi konsentrasi Pb(II) terhadap Zn(II)dilakukan setelah diperoleh pertumbuhan optimum C. calcitrans, yakni pada hari ke-9. Konsentrasi ion logam Pb(II) dan Zn(II) setelah pemaparan ditentukan dengan spektrofotometer serapan atom. Penambahan ion Pb(II) ke dalam Zn(II)membuat penjerapan ion Zn(II) oleh C. calcitrans turun dibandingkan dengan penjerapan ion tunggal Zn(II). Hal yang sama juga terjadi pada penambahan ion Zn(II)ke dalam ion Pb(II). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ion Pb(II) lebih banyak terjerap oleh C. calcitrans dibanding ion Zn(II). Effisiensi penjerapan optimum ion Pb(II) sebesar 64,44% pada perbandingan konsentrasi Pb(II) terhadap Zn(II) 45 : 30 ppm sedangkan penjerapan ion Zn(II) yaitu 56,33% pada perbandingan konsentrasi Zn(II) terhadap Pb(II) 15 : 30 ppm.The main purpose of this research was to determine the adsorption effect of the mixture of Pb(II) and Zn(II) on the growth of Chaetoceros calcitrans and to determine the adsorption efficiency of the ions in the mixture. Exposure of Pb(II) and Zn(II)ions was conducted after the optimum growth of C. calcitrans was obtained, that is at the ninth day with the variation of the concentration ratio of Pb(II) to Zn(II). Concentration of Pb(II) and Zn(II) ions after exposure was determined by atomic absorption spectrophotometer. Addition of Pb(II) ion in solution Zn(II) ion resulted in the decrease of the Zn(II)ion adsorbed by C. calcitrans compared to the adsorption of the single ion of Zn(II). The same result was obtained when Zn(II) ion was added in Pb(II) solution. Results showed that the adsorption of Pb2+ ion by C. calcitrans was higher than that of Zn(II) ion. The maximum adsorption efficiency of Pb(II) ion was 64.44% at the Pb(II):Zn(II) ratio of 45:30, whereas that of Zn(II)ion was 56.33% at the Zn(II):Pb(II) ratio of 15:30.
TRIPEL ARILASI ORGANOSILIKA PRIMER DENGAN BEBERAPA ARIL IODIDA MENGGUNAKAN KATALIS PALADIUM Lesbani, Aldes; Mohadi, Risfidian
CHEMISTRY PROGRESS Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.5.2.2012.768

Abstract

Telah dilakukan tripel arilasi senyawa organosilika primer dengan beberapa aril iodida menggunakan katalis paladium dengan teknik reaksi kopling. Reaksi dilakukan dalam kondisi atmosfir argon dengan 4-diazabicyclo[2,2,2]octane sebagai basa dalam pelarut tetrahidrofuran. Senyawa hasil sintesis yakni tris(5-metil-2-thiopen)fenil silan (1), tris(4-N,N-dimetil anilin) fenil silan (2), dan tris(2-thiopen)fenil silan (3) berhasil disintesis walaupun memilki persentase yield yang rendah yakni 27% untuk senyawa (1), 23% untuk senyawa (2) dan 17% untuk senyawa (3)The triple arylation between primary organosilica and several aryl iodides have been carried out using palladium catalyst by coupling reaction. Reaction was conducted in argon atmospheric with 4-diazabicyclo[2,2,2]octane as a base in tetrahydrofuran as a solvent. The products, which were tris(5-metil-2-thiopen)fenil silan (1), tris(4-N,N-dimetil anilin) fenil silan (2), and tris(2-thiopen)fenil silan (3), were successfully synthesized although with low yield. The yields of (1), (2), and (3) are 27%, 23%, and 17% respectively.
PENENTUAN DAYA JERAP BENTONIT DAN KESETIMBANGAN ADSORPSI BENTONIT TERHADAP IONCu(II) Sahan, Yusnimar; Despramita, Kiki; Sultana, Yulfiana
CHEMISTRY PROGRESS Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.5.2.2012.773

Abstract

Bentonit alam asal Riau secara kualitas tidak bisa dimanfaatkan sebagai adsorben karena daya jerapnya rendah dibandingkan dengan bentonit komersial. Pada prinsipnya, daya jerap bentonit tersebut akan meningkat jika diaktivasi baik secara fisika maupun kimia. Bentonit yang telah diaktivasi dapat digunakan sebagai penjerap logam berat yang ada dalam cairan. Pada penelitian ini, prosesaktivasi bentonit alamdilakukan dengan cara pemanasan pada suhu 400oC sampai beratnya konstan. Setelah diaktivasi ditentukan daya jerapnya terhadap ion Cu(II). Optimalisasi daya jerap bentonit dilakukan dengan perlakuan kondisi yang berbeda yaitu variasi waktu adsorpsi (20, 40, 60,80, 100, 120, 180 & 240 menit), variasi berat bentonit (0,5, 1,0, 1,5, 2,0 & 2,5 g) dan konsentrasi ion Cu(II) yaitu 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 ppm. Berdasarkan data yang diperoleh ditentukan waktu dan model keseimbangan adsorpsi. Pada penelitian ini diperoleh daya jerap bentonit yang diaktivasi paling maksimal adalah 32,75 mg Cu(II)/g bentonit pada kondisi perlakuan berat bentonit 2,5 g, waktu adsorpsi 180 menit dan konsentrasi ion Cu(II) 60 ppm. Pada kondisi tersebut bentonit menyebabkan kadar ion Cu(II) dalam cairan turun dari 60 ppm menjadi 32,75 ppm, penurunannya sekitar 54,58%. Sedangkan daya jerap bentonit pada waktu adsorpsi 240 menit lebih rendah dibandingkan dengan daya jerapnya pada waktu adsorpsi 180 menit. Keseimbangan adsorpsi ion Cu(II) oleh bentonit tercapai pada waktu 180 menit, dan model kesetimbangan adsorpsinya sesuai dengan Isotherm Langmuir, artinya adsorpsi ion Cu(II) oleh bentonit terjadi secara kimia yaitu mungkin terjadi reaksi pertukaran ion dengan panas reaksi 21,038 kcal/mol.oK.Bentonit alam asal Riau secara kualitas tidak bisa dimanfaatkan sebagai adsorben karena daya jerapnya rendah dibandingkan dengan bentonit komersial. Pada prinsipnya, daya jerap bentonit tersebut akan meningkat jika diaktivasi baik secara fisika maupun kimia. Bentonit yang telah diaktivasi dapat digunakan sebagai penjerap logam berat yang ada dalam cairan. Pada penelitian ini, prosesaktivasi bentonit alamdilakukan dengan cara pemanasan pada suhu 400oC sampai beratnya konstan. Setelah diaktivasi ditentukan daya jerapnya terhadap ion Cu(II). Optimalisasi daya jerap bentonit dilakukan dengan perlakuan kondisi yang berbeda yaitu variasi waktu adsorpsi (20, 40, 60,80, 100, 120, 180 & 240 menit), variasi berat bentonit (0,5, 1,0, 1,5, 2,0 & 2,5 g) dan konsentrasi ion Cu(II) yaitu 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 ppm. Berdasarkan data yang diperoleh ditentukan waktu dan model keseimbangan adsorpsi. Pada penelitian ini diperoleh daya jerap bentonit yang diaktivasi paling maksimal adalah 32,75 mg Cu(II)/g bentonit pada kondisi perlakuan berat bentonit 2,5 g, waktu adsorpsi 180 menit dan konsentrasi ion Cu(II) 60 ppm. Pada kondisi tersebut bentonit menyebabkan kadar ion Cu(II) dalam cairan turun dari 60 ppm menjadi 32,75 ppm, penurunannya sekitar 54,58%. Sedangkan daya jerap bentonit pada waktu adsorpsi 240 menit lebih rendah dibandingkan dengan daya jerapnya pada waktu adsorpsi 180 menit. Keseimbangan adsorpsi ion Cu(II) oleh bentonit tercapai pada waktu 180 menit, dan model kesetimbangan adsorpsinya sesuai dengan Isotherm Langmuir, artinya adsorpsi ion Cu(II) oleh bentonit terjadi secara kimia yaitu mungkin terjadi reaksi pertukaran ion dengan panas reaksi 21,038 kcal/mol.oK.

Page 1 of 1 | Total Record : 8