cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Eduhumaniora is a peer-reviewed scientific journal that publishes different kinds of scientific articles based on the research-article and ideas-article. All topics that we received only articles relating to elementary education fields. For research category, articles can be written using quantitative and qualitative approaches, and can be made in a variety of research designs, such as action research, experiments, and case studies. This journal was published since 2009 twice a year every January and July, and published by the collaboration between Elementary Teacher Education Program, Kampus UPI di Cibiru and Himpunan Dosen PGSD Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2: Juli 2009" : 12 Documents clear
Model Pembelajaran Kooperatif Sebagai Upaya Penalaran Dan Komunikasi Matematika Siswa Sekolah Dasar Priatna, Dudung
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 2: Juli 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i2.2727

Abstract

AbstrakPembelajaran matematika perlu memperhatikan beberapa hal berikut    diantaranya mengkondisikan siswa siswa untuk terbiasa dengan penyelidikan dan menemukan, fokus pada pendekatan pemecahan masalah, terampil untuk meningkatkan memecahkan masalah, serta memulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (kontekstual problem). Penguasaan konsep matematika dimulai dengan mengajukan masalah‐masalah yang konstektual sehingga siswa secara bertahap dibimbing pengetahuan konseptual dan keterampilan prosedural. Salah satu model pembelajaran yang merupakan komponen pembelajaran kontekstual yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika adalah model kooperatif. Sejalan dengan uraian di atas masalah dalam penelitian ini dirumuskan Bagaimana model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan penalaran dan komunikasi matematika siswa sekolah dasar Tujuan penelitian ini mengidentifikasi dan mendeskripsikan hal‐hal yang berkaitan dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif sebagai upaya peningkatkan penalaran dan komunikasi matematika siswa SD Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilakukan dalam empat siklus, siklus I terdiri dari dua tindakan, siklus II terdiri dari dua tindakan, siklus III terdiri dari tiga tindakan, dan siklus IV terdiri dari dua tindakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif meningkatkan pengetahuan konseptual dan keterampilan prosedural siswa serta meningkatkan prestasi belajar siswa secara klasikal karena selama proses pembelajaran memuat kegiatan matematika (doing mathematics) yang aktif, generatif, dan eksploratif, sehingga siswa dituntut untuk mengembangkan berpikir dan bernalar (high level thinking and reasoning. Kata Kunci : model  kooperatif , penalaran matematika,  dan komunikasi matematika
Mengembangkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Melalui Menyelesaikan Soal Cerita Menggunakan Tahapan POLYA -, Komariah
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 2: Juli 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i2.2733

Abstract

Abstrak  Salah satu tujuan dari pembelajaran matematika di tingkat SD menurut kurikulum 2004 dan KTSP adalah mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.Berdasarkan orientasi lapangan pada salah satu  SD di dari hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih tergolong rendah    Masalah pada penelitian ini (1) bagaimana kualitas kemampuan pemecahan masalah matematika siswa ditinjau dari setiap tahap pemecahan masalah dan secara keseluruhan selama proses pembelajaran berlangsung? (2) bagaimana aktivitas siswa pada kegiatan diskusi kelompok selama proses pembelajaran berlangsung? (3) bagaiman tanggapan siswa terhadap pembelajaran pemecahan masalah matematika melalui diskusi kelompok? Pembelajaran pemecahan masalah matematika pada penelitian ini ditinjau dari setiap tahap pemecahan masalah dan secara keseluruhan langkah selama proses pembelajaran berlangsung. Langkah pemecahan masalah menurut Polya meliputi (1) memahami masalah, (2) merencanakan penyelesaian, (3) melaksanakan penyelesaian, (4) memeriksa kembali hasil, serta secara keseluruhan.   Metoda yang dipergunakan penelitian tindakan kelas terhadap siswa kelas VI SD CIbiru VII Bandung terdiri dari 38 orang siswa dengan setting kelas kegiatan diskusi kelompok. Instrumen dalam penelitian ini tes, observasi, angket.   Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I kualitas kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih rendah, sebagian kelompok salah mengartikan soal pada tahap memahami masalah, tahap merencanakan penyelesaian dan secara keseluruhan langkah. Pada siklus II ada kemajuan semua kelompok siswa dapat menyelesaikan soal namun ada kelompok siswa yang masih salah mengartikan soal pada tahap memahami masalah dan dan secara keseluruhan langkah masih salah menghitung. Pada siklus III semua kelompok dapat menyelesaikan soal namun pada tahap secara keseluruhan masih ada kelompok siswa yang salah dalam menghitung terutama dalam membagi dan membulatkan. Hasil tes akhir menunjukkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa secara keseluruhan tergolong baik dan relative homogen mendekati rata‐rata. Aktivitas siswa pada kegiatan diskusi kelompok pada siklus I siswa belum dapat menyesuaikan diri dengan situasi pembelajaran yang diciptakan pada akhir siklus I dan pada siklus II serta III kegiatan diskusi lebih hidup dan kondusif yang dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaranpemecahan masalah matematika. Kesulitan yang dihadapi siswa pada tahap memahami masalah dan pada tahap merencanakan penyelesaian.Kata Kunci: Kemampuan pemecahan masalah matematika, Soal Cerita, Langkah Polya
Pendekatan Konstruktivisme Dan Dampaknnya Bagi Hasil Belajar Matematika Siswa SD Mulyati, Tita
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 2: Juli 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i2.2738

Abstract

Abstrak  Belajar menuntut peran serta semua pihak. Pengetahuan bukan sesuatu yang diserap secara pasif oleh siswa, melainkan sesuatu yang ditemukan, dibangun, dan dikembangkan secara aktif oleh siswa dengan mengalami dan mengerjakanya dalam proses masuk ke dunia nyata secara terus‐menerus, karena siswa di kelas tidak dalam keadaan kosong, tetapi memiliki pengetahuan dari pengalaman yang telah diperoleh sebelumnya. Pembelajaran terjadi    ketika siswa memadukan pengetahuan dan keterampilan baru ke dalam pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya. Dalam pembelajaran matematika pun, untuk mempelajari materi matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu (konsepsi awal) sebagai pengetahuan prasyarat dari siswa akan mempengaruhi terjadinya proses belajar matematika tersebut. Guru bertugas sebagai fasilitator yang menciptakan kondisi dan sistuasi agar proses belajar dapat berlangsung efektif. Oleh karena itu, guru perlu mengupayakan inovasi dalam proses pembelajaran sehingga siswa terlibat penuh secara aktif dalam belajar dan dapat membangun pengetahuannya sendiri sehingga pengetahuan yang didapat lebih bermakna dan selalu diingat, mengingat pentingnya matematika sebagai ilmu dan bagi kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah dengan menerapkan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika di SD. Pembelajaran berdasarkan pendekatan konstruktivisme meliputi empat tahap, yaitu : (1) tahap persepsi, (2) tahap eksplorasi, (3) tahap diskusi dan penjelasan konsep, dan (4) tahap pengembangan dan aplikasi konsep. Beberapa penelitian yang relevan menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme terbukti efektif meningkatkan hasil belajar matematika siswa SDKata Kunci: Pembelajaran matematika, pendekatan konstruktivisme, hasil belajar matematika
Perubahan Sistem Manajemen Kepala Sekolah Dan Kinerja Guru Terhadap Kualitas Pembelajaran Di Sekolah Dasar Laboratorium PPL UPI Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung Widaningsih, Ening
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 2: Juli 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i2.2728

Abstract

AbstrakSistem manajemen kepala sekolah dengan memfungsikan fungsi manajemen yang meliputi: perencanaan (planning), pengorganisasian (organization), penggerakkan (actuating), pengkoordinasian (coordinating), pengarahan (directing), pengawasan (controlling), dapat mengefektifkan dan mengefisienkan sumber daya yang ada di sekolahnya diantaranya kinerja mengajar guru demikian juga kinerja guru mempengaruhi terhadap kualitas pembelajaran.   Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran empiris tentang: (1) pelaksanaan system manajemen kepala sekolah; (2) kinerja mengajar guru; (3) kualitas pembelajaran; (4) pengaruh system manajemen terhadap kinerja mengajar guru; (5) pengaruh kinerja    mengajar guru terhadap kualitas pembelajaran; (6) pengaruh system manajemen kepala sekolah terhadap kualitas pembelajaran; (7) pengeruh system manajemen kepala sekolah dan kinerja mengajar guru secara simultan terhadap kualitas pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan system manajemen kepala sekolah menghasilkan angka rata rata 4,04 artinya system manajemen kepala sekolah di SD Laboratorium PPL UPI secara umum tergolong baik; (2) kinerja mengajar guru menghasilkan angka rata rata 4,09 artinya kinerja pengajar guru di SD Laboratorium PPLUPI secara umum tergolong baik; (3) kualitas pembelajaran dipresentasikan dalam nilai rata rata yang diperoleh seluruh siswa kelas I sampai dengan kelas VI pada sekolah yang bersangkutan adalah 6,97 pada skala 10, angka tersebut mendekati 7 sehingga dapat ditafsirkan bahwa kualitas pembelajaran pada SD Laboratorium PPL UPI termasuk katogori lebih dari cukup; (4) ada pengaruh positif signifikan system manajemen terhadap kinerja guru sebesar 15,70%; (5) terhadap kualitas pembelajaran sebesar 10,90 %; (6)    kinerja mengajar guru berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran sebesar 25,00%; dan (7) sistem manajemen kepala sekolah dan kinerja mengajar guru berpengaruh positif terhadap pembelajaran sebesar 27,00%.  Kata Kunci: manajemen kepala sekolah; kinerja guru; kualitas pembelajaran
Remediasi Kesulitan Mahasiswa PGSD Menyusun Alat Penilaian Hasil Belajar Menurut Kelas Melalui Kerja kelompok Setiamihardja, Realin
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 2: Juli 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i2.2734

Abstract

Abstrak  Penelitian Penelitian yang berjudul “Remediasi Kesulitan Mahasiswa PGSD Menyusun Alat Penilaian Hasil Belajar Berbasis Kelas Melalui Kerja Kelompok “ dilakukan di PGSD Kampus Cibiru. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyusun alat penilaian hasil belajar berbasis kelas. Kesimpulan hasil penelitian tindakan kelas ini adalah: 1) adanya peningkatan aktifitas belajar mahasiswa dalam menyusun alat penilaian bentuk pilihan ganda, isian singkat dan uraian; 2) mahasiswa memperoleh pengalaman belajar secara utuh yang saling terkait dalam kemampuan penyusunan alat penilaian hasil belajar; 3) adanya peningkatan motivasi belajar; 4) mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang bermakna serta menciptakan hubungan yang akrab antara mahasiswa dengan pengajar; dan 5) adanya peningkatan kemampuan mahasiswa dalam penyusunan alat penilaian hasil belajar, melalui tukar pendapat, berbagi pengalaman dan kegiatan diskusi bersama teman sekelompoknya.Kata Kunci: Alat Penilaian, Kerja Kelompok
Kemampuan Melakukan Pukulan Smash Dalam Permainan Bulutangkis -, Umar
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 2: Juli 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i2.2739

Abstract

Abstrak  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui  (1) hubungan antara daya ledak otot lengan dan kemampuan melakukan pukulan smash dalam permainan bulutangkis; (2) hubungan antara koordinasi mata‐tangan   dan kemampuan melakukan pukulan smash dalam permainan bulutangkis; dan (3) hubungan antara daya ledak otot lengan dan koordinasi mata‐ tangan   dengan kemampuan melakukan pukulan smash dalam permainan bulutangkis.             Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1)terdapat hubungan positif antara daya ledak otot lengan dengan kemampuan melakukan pukulan smash dalam permainan bulutangkis, (2) terdapat hubungan positif antara  koordinasi mata‐tangan  dengan kemampuan melakukan pukulan smash dalam permainan bulutangkis; dan (3) secara bersama‐sam  terdapat hubungan yang positif  antara daya ledak otot lengan dan koordinasi mata‐tangan dengan kemampuan melakukan pukulan smash dalam permainan bulutangkis dengan koefisien korelasi ® 0,8337, dengan persamaan regresi Ŷ = 23,10 + 0,06 X1 + 2,37 X2.Kata Kunci: daya ledak otot lengan, koordinasi mata‐tangan, kemampuan melakukan smash,     permainan bulutangkis
Strategi Pengajaran Bahasa Daerah (Sunda) Untuk Mahasiswa Nonsunda Di PGSD UPI Kampus Cibiru Rohayati, Etty
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 2: Juli 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i2.2729

Abstract

Abstrak  Sesuai    pasal no. 36 UUD 1945 yang menekankan bahwa “Di daerah‐daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik‐baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda, Madura dan sebagainya) bahasa‐bahasa itu akan dihormati dan dipelihara oleh negara, Bahasa‐bahasa itu pun merupakan sebagian dari budaya Nusantara” dan sejalan pula dengan rekomendasi UNESCO tahun 1999 tentang “Pemeliharaan Bahasa‐bahasa ibu” Salah satunya realisasi dipeliharanya bahasa daerah (Sunda) oleh pemerintah di Jawa Barat, jelas dengan adanya pengajaran bahasa Sunda dari mulai tingkat SD , SLTP, sebagian SMU/SMK, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra di Perguruan Tinggi, misal UPI, UNPAD dan UNPAS. Begitu juga  PGSD UPI Bandung Kampus Cibiru, telah kerjasama dalam pendidikan progran stara ‐1 (S‐1) dengan kabupaten Kaimana,    Propinsi Irian. Dan diantara program pendidikan adanya pendidikan bahasa Daerah (Sunda), pada semester tiga sebanyak tiga SKS. Strategi pembelajaran yang dilaksanakan yaitu secara teoritis, analisis kanstrantif.        Materi perkuliahan yang disampaikan yaitu sesuai dengan empat keterampilan berbahasa di antaranya menyimak secara teoritis mengenai hakekat, kedudukan dan fungsi bahasa daerah, berbicara disesuaikan dengan kebutuhan sehari‐hari (kontekstual dan fungsional), misalnya   dialog; perkenalan, ucapan selamat, ucapan terima kasih dan minta maaf, perbandingan kata‐kata yang berhubungan dengan tubuh, struktur keluarga, peralatan dapur, peralatan pertanian dan pertukangan. Membaca, mengapresiasi dan membandingkan hasil karya sastra, menulis aksara Sunda.  Evaluasi berupa UTS dan UAS, pengembangan materi berupa tugas‐tugas, yang hasilnya cukup memuaskan.Key Word: Bahasa Daerah, Strategi pengajaran, Suku non‐Sunda
Pengembangan (Guru Pendidikan Jasmani) Sebagai Suatu Profesi Keolahragaan Di Indonesia M. Arifin, Robandi Roni
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 2: Juli 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i2.2735

Abstract

Abstrak  Tujuan dari makalah ini untuk mengetahui    (1) Apakah profesionalisme dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan hidup yang layak,    (2) Apakah Pengaruh jenjang    pendidikan    terhadap kemampuan menerapkan profesionalisme    (3) Apakah kode etik profesi    guru pendidikan jasmani dapat diterapkan    (4) Apakahada keterkaitan interaksi jenjang pendidikan dan kode etik?                Melalui pembahasan, hakikat profesionalisme,    guru pendidikan jasmani sebagai suatu profesi keolahragaan, ruang lingkup tugas guru pendidikan jasmani, ilmu yang harus diemban, serta pengembangan.   Hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa  (1) jika profesionalisme dan kode etik   serta undang‐undang guru dilaksanakan secara professional, maka penghasilan guru pendidikan jasmani dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak. (2) Setandarisasi kualivikasi ijasah, merupakan syarat untuk menentukan standar tunjangan    profesionalisme. (3) Kode etik profesi guru pendidikan jasmani di Indonesia bisa diterapkan jika semua unsur  telah  menyadari. (4) Standar kualifikasi pendidikan dan kode etik mempunyai keterkaitan dalam menunjang sikap profesionalisme.Kata Kunci: pengembangan, guru pendidikan jasmani, dan  profesi keolahragaan
Perbandingan Hasil Belajar Teknik Dasar Pukulan Pada Permainan Tenis Meja Antara Yang Langsung Mengunakan Net Dengan Tanpa Menggunakan Net Terlebih Dahulu Safari, Indra
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 2: Juli 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i2.2731

Abstract

Abstrak  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji antara hasil belajar langsung menggunakan net dengan yang tanpa menggunakan net terlebih dahulu terhadap peningkatan penguasaan teknik dasar pukulan pada permainan tenis meja bagi pemula.Untuk memecahkan permasalahan tersebut penulis menggunakan metode eksperimen, sedangkan data yang diperoleh adalah melalui eksperimen lapangan. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa SDN Muhammadiyah III Bandung, sedangkan untuk sampelnya yaitu siswa kelas 4 s/d 6 (putera dan yang termasuk dalam kategori umur pemula. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa walaupun secara perhitungan statistic kedua cara pembelajaran tersebut tidak ada perbedaan yang berarti (signifikan), tetapi secara fakta di lapangan dengan frekuensi tiga kali dalam seminggu dengan cara pembelajaran tanpa menggunakan net terlebih dahulu memberikan perbedaan dalam perbedaan mean, yaitu yang langsung menggunakan net (0 – 89,0) sedangkan yang tanpa menggunakan net terlebih dahulu (0 – 93,0) dengan taraf nyata 0,05. Kata Kunci: teknik dasar, menggunakan net dan tanpa menggunakan net
Pembelajaran IPS Di Sekolah Dasar Berbasis pembelajaran Tematik Saputra, Targana Adi
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 2: Juli 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i2.2736

Abstract

AbstrakPendekatan pembelajaran tematik dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran tematik pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip‐prinsip secara holistik dan otentik.   Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu‐ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya.  Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang‐cabang ilmu‐ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum    sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang‐cabang ilmu‐ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial. Sejalan dengan konsep tersebut, pembelajaran tematik dalam IPS adalah model pembelajaran yang pengembangannya dimulai dengan menentukan topik tertentu sebagai tema atau topik sentral, setelah tema ditetapkan maka selanjutnya tema itu dijadikan dasar untuk menentukan dasar sub‐sub tema dari bidang studi lain yang terkait.Kata Kunci : Pembelajaran Tematik , IPS

Page 1 of 2 | Total Record : 12