cover
Contact Name
Rusdiyanyo
Contact Email
roesdysh@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jiep@iain-manado.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Journal of Islamic Education Policy
ISSN : 25280295     EISSN : 25280309     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Journal of Islamic Education Policy menerbitkan hasil penelitian yang memberikan kontribusi signifikan pada pemahaman dan praktek pendidikan Islam melalui tulisan dan laporan akademik dalam perspektif dan skop global. Tujuan utumanya adalah membuka akses bagi dunia internasional, dengan tidak melupakan tuntutan lokal, pada hasil penelitian, yang meliputi peneliti, praktisi, dan mahasiswa dalam bidang kebijakan pendidikan Islam. Karena itu, JIEP menyambut dengan baik tulisan-tulisan yang mendorong perdebatan akademik dari kalangan akademisi yunior dan senior dalam tiga bahasa, yaitu Indonesia, Arab, dan Inggeris
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2018)" : 15 Documents clear
Pemikiran Instrumentalisme Bruner dan Relevansinya terhadap Pembelajaran Bahasa Arab Manan Syah Putra Nasution
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5552.795 KB) | DOI: 10.30984/j.v3i1.854

Abstract

ABSTRACT: Language problems to date have always been in three aspects: linguistic, method-logical and sociological. Jerome Seymour Bruner, a linguist, describes his language thinking through instrumentalism. Therefore this study attempts to look at the concept of learning Arabic from the perspective of Bruner's instrumentalism which includes how the concept of Bruner's language instrumentalism and how relevant Bruner's instrumentalism is in learning Arabic. This qualitative research model with literature review uses philosophical, historical and psycholingu-isttic approaches with critical analytical descriptive methods. The result is the first theory of ins-trumentalism Bruner states that language is a tool for communication. Both concepts of Bruner's instrumentalism theory have quite strong relevance to contextual language learning. KEYWORDS: Bruner, Instrumentalism, Arabic Language, Learning and Relevance ABSTRAKSI: Persoalan berbahasa sampai saat ini selalu berada pada tiga aspek yaitu linguis-tik, metodologis dan sosiologis. Jerome Seymour Bruner seorang ahli bahasa menguraikan pe-mikiran bahasanya melalui teori instrumentalisme. Oleh karena itu penelitian ini berupaya me-lihat konsep pembelajaran bahasa Arab dari kacamata instrumentalisme Bruner yang meliputi bagaimana konsep instrumentalisme bahasa Bruner dan bagaiman relevansi teori instrumen-talisme Bruner dalam pembelajaran bahasa Arab. Model penelitian kualitatif dengan kajian pus-taka ini menggunakan pendekatan filosofis, historis dan psikolinguistik dengan metode deskriptif analitis kritis. Hasilnya adalah pertama teori instrumentalisme Bruner menyatakan bahwa ba-hasa merupakan alat untuk berkomunikasi. Kedua konsep teori instrumentalisme Bruner me-miliki relevansi yang cukup kuat dengan pembelajaran bahasa kontekstual. KATA KUNCI: Bruner, Instrumentalisme, Bahasa Arab, Pembelajaran, dan Relevansi
Analisis Problematika Pendidikan Islam di Indonesia Abad 21 Ahmad Khozin
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/j.v3i1.859

Abstract

Abstract., Indonesia is a country that is conducting educational development as mandated by the 1945 Constitution. In the course of the Law of the Republic of Indonesia Number 20 of 2003 on National Education System defines education as a conscious and planned effort to create an atmosphere of learning and learning process so that learners actively developing his potential to have spiritual spiritual strength, self-control, personality, intelligence, noble character, as well as the skills he needs, society, nation and state. In response, Islamic Education needs to get serious attention, especially among the intellectuals and thinkers of Islamic education in Indonesia. Various efforts are needed to restore Islamic education to its glory. To restore Islamic education to the glory, certainly not as easy as putting water on a cauldron. But there needs to be seriousness in reaching these ideals, including the seriousness in management and leadership of a reliable Islamic education institutions. In this paper the author will try to focus the discussion on the problems of Islamic education of the 21st century as well as solutions that can be offered in response to the problems of Islamic educationKeywords: Problematic Education, Islamic Education.          Abstrak., Indonesia merupakan negara  yang sedang melakukan pembangunan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945.  Dalam perjalanannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menyikapi hal tersebut, Pendidikan Islam perlu mendapat perhatian yang serius, terutama kalangan cendekiawan dan pemikir pendidikan Islam di Indonesia. Diperlukan ragam upaya untuk mengembalikan pendidikan Islam kepada kejayaannya. Untuk mengembalikan pendidikan Islam kepada kejayaan tersebut, tentu tidak semudah menaruh air di atas kuali. Namun perlu ada keseriusan dalam menggapai cita-cita tersebut, diantaranya keseriusan dalam manajemen dan kepemimpinan lembaga pendidikan Islam yang handal. Dalam makalah ini penulis akan mencoba memfokuskan pembahasan pada problematika pendidikan Islam abad 21 serta solusi-solusi yang dapat ditawarkan dalam menanggapi problematika pendidikan Islam tersebutKata Kunci:Problematika Pendidikan, Pendidikan Islam.
Pemikiran Instrumentalisme Bruner dan Relevansinya terhadap Pembelajaran Bahasa Arab Manan Syah Putra Nasution
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5552.795 KB) | DOI: 10.30984/j.v3i1.855

Abstract

ABSTRACT: Language problems to date have always been in three aspects: linguistic, method-logical and sociological. Jerome Seymour Bruner, a linguist, describes his language thinking through instrumentalism. Therefore this study attempts to look at the concept of learning Arabic from the perspective of Bruner's instrumentalism which includes how the concept of Bruner's language instrumentalism and how relevant Bruner's instrumentalism is in learning Arabic. This qualitative research model with literature review uses philosophical, historical and psycholingu-isttic approaches with critical analytical descriptive methods. The result is the first theory of ins-trumentalism Bruner states that language is a tool for communication. Both concepts of Bruner's instrumentalism theory have quite strong relevance to contextual language learning. KEYWORDS: Bruner, Instrumentalism, Arabic Language, Learning and Relevance ABSTRAKSI: Persoalan berbahasa sampai saat ini selalu berada pada tiga aspek yaitu linguis-tik, metodologis dan sosiologis. Jerome Seymour Bruner seorang ahli bahasa menguraikan pe-mikiran bahasanya melalui teori instrumentalisme. Oleh karena itu penelitian ini berupaya me-lihat konsep pembelajaran bahasa Arab dari kacamata instrumentalisme Bruner yang meliputi bagaimana konsep instrumentalisme bahasa Bruner dan bagaiman relevansi teori instrumen-talisme Bruner dalam pembelajaran bahasa Arab. Model penelitian kualitatif dengan kajian pus-taka ini menggunakan pendekatan filosofis, historis dan psikolinguistik dengan metode deskriptif analitis kritis. Hasilnya adalah pertama teori instrumentalisme Bruner menyatakan bahwa ba-hasa merupakan alat untuk berkomunikasi. Kedua konsep teori instrumentalisme Bruner me-miliki relevansi yang cukup kuat dengan pembelajaran bahasa kontekstual. KATA KUNCI: Bruner, Instrumentalisme, Bahasa Arab, Pembelajaran, dan Relevansi
Telaah Kompetensi Guru di Era Digital dalam Memenuhi Tuntutan Pendidikan Abad Ke-21 Siti Khodijah
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5674.117 KB) | DOI: 10.30984/j.v3i1.860

Abstract

Abstaract., The 21st century is echoed as a century of knowledge-based society. Teachers as future human resource cadres are required to be total in carrying out their professional duties. Entering the era of digital technology revolution where experiencing various forms of change and shifting point of view, teacher competencies need to be questioned, first, are the core competencies of teachers outlined in competencies based on education levels and based on these subjects already representing the direction of education in the 21st century ?, second, how teacher readiness to welcome learning in this digital era? This literature review shows that teacher competence can be said to have represented the direction of education in the 21st century but still needs encouragement and stabilization of direction, while teacher readiness can be said to need further research for data accuracy.               Keyword: teacher, teacher competence, digital era, education, 21st century Abstrak., Abad ke-21 digaungkan sebagai abad masyarakat berbasis pengetahuan. Guru sebagai sosok pengkader sumber daya manusia masa depan dituntut untuk total dalam menajalankan tugas keprofesiannya. Memasuki era revolusi teknologi digital yang mana mengalami berbagai bentuk perubahan maupun pergeseran sudut pandang maka kompetensi guru perlu dipertanyakan, pertama, apakah kompetensi inti guru yang dijabarkan dalam kompetensi berdasarkan jenjang pendidikan dan berdasarkan mata pelajaran tersebut sudah mewakili arah pendidikan Abad ke-21?,kedua, bagaimana kesiapan guru dalam menyambut pembelajaran di era digital ini?. kajian literatur ini menunjukkan bahwa kompetensi guru dapat dikatakan sudah mewakili arah pendidikan Abad ke-21 namun tetap saja perlu dorongan dan pemantapan arah, sedangkan kesiapan guru dapat dikatakan perlu penelitian lebih lanjut untuk akurasi data. Kata kuci:guru, kompetensi guru, era digital, pendidikan, Abad ke-21
Program Taḥfīẓ Al-Qur’ān dan Komersialisasi Pendidikan Mutma'inah Mutma'inah
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.921 KB) | DOI: 10.30984/j.v3i1.856

Abstract

Abstract., As the trend of the memorizing The Holly Qur’an develops in Indonesian Muslim communities, now taḥfīẓ al-qur’ān has entered and become a flagship program in formal schools, especially private Islamic schools. The majority of them are the schools with fairly expensive fees. They use taḥfīẓ al-qur’ān program to attract market interest. So there is an indication that the schools are commercializing education if they use taḥfīẓ al-Qur’ān program only to get many students. In other hand quality education requires high costs. So that not always high cost schools can be categorized as commercialization only if the financing is used to facilitate the fluency of teaching-learning process, developing infrastructure and procurement of media that support the implementation of quality education. In the context of schools with taḥfīẓ al-qur’ān program, there are several benchmarks to determine wheter commercialization has occured or not. First, measured from quality of reciting Qur’an of students, the fluency, tajwīd and makhrāj al-ḥurūf. Second, measured from quality of  memorizing Qur’an of students. Third, measured from memorized quantity that has been targeted. In order taḥfīẓ al-qur’ān to become quality program and not to commercialize, the steps that must be taken are to introduce Al-Qur’an, teach love to the Qur’an, teach adab in memorizing  Qur’an and teach the values contained in the Qur’an. While what should be avoided is prioritizing memorization quantity by ignoring the quality of reciting Qur’an, tajwīd and makhrāj al-ḥurūf and prioritizing adding memorization by ignoring repetition. Both will cause taḥfīẓ al-qur’ān program to be contra-produtive and lack from Islamic education values and only burden the students.Keywords: taḥfīẓ program, taḥfīẓ al-qur’ān and Education commercializationAbstrak., Seiring berkembangnya tren menghafal Al-Qur’an di masyarakat Muslim Indonesia, kini program taḥfīẓ al-Qur’ān telah masuk dan menjadi program unggulan di sekolah-sekolah formal khususnya sekolah-sekolah Islam swasta. Sekolah-sekolah tersebut mayoritas adalah sekolah dengan biaya pendidikan yang cukup mahal. Mereka menggunakan program taḥfīẓ al-Qur’ān untuk menarik minat pasar. Sehingga ada indikasi sekolah-sekolah tersebut melakukan komersialisai pendidikan jika manfaatkan program taḥfīẓ al-Qur’ān hanya untuk mendapatkan banyak murid. Di sisi lain pendidikan berkualitas membutuhkan biaya yang tinggi. Sehingga tidak selalu sekolah dengan biaya yang tinggi bisa  dikategorikan sebagai komersialisasi hanya jika pembiayaan tersebut digunakan untuk menfasilitasi kelancaran proses belajar-mengajar, pembangunan infrastuktur dan pengadaan media yang menunjang terselenggaranya pendidikan yang berkualitas. Dalam konteks sekolah dengan program taḥfīẓ Al-Qur’ān maka beberapa tolok ukur untuk mengetahui terjadi tidaknya komersialisasi. Pertama, dinilai dari kualitas bacaan Al-Qur’an para peserta didik, kelancaran, tajwid dan makhrojul hurufnya. Kedua, dinilai dari kualitas hafalan Al-Qur’an peserta didik. Ketiga, dinilai dari kuantitas hafalan yang ditargetkan. Agar program taḥfīẓ Al-Qur’ān berkualitas dan tidak terjadi komersialisai, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah: mengenalkan Al-Qur’an, mengajarkan cinta Al-Qur’an, mengajarkan adab menghafal Al-Qur’an dan mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Sedangkan yang harus dihindari adalah lebih mengutamakan kuantitas hafalan dengan mengabaikan kualitas bacaan, tajwid dan makhorijul huruf dan mengutamakan menambah dengan mengabaikan mengulang hafalan. Karena hal-hal tersebut justru menyebabkan taḥfīẓ Al-Qur’ān menjadi kontra produktif, kering dari nilai-nilai pendidikan Islami serta hanya akan membebani anak didik.Kata kunci: program taḥfīẓ, taḥfīẓ al-qur’ān dan komersialisai pendidikan

Page 2 of 2 | Total Record : 15