cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 252 Documents
KONSEP PENGEMBANGAN MUSEUM BALLA LOMPOA SUNGGUMINASA DI KABUPATEN GOWA: MEDIA PUBLIKASI ARKEOLOGI Nurul Adliyah Purnamasari
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.805 KB) | DOI: 10.24832/wln.v17i2.374

Abstract

Museum Balla Lompoa Sungguminasa is one of the museum with archaeological resource that is interesting enough to be published to the public. This museum is very able to represent the greatness of the Gowa Kingdom  in the past with collection of objects. However, there are still many problems of Museum Balla Lompoa Sungguminasa has, such as ehuman resources are not yet complete, the exhibition models that need to be updated, the information labels must be included, facilities and infrastructure of exhibitions, and also the concept of promotions and publications. Therefore, this study was conducted to determine the condition of Museum Balla Lompoa Sungguminasa, then it’s evaluated to choose the best development concept that can be used for this  better museum. This research used survey and observation techniques, qualitatives descriptive method with an inductive approach.Museum Balla Lompoa Sungguminasa adalah salah satu museum dengan koleksi arkeologis yang cukup menarik untuk dipublikasikan kepada masyarakat. Museum khusus Kerajaan Gowa ini mampu merepresentasikan kebesaran Kerajaan Gowa di masa lampau melalui benda koleksinya. Namun, berdasarkan hasil observasi pada Museum Balla Lompoa Sungguminasa masih banyak permasalahan yang ditemukan di dalamnya. Seperti sumber daya manusia yang belum lengkap, model penataan koleksi yang perlu dibenahi, label informasi yang harus dilengkapi, sarana dan prasarana pameran hingga bentuk promosi dan publikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi Museum Balla Lompoa Sungguminasa saat ini, kemudian berdasarkan kondisi tersebut penulis melakukan evaluasi untuk menentukan konsep yang bisa digunakan dalam pengembangan Museum Balla Lompoa Sungguminasa ke depannya. Penelitian ini menggunakan teknik survei dan observasi, dengan metode deskriptif dan penalaran induktif.
ISLAM PEREKAT SUKU BANGSA INDONESIA : JEJAK ULAMA PERINTIS AGAMA ISLAM DAN INTEGRASINYA TERHADAP MASYARAKAT DI DAERAH MAJENE SULAWESI BARAT makmur makmur
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1300.731 KB) | DOI: 10.24832/wln.v17i2.392

Abstract

The Indonesian nation consists of 1,340 tribes spread over 17,504 islands framed by "Bhinneka Tunggal Ika". One that knits neatly with the ethnic diversity in the archipelago is Islam. The purpose of this study is to trace the actors who spread Islam since hundreds of years ago in the Mandar tribe, especially in Majene districts. To achieve these objectives using a descriptive qualitative approach with a survey method of archeological objects to see the shape, space, and time, then classify and interpret the findings of artifacts related to the topic. In the pattern of the distribution of the tombs of the Ulama in Banggae, the tombs of the Ulama Sheikh Abd. Manan and Tuan Dicolang, in the Pamboang area, there are Suryodilogo and Sheikh Muhammad Ali's tombs, while in Sendana there are the tombs of Sheikh Zakaria, Tuan Dimelayu, and Tosalama in Salobulo named Sheikh Syain. The pioneers of the Islamic religion succeeded in becoming the glue of the tribe and made Islam a communal identity of the Mandar tribe, as well as being a driving force in socioeconomic and cultural life. Bangsa Indonesia terdiri dari 1.340 suku yang tersebar di 17.504 pulau yang dibingkai oleh “Bhinneka Tunggal Ika”. Salah satu yang merajut dengan apik keberagaman suku bangsa di Nusantara ialah Islam. Tujuan penelitian ini ialah mencari jejak aktor yang menyebarkan agama Islam sejak ratusan tahun yang lalu di suku Mandar khususnya di Kabupaten Majene. Untuk mencapai tujuan tersebut menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode survei benda-benda arkeologi untuk melihat bentuk, ruang, dan waktu, kemudian mengklasifikasi dan menginterpretasikan temuan artefak yang terkait dengan topik. Di dapat pola persebaran makam para ulama di Banggae yakni makam ulama Syekh Abd. Manan dan Tuan Dicolang, di wilayah Pamboang terdapat makam Suryodilogo dan Syekh Muhammad Ali, sedangkan di Sendana ada makam Syekh Zakaria, Tuan Dimelayu, dan Tosalama di Salobulo yang bernama Syekh Syain. Para ulama perintis agama Islam berhasil menjadi perekat suku bangsa dan menjadikan Islam sebagai identitas komunal bagi suku Mandar, serta menjadi motor penggerak dalam kehidupan sosial ekonomi dan budaya.
NEW FIND OF STEGODON SOMPOENSIS MAXILLA FROM CANGKANGE, SOPPENG, SOUTH SULAWESI Unggul Prasetyo Wibowo; Budianto Hakim; Andi Muhammad Saiful
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v17i2.366

Abstract

AbstractSulawesi is an island located in the Wallacean region of Indonesia. Geologically its lying midway between the Asian (Sunda) and Greater Australian (Sahul) continents. As a part of Wallacea islands, Sulawesi is an island that shows complexity either in biology or geology perspective. Though the distinctive quaternary vertebrate faunas has been described from Sulawesi,  historical pattern of biogeography still poorly understood due to the lack of the fossil specimens. This paper describes a maxilla fragment with molar root teeth M1 from an archaic proboscidae called Stegodon that found in the conglomeratic sandstone layer, at Cangkange Area, 4 km to the east of Cabenge Archeological site of South Sulawesi, Indonesia. Based on the comparation measuring data between this specimen with the Stegodon sompoensis and the Stegodon trigonocephalus it can be concluded that this Stegodon maxilla fragment is belong to the Stegodon sompoensis, a dwarf Stegodon from Sulawesi Island. The specimen is a surface collected sample. Based on the attached matrix on the maxilla fragment,  this specimen interpreted to be derived from subunit A of Beru Member, Walanae Formation. This Stegodon sompoensis is likely to be lived near the coastal-lagoon around 2,5 million years ago or Late Pliocene to Early Pleistocene. This estimated specimen age is based on the vertebrate fauna biostratigraphy of South Sulawesi. ABSTRAKPulau Sulawesi di Indonesia terletak di daerah Wallacea. Secara geologi pulau ini berada di antara Asia (paparan Sunda) dan Australia (paparan Sahul). Sebagai bagian dari kepulauan Wallacea, Pulau Sulawesi merupakan pulau yang memiliki kompleksitas baik dari segi biologi maupun geologinya. Meskipun fauna-fauna vertebrata kuarter Sulawesi sudah dideskripsi, tetapi sejarah dan pola biogeografi di pulau ini masih sangat kurang dikarenakan sedikitnya fosil-fosil yang ditemukan. Tulisan ini mendeskripsikan fragmen maxilla dari gajah purba jenis Stegodon dengan akar gigi molar M1 yang ditemukan di perlapisan batupasir konglomeratan, di daerah Cangkange, sekitar 4 km ke arah timur dari situs arkeologi Cabenge, Sulawesi Selatan, Indonesia. Berdasarkan  perbandingan data pengukuran spesimen ini dengan Stegodon sompoensis dan Stegodon trigonocephalus maka disimpulkan bahwa fragmen maksila Stegodon ini berasal dari Stegodon sompoensis, jenis Stegodon kerdil dari Pulau Sulawesi. Spesimen ini merupakan temuan permukaan, tetapi berdasarkan matriks sedimen yang masih menempel di maxilla, spesimen ini diinterpretasikan berasal dari Anggota Beru subunit A. Stegodon sompoensis ini diperkirakan dahulu hidup di lingkungan lagoon dekat pantai pada sekitar 2,5 juta tahun yang lalu atau Pliosen Akhir sampai Pleistosen Awal. Penentuan umur ini didasarkan pada boistratigrafi  fauna vertebrata  Sulawesi Selatan.
Reviewer Acknowledgement Tim Redaksi
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v17i2.415

Abstract

Index Penulis Tim Redaksi
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v17i2.411

Abstract

ANCIENT SETTLEMENT INDICATIONS IN LUWU REGENCY, SOUTH SULAWESI Bernadeta Bernadeta Apriastuti Kuswarini Wardaninggar
WalennaE Vol 18 No 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (956.526 KB) | DOI: 10.24832/wln.v18i1.391

Abstract

Tulisan ini bertujuan menjelaskan sejumlah data arkeologi, tradisi dan lingkungan okupasi manusia di Kabupaten Luwu. Metode pengumpulan data dilakukan dengan survei dan ekskavasi. Survei menjaring sejumlah data yang ditemukan di permukaan dengan menitikberatkan pada aspek bentuk dan jenis artefaktual (seperti gerabah, artefak batu, atau monumen megalitik). Dalam pelaksanaannya ditemukan empat situs terkonsentrasi di atas bukit, yaitu Bukit Lebani, Bukit Cakke Awo, Bukit Malela, dan Bukit Lebani. Kegiatan ekskavasi dilakukan di Bukit Lebani yang memiliki tingkat variabilitas cukup tinggi dibanding situs-situs yang lainnya. Hasil identifikasi temuan pada situs Bukit Lebani, terdapat tiga jenistemuan yakni, batu berlubang, fragmen gerabah, dan lumpang batu. Batu berlubang ditemukan tersebar dan hampir merata di daerah-daerah datar di puncak bukit, digunakan sebagai tempat penampungan air untuk kebutuhan pemukim di atas bukit. Periode pertama dihuni oleh sekelompok manusia yang dipimpin oleh “kepala suku” bernama Pong Diwero sebelum abad ke-18 M. Pada periode berikutnya, yaitu awal abad ke-19 pemukiman terkonsentrasi di daerah lereng-lereng bukit. Pada periode ini puncak Bukit Lebani tetap menjadi sentrum bagi terlaksananya acara ritual/upacara oleh manusia pendukungnya. Data etnografi menjelaskan bahwa masyarakat yang bermukim di sekitarnya melakukan ritual di atas puncak Bukit Lebani setiap selesai musim panen. The aim of this paper is to explain a number of archeological data, traditions and human occupational environments in Luwu Regency. The data collection methods consist of survey and excavation. The surveys carried out indicate a number of surface data, focusing on the shape and type aspects of artifacts (such as pottery, stone artefacts, or megalithic monuments). In the implementation we find four sites concentrated on the hill, named Bukit Lebani, Bukit Cakke Awo, Bukit Malela, and Bukit Balubu. Excavations are carried out at Bukit Lebani which has a high level of artifact variability compared to the other sites. The results of the artifacts identification of Bukit Lebani site have determined three types of artifacts known as hollow stones, pottery fragments, and stone mortars. Hollow stone is found scattered and almost distributed evenly in flat areas on the hilltop, used as a water reservoir for the needs of settlers on the hill. According to local oral tradition, Bukit Lebani is inhabited by a group of people led by a "tribal chief" named Pong Diwero before the 18th century. In the following century, settlements are concentrated on hillsides. In this period, the peak of Bukit Lebani remains as a center for the implementation of rituals / ceremonies. Ethnographic data explain that the people who live around the sites perform rituals at the top of Bukit Lebani after harvest season is through.
Pelestarian Makam Kuno di Kabupaten Maros Berbasis Tradisi Lokal Makmur
WalennaE Vol 18 No 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1154.557 KB) | DOI: 10.24832/wln.v18i1.403

Abstract

Makam kuno merupakan jejak budaya materil sebagai penanda hadirnya Islam di tengah masyarakat, sehingga penelitian ini bertujuan mengetahui nilai penting situs makam Islam, baik dari aspek makam Islam sebagai hasil produk kebudayaan masa lampau, maupun situs makam dari persektif masyarakat, serta memberikan gambaran secara komprehensip tentang perilaku masyarakat Maros dalam melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan situs makam Islam berdasarkan tradisi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan strategi perpaduan (mixed methods) antara metode arkeologi untuk melihat makam Islam sebagai hasil produk material kebudayaan, sedangkan perilaku masyarakat dalam berinterkasi dengan situs makam kuno menggunakan metode antropologi yaitu etnografi berorientasi pada topik. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa hadirnya berbagai tradisi masyarakat seperti tradisi lisan tentang cerita kesaktian tokoh-tokoh leluhur masyarakat pada masa lampau, telah menggerakkan masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi yang terkait dengan makam kuno seperti tradisi ziarah di hari-hari kebesaran Islam, ziarah songka bala (tolak bala), ziarah pengharapan, tradisi appanaung, tradisi a’dengka ase lolo (menumpuk padi di lesung atau pesta panen), tradisi mappalanca (adu betis). Tradisi-tradisi tersebut sangat fungsional untuk dijadikan sebagai suatu sistem pelestarian makam kuno berbasis masyarakat. Ancient tomb is the product of Islamic culture in Maros. With that in mind, this study aims to find out important values behind the existence of tombs and how the local communities perceive living among those tombs. This is a qualitative descriptive research, incorporating archeological method and topicoriented etnoghraphy. The former is intended to dig deeper into understanding Islamic tombs as the product of material culture; while the latter is projected to see how the local people perceive the existencence of those tombs. The study indictes that the oral tradition of telling the heroic and supernatural aspects on the people buried in the tombs has moved them to make pilgrimage with various intentions: withstanding destrcuctive power, getting blessings, exercising appanaung tradition, and expressing gratitude after harvest season. There is also that traditional practice done in relation to tomb pilgrimage: calves contest, making it an integral part of preservation system of culturel heritage of Islam.
Jejak Kolonial Belanda di Timur Laut Teluk Bonthain Hasrianti; Syahruddin Mansyur
WalennaE Vol 18 No 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1325.626 KB) | DOI: 10.24832/wln.v18i1.407

Abstract

Kebanyakan penelitian arkeologi di Bantaeng berfokus pada kajian prasejarah dan sedikit yangmengkaji periode setelahnya, terutama masa kolonial. Bantaeng dalam historiografi masa kolonial dikenal dengan nama Bonthain, sebuah daerah di timur laut Teluk Bonthain. Di daerah tersebut pemerintah kolonial Belanda mendirikan bangunan-bangunan yang jejak keberadaannya masih dapat dilacak. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran eksplanatif mengenai jejak-jejak arkeologis pemerintahan kolonial Belanda di Bantaeng. Data dalam tulisan ini terdiri dari data utama dan data pendukung. Data utama berupa data artefaktual bangunan masa kolonial Belanda bersumber dari survei Balai Arkeologi Sulawesi Selatan tahun 2017, sedangkan data pendukung seperti peta dan foto lama, catatan perjalanan, dan referensi terkait diperoleh dari berbagai sumber. Metode menggunakan teknik observasi, wawancara, kajian pustaka, dan eksplanasi. Tulisan ini memberi kesimpulan bangunan-bangunan peninggalan pemerintahan kolonial Belanda didirikan di antara Sungai TangngaTangnga dan Sungai Calendu tidak jauh dari pesisir teluk. Bangunan-bangunan didirikan untuk aktivitas pemerintahan, peribadatan, pendidikan, pelayanan publik, hunian, dan pemakaman. Most archaeological research in Bantaeng has focused on prehistoric studies and few have examined the period afterwards, especially the colonial period. Bantaeng in colonial history is known as Bonthain, an area in the northeast of Bonthain Bay. In that area the Dutch colonial government erected buildings whose traces of existence could still be traced. This paper aims to provide an explanatory description of the archaeological traces of the Dutch colonial government in Bantaeng. The data in this paper consists of main data and supporting data. The main data in the form of artifactual data on Dutch colonial buildings were sourced from the 2017 South Sulawesi Archaeological Center survey, while supporting data such as old maps and photographs, travel notes, and related references were obtained from various sources. The method uses techniques of observation, interviews, literature review, and explanation. This paper concludes that the buildings of the Dutch colonial government were erected between the Tangnga-Tangnga River and the Calendu River not far from the bay coast. Buildings were erected for government, worship, education, public service, occupancy, and funeral activities.
Tembikar dari Situs Gua Topogaro, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah Aisyah Arung Qalam; Hasanuddin; Akin Duli; Rintaro Ono
WalennaE Vol 18 No 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.285 KB) | DOI: 10.24832/wln.v18i1.408

Abstract

Gua Topogaro merupakan salah satu situs dengan temuan berupa fragmen tembikar yang berada di wilayah Sulawesi Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan ragam hias pada tembikar Situs Gua Topogaro. Analisis bentuk meliputi profil dan ukuran. Sementara analisis ragam hias dilakukan dengan mengamati motif hias, teknik hias dan warna hias pada permukaan tembikar. Ditemukan empat jenis wadah tembikar yaitu periuk, kendi, tempayan dan mangkuk. Terdapat 57 motif hias yang dihasilkan dari beberapa teknik hias diantaranya teknik gores, tekan, cukil dan tempel. Penerapan warna hiasan putih ditemukan pada sebagian besar fragmen tembikar berhias. Dilihat dari bentuk dan ragam hiasnya menunjukkan bahwa, tembikar Situs Gua Topogaro mendapat pengaruh dari dua tradisi tembikar yaitu Tradisi Sa Huynh-Kalanay yang berkembang di Asia Tenggara Kepulauan dan Tradisi Lapita yang berkembang di Pasifik. Gua Topogaro is one of the sites with pottery fragments findings in the Central Sulawesi. This study aims to determine the shape and variety of decoration on the pottery of Gua Topogaro. Shape analysis includes profile and size. While the analysis of the decoration variety is done by observing decorative motifs, decorative techniques and decorative colors on the surface of the pottery. There are four types of pottery that is pots, jugs, jars, and bowls. There are 57 decorative motifs produced from several decorative techniques including incised, impressed, excised and applied. The application of white decorative colors is found in most decorated pottery fragments. Based on the shape and variety of decoration, the pottery from Gua Topogaro is affected by two pottery tradition: the Sa Huynh-Kalanay Tradition that developed in Southeast Asia Archipelago and the Lapita Tradition that developed in Pacific.
Laporan Ekskavasi Terhadap Situs Rakkoe: Situs Toala yang Baru Dangan Seni Pahat di Lembah Bomboro, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan Yinika Lotus Perston; Iwan Sumantri; Budianto Hakim; Adhi Agus Oktaviana; Adam Brumm
WalennaE Vol 18 No 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.414 KB) | DOI: 10.24832/wln.v18i1.427

Abstract

Kumpulan pra-Neolitik di Sulawesi Selatan didominasi oleh endapan dari periode Toala, namun demikian sifat dan luas teknokultur Toala masih mengandung teka-teki. Hingga saat ini, kronologi dari teknologi Toala masih belum jelas dan belum ada karya seni yang bisa dikaitkan dengan periode ini, meskipun terdapat seni gua dengan gambar cadas di wilayah Karst Kabupaten Maros dan Pangkep. Ekskavasi dilakukan di ceruk Leang Rakkoe, di Lembah Bomboro Maros, dengan tujuan untuk membantu mengklarifikasi masalah ini. Sementara itu, endapan tersebut terbukti tidak stabil dan tidak bisa dilakukan penanggalan, penggalian ini memberikan wawasan baru tentang teknik pembuatan artefak batu Toala pada situs dengan contoh-contoh seni pahat yang sebelumnya tidak didokumentasikan. South Sulawesi's pre-Neolithic assemblages are dominated by Toalean-period cultural deposits, however the nature and extent of the Toalean technoculture continues to be enigmatic. To date, the chronology of Toalean technology remains unclear, and no art has yet been attributed to this period despite the rich cave art of the karst region of the Maros and Pangkep regencies. An excavation was conducted at Leang Rakkoe rockshelter, in the Bomboro Valley of Maros, in the hope that it could help clarify these issues. While the deposits proved unstable and could not be directly dated, the excavation did provide new insights into Toalean stone artefact manufacture techniques at a site containing previously-undocumented examples of engraved art.