cover
Contact Name
Jamil Suprihatiningrum
Contact Email
inklusi@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-515856
Journal Mail Official
inklusi@uin-suka.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/inklusi/ET
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Inklusi Journal of Disability Studies
ISSN : 23558954     EISSN : 25809814     DOI : https://doi.org/10.14421/ijds
Core Subject : Social,
INKLUSI accepts submission of manusciprts on disability issues from any discipline. We are promoting an interdisciplinary approach to work on disability rights and social inclusion of the people with disabilities.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2015)" : 10 Documents clear
Identifikasi Kemudahan Penyandang Difabilitas dalam Melakukan Pergerakan dengan Menggunakan Moda Transportasi Ratna Eka Suminar
INKLUSI Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.123 KB) | DOI: 10.14421/ijds.020107

Abstract

The accessibility of transportation for people with disabilities in Yogyakarta remains a serious challenge. The city’s public transportation has not yet met the accessibility standard, which in turn prevents persons with disability from social and economic participation. Based on the experience of people with disabilities in Yogyakarta, this paper shows the various barriers they experience in using public transportation. It is hoped that the findings will help the government to develop a policy on public transportation that ensures accessibility for persons with disabilities.[Penyandang difabilitas di Kota Yogyakarta belum sepenuhnya mendapatkan kemudahan dalam mengakses dan memanfaatkan moda transportasi. Salah satunya adalah belum adanya kemudahan dalam mengakses angkutan umum. Hal itu disebabkan oleh fasilitas pada angkutan umum yang masih belum memenuhi standar kemudahan bagi para penumpang penyandang difabilitas. Berbagai permasalahan terkait pemenuhan hak para difabel khususnya dalam bidang transportasi yang ditemukan di dalam penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pemerintah di dalam merumuskan suatu kebijakan yang dapat mengakomodasi kebutuhan para penyandang difabilitas khususnya dalam bidang transportasi.]
Proses Identifikasi: Mengenal Anak Kesulitan Belajar Tipe Disleksia Bagi Guru Sekolah Dasar Inklusi Nurul Hidayati Rofiah
INKLUSI Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.61 KB) | DOI: 10.14421/ijds.020110

Abstract

One of the common and yet not well understood learning difficulties is dyslexia. Most teachers in Indonesia are still not equipped with enough information or knowledge to enable them to identify this learning difficulty. As such, most students with dyslexia are undiagnosed and as a resulttheir learning needs are not properly met. This paper argues that identification and assessment are important steps to developingan appropriate learning plan for a student with dyslexia. The identification process can be done by teachers through careful and systematic observation. Further, steps of identification can be done through in depth interviews with both students and parents as well as other means of assessment such as assignment or standardized psychological testing.This paper also argues that in the case of dyslexia,early intervention will minimize children’s social and emotional challenges. At the elementary school level the psychological challenges can include low self-esteem, feelings of incompetence, and powerlessness which will easily lead a student with dyslexia to be the object of peer bullying. The absence of proper identification and assessment also often leads teachers and parents to misdiagnose dyslexic children as those with mental disabilities.
Hambatan Komunikasi pada Penyandang Autisme Remaja: Sebuah Studi Kasus Ni Wayan Primanovenda Wijayaptri
INKLUSI Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.865 KB) | DOI: 10.14421/ijds.020103

Abstract

For children with autism spectrum disorderwho typically experience communication problems, communication skillsare often considered a significant indicator for their development. Information concerning language and communication skills, and a history of the language interventions that a child has received is important information for planning further interventions as the child enters his/ her teenage years. Unfortunately, research on communication and language problems for teenagers with autism receive little attention. This study intends to fill that gap. Based on interviews with two teenagers with autism in Yogyakarta this research seeks to understand theproblems and challenges faced by teenagers with autism. The research also examines the efforts of parents and/or teachers in developing language and communication skills.Data collection was conducted from September-December 2014. The primary participants of this research were a 19 year old girl and 16 year old boy with autism; both were attending a specialautism school in Yogyakarta, Indonesia. The research also involve the participants’ significant others, namely the parents and the teachers. The resultsshowed that: 1) the communication skills of the two participants is far below that of their age cohort and; 2) interventions received by the participants significantly improved their communication and language skills, yet did not totally diminish their communications problems.[Kemampuan berkomunikasi merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam perkembangan penyandang autisme remaja. Informasi mengenai perkembangan kemampuan bahasa dan komunikasi pada penyandang autisme, serta riwayat intervensi komunikasi yang pernah diterima merupakan informasi yang penting sebelum menentukan dan melaksanakan intervensi lanjutan bagi para remaja autis. Penelitian mengenai hambatan komunikasi dan metode pembelajaran komunikasi pada penyandang autisme remaja belum banyak dilakukan. Studi ini bertujuan untuk memberikan gambaran kasus hambatan komunikasi pada penyandang autisme remaja. Selain itu, penelitian ini juga akan melihat usaha-usaha yang telah dilakukan oleh orangtua maupun sekolah dalam meningkatkan kemampuan komunikasi pada remaja autis. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus.Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan analisa dokumen. Proses pengambilan data dilakukan pada bulan September-Desember 2014. Subjek penelitian terdiri dari dua orang penyandang autisme remaja. Subjek pertama berusia 19 tahun dan berjenis kelamin perempuan. Subjek kedua berusia 16 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Keduanya merupakan siswa dari sebuah sekolah lanjutan autis di Yogyakarta. Selain kedua orang subjek, peneliti juga melibatkan significant others, yaitu orang tua dan guru.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kemampuan komunikasi penyandang autisme remaja yang menjadi subjek penelitian berada jauh di bawah usia kronologisnya, dan (2) Intervensi yang diberikan kepada subjek sejak masa kanak-kanak hingga remaja berperan dalam mengembangkan kemampuan komunikasi subjek, namun belum dapat menuntaskan hambatan komunikasi yang dialami subjek. Hasil penelitian didiskusikan lebih lanjut.]
Fikih Ramah Difabel Abdullah Fikri
INKLUSI Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.312 KB) | DOI: 10.14421/ijds.020108

Abstract

Dinamika Penyesuaian Diri Penyandang Disabilitas di Tempat Magang Kerja: Studi Deskriptif di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) Yogyakarta Ani Nur Sayyidah
INKLUSI Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.138 KB) | DOI: 10.14421/ijds.020104

Abstract

Starting a new life inan unknown environment often requires adjustment. For individuals with disabilities, the process of adjustment is much more challenging due to factors such as physical or social inaccessibility. This research seeks a comprehensive understanding of the apprentice program for young persons with disabilities in the Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas, Yogyakarta (Integrated Rehabilitation Center for Person With Disabilities Yogyakarta, henceforth called BRTPD).This research is particularly interested in the dynamic of the adjustment process of the participants during the program. The apprenticeship is comprised of a 25 day rehabilitation program in whichthe participants undergoa series of adjustments both physically and socially. In this short period of time they spend intense periods of time with new friends while they learn and follow the regulations and expectations of the program.This is a qualitative research project which involvesthree participants; one with visual impairment, one with hearing impairment, and one participant with a physical impairment. Data collection is done through in depth interviews, observation and documentation. Triangulation of sources and methods are used to establish the validity and reliability of the data.[Penyandang disabilitas ketika memasuki dunia kerja akan dihadapkan kepada persoalan penyesuaian diri, dimana sebelumnya mereka berada di BRTPD dengan orang yang sama, tiba-tiba mereka dihadapkan kepada situasi yang berbeda di tengah orang-orang non penyandang disabilitas dan praktik magang kerja yang hanya berlangsung selama 25 hari. Jangka waktu yang diberikan tersebut sangatlah singkat bagi klien penyandang disabilitas untuk melakukan adaptasi, baik adaptasi tempat, lingkungan sosial, dan norma dilingkungan magang kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran proses magang bagi klien penyandang disabilitas yang diselenggarakan oleh BRTPD dan juga dinamika penyesuaian diri penyandang disabilitas di tempat magang kerja selama mengikuti kegiatan magang kerja.Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan 3 orang subjek penelitian. terdiri atas 1 subjek penyandang disabilitas rungu wicara, 1 subjek penyandang disabilitas netra dan penyandang disabilitas 1 subjek daksa. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknis analisis data menggunakan model interaktif Milles dan Huberman yang meliputi tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengujian keabsahan hasil penelitian menggunakan teknik triangulasi kejujuran peneliti, triangulasi teori dan triangulasi metode yakni dengan cara membandingkan hasil wawancara penyandang disabilitas dengan pemilik tempat magang kerja dan hasil observasi.Hasil penelitian ini menunjukkan proses pelaksanaan magang kerja selama 25 hari dengan tahapan pelaksanaan bimbingan vokasional, orientasi dan konsultasi, penempatan klien di tempat magang kerja, pelaksanaan bimbingan kerja, penarikan klien dari tempat magang, evaluasi dan monitoring. Penyandang disabilitas rungu wicara ditempatkan di perusahaan yang bergerak dibidang distributor alat-alat rumah tangga, penyandang disabilitas netra ditempatkan di panti pijat dan penyandang disabilitas daksa ditempatkan di perusahaan yang bergerak dibidang percetakan dan sablon. Dinamika penyesuaian diri dari ketiga informan tersebut yang memiliki penyesuaian yang lebih sehat yaitu penyandang disabilitas rungu wicara karena mampu memenuhi 3 dari 4 aspek dalam penyesuaian diri yang sehat. Aspek yang terpenuhi yaitu aspek kematangan sosial, aspek kematangan intelektual, aspek kematangan tanggung jawab personal dan aspek yang kurang dapat terpenuhi yaitu aspek kematangan emosional. Penyandang disabilitas netramampu memenuhi 2 aspek penyesuaian diri dan 2 aspek kurang dapat terpenuhi. Aspek yang terpenuhi yaitu aspek kematangan sosial dan aspek kematangan tanggung jawab personal, aspek yang kurang dapat terpenuhi yaitu aspek kematangan emosional dan intelektual. Sedangkan penyandang disabilitas daksa terdapat tiga aspek yang kurang dapat terpenuhi yaitu aspek kematangan emosional, sosial dan tanggung jawab personal, hanya 1 aspek yang terpenuhi yaitu aspek kematangan intelektual]
Pelayanan Publik dan Pemenuhan Hak Difabel: Studi tentang Layanan Pendidikan Inklusif Melalui Kasus Pemindahan Difabel dari Sekolah Reguler ke Sekolah Luar Biasa di Yogyakarta Ika Arinia Indriyany
INKLUSI Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.401 KB) | DOI: 10.14421/ijds.020109

Abstract

Indonesia’s constitution and legislation state that all Indonesiancitizens, including those with a disability, havea right to quality education. To meet this right, the government must ensure that every aspect of schooling and learning are accessible tostudentswith disabilities; however, this is not currentlythe case. Indeed, while inclusive education policy has been in place for years, its implementation is yet to be seen. For example, some children with disabilities are denied admission, while others continue to experience barriers to learning as schools are unable to meet their needs. The perception that disabled students belong only in special, segregated schools is still strongly held by the community, educational practitioners, and policy makers. As such, students with disabilities who register in inclusive schools are expected to meet certain qualifications. Should they fail to meet these requirements students are“returned” to special schools. Thispaper argues that such phenomenon demonstrates the government’s failure to meet its own mandateto ensure and protect the educational rights of persons with disabilities.[Pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap warga negara Indonesia yang berada dalam usia wajib belajar, termasuk juga difabel (people with different ability). Negara idealnya mampu menyediakan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan difabel. Tidak hanya kebutuhan difabel yang harus diperhatikan tetapi juga bagaimana layanan pendidikan tersebut mampu menjamin hak-hak dari difabel dan yang terpenting adalah difabel mampu mengakses layanan pendidikan yang tersedia. Namun tidak jarang difabel mengalami kesulitan mengakses layanan pendidikan yang disediakan oleh negara dikarenakan kebutuhan mereka yang berbeda dengan non difabel. Akibatnya difabel banyak mengalami penolakan ketika ingin bersekolah di sekolah yang mereka inginkan, termasuk di sekolah reguler.Pemahaman yang berkembang adalah sekolah yang pantas bagi difabel hanyalah di sekolah luar biasa. Hal ini yang membuat difabel tak jarang di diskriminasi dalam dunia pendidikan. Kebijakan pendidikan inklusif yang awalnya didesain agar anak difabel dan non difabel mampu belajar bersama pun baik regulasi dan implementasinya masih jauh dari sempurna. Kebijakan pendidikan inklusif seharusnya dapat digunakan sebagai dasar kesetaraan pendidikan kenyataannya masih menerapkan syarat – syarat khusus agar difabel mampu diterima di sekolah reguler tersebut. Saat difabel tidak mampu lolos kualifikasi yang ditentukan maka dia tidak dapat diterima di sekolah inklusif tersebut dan dikembalikan ke sekolah luar biasa. Jika hal ini terjadi maka negara gagal menjamin pemenuhan hak pendidikan bagi difabel itu sendiri.]
Metode Evaluasi Pembelajaran Inklusif Bagi Peserta Didik Difabel Netra Hendro Sugiyono Wibowo
INKLUSI Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.351 KB) | DOI: 10.14421/ijds.020105

Abstract

Evaluation is an important process as it determines whetheror not the learning process has been successful.Therefore, It should carefully take into account the various aspects of students’ performances and styles of learning in order to provide an accurate description of the progress of each individual student.This is particularly true for students with disabilities who are diverse in terms of their physical, mental, sensory, and motor ability. Such a situation necessitates that teachers develop evaluation methods that corresponds to these differences.Some educational institutions have indeed made an attempt to modify their evaluation method to address the specific needs of students with disabilities. Some modifications include computer-based evaluation, use of screen readers (for those with visual impairment), oral exam, or providing a reader and note taker. In the implementation however, effective communication between students and the teacher/ lecturer is required to ensure that the best evaluation method is selected for individual students.[Dalam dunia pendidikan, evaluasi pembelajaran memiliki peranan penting dalam menentukan sukses atau tidaknya suatu proses pembelajaran. Untuk itu, evaluasi pembelajaran perlu dilaksanakan secara seksama agar dapat memberikan gambaran ideal tentang perkembangan masing-masing individu peserta didik. Namun begitu, kondisi peserta didik yang berbeda-beda dilihat dari segi latar-belakang fisik, mental, sensorik,, dan motoric membuat media dan bentuk evaluasi yang dibutuhkan berbeda antar satu peserta didik dengan lainnya. Kondisi ini menuntut adanya kesadaran dari pendidik untuk dapat melakukan berbagai modifikasi inovatif terkait dengan bentuk dan media evaluasi pembelajaran untuk menjawab permasalahan di atas.Beberapa bentuk modifikasi media dan bentuk evaluasi pembelajaran sudah pernah dilakukan oleh beberapa institusi pendidikan dalam melayani peserta didik difabel. Di antara modifikasi-modifikasi media dan bentuk evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan untuk melayani peserta didik difabel (khususnya difabel netra) meliputi ujian mandiri dengan bantuan komputer bicara, ujian dengan pendamping resmi, ujian dengan pendamping bebas, dan ujian lisan. Bentuk-bentuk ujian tersebut merupakan alternative yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Untuk itu, dalam penerapannya dibutuhkan komunikasi yang efektif antara pendidik dan peserta didik. Sebab, kesalahan memilih bentuk dan media dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran akan berakibat fatal terhadap hasil evaluasi itu sendiri.Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana fenomena-fenomena yang diungkap dijelaskan dengan narasi deskriptif. Adapun untuk teknik pengumpulan data penulis menggali dari tulisan-tulisan lain yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan difabilitas. Disamping itu, penulis juga melakukan beberapa wawancara untuk melengkapi data yang dibutuhkan.]
Cover, Daftar Isi, Editorial Jurnal Inklusi
INKLUSI Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.107 KB)

Abstract

Proses Pengembangan Tabel Periodik Unsur (TPU) Braille untuk Siswa Difabel Netra Nurma Setya Wardhani; Jamil Suprihatiningrum
INKLUSI Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1019.818 KB) | DOI: 10.14421/ijds.020106

Abstract

One of the challenging subjects in chemistry for students with visual impairment is the periodic table, known in bahasa Indonesia as SistemPeriodikUnsur ( SPU). The common method of teaching currently used for this subject is lecture, with occasional use of tactile demonstration where the teacher or lecturer describes the visual component by drawing the object on thestudent’s palm or back. In short, students with visual impairment learn the periodic tableby relying heavilyon their memory.Based on this teaching challenge, this developmental research undertakesthe development of a Braille version of the periodictable that will enable a blind student to properly learn chemistry. This Braille model is an accessible, tactual based learning tool that enables blind students to learn independently through experience.[Salah satu materi pembelajaran kimia yang termasuk sulit diajarkan kepada siswa difabel netra adalah materi Sistem Periodik Unsur (SPU). Guru menyampaikan materi SPU kepada siswa difabel netra dengan metode ceramah. Guru memperkenalkan berbagai unsur dalam susunan periodik dengan bercerita dan sesekali memberikan gambaran dengan rabaan pada tangan atau punggung. Oleh karena itu, siswa difabel netra hanya mengandalkan ingatan dalam mempelajari materi tersebut.Pengembangan TPU Braille untuk siswa difabel netra ini diharapkan dapat menjadi media bagi siswa difabel netra untuk belajar kimia dan dapat memenuhi kebutuhan siswa difabel netra akan media dan alat bantu. Pengembangan TPU Braille untuk siswa difabel netra memenuhi media yang assestive bagi siswa difabel netra yang bersifat taktual. Siswa difabel netra dapat belajar dengan pengalaman mereka sendiri dan tidak merasa diperlakukan berbeda diantara yang lain sehingga motivasi dalam belajar kimia siswa difabel netra dapat tumbuh meskipun dengan keterbatasan yang dimiliki.]
Sastra dan Difabel: Menilik Citra Difabel dalam Novel Biola Tak Berdawai dari Sudut Pandang Sosiologi Sastra Ian Watt Mukhanif Yasin Yusuf
INKLUSI Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.379 KB) | DOI: 10.14421/ijds.020102

Abstract

As a human product, a work of literatureis influenced by various factors. It is not anautonomous, independent entity, immune from the social and political context in which the work is situated. Social factors surrounding an author have a significant role in shaping the author’s characterwhich, in turn is reflected in his/ her writing. Having said that, research on works of literature should pay careful attention to those external factors.Based on Seno Gumira Ajidarma’s work, Biola Tak Berdawai, this research seeks to demonstrate that literature portraysdisabled people as a minority and socially at-risk group. Using Ian Watt’s approach on literary realism this article argues that BiolaTak Berdawai resembles Seno Gumbira’s other works that are characterized by his extraordinary and critical insightsinto the social realities of Indonesia. Through this novel, Gumbira captures the negative stigma that is powerfully attached to people with disabilities. This novel reflects the realities of people with disabilities in Indonesia who continue to experience remarkable discrimination and stigma; being seen as incompetent, as God’s punishment, or a source of family disgrace and shame. Through the main character of this novel, Aku, anexcellent violin player, Seno Gumbira challenges this negative stigma.[Sebagai sebuah karya, karya sastra tidak terelakkan lagi untuk keluar dari situasi dan kondisi nyata produksinya. Karya sastra tidak dapat berdiri absolut sebagai kesatuan yang otonom, selalu ada faktor dari luar yang ikut mempengaruhinya. Faktor-faktor sosial yang ada di sekitar pengarang memiliki peran untuk memberikan karakteristik dalam karya sastranya, disamping mempengaruhi pengarang. Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk memberi khasanah baru dalam khasanah disiplin keilmuan terkait isu difabel agar tidak stagnan pada bidang ilmu eksak dan ilmu sosial, tetapi juga seni dan sastra.Oleh karena itu, penelitian suatu karya sastra menempatkan pula faktor di luar karya sastra. Dalam penelitian ini digunakan novel Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Ajidarma yang dikembangkan dari skenario film berjudul sama karya Sekar Ayu Asmara. Pemilihan objek penelitian ini didasari oleh faktor tokoh utama yang seorang difabel dan peneliti ingin memberikan khasanah baru dalam penelitian karya sastra yang fokus melihat dari sudut pandang difabel yang masih minim perhatian. Posisi difabel dalam masyarakat khususnya di Indonesia, masih dalam kedudukan rentan sosial dan minoritas menjadi daya tarik peneliti untuk melihat bagaimana fenomena ini digambarkan dalam karya Sastra.Dengan menggunakan pendekatan teori sosiologi sastra Ian Watt, Biola Tak Berdawai tidak jauh berbeda dengan karya-karya Seno lainnya yang melemparkan gagasan kritis terhadap realitas sosial. Latar belakang sosial Seno yang sekaligus sebagai wartawan melemparkan gagasan kritisnya terkait kondisi difabel yang masih mendapat stigma negatif dari masyarakat. Cerminan sosial dalam novel tidak jauh berbeda dengan realitas yang terjadi di Indonesia, dimana ideologi kenormalan menyumbangkan berbagai bentuk ketidakadilan terhadap difabel. Difabel masih dianggap sebagai individu yang cacat, sebagai kutukan Tuhan, dan sebagai sumber aib bagi keluarga. Pendobrakan terhadap realitas yang ada, dilakukan pengarang lewat tokoh utama “Aku” yang difabel dengan menyajikan fakta bahwa difabel memiliki kemampuan yang berbeda, tetapi masyarakat masih belum memahaminya karena sudah terlanjur terjebak pada stigma negatif terhadap difabel.]

Page 1 of 1 | Total Record : 10