cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 24, No 2 (2018)" : 7 Documents clear
PERBANDINGAN RAGAM INPUT MODEL KETINGGIAN UNTUK PEMBENTUKAN TRUE ORTHOPHOTO DI WILAYAH URBAN juniati, eli; Harintaka, Harintaka
GEOMATIKA Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2018.24-2.809

Abstract

Sejak dikemukakan pendekatan produksi orthophoto secara digital pada tahun 1988, tahun 1991 USGS (United States Geological Survey) memproduksi orthophoto digital sebagai program nasional. Terminologi orthoimage atau orthophoto merupakan proses untuk mengeliminir perspektif image dan koreksi pergeseran relief yang disebabkan oleh kondisi terrain, untuk menghasilkan image atau foto pada proyeksi orthogonal atau membuat kondisi foto menjadi tegak. Dengan demikian orthophoto tersebut memiliki skala yang konsisten dan dapat digunakan untuk menghasilkan peta planimetris. Namun, di area urban dengan keberagaman ketinggian bangunan, produksi dengan metode orthophoto akan menyebabkan efek bangunan rebah dan menutupi detil objek lain seperti jalan dan fasilitas umum. Hal tersebut dapat diatasi dengan pembentukan true-orthophoto. Terminologi true-orthophoto akan mengikutsertakan elemen surface di model ketinggian pada proses proyeksi orthogonal. Manuskrip ini membandingkan pembentukan true-orthophoto dengan beragam input model ketinggian, berupa DSM dari LiDAR, Digital Building Model (DBM) dan DSM hasil image matching, untuk melihat hasil true-orthophoto yang paling optimum. Pengerjaannya diawali dengan menyamakan sistem referensi, orthorektifikasi dan deteksi occluded yang akan menghasilkan orthophoto utama dan slave-orthophoto, koreksi radiometrik, kemudian proses refilling, pembentukan serta penghalusan mosaik. Secara geometri penggunaan ragam input ketinggian memberikan kualitas yang memenuhi standar peta dasar, namun untuk kualitas visual terbaik diperoleh dengan menggunakan input DBM yang dikombinasikan dengan DSM LiDAR. Penggunaan DSM LiDAR saja dapat juga menghasilkan true-orthophoto dengan kualitas visual baik dengan mengubah format model ketinggian menjadi TIN. Dibahas juga kelebihan dan kekurangan dari penggunaan ragam input model ketinggian.
ANALISA ASPEK LEGAL DAN GEOSPASIAL FORWARD POSITION BATAS MARITIM INDONESIA PADA PETA NKRI 2017 DI LAUT CINA SELATAN Arsana, I Made Andi; Susilo, Helik
GEOMATIKA Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.171 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2018.24-2.815

Abstract

Peta NKRI adalah peta resmi nasional Indonesia yang menggambarkan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah yang digambarkan dalam peta NKRI meliputi wilayah kedaulatan dan hak berdaulat beserta batasnya dengan negara-negara tetangga, baik yang sudah disepakati maupun yang masih memerlukan kesepakatan dengan negara tetangga. Peta NKRI telah mengalami beberapa kali pemutakhiran karena dinamika perkembangan wilayah kedaulatan dan hak berdaulat Indonesia. Setelah peta edisi 2015, peta NKRI kembali diperbaharui pada tahun 2017. Keputusan Permanent Court of Arbitration (PCA) tahun 2016 untuk kasus gugatan Filipina terhadap Republik Rakyat China (RRC) atas klaim nine dashed line di Laut China Selatan (LCS) berimplikasi pada status klaim maritim di kawasan tersebut. Berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (Law of the Sea Convention, LOSC) 1982, kawasan hak berdaulat maritim Indonesia meliputi sebagian kawasan LCS, yaitu di sebelah utara Kepulauan Natuna. Di kawasan tersebut Indonesia, secara legal, mengklaim hanya berbatasan dengan Vietnam dan Malaysia. Meskipun RRC memiliki klaim nine dashed line yang tumpang tindih dengan hak maritim di LCS, Indonesia tidak mengakui klaim tersebut sehingga Indonesia tidak berbatasan dengan RRC. Posisi Indonesia ini diperkuat dengan putusan PCA yang membatalkan klaim nine dashed line RRC. Makalah ini menganalisis klaim batas ZEE Indonesia dengan Vietnam dan Malaysia pada peta NKRI 2017 di LCS paska putusan PCA atas kasus Filipina- RRC. Analisis ini melibatkan rekonstruksi garis batas ZEE Indonesia secara geospasial di kawasan LCS dengan mengacu pada LOSC 1982 dan keputusan PCA 2016 atas kasus LCS sebagai acuan legal.
IMPLEMENTASI METODE CONVOLUTIONAL NEURAL NETWORK UNTUK KLASIFIKASI TANAMAN PADA CITRA RESOLUSI TINGGI Arrofiqoh, Erlyna Nour; Harintaka, Harintaka
GEOMATIKA Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (995.419 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2018.24-2.810

Abstract

Citra resolusi tinggi dari teknologi UAV (Unmanned Aerial Vehicle) dapat memberikan hasil yang baik dalam ekstraksi informasi sehingga dapat digunakan untuk monitoring dan updating data suatu wilayah. Pengambilan informasi dari citra dengan interpretasi visual sangat bergantung pada interpreter. Kendala utama interpretasi secara manual adalah saat melakukan pengenalan objek secara visual, khususnya pada objek tanaman pertanian. Kesalahan hasil asumsi interpreter dapat terjadi ketika citra yang diekstraksi memiliki objek yang kompleks dan memiliki karakter fisik yang hampir mirip apabila dilihat dari foto udara yang hanya memiliki band RGB (Red, Green, dan Blue). Penelitian ini mencoba mengimplementasikan pendekatan klasifikasi semantik secara otomatis yang dapat membedakan jenis tanaman sebagai alternatif pengenalan objek berdasarkan metode deep learning menggunakan Convolutional Neural Network (CNN). Metode CNN merupakan salah satu metode deep learning yang mampu melakukan proses pembelajaran mandiri untuk pengenalan objek, ekstraksi objek dan klasifikasi serta dapat diterapkan pada citra resolusi tinggi yang memiliki model distribusi nonparametrik. Pada penelitian ini, diterapkan algoritma CNN untuk membedakan jenis tanaman dengan memberikan label semantik dari objek jenis tanaman. Penelitian menggunakan 5 kelas jenis tanaman, yaitu kelas tanaman padi, bawang merah, kelapa, pisang, dan cabai. Proses learning jaringan menghasilkan akurasi 100% terhadap data training. Pengujian terhadap data validasi menghasilkan akurasi 93% dan akurasi terhadap data tes 82%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode CNN berpotensi untuk pendekatan pengenalan objek secara otomatis dalam membedakan jenis tanaman sebagai bahan pertimbangan interpreter dalam menentukan objek pada citra.
STUDI PENDAHULUAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ANALISIS MEDAN SKALA TINJAU DI SEBAGIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN Setyowati, Heratania Aprilia; Nurani, Ratna; Santosa, Sigit Heru Murti Budi
GEOMATIKA Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.23 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2018.24-2.847

Abstract

Beragam cara dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik suatu wilayah, salah satunya adalah analisis medan yang merupakan studi sistematik yang memanfaatkan data penginderaan jauh untuk menggali asal muasal, riwayat geomorfologi, dan komponen suatu bentang lahan. Tujuan dari studi pendahuluan ini untuk mengetahui karakteristik medan yang ada di sebagian daerah Sumatera Selatan melalui analisis medan dengan pembuatan sekuen medan yang berbasis citra penginderaan jauh. Citra Landsat 8 digunakan untuk mendapatkan informasi tutupan lahan dan bentuk lahan. Citra SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) digunakan untuk menghasilkan data DEM (Digital Elevation Model), hillshade, dan slope yang selanjutnya diturunkan menjadi peta topografi. Peta Geologi digunakan untuk menurunkan informasi mengenai jenis tanah. Peta arah aliran dan akumulasi air digunakan untuk menurunkan informasi kondisi drainase. Selanjutnya semua peta dioverlay dan digunakan untuk menarik garis sekuen medan sebagai dasar identifikasi karakteristik medan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan ini, dapat dikenali bahwa karakteristik medan sebagian Sumatera Selatan berbentuk lahan vulkanik, struktural dan fluvial dengan proses geomorfologi berupa erosi vertikal, transportasi, deposisi, dan sedimentasi. Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG dengan metode sekuen medan dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik medan suatu wilayah.
ANALISIS AKURASI PEMETAAN MENGGUNAKAN DIRECT GEOREFERENCING Susetyo, Danang Budi; Gularso, Herjuno
GEOMATIKA Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.419 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2018.24-1.826

Abstract

Banyak tantangan yang harus dihadapi ketika melaksanakan survei Ground Control Point (GCP). Salah satu upaya meminimalisir jumlah titik kontrol adalah melakukan pengukuran posisi dan orientasi foto udara tanpa GCP, atau disebut direct georeferencing . Penelitian ini menguji metode direct georeferenci ng terhadap data yang ada di Indonesia, sehingga nantinya dapat mengurangi jumlah penggunaan GCP. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah foto udara Palu yang diakuisisi dengan kamera RCD30, parameter Exterior Orientation (EO), dan titik Independen t Check Point (ICP). Jumlah ICP yang digunakan sebanyak 8 titik. Pengukuran langsung posisi dan orientasi sensor kamera kemudian dilakukan dengan data-data tersebut tanpa menggunakan GCP. Analisis dilakukan dari dua aspek, yaitu ketelitian hasil foto udara dan perbandingan nilai X, Y, Z antar model. Hasil statistik perataan menunjukkan nilai sigma naught = 2,7 mikron, sehingga masih masuk dalam toleransi 1 piksel. Hasil uji akurasi menunjukkan nilai 1,9 m untuk ketelitian horizontal (CE90) dan 3,6 m untuk ketelitian vertikal (LE90), sehingga ketelitian horizontal masuk pada skala 1:5.000 kelas 3 atau skala 1:10.000 kelas 1, dan ketelitian vertikal masuk pada skala 1:10.000 kelas 3 atau skala 1:25.000 kelas 1. Dilihat dari sisi konsistensi antar model stereo, rata-rata perbedaan koordinat dan elevasi pada setiap model stereo berada di bawah 0,5 m, di mana rata-rata ΔX = 0,1173 m, ΔY = 0,2167 m, dan ΔZ = 0,2793 m. Artinya, meski penggunaan metode direct georeferencing dapat mengurangi akurasi absolut, namun hal tersebut tidak berpengaruh terhadap konsistensi antar model stereonya.
STRATEGI PENGOLAHAN PENGAMATAN GPS TITIK DEFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN TITIK IKAT CORS BIG DAN IGS Nur Lail, Muhammad Hudayawan; Safii, Ayu Nur; Awaluddin, Moehammad; Wibowo, Sidik Tri
GEOMATIKA Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.409 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2018.24-2.768

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan pengolahan data pengamatan menggunakan data titik ikat global dari stasiun IGS dan titik ikat regional dari stasiun CORS BIG. Titik pengamatan stasiun CSEM, CPBL, CMGL, CPKL dengan titik ikat global menggunakan XMIS, BAKO, DARW, PIMO, PBRI, HYDE, COCO dan titik ikat regional menggunakan stasiun CPWD, CTGL, CCLP, CKBM. Hasil penelitian ini menunjukkan penggunaan titik ikat global (stasiun IGS) menghasilkan koordinat lebih teliti jika dibandingkan dengan pengolahan yang menggunakan titik ikat regional (stasiun CORS BIG) dengan nilai rata-rata standar deviasi komponen X pada strategi I dengan nilai 0,03331275 m. Komponen Y strategi I dengan nilai 0,061878417 m. Komponen Z nilai rata-rata standar deviasi strategi I 0,018297083 m. Hasil resultan kecepatan horizontal strategi I yang menggunakan titik ikat global sebelum direduksi dari Blok Sunda mencapai rentang 25-28 mm per tahun. Asumsi strategi II, penggunaan titik ikat regional tidak mendapat pengaruh dari blok yang ada menunjukkan hasil resultan kecepatan horizontal strategi II sebesar 1-3 mm pertahun. Hasil akhir nilai resultan kecepatan horizontal pada strategi pengolahan yang dilakukan, penggunaan titik ikat regional dapat mereduksi adanya pengaruh dari rotasi blok.
PERAN INFORMASI GEOSPASIAL UNTUK MENDUKUNG PEMBENTUKAN DESA Lailissaum, Andriyana
GEOMATIKA Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.383 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2018.24-2.792

Abstract

Pembentukan desa merupakan suatu proses panjang yang dilakukan dengan berbagai dasar hukum di antaranya Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang pelaksanaan UU No 6 Tahun 2014, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2017 tentang penataan desa. UU No 6 Tahun 2014 menyebutkan bahwa pembentukan desa harus melalui tahap desa persiapan. Salah satu syarat pembentukan desa adalah batas wilayah desa yang dinyatakan dalam bentuk peta desa dan telah ditetapkan dalam peraturan bupati/walikota. Selain peta tersebut, terdapat beberapa peta lain yang digunakan untuk mendukung pembentukan desa. Kesalahan dalam penggunaan informasi geospasial berupa batas wilayah dalam pembentukan desa berpotensi menimbulkan sengketa batas wilayah di masa mendatang. Sejauh ini, penelitian hanya berfokus pada peta desa untuk tujuan pembangunan desa tetapi belum menyentuh peta desa yang dimaksudkan dalam UU yang terkait dengan pembentukan desa. Penelitian ini lebih difokuskan pada peran informasi geospasial dalam pembentukan desa berdasarkan UU saat ini sehingga tidak hanya menggunakan sudut pandang teknis. Penelitian ini merupakan penelitian kebijakan yang dilakukan dengan metode diskriptif kualitatif yang menggunakan beberapa peraturan perundang-undangan terkait dengan pembentukan desa, batas wilayah, dan informasi geospasial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan informasi geospasial dalam pembentukan desa. Hasil dari penelitian ini adalah inventarisasi permasalahan terkait dengan penggunaan informasi geospasial dalam pembentukan desa beserta dengan solusinya. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peran informasi geospasial dalam pembentukan desa sangat penting. Hanya saja belum ada kebijakan yang mengatur secara detil tentang spesifiasi peta-peta yang diperlukan dalam pembentukan desa.

Page 1 of 1 | Total Record : 7