cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Metal Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 163 Documents
PERANCANGAN ULANG TATA LETAK FASILITAS LABORATORIUM PENGUJIAN BALAI BESAR LOGAM DAN MESIN Mirantie Dwiharsanti; Gugum Gumilar; Hendri Siswanto
Jurnal Metal Indonesia Vol 38, No 2 (2016): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2340.922 KB) | DOI: 10.32423/jmi.2016.v38.55-67

Abstract

Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) sebagai lembaga pengujian yang ditunjuk untuk pelaksanaan SNI Wajib selalu didukung dengan fasilitas mesin/alat uji.. Namun pengadaan fasilitas mesin/alat uji tidak didukung dengan perencanaan tata letak fasilitas yang baik. Mesin/alat uji ditempatkan tanpa memperhatikan fungsi mesin/alat uji. Berdasarkan masalah tersebut maka diperlukan perancangan ulang tata letak fasilitas laboratorium pengujian untuk mencapai metriks yang optimal. Penelitian ini menggunakan metode konvensional dalam melakukan perancangan ulang tata letak laboratorium pengujian. Berdasarkan analisa tata letak awal laboratorium pengujian kemudian dilakukan identifikasi fasilitas dan perhitungan luas lantai yang dibutuhkan. Setelah itu dilakukan analisa kedekatan fasilitas dengan membuat ARC (Activity Relationship Chart) dan menyusun ARD (Activity Relationship Diagram). Berdasarkan ARD kemudian dibuat template tata letak fasilitas laboratorium pengujian. Tata letak laboratorium pengujian disusun berdasarkan process layout dan product layout. Fasilitas yang disusun berdasarkan process layout adalah fasilitas pengujian kekerasan, spektrometer, struktur mikro dan makro, UTM, Impak, dan perparasi sampel. Sedangkan fasilitas yang disusun berdasarkan product layout adalah pengujian sepeda, kompor, dan regulator.
PENGARUH KROM TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO PADA BESI COR NODULAR 400 Martin Doloksaribu
Jurnal Metal Indonesia Vol 38, No 1 (2016): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2016.v38.8-13

Abstract

Besi Cor Nodular 400 (FCD 400) dengan standar komposisi 3,5~3,9%C, 2,5~2,9%Si, 0,3~0,5%Mn, maks 0,03%P, maks 0,02%S dan min 0,03%Mg. Besi Cor Nodular memiliki perpaduan sifat kekuatan dan keuletan. Pada aplikasi slider tebal diperlukan kepastian sifat ketahanan aus. Ketahanan aus ditingkatkan dengan meningkatkan kekerasan dan kekuatan tarik. Krom (Cr) merupakan unsur yang dapat meningkatkan kekerasan karena dapat berperan sebagai promotor perlit dan karbida. Pada pembuatan Besi Cor Nodular 400 ditambahkan Cr pada kisaran 0,03~0,1%. Uji tarik dan uji keras pada 0,033%Cr sebesar 431,68 N/mm2 dan 157 HB. Pada 0,074%Cr sebesar 599,28 N/mm2 dan 187 HB. Struktur mikro menunjukkan peningkatan sedikit struktur perlit.Kata Kunci : besi cor nodular 400, krom, kekuatan tarik, kekerasan, kekerasan, perlit
ANALISIS PERBANDINGAN PARAMETER LONG-RANGE ORDER SEBAGAI ACUAN KONTROL KUALITAS HASIL ANNEALING PASCA ECAP PADA Al-5052 R. Ibrahim Purawiardi
Jurnal Metal Indonesia Vol 39, No 2 (2017): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.73 KB) | DOI: 10.32423/jmi.2017.v39.63-75

Abstract

Telah dilakukan analisis perbandingan parameter long-range order dalam satu sudut pandang pada logam paduan Al-5052 yang diberikan perlakuan ECAP dan annealing pasca ECAP. Sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang tegak lurus bidang (220). Dalam analisis, bidang fundamental adalah bidang (111), sementara bidang superlattice diasumsikan bidang (220). Terdapat 4 sampel uji Al-5052 yang digunakan. Keempat sampel diberikan perlakuan ECAP rute Bc sebanyak 4 pass. Kemudian, 3 dari 4 sampel diberikan perlakuan annealing pasca ECAP dengan variasi temperatur annealing 100 oC, 200 oC, dan 300 oC, sementara satu sampel tersisa sebagai kontrol pembanding. Karakterisasi dilakukan dengan analisis x-ray diffraction. Hasil analisis menunjukkan nilai parameter order sampel tanpa annealing, sampel dengan temperatur annealing 100 oC, sampel dengan temperatur annealing 200 oC, dan sampel dengan temperatur annealing 300 oC secara berturut-turut adalah 0.54526, 0.693152, 0.92553, dan 1.183165. Dengan demikian, terjadi perubahan kondisi dari kondisi lebih disordered menjadi lebih ordered akibat perlakuan annealing pasca ECAP. Sementara itu, kondisi fully ordered diprediksi terjadi saat penerapan temperatur annealing 226.065704 oC. Dari studi ini dapat disimpulkan bahwa metode perbandingan parameter order ini dapat digunakan sebagai acuan kontrol kualitas logam paduan Al-5052 setelah proses annealing pasca ECAP. Namun, analisis ini tidak direkomendasikan untuk menentukan nilai mutlak parameter order, namun hanya direkomendasikan untuk dibandingkan antar sampel satu sama lain.Kata Kunci : ECAP, annealing, parameter long-range order, Al-5052, kontrol kualitas
Cover VOL. 38 NO. 2 2016 Admin Metal Indonesia
Jurnal Metal Indonesia Vol 38, No 2 (2016): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2016.v38.Cover

Abstract

Preface VOL. 38 NO. 1 2016 Jurnal Metal Indonesia
Jurnal Metal Indonesia Vol 38, No 1 (2016): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2016.v38.i-iii

Abstract

Konveksi Paksa Selama Pembekuan Paduan Al- Wt% Cu dan Pengaruhnya Terhadap Segregasi Shinta Virdhian
Jurnal Metal Indonesia Vol 36, No 1 (2014): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1459.254 KB) | DOI: 10.32423/jmi.2014.v36.16-25

Abstract

ABSTRAKMakrosegregasi adalah ketidakseragaman komposisi pada jarak yang dapat dibandingkan dengan ukuran produk,contohnya mm, cm bahkan meter.Ketidakseragaman komposisi ini akan berakibat menurunnya sifat mekanis dari hasil produk direct chill casting pada Aluminium ingot/billet. Pada paduan Al-4%Cu,macrosegregasi dimaksudkan ketidakseragaman komposisi Cu pada ingot/billet. Dalam penelitian ini, pompa screw yang dirancang khusus  untuk memproduksi dan memodifikasi aliran dalam logam cair selama pembekuan paduan Al-4% Cu. Pompa screw digunakan unuk mempoduksi aliran konveksi paksa sejajar atau berlawanandengan konveksi alami dengan cara mengatur arah dan kecepatan putaran. Hasil analisa struktur mikro menunjukkan bentuk butiran yang equiaxed dendriticuntuk semua kasus dalam penelitian ini. Peningkatan intensitas dari konveksi paksa akan menurunkan ukuran butir secara kualitatif, walaupun secara kuantitatif tidakditemukan nilai perbedaan yang signifikan.  Analisa makrosegregasi menunjukkan bahwa konveksi paksa searah dengan konveksi alami menyebabkan segregasi positif (presentase Cu yang lebih besar dari rata-rata) di bagian tengah dari bilet, peningkatan kecepatan lebih lanjut akan menyebabkan variasi komposisi menjadi lebih besardan makrosegragasi akan sulit untuk dikontrol.Konveksi paksa yang berlawanan dengan segregasi akan menekan konveksi alami sehingga dihasilkan variasi komposisi yang lebih kecil.       Kata kunci: proses direct chill casting, makrosegregasi, konveksi paksa 
Cover Metal Indonesia Vol 39 No. 1 Juni 2017 Admin Jurnal Metal
Jurnal Metal Indonesia Vol 39, No 1 (2017): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2017.v39.%p

Abstract

ANALISIS REGRESI UNTUK MENENTUKAN KORELASI PEMBEBANAN TERHADAP DAYA DAN TORSI PADA TURBIN PELTON Muhammad Nauval Fauzi; MAHAPUTRA MAHAPUTRA; Sony Harbintoro
Jurnal Metal Indonesia Vol 38, No 2 (2016): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1053.462 KB) | DOI: 10.32423/jmi.2016.v38.31-41

Abstract

AbstrakPembangkit Listrik Tenaga Air di Indonesia banyak dipasang menggunakan turbin pelton. Turbin pelton adalah alat yang bekerja untuk mengubah energi kinetik air menjadi energi mekanik berupa putaran poros yang digunakan untuk generator listrik dan menghasilkan tenaga listrik. Desain turbin pelton itu unik, maka perancang harus melakukan perancangan baru setiap akan membuat turbin baru atau turbin pengganti dalam pengembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kemampuan pembangkit listrik turbin pelton dan menganalisis regresi sistem kerjanya. Dengan menggunakan metode rekayasa peniruan, prototype turbin pelton dibuat agar dapat dilakukan pengukuran analisis regresi terhadap hubungan daya pengisian alternator terhadap jumlah lampu, hubungan putaran alternator (rpm) terhadap jumlah lampu, hubungan daya keluaran terhadap putaran alternator dan hubungan torsi terhadap putaran alternator sehingga dapat digunakan untuk memprediksi parameter-parameter yang akan diperlukan dalam merancang sistem pembangkit listrik turbin pelton nantinya. Dari hasil analisis regresi, diperoleh koefisien korelasi dengan nilai dibawah 1, pendekatan regresi telah cukup memadai dengan nilai koefisien korelasi diatas 0,9. Kesalahan pengukuran dapat terjadi karena berbagai faktor, antara lain dari alat dan sistem yang diukur belum memenuhi kondisi yang ideal. Hasil penelitian ini belum mencapai kondisi ideal, dan masih diperlukan perbaikan sistem prototype secara umum. Sehingga dapat diperoleh hubungan hasil pengukuran dengan hasil perhitungan yang baik. Kata kunci: turbin pelton, daya, torsi, analisis regresi
KINERJA HEADER PADA MESIN PEMANEN KOMBINASI TIPE REEL UNTUK TANAMAN JAGUNG sony harbintoro; Martin Doloksaribu; Purnawan Nugroho
Jurnal Metal Indonesia Vol 38, No 1 (2016): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2016.v38.14-20

Abstract

Penelitian mengenai kinerja header pada mesin pemanen kombinasi tipe reel untuk tanaman jagung telah dilaksanakan di workshop Balai Besar Logam dan Mesin Bandung. Dari hasil kajian terhadap mesin pemanen kombinasi diketahui bahwa ada dua rugi-rugi yang terjadi pada saat proses panen yaitu rugi-rugi yang diakibatkan dari kondisi tanaman jagung dan kondisi dari performa mesin pemanen. Unit header merupakan salah satu bagian yang  dapat  menimbulkan losses/rugi-rugi pada saat proses panen. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengamatan karakteristik mesin pemanen kombinasi tipe reel, melakukan kajian terhadap unit header, melakukan uji fungsi header dan analisa data. Dari hasil kajian pada unit header, bagian-bagian dari unit header yaitu diantaranya (a) reel, (b) tines/kuku, (c) cutter bar/pisau pemotong, (d) penyisir/guider dan (e) screw auger merupakan bagian-bagian yang saling berhubungan dalam proses pemanenan. Faktor-faktor yang menentukan fungsi header beroperasi secara optimal pada proses panen yaitu penentuan tinggi pemotongan batang tanaman jagung oleh cutter bar, kecepatan putaran reel dan jarak ketinggian antara posisi reel dengan cutter bar.Kata kunci: sistem pemetik jagung, mesin pemanen kombinasi, gulungan pengumpul jagung, jagung 
Rancang Bangun Pendingin Media Kalibrasi Thermohygrometer Berbasis Peltier Trismiyati - -; Nur Islami Dewi; Rurut Amiru
Jurnal Metal Indonesia Vol 39, No 2 (2017): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.366 KB) | DOI: 10.32423/jmi.2017.v39.86-94

Abstract

Media kalibrasi thermohygrometer memerlukan pendingin untuk memenuhi kebutuhan temperatur pengukuran. Pendingin media saat ini menggunakan pendingin ruangan yang membutuhkan waktu sekitar 12 jam pada malam hari untuk memperoleh temperatur 20 C. Untuk itu dilakukan perancangan sistem pendingin dengan peltier sebagai alternatif pengganti pendingin ruangan. Tahapan penelitian adalah memperhitungkan beban termal, merancang sistem pendingin dengan peltier dan menganalisa respon waktu. Hasil pengujian menunjukkan pendinginan dapat mencapai temperatur 23,4C dalam waktu 118 menit dengan temperatur ruangan 27,3 C.Kata Kunci : media, temperatur, peltier, pendingin, waktu

Page 3 of 17 | Total Record : 163