cover
Contact Name
Arfan Amrin
Contact Email
Arfan Amrin
Phone
-
Journal Mail Official
jep@stiem.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Ekonomi Pembangunan STIE Muhammadiyah Palopo
ISSN : 23391529     EISSN : 2580524X     DOI : https://doi.org/10.35906/jep
Jurnal Ekonomi Pembangunan dengan nomor ISSN 2339-1529 (cetak) dan 2580-524X (online) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan dua kali dalam setahun (Januari-Juni & Juli-Desember) oleh Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Palopo. Jurnal Ekonomi Pembangunan memuat artikel-artikel hasil penelitian di bidang Ekonomi Pembangunan (Perencanaan dan Analisis Pembangunan; dan Bisnis. Jurnal ini menerima penyerahan naskah dengan berbagai topik dan tidak terbatas pada perencanaan anggaran sektor publik; perencanaan pembangunan desa; analisis kebijakan publik dan regional; akuntansi; manajemen investasi; perbankan; manajemen keuangan; pajak daerah dan retribusi; serta bisnis dan hukum bisnis.
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2025)" : 17 Documents clear
ANALISIS PENGARUH JUMLAH PENDUDUK, TINGKAT PENDIDIKAN DAN UPAH MINIMUM KABUPATEN TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN PANDEGLANG Ningtias, Cantika Dwi Maharani; Marseto, Marseto; Utami, Anisa Fitria
Jurnal Ekonomi Pembangunan STIE Muhammadiyah Palopo Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35906/jep.v11i2.2609

Abstract

ABSTRAKDi Indonesia, tantangan pengangguran masih menjadi persoalan serius, terutama di daerah dengan pertumbuhan penduduk tinggi dan keterbatasan lapangan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jumlah penduduk, tingkat pendidikan, dan upah minimum kabupaten terhadap tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Pandeglang. Ketidaksesuaian antara keterampilan pencari kerja dengan kebutuhan dunia industri menyebabkan rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja formal. Sebagian besar tenaga kerja akhirnya hanya mampu terserap di sektor informal, yang cenderung tidak stabil dan berproduktivitas rendah. Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah kebijakan Upah Minimum Kabupaten (UMK). Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan analisis regresi linear berganda menggunakan data sekunder time series tahun 2010–2024 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Pandeglang. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah tingkat pengangguran terbuka, sedangkan variabel independennya adalah jumlah penduduk, tingkat pendidikan, dan upah minimum kabupaten. Nilai R² sebesar 0,943 menunjukkan bahwa model regresi mampu menjelaskan 94,3% variasi tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Pandeglang. Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah penduduk, tingkat pendidikan, dan upah minimum kabupaten berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka. Artinya, peningkatan jumlah penduduk, tingkat pendidikan, dan upah minimum cenderung mendorong kenaikan pengangguran terbuka karena tekanan pasar tenaga kerja semakin besar, keterampilan tenaga kerja tidak selalu sesuai kebutuhan lapangan kerja, serta kenaikan upah minimum dapat menekan perekrutan tenaga kerja baru.ABSTRACTIn Indonesia, unemployment remains a serious problem, especially in areas with high population growth and limited job opportunities. This study aims to analyze the effect of population size, education level, and district minimum wage on the open unemployment rate in Pandeglang District. The mismatch between job seekers' skills and industry needs has resulted in low formal employment rates. Most workers end up being absorbed only in the informal sector, which tends to be unstable and low in productivity. Another influencing factor is the District Minimum Wage (UMK) policy. The method used is a quantitative method with multiple linear regression analysis using secondary time series data from 2010 to 2024 obtained from the Pandeglang District Statistics Agency. The dependent variable in this study is the open unemployment rate, while the independent variables are population size, education level, and the county minimum wage. The R² value of 0.943 indicates that the regression model is able to explain 94.3% of the variation in the open unemployment rate in Pandeglang County. The analysis shows that the population size, education level, and minimum wage of a district have a positive and significant effect on the open unemployment rate. This means that an increase in population size, education level, and minimum wage tends to drive up open unemployment because labor market pressures increase, labor skills do not always match job requirements, and an increase in the minimum wage can discourage the recruitment of new workers.
PENGARUH HARGA BERAS, PRODUKSI BERAS DAN PERTUMBUHAN PENDUDUK TERHADAP IMPOR BERAS DI INDONESIA TAHUN 2015-2024 Putro, M Deni Cahyono; Aziz, Khalid Fauzi
Jurnal Ekonomi Pembangunan STIE Muhammadiyah Palopo Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35906/jep.v11i2.2644

Abstract

ABSTRAKIndonesia adalah salah satu negara produsen beras terbesar di dunia, namun disisi lain Indonesia juga masih menjadi negara importir beras. Kegiatan impor beras jika diteruskan akan berdampak pada perekonomian dan kesejahteraan petani padi, hal ini disebabkan karena harga beras impor jauh lebih murah dari harga beras lokal.  Akibatnya membuat petani padi tidak dapat bersaing di pasar dan kesulitan menjual hasil panennya. Masyarakat pada umumnya memilih beras dengan harga yang lebih murah untuk memenuhi kebutuhannya. Meskipun impor beras dapat menjamin ketersediaan pangan dalam jangka pendek, namun ketergantungan berlebihan terhadap negara lain dapat mengancam stabilitas pangan dalam jangka panjang. Indonesia Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi impor beras di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan alat bantu Eviews 12. Data yang dipakai adalah data sekunder dengan sampel data time series. Populasi dan sampel dalam penelitian ini mencakup seluruh data impor beras Indonesia selama periode tahun 2015-2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; Secara parsial variabel harga beras (X1) dan jumlah penduduk (X3) berpengaruh signifikan terhadap impor beras (Y) di Indonesia. Sedangkan variabel produksi beras (X2) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap impor beras (Y) di Indonesia. Variabel harga beras (X1), produksi beras (X2) dan jumlah penduduk (X3) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap impor beras (Y) di Indonesia tahun 2015-2024.ABSTRACTIndonesia is one of the world's largest rice producers, but on the other hand, Indonesia also remains a net rice importer. Continued rice imports will impact the economy and welfare of rice farmers, as imported rice is much cheaper than local rice. Consequently, rice farmers cannot compete in the market and have difficulty selling their crops. People generally choose lower-priced rice to meet their needs. Although rice imports can ensure short-term food availability, excessive dependence on other countries can threaten long-term food stability. Indonesia This study aims to determine the factors influencing rice imports in Indonesia. This is a quantitative descriptive study, using multiple regression analysis with Eviews 12 as the analytical method. The data used are secondary data with time series samples. The population and sample in this study include all Indonesian rice import data for the period 2015-2024. The results show that: Partially, the rice price (X1) and population (X3) variables have a significant effect on rice imports (Y) in Indonesia. Meanwhile, the rice production variable (X2) partially had no significant effect on rice imports (Y) in Indonesia. The rice price variable (X1), rice production (X2), and population (X3) simultaneously had a significant effect on rice imports (Y) in Indonesia from 2015 to 2024.
STRATEGI BRANDING DAN PENATAAN PRODUK DALAM MEMBANGUN CITRA TOKO KOSMETIK VALETTESHOP Yantini, Ni Wayan Dewi; Yanti, Ni Nyoman Suli Asmara
Jurnal Ekonomi Pembangunan STIE Muhammadiyah Palopo Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35906/jep.v11i2.2669

Abstract

ABSTRAKPerkembangan industri kosmetik di Indonesia menunjukkan peningkatan pesat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penampilan dan perawatan diri. Persaingan yang semakin ketat menuntut setiap toko kosmetik untuk memiliki strategi branding dan penataan produk yang efektif dalam membangun citra positif di mata konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi branding yang diterapkan oleh ValetteShop Mataram, menelaah penataan produk dalam menciptakan daya tarik toko, serta mengkaji pengaruh keduanya terhadap pembentukan citra toko. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi visual. Informan terdiri dari kepala toko (Mbak Miss), karyawan, serta konsumen ValetteShop Mataram. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi branding ValetteShop menekankan pada konsistensi identitas merek melalui penggunaan elemen visual yang elegan, pelayanan yang ramah, serta komunikasi pemasaran yang membangun kepercayaan konsumen. Sementara itu, penataan produk dilakukan dengan konsep visual merchandising yang rapi, teratur, dan estetis, sehingga menciptakan kenyamanan serta pengalaman berbelanja yang menyenangkan. Sinergi antara strategi branding dan penataan produk terbukti memiliki hubungan positif terhadap citra toko, menjadikan ValetteShop dikenal sebagai toko kosmetik modern, profesional, dan berkelas di Mataram.ABSTRACTThe development of the cosmetic industry in Indonesia has grown rapidly along with increasing public awareness of appearance and self-care. The rising competition demands that every cosmetic store implement effective branding strategies and product arrangements to build a positive image in consumers’ minds. This study aims to analyze the branding strategy applied by ValetteShop Mataram, examine the product arrangement in creating store attractiveness, and identify the influence of both aspects on the store’s image. This research employs a descriptive qualitative method with data collected through in-depth interviews, direct observation, and visual documentation. The informants consist of the store manager (Ms. Miss), employees, and consumers of ValetteShop Mataram. Data were analyzed through the stages of data reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings show that ValetteShop’s branding strategy emphasizes brand identity consistency through elegant visual elements, friendly service, and persuasive marketing communication that foster consumer trust. Meanwhile, product arrangement is implemented through neat, organized, and aesthetic visual merchandising that creates comfort and a pleasant shopping experience. The synergy between branding strategy and product arrangement has has proven to have a positive impact on the store's image, making ValetteShop known as a modern, professional, and classy cosmetics store in Mataram.
ANALISIS BREAK EVEN POINT DALAM MENDORONG OPTIMALISASI LABA UMKM KULINER Sudirman, Sudirman; Nur, Muhammad; Usman, Usman; Ruslang T, Ruslang T
Jurnal Ekonomi Pembangunan STIE Muhammadiyah Palopo Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35906/jep.v11i2.2597

Abstract

ABSTRAKAnalisis Break Even Point (BEP) memegang peranan penting dalam memastikan keberlanjutan usaha mikro, kecil, dan menengah di sektor kuliner. Tanpa pemahaman yang memadai terhadap BEP, pelaku usaha berisiko mengalami inefisiensi biaya, kesalahan dalam penetapan harga jual, dan ketidakmampuan memproyeksikan titik impas yang berdampak pada kerugian jangka panjang. Oleh karena itu, kemampuan menganalisis BEP menjadi dasar dalam perencanaan laba dan pengambilan keputusan strategis. Penelitian ini bertujuan mengkaji tingkat pemahaman pelaku usaha kuliner terhadap analisis BEP serta mengevaluasi dampak penerapannya dalam mengoptimalkan laba. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain one group pretest and posttest serta pendekatan korelasional. Penelitian dilakukan pada Rumah Makan A2 Palekko tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam tingkat pengetahuan pelaku UMKM setelah diberikan edukasi mengenai BEP, di mana 66,67% responden berada pada kategori tinggi. Biaya tetap terbesar tercatat pada komponen gaji karyawan sebesar Rp64.000.000, sedangkan biaya variabel terbesar berasal dari bahan baku sebesar Rp294.000.000. Berdasarkan perhitungan BEP, untuk memperoleh laba sebesar Rp12.000.000, penjualan minimum yang harus dicapai adalah 913unit nasi itik, 1.227 unit nasi ayam, dan 2.780 unit nasi ikan. Temuan ini menegaskan bahwa pemahaman dan penerapan analisis BEP berperan strategis dalam meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas usaha kuliner.ABSTRACTBreak Even Point (BEP) analysis plays a crucial role in ensuring the sustainability of micro, small, and medium enterprises in the culinary sector. Without a proper understanding of BEP, businesses risk cost inefficiencies, pricing errors, and the inability to project break-even points, which can lead to long-term losses. Therefore, the ability to analyze BEP is fundamental to profit planning and strategic decision-making. This study aims to assess the level of understanding of BEP analysis among culinary businesses and evaluate the impact of its implementation on profit optimization. The research method used was a quasi-experimental approach with a one-group pretest and posttest design and a correlational approach. The study was conducted at the A2 Palekko Restaurant in 2025. The results showed a significant increase in the level of knowledge of MSMEs after being educated about BEP, with 66.67% of respondents in the high category. The largest fixed cost was recorded in the employee salary component of IDR 64,000,000, while the largest variable cost came from raw materials of IDR 294,000,000. Based on the BEP calculation, to obtain a profit of IDR 12,000,000, the minimum sales that must be achieved are 913 units of duck rice, 1,227 units of chicken rice, and 2,780 units of fish rice. These findings confirm that understanding and implementing BEP analysis plays a strategic role in increasing operational efficiency and profitability of culinary businesses.
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA NPL DAN BOPO TERHADAP ROA PADA BPR DI KOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN Aminudin, Aam; Supeno, Wangsit
Jurnal Ekonomi Pembangunan STIE Muhammadiyah Palopo Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35906/jep.v11i2.2598

Abstract

ABSTRAKBPR sebagai lembaga keuangan bank pada akhir-akhir ini cukup banyak yang menghadapi hambatan dalam kinerja operasionalnya sehingga berdampak pada menurunnya tingkat kesehatan bank dan memburuknya kinerja keuangan yang menjadi penyebab beberapa BPR dilikuidasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Berkaitan dengan hal tersebut, BPR akan dapat terus beroperasi jika memiliki kinerja keuangan dan manajemen yang sehat, efisien serta memiliki kemampuan profitabilitas yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kinerja keuangan yang sehat meliputi aktivitas penyaluran kredit dengan rasio Non Performing Loan (NPL) yang sehat sehingga dapat beroperasi secara efisien agar mampu meningkatkan profitabilitas yang diukur dengan rasio Return On Assets. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana kondisi perkembangan kinerja keuangan BPR yang diteliti menggunakan rasio NPL, BOPO dan ROA selama tahun 2022-2024 pada enam BPR yang memiliki total aset di atas 70 Miliar dengan wilayah operasional di Kota Tangerang Provinsi Banten. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kuantitatif non statistik dengan menggunakan data sekunder bersumber dari laporan keuangan publikasi diunduh dari website Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pengolahan data keuangan dalam penelitian ini memakai metode analisa rasio keuangan dengan pendekatan trend. Hasil analisis dan pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja kredit bermasalah selama empat tahun yang diukur dengan rasio Non Performing Loan telah melampaui standar industri yang sehat kecuali BPR Magga Jaya Utama dan BPR Rifi Maligi. Pada tahun 2024 BPR Hariarta Sedana dan BPR Dana Niaga dinilai tidak efisien dalam operasionalnya sehingga rasio BOPO menunjukkan tidak sehat dan rasio ROA kedua BPR tersebut negatif.   ABSTRACTRecently, many rural banks (BPR) have faced obstacles in their operational performance, resulting in a decline in bank health and worsening financial performance, which has led to the liquidation of several BPRs by the Financial Services Authority. In this regard, BPRs will be able to continue operating if they have sound and efficient financial and management performance and their profitability continues to increase from year to year. Sound financial performance includes lending activities with a healthy Non-Performing Loan (NPL) ratio so that they can operate efficiently in order to increase profitability as measured by the Return On Assets ratio. This study aims to determine the extent of the development of the financial performance of the BPRs studied using the NPL, BOPO, and ROA ratios during 2022-2024 in six BPRs with total assets above 70 billion in the operational area of Tangerang City, Banten Province. This study applies a non-statistical quantitative descriptive method using secondary data sourced from financial reports published on the Financial Services Authority (OJK) website. Financial data processing in this study uses the financial ratio analysis method with a trend approach. The results of the analysis and discussion of this study show that the performance of non-performing loans over four years, as measured by the Non-Performing Loan ratio, has exceeded healthy industry standards, except for BPR Magga Jaya Utama and BPR Rifi Maligi. In 2024, BPR Hariarta Sedana and BPR Dana Niaga were assessed as inefficient in their operations, resulting in unhealthy BOPO ratios and negative ROA ratios for both BPRs.
PEMBERDAYAAN EKONOMI KREATIF DAN KEWIRAUSAHAAN MELALUI MODAL SOSIAL DAN PERILAKU KONSUMEN DI KABUPATEN ENREKANG Potton, Zainal; Zarina, Zarina; Juliani, Juliani; Subhan, Nurul Azima
Jurnal Ekonomi Pembangunan STIE Muhammadiyah Palopo Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35906/jep.v11i2.2633

Abstract

ABSTRAK Ekonomi kreatif di Kabupaten Enrekang memiliki potensi besar namun belum berkembang optimal akibat lemahnya pemanfaatan modal sosial dan pemahaman perilaku konsumen. Kedua faktor ini penting karena dapat memperkuat kolaborasi, akses modal, dan loyalitas konsumen yang mendorong pemberdayaan ekonomi kreatif secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebijakan dan strategi pemerintah daerah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif dan kewirausahaan berkelanjutan di Kabupaten Enrekang, dengan fokus pada peran modal sosial dan perilaku konsumen. Menggunakan metode campuran (mixed methods), data dikumpulkan melalui survei, wawancara, dan analisis statistik menggunakan SPSS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal social berupa kepercayaan, jaringan, norma, dan hubungan timbal balik memperkuat kolaborasi antar pelaku usaha dan mempermudah akses terhadap modal, informasi, serta pelatihan. Perilaku konsumen, yang dipengaruhi faktor keluarga, ekonomi, dan pemanfaatan teknologi digital, turut mendorong minat berwirausaha, memperluas pasar, dan meningkatkan loyalitas konsumen, dengan promosi sebagai faktor dominan. Secara statistik, modal sosial dan perilaku konsumen berpengaruh signifikan sebesar 54% terhadap pemberdayaan ekonomi kreatif, sementara sisanya dipengaruhi kebijakan, akses modal, dan inovasi digital. Pemerintah daerah berperan melalui pelatihan, pendampingan, penguatan jejaring komunitas, serta pengembangan potensi lokal berbasis kearifan lokal (kopi arabika, beras lokal, dan olahan dangke) guna menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang kompetitif dan berkelanjutan. ABSTRACTThe creative economy in Enrekang Regency holds great potential but has not yet developed optimally due to the limited utilization of social capital and understanding of consumer behavior. These two factors are crucial as they strengthen collaboration, improve access to capital, and enhance consumer loyalty, thereby promoting sustainable creative economy empowerment. This study aims to analyze the policies and strategies implemented by the local government in supporting the growth of the creative economy and sustainable entrepreneurship in Enrekang Regency, focusing on the role of social capital and consumer behavior. Using a mixed methods approach, data were collected through surveys, in-depth interviews, and statistical analysis with SPSS. The findings show that social capital in the form of trust, networks, norms, and reciprocal relationships strengthens collaboration among creative entrepreneurs, facilitating access to capital, information, and training. Consumer behavior, influenced by family and economic motivation as well as the increasing use of digital technology and e-commerce, contributes to greater entrepreneurial interest, market expansion, and consumer loyalty, with promotion being a more dominant factor than price. Statistical analysis indicates that social capital and consumer behavior have a significant influence (54%) on the empowerment of the creative economy, while the remaining variance is explained by factors such as policy, access to finance, and digital innovation. The local government focuses on training, mentoring, community network strengthening, and the development of local wisdom-based potentials such as Arabica coffee, local rice, and dangke products to build a competitive and sustainable creative economy ecosystem
PENGARUH SOCIAL MEDIA MARKETING TERHADAP BRAND LOYALTY PADA SEPATU OLAHRAGA DI INDONESIA: PERAN MEDIASI CONSUMER BRAND ENGAGEMENT, BRAND AWARENESS, DAN SELF-BRAND CONNECTION Hidayat, Ripaldi Krisnanta; Kurniawati, Kurniawati
Jurnal Ekonomi Pembangunan STIE Muhammadiyah Palopo Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35906/jep.v11i2.2645

Abstract

ABSTRAK Pertumbuhan pesat industri sepatu olahraga di Indonesia serta meningkatnya intensitas persaingan antar merek, baik global maupun lokal, menimbulkan kebutuhan bagi merek lokal untuk memahami efektivitas social media marketing dalam membangun loyalitas merek agar mampu bersaing secara berkelanjutan. Namun, mekanisme bagaimana strategi ini berkontribusi terhadap pembentukan loyalitas belum sepenuhnya jelas. Penelitian ini menguji pengaruh pemasaran media sosial terhadap loyalitas merek dengan memasukkan consumer brand engagement, brand awareness, dan self-brand connection sebagai variabel mediasi. Menggunakan pendekatan kuantitatif, data diperoleh dari 269 pengguna media sosial aktif melalui survei online dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasaran media sosial tidak berpengaruh langsung terhadap loyalitas merek, tetapi memiliki pengaruh positif signifikan terhadap ketiga variabel mediasi. Selain itu, ditemukan mekanisme mediasi penuh, di mana keterlibatan konsumen, kesadaran merek, dan hubungan merek diri menjadi faktor yang menjembatani pengaruh pemasaran media sosial terhadap loyalitas merek. Temuan ini menegaskan bahwa pemasaran media sosial membentuk loyalitas secara tidak langsung melalui penguatan aspek psikologis konsumen. Secara praktis, penelitian ini menekankan pentingnya strategi pemasaran media sosial yang berfokus pada pembangunan hubungan emosional dan pengalaman merek yang lebih mendalam guna mendorong loyalitas konsumen secara berkelanjutan.ABSTRACTThis study examines the complex relationship between social media marketing and brand loyalty in Indonesia's sports shoe industry, investigating the mediating roles of consumer brand engagement brand awareness, and self-brand connection. Using a quantitative approach, data were collected from 269 active social media users through an online survey and analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) with AMOS. The findings reveal a critical insight: while social media marketing fails to exhibit a significant direct effect on brand loyalty, it strongly and positively influences consumer brand engagement, brand awareness, and self-brand connection. Importantly, a full mediation mechanism was identified, where these three psychological constructs completely mediate the social media marketing loyalty relationship. This indicates that social media marketing builds loyalty only indirectly by fostering engagement, enhancing awareness, and creating personal brand connections. This research offers a significant theoretical contribution by challenging conventional assumptions about direct social media marketing effects and unveiling a complete mediation model in an emerging market context. For practitioners, these findings provide crucial strategic guidance, emphasizing a paradigm shift from transactional social media marketing activities toward building meaningful psychological connections with consumers through interactive content and community building

Page 2 of 2 | Total Record : 17