cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 252 Documents
MEMAKNAI LUKISAN GUA UHALIE: PENDEKATAN STRUKTURALISME LÉVI STRAUSS Andi Muhammad Saiful
WalennaE Vol 16 No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1344.763 KB) | DOI: 10.24832/wln.v16i1.316

Abstract

South Sulawesi is an area that has many prehistoric painting sites. Research on the meaning of the painting is still very limited. Therefore this paper attempts to examine the meaning contained the Uhalie Cave site by Lévi Strauss structuralism approach. The issues raised in this paper are how the meaning of Uhalie Cave paintings and why anoa and pigs became the object of paintings in the Uhalie Cave. The answer obtained from the issues will explain the behavior of a group of painters located in the village. The methods used in this study are collecting secondary data of Uhalie Cave Research, then doing analysis of painting classiffication, finding the pattern of painting in the cave, finding sintagmatic, paradigmatic, transformation, determining signified-signifer, and distinctive feature. The result of this study explain that the happines and grief manifestation of Uhalie Cave human in hunting.Sulawesi Selatan merupakan wilayah yang memiliki banyak situs lukisan prasejarah. Penelitian terhadap makna lukisan tersebut masih sangat terbatas, oleh karena itu karya tulis ini mencoba mengkaji makna yang terkandung pada situs Gua Uhalie dengan menggunakan pendekatan strukturalisme Lévi Strauss. Masalah yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana makna lukisan Gua Uhalie dan mengapa anoa dan babi menjadi objek lukis di Gua Uhalie. Jawaban yang didapatkan dari permasalahan tersebut akan menjelaskan tingkahlaku kelompok pelukis yang terletak di daerah pedalaman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengumpulkan data sekunder hasil penelitian Gua Uhalie kemudian melakukan analisis klasifikasi lukisan, menemukan pola keletakannya, menetukan tanda-penanda (signified-signifer), sintagmatik, paradigmatik dan transformasi, serta menentukan ciri pembedanya (distictive feature). Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa lukisan tersebut merupakan perwujudan suka duka manusia pendukung Gua Uhalie dalam melakukan perburuan.
SITUS-SITUS MEGALITIK DI KABUPATEN BONE: KAJIAN SEBARAN DAN KRONOLOGI Bernadeta AKW
WalennaE Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.468 KB) | DOI: 10.24832/wln.v16i2.347

Abstract

Megalithic culture research at Labuaja Site, Kahu sub-district and other sites in Bone Regency aims to determine the distribution and chronology. This research doing by survey and excavation techniques. Archaeological data found from megalithic sites in Bone Regency are presented in descriptive analysis. In addition, C14 analysis was also carried out with charcoal in Beta Analytic Inc. Miami, Florida, USA to find out its absolute date. The results showed that megalithic sites in Bone had a fairly even distribution and occupy the slope to hilltops with a height of 28 - 218 meters above sea level. The results of radiocarbon dating indicate that the age of the site and megalithic culture in Labuaja, Bone ranges from 400 - 190 BP (around the 15th-17th century AD). Based on that date, the megalithic culture in Labuaja began in the golden age of the kingdom of Bone. Megalithic culture in Bone has associations with natural resources such as rivers and rice fields which are very supportive in the activities of human life that depend on agricultural resources. With the exploitation of agricultural resources, thus produce the social system and ideology adopted by the people who reach the Islamic period.  Penelitian kebudayaan megalitik pada situs Labuaja, Kecamatan Kahu dan situs-situs yang lainnya di Kabupaten Bone bertujuan untuk mengetahui sebaran dan menentukan kronologinya. Penelitian ini dilakukan dengan teknik survei dan ekskavasi. Data arkeologis yang ditemukan dari situs situs megalitik di Kabupaten Bone disajikan dalam bentuk deskriptif analisis. Selain itu, dilakukan pula analisis C14 dengan bahan arang di Beta Analytic Inc Miami Florida, USA untuk mengetahui pertanggalan absolutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs-situs megalitik di Bone memiliki sebaran yang cukup merata dan menempati wilayah lereng hingga puncak bukit dengan ketinggian antara 28 – 218 meter di atas permukaan laut. Hasil pertanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa umur situs dan kebudayaan megalitik di Labuaja, Bone berkisar antara 400 – 190 BP (sekitar abad ke-15–17 Masehi). Berdasarkan pertanggalan tersebut, kebudayaan megalitik di Labuaja berawal pada zaman keemasan kerajaan Bone. Kebudayaan megalitik di Bone memiliki asosiasi dengan sumber-sumber alam seperti sungai dan persawahan yang sangat menunjang dalam aktivitas kehidupan manusia yang bergantung pada sumber sumber pertanian. Dengan kegiatan eksploitasi sumber pertanian, sehingga melahirkan sistem sosial dan ideologi yang dianut oleh masyarakat yang menjangkau periode Islam.
INDIKASI PENGARUH KEBUDAYAAN PERSIA DI SULAWESI SELATAN: KAJIAN ARKEOLOGI ISLAM Chalid AS
WalennaE Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1055.592 KB) | DOI: 10.24832/wln.v16i2.318

Abstract

transformation of Islamic teachings is one part of the historical phase in South Sulawesi. With various lines of arrival and a series of processes of Islamic socialization, it has implications for the acculturation and assimilation of culture. Persia as one of the cultural bases that played a role in the Islamization the process helped influence and colour the culture of Islamic societies in South Sulawesi. Archaeologically, the indication is illustrated by observing the attributes of Persian culture that attached to several steps of the tomb, headstone, and flag buildings in South Sulawesi. The method used forms analysis to obtain attributes of attributes, then the historical analysis is used to measure aspects of the similarity of ideas contained in these relics. Archaeologically, the indications and effects (transformation) of Persian culture in South Sulawesi is illustrated in (1) the tradition of establishing vaulted tomb buildings in people who are considered to have an important role in the sociological and religious aspects, the use of attributes in the form of lion embodiments in gravestones flags to represent the values (attitudes) of heroes, brave men, warriors, warfare, the use of figurative decorations on tombs as an attempt to demonstrate sociological conditions and personal values as a past inspiration in relation to maintaining the collective memory of society from time to time future.Transformasi ajaran Islam adalah salah satu bagian dalam fase sejarah di Sulawesi Selatan. Dengan berbagai alur kedatangan dan rangkaian proses sosialisasi Islam, memberikan implikasi terjadinya akulturasi dan asimilasi budaya. Persia sebagai salah satu basis budaya yang berperan dalam proses Islamisasi, turut memberi pengaruh dan mewarnai kebudayaan masyarakat Islam di Sulawesi Selatan.Secara arkeologis indikasi tersebuttergambar dengan mengamamati atribut kebudayaan Persia yang melekat pada beberapa peniggalan bangunan makam, nisan, dan bendera yang ada di Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan adalah analisis bentuk untuk memperoleh unsur kesamaan wujud atribut, kemudiandigunakan analisis historis dalam menakar aspek kesamaan gagasan yang terkandungpada peninggalan tersebut. Secara arkeologis, bentuk-bentuk indikasi dan pengaruh (tranformasi) budaya Persia di Sulawesi Selatan tergambar pada (1) tradisi mendirikan bangunan makam berkubah pada orang yang dianggap memiliki peranan penting pada aspek sosiologi dan keagamaan, adanya penggunaan atribut berupa penggunaan perwujudan singa pada nisan dan bendera untuk merepresentasikan nilai (sikap) kepahlawan, pemberani, laki-laki, prajurit, peperangan, penggunaan ragam hias figuratif pada makam sebagai upaya dalam mendemostrasikan kondisi-kondisi sosiologis dan nilai kepribadian sebagai suatu inspirasi masa lalu dalam hubungannya menjaga ingatan kolektif masyarakat dari masa ke masa.
AWAL PERADABAN DI DAERAH MAMASA: KAJIAN BUDAYA AUSTRONESIA DI SITUS DAMBU DAN MATTI Hasanuddin Hasanuddin
WalennaE Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.979 KB) | DOI: 10.24832/wln.v16i2.343

Abstract

Archaeological research in Mamasa District, West Sulawesi, aims to capture artefact data that can describe human civilization in the area. One problem that has never been answered, is when did civilization begin in the Mamasa area. In this study, a survey and excavation method was used on the sites mentioned by the local community as the initial settlement location in Mamasa such as the Dambu Site and the Matti Site. Interview method used to obtain information about the historical setting of these sites. The results of surveys and excavations carried out at the Dambu and Matti sites found stone flake artefacts and Austronesian-style pottery fragments, as evidence of the early forms of civilization in the area. In their oral culture, mentioning a number of toponyms as the oldest settlements in the area, and it is evident that Dambu and Matti are old settlements. The similarity of cultural features in the form of pottery found in the West Sulawesi region also shows migration flows that are thought to originate from the Karama River (Mamuju). Penelitian arkeologi di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, bertujuan untuk menjaring data artefaktual yang dapat menggambarkan mengenai peradaban manusia di daerah tersebut. Salah satu masalah yang belum pernah dijawab, adalah sejak kapan mulai peradaban di daerah Mamasa. Dalam penelitian ini digunakan metode survei, dan ekskavasi pada situs-situs yang yang disebutkan oleh masyarakat setempat sebagai lokasi permukiman awal di Mamasa seperti Situs Dambu dan Situs Matti. Metode wawancara juga digunakan untuk memperoleh informasi tentang latar sejarah kedua situs tersebut. Hasil survei dan ekskavasi yang telah dilakukan di situs Dambu dan Matti ditemukan artefak batu serpih dan fragmen tembikar berciri Austronesia, sebagai bukti bentuk peradaban awal di daerah tersebut. Tradisi tutur mereka, menyebutkan beberapa toponim sebagai perkampungan tertua di daerah tersebut, dan terbukti bahwa Dambu dan Matti merupakan perkampungan tua. Kesamaan ciri budaya, khususnya temuan tembikar di kawasan Sulawesi Barat juga menunjukkan arus migrasi yang diduga berasal dari aliran Sungai Karama (Mamuju).
SEBARAN SITUS PALEOLITIK DI TEPI ALIRAN SUNGAI WALENNAE, DI WILAYAH BONE BARAT, SULAWESI SELATAN Budianto Hakim
WalennaE Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1804.3 KB) | DOI: 10.24832/wln.v16i2.319

Abstract

Almost all the palaeolithic sites in Cabbenge, Soppeng are on the banks of the Walennae River, both located on ancient river terraces as well as those that exist today. Considering the Walennae River is located in Bone District (Bontocani region), it is very possible in the Bone region connected to the Walennae River, there are palaeolithic sites that contemporary with the oldest occupancy in Soppeng District. This has been guided by the results of the thesis study of Archaeology Departement of Hasanuddin University students, in 1990 of Mallinrung area, Libureng, Bone, which reported the first time that lithic artefacts were found in the area, including those with the characteristics of palaeolithic technology. In the framework of expanding the potential area of palaeolithic archaeological remains on the banks of the Walennae River, this study focused on the Bone West region, including Bengo, Lamuru, Lappariaja, Kahu and Libureng Districts. Exploration surveys are intended to obtain information on the distribution of sites related to palaeolithic potential in the region. The results of the study showed the development of the technology of the palaeolithic stone tools, including flakes, hand-held axes, impact axes, and axe axes. Technological developments in stone tools and palaeolithic culture in the Bone West region, as well as showing palaeolithic cultural connectivity both in the Soppeng region and in the Old Walennae depressed regions, especially in the Bone West region. Hampir semua situs paleolitik di Cabbenge, Soppeng berada di tepi Sungai Walennae, baik yang terletak di teras sungai purba maupun yang ada sekarang ini. Mengingat Sungai Walennae berhulu di Kabupaten Bone (wilayah Bontocani), maka sangat memungkinkan  di wilayah Bone yang terkoneksi dengan Sungai Walennae, terdapat situs-situs paleolitik yang sejaman dengan masa hunian tertua di wialayah Kabupaten Soppeng. Hal ini telah dipandu oleh hasil penelitian skripsi mahasiswa arekeologi, Unhas tahun 1990 di wilayah Mallinrung, Libureng, Bone yang melaporkan pertama kali bahwa di daerah tersebut ditemukan artefak litik, termasuk yang memiliki ciri teknologi paleolitik. Dalam kerangka memperluas area potensi tinggalan arkeologi jaman paleolitik di tepi Sungai Walennae, penelitian ini  difokuskan pada wilayah Bone Barat, meliputi Kecamatan Bengo, Lamuru, Lappariaja, Kahu dan Libureng. Survei eksploratif dimaksudkan untuk memperoleh informasi sebaran situs terkait potensi paleolitik di wilayah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan teknologi alat batu paeolitik, diantaranya: alat serpih, kapak genggam, kapak perimbas, dan kapak penetak. Perkembangan teknologi alat batu dan budaya paleolitik di wilayah Bone Barat, sekaligus menunjukkan konektivitas budaya paleolitik baik di wilayah Soppeng maupun wilayah-wilayah depresi Walennae Purba khususnya di wilayah Bone Barat.
MANGNGADE: CIRI TRADISI MEGALITIK DI DESA WANUAWARU, MALLAWA, MAROS Andi Muhammad Saiful
WalennaE Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1377.396 KB) | DOI: 10.24832/wln.v16i2.341

Abstract

Mangngade or ‘performing custom’ is a common activity in Wanuawaru Village, Mallawa District, Maros Regency, which is conducted in December and January. The problem in this research is how Wanuawaru villagers doing it and how position Manggade to Wanuawaru Villagers. There are three stages during the Mangngade procession namely visiting salo, gathering in Saoraja, and gathering in Bulu Posso. In Mangngade, the community performs prayers related to agriculture to avoid natural disasters, to beg for peace, safety, and success of personal life. The methods of data collection are ethnographic method and archaeological data recording. The results of data recording are then analyzed using concept in megalithic culture. Based on those data, it is finally concluded that Mangngade is the character of a megalithic tradition that is still carried out by the Wanuawaru villagers from generation to generation for confession about their community.Mangngade atau ‘menjalankan adat’ merupakan kegiatan masyarakat di Desa Wanuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, yang dilakukan pada bulan Desember dan Januari. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu bagaimana proses acara Mangngade dan kedudukannya dalam masyarakat Desa Wanuawaru. Terdapat tiga tahap saat prosesi Mangngade, yaitu mengunjungi salo, berkumpul di Saoraja, dan berkumpul di Bulu Posso. Dalam Mangngade, masyarakat melakukan doa-doa yang berkaitan dengan pertanian, terhindar dari bencana alam, kedamaian, keselamatan dan kesuksesan kehidupan pribadi. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yaitu, metode etnografi dan perekaman data arkeologi. Hasil perekaman data kemudian dianalisis dengan menggunakan konsep dalam kebudayaan megalitik. Berdasarkan data tersebut akhirnya disimpulkan bahwa Mangngade merupakan ciri tradisi megalitik yang masih dijalankan masyarakat Desa Wanuawaru secara turun temurun dari leluhurnya dalam membangun pengakuan keberadaan kelompoknya.
Reviewer Acknowledgement Tim Editor
WalennaE Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.871 KB) | DOI: 10.24832/wln.v16i2.356

Abstract

MUSEUM BAWAH AIR M. V. BOELONGAN: SEBUAH GAGASAN PEMBAHARUAN MUSEUM Dwi Kurnia Sandy; Kusumastuti Salma Fitri
WalennaE Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1188.734 KB) | DOI: 10.24832/wln.v17i1.363

Abstract

Museum is not only a place for storing various artifacts, but also as a media of learning. However, the current management of museums in Indonesia is still not serving visitors well. Museum is not only located on the land, but there are also underwater museums. The plan of build an underwater museum has been discussed by museum practitioners and academics. Many locations and objects that could be used as underwater museums in Indonesia, one of that is the M.V Boelongan Shipwreck. This ship was sunk by Japanese Army during the Second World War. Nowadays, M.V. Boelongan has been an attractive destination for tourism activities, such as diving. To make it more benefit, not only in economic, but also in education and preservation, build and design this shipwreck as museum is one of the best solution. It could give the chance to everyone to see the shipwreck without diving. This museum should be plan to have a modern design, easier to educate and entertain the visitors, and also to preserve it as a heritage. M.V Boelongan is a part of Indonesian maritime history, the important values should be preserved and published to the public. Selain menjadi tempat penyimpanan berbagai artefak, museum juga menjadi media pembelajaran. Namun, saat ini pengelolaan museum di Indonesia masih kurang melayani pengunjung. Museum terdapat di darat dan di perairan. Isu pembuatan museum bawah air sudah menjadi pembahasan di kalangan pecinta museum. Banyak lokasi dan objek dapat dijadikan museum bawah air di Indonesia, salah satunya adalah Kapal M.V. Boelongan. Keberadaan M.V. Boelongan menjadi sebuah daya tarik pariwisata, diantaranya wisata selam. Pembuatan museum bawah air adalah salah satu alternatif yang dapat memberikan manfaat di bidang ekonomi, pendidikan dan pelestarian. Museum Bawah Air M.V. Boelongan memungkinkan pengunjung yang tidak dapat menyelam tetap dapat menyaksikan keberadaan M.V. Boelongan di bawah air. Museum akan dirancang sesuai dengan perkembangan zaman, baik dari sisi pengelolaan maupun perancangan. Hal ini sejalan dengan paradigma museum yang sejak lama digadang-gadang, yaitu membuat museum yang mengedukasi sekaligus memberikan hiburan bagi pengunjungnya. Selain itu, dengan adanya museum dapat melindungi keberadaan bangkai kapal dan menjadi salah satu cara untuk menjaga kelestarian M.V. Boelongan. M.V Boelongan adalah bagian dari sejarah kemaritiman di Indonesia. Tinggalan budaya materi ini patut dilestarikan dan disampaikan nilai-nilainya
MEREKONSTRUKSI SEJARAH UNHAS MELALUI PRASASTIPRASASTI DI KAMPUS TAMALANREA Yadi Mulyadi
WalennaE Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3454.157 KB) | DOI: 10.24832/wln.v14i2.382

Abstract

Prasasti sebagai produk budaya material yang memuat informasi berupa teks tertulis yang ditorehkan padasebuah bidang tertentu telah menjadi salah satu objek kajian dalam penelitian arkeologi. Di Indonesiapenelitian mengenai prasasti lebih banyak dilakukan pada objek prasasti dari periode Hindu Budha.Tradisi penulisan teks pada prasasti terus berlanjut pada periode Islam dan bahkan sampai sekarang. Saatini prasasti masih tetap dibuat terutama prasasti pendirian atau peresmian suatu gedung atau bangunantertentu. Penelitian ini mengkhususkan kajian terhadap prasasti-prasasti pendirian dan peresmian yangterdapat di kampus Universitas Hasanuddin di Makassaar yang berasal dari kurun waktu 1977-2015.Objek prasasti dikaji melalui penerapan metode semiotik. Selain itu jenis bahan prasasti yangdipergunakan dan letak prasasti menjadivariabel yang dianalisis. Variabel penelitian itu kemudiandianalisis secara kontekstual untuk menghasilkan interpretasi berupa rekonstruksi sejarah UniversitasHasanuddin dari perspektif arkeologi.Inscription as a product of material culture that contains information in the form of a written text isinscribed on a particular field has become one of the object of study in archaeological research. InIndonesia, more research on the inscriptions made on objects of the period of Hindu Buddhistinscriptions. The tradition of writing the text on the inscription continues on the Islamic period and evenup to now. Currently the inscription still made mainly inscription establishment or the inauguration of abuilding or a particular building. This study specialized study of inscriptions establishment andinauguration located on the campus of the University of Hasanuddin in Makassar originating from theperiod 1977-2015. Objects inscriptions studied through the application of semiotic methods. Besides thetype of materials used and the location of the inscription into the variables analyzed. Variables were thenanalyzed to generate a contextual interpretation of the history of the Hasanuddin University in the form ofreconstruction of archaeological perspective.
MISTIFIKASI RITUAL SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL MASYARAKAT AJATAPPARENG, SULAWESI SELATAN Nani Somba; Syahruddin Mansyur; Muhammad Nur
WalennaE Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.466 KB) | DOI: 10.24832/wln.v17i1.365

Abstract

The Ajatappareng region is known as the most important rice producer in South Sulawesi. Historical sources and archaeological evidence show that agricultural tradition in this region has been going on for at least the 14th century. In that time span, the Ajatappareng community carried out an agricultural system as a system of knowledge passed down from generation to generation. This study aims to obtain a record of knowledge related to the traditional farming system of the Ajatappareng community. It used etnographic method with data collection techniques through in-depth interviews and literature studies. The data obtained illustrates the belief system in the traditional farming system of the Ajatappareng community that has various stages and processes. This belief system is illustrated throught a series of rituals that become an integral part of Ajatappareng community’s agricultural system. In the process, this agricultural system has undergone various changes along with the development of knowledge. The recording of knowledge about agricultural traditions, belief system and the changes that surround them are important given the global trend that promotes sustainable food agriculture management.  Wilayah Ajatappareng dikenal sebagai penghasil beras paling utama di Sulawesi Selatan. Sumber-sumber sejarah dan bukti-bukti arkeologi yang ada menunjukkan bahwa tradisi pertanian di wilayah ini telah berlangsung setidaknya sejak abad ke-14. Sejak itu pula, masyarakat Ajatappareng menjalankan sistem pertanian sebagai pengetahuan yang diwariskan secara turun temurun. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengetahuan terkait sistem kepercayaan dalam pertanian tradisional masyarakat Ajatappareng. Penelitian menggunakan metode etnografi dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan diikuti studi literatur. Sistem pertanian tradisional masyarakat Ajatappareng memiliki berbagai tahapan dan proses, pengetahuan masyarakat tidak hanya masalah teknis, tetapi juga menyangkut sistem kepercayaan yang diwujudkan melalui rangkaian ritual. Sistem pertanian ini telah mengalami berbagai perubahan seiring dengan perkembangan pengetahuan masyarakat. Rekaman pengetahuan tentang tradisi pertanian, sistem kepercayaan, serta perubahan-perubahan yang melingkupinya, menjadi penting mengingat tren global yang mengedepankan pengelolaan kawasan pertanian pangan berkelanjutan.