cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 10, No 2 (2008)" : 8 Documents clear
SPATIAL DISTRIBUTION OF WOOD EXTRACTION RISK IN RUVU NORTH FOREST RESERVE TANZANIA Sumarga, Elham
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1625.14 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2008.10-2.328

Abstract

Deforestation and forest degradation have been occurring rapidly in Ruvu North Forest Reserve (RNFR), Tanzania. The main cause of deforestation in this area is tree biomass (wood) extraction for charcoal and fuel wood. The objective of this study is to produce the md extraction risk map of RNFR reflecting the spatial distribution of the risk. The wood extraction risk map of RNFR was generated by combining and weighting four input maps: biomass risk map, distance risk map, accessibility risk map and slope risk map. Respectively, 34% and 45%o areas of RNFR have high and medium wood extraction risk. It means that wood extraction activities potentially will be continuous in the most parts of RNFR area.Keywords : Wood extraction risk, wood extraction risk map, spatial modeling, Ruvu North Forest Reserve. ABSTRAKDeforestasi dan kerusakan hutan telah berlangsung secara cepat di di Ruvu North Forest Reserve (RNFR),Tanzania. Penyebab utama deforestasi di kawasan tersebut adalah pngambilan biomas pohon (penebangan) untuk pembuatan arang dan kayu bakar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat peta kerawanan penebangan pohon di RNFR yang menggambarkan distribusi spasial dari tingkat kerawanan tersebut. Peta kerawanan penebangan pohon ini dibuat dengan mengkombinasikan empat peta input, yaitu peta kerawanan berdasarkan potensi pohon (biomas), peta kerawanan berdasarkan jarak, peta kerawanan berdasarkan akesisbilitas dan peta kerawanan berdasarkan kondisi topografi. Penggabungan keempat peta input tersebut disertai dengan pembobotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara berurutan 34% dan 45% areal dl RNFR memiliki tingkat kerawanan penebangan pohon yang tinggi dan sedang. Hal ini berarti bahwa kegiatan penebangan pohon berpotensi untuk terus terjadi di masa masa yang akan datang di sebagian besar areal di RNFR.Kata kunci: Tingkat kerawanan penebangan pohon, peta kerawanan penebangan pohon, spatial modeling, Ruvu North Forest Reserve.
SUMBERDAYA IKAN PELAGIS DAN DAERAH PENANGKAPANNYA DI INDONESIA Nugroho, Duto; Atmadja, Suherman Banon
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2328.713 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2008.10-2.324

Abstract

Analisis pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis di beberapa perairan pantai menunjukkan tekanan penangkapan yang cenderung tinggi, sedangkan tekanan penangkapan di kawasan lepas pantai relatif dinamis dimana perubahan struktur armada dengan inovasi menuju efisiensi yang tinggi terus berkembang untuk mencapai keberhasilan secara komersial. Peningkatan ketersediaan informasi peramalan daerah penangkapan ikan yang semakin dirasakan perlu untuk meningkatkan peluang keberhasilan pemanfaatannya. Daerah penangkapan ikan yang semakin jauh dari pangkalan menyebabkan terjadinya perpindahan armada antar wilayah dan interaksi antar alat tangkap. Kondisi ini mengarah pada perlunya kepastian keberadaan sediaan ikan sebagai elemen utama dalam pemananfaatan sumberdaya. Adakah upaya pelacakan daerah penangkapan ikan sebagai bagian dari skema efisiensi operasional pemanfaatan sumberdaya ikan laut di Indonesia ? merupakan pertanyaan yang memerlukan pemikiran secara komprehensif berlandaskan bukti-bukti ilmiah didalam menjawabnya. Pendekatan kehati-hatian dalam penyampaian informasi perlu diupayakan, mengingat sebagian besar hasil tangkapan ikan pelagis berada pada ukuran yang belum dewasa. Tulisan ini menggambarkan status pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis dan daerah penangkapannya bedasarkan himpunan hasil penelitian yang telah dilakukan.Kata Kunci : lkan Pelagis, Daerah Penangkapan, Efesiensi ABSTRACTAnalysis on the use of pelagic fish resources rn some coastal area showed a high catchment, while the catchment in offshore marine area was relatively dynamic where structure change of the ship with innovation to high efficiency was developed to reach commercial success. More information to predict regions to catch fishes is needed in order to increase the chance to succeed. Regions far away from the shore will cause the ships to -:.e and the catching equipments to interact. This condition leads to the need to know for sure the availability of fishes as the main element in the resource utilization. ls there any effort to determine fish catchment areas as part of operational efficiency scheme in utilization of fish resource in Indonesia? is a question that needs a comprehensive thought that is scientifically proven. Careful approach in information dissemination needs to be performed because most pelagic fishes caught were still immature. This paper describes the status of pelagic fishes utilization and their catchment areas based on previously done researches.Keywords: Pelagic Fish, Fishing Areas, Efficiency
NERACA SUMBER DAYA LAHAN SPASIAL UNTUK MENGUKUR DINAMIKA POTENSI LAHAN PERTANIAN PANGAN DAERAH DI KABUPATEN BANGGAI DARAT Sumartoyo, Sumartoyo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1490.468 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2008.10-2.329

Abstract

Perubahan lahan sangat berpengaruh pada keberlanjutan ketahanan pangan nasional. Penyusunan neraca sumber daya lahan spasial merupakan salah satu cara untuk mengetahui ketersediaan lahan pertanian baik nasional maupun daerah. Penerapan teknologi penginderaan jauh dan SIG digunakan untuk menyusun neraca sumber daya lahan spasial kabupaten Banggai Darat. Aktivitas analisis spasial yang dilakukan adalah overlay peta peta penggunaan lahan spasial, kawasan hutan, dan tata ruang wilayah. Penyusunan Neraca Sumber Daya Lahan Spasial dapat digunakan sebagai evaluasi dan monitoring kebijakan pembangunan. Kabupaten Banggai Darat terletak di provinsi Sulawesi Tengah memiliki luas 9.672,70 km2 dan potensi sumber daya lahan pertanian lahan basah seperti sawah irigasi teknis (14.158,93 ha), sawah irigasi sederhana (2.250,00 ha), dan sawah tadah hujan (2.023,00 ha). Potensi pertanian lahan kering seperti tegalan (7.110,00 ha), ladang (23.961,00 ha). Dalam kurun waktu 4 tahun, perubahan penggunaan lahan di Kab. Banggai Darat berpengaruh pada lahan pertanian basah. Berdasarkan neraca sumber daya lahan spasial tahun 2003 - 2007 diketahui bahwa terjadi pengurangan terhadap hutan (65.189), sawah irigasi teknis (1 .131 ,07 ha) , tegalan ( 1 .255 ha) , dan ladang (815 ha). Akivitas penduduk berorientasi pertanian non tanaman pangan dengan bertambahnya lahan kebun campuran 1.104,79 ha, perkebunan besar 10.428,79 ha. Hal ini menunjukkan bahwa lahan Kab. Banggai Darat cenderung menjadi bukan pertanian tanaman pangan.Kata Kunci : Neraca Sumber Daya Lahan Pertanian, Lahan Sawah ABSTRACTLand change problems are highly influent to the national food defense sustainability. Spatial land resource balance is one way to understand the agriculture land .availability both national and regional. Remote sensing and GIS technologies were used to compose the spatial land resource balance of Banggai Darat regency. Spatial analysis activities were included overlay of maps of land use spatial balance, forest status, and land use spatial plant are. By spatial land resource balance, evaluation and monitoring of regional development can be conducted continuously. Banggai Darat Regency located in the Central Sulawesi Province, has 9.672,7 km2a area and good agriculture land potentials such as technical irrigated rice fields (14.158,93 ha), irrigated rice fields (2.250 ha), unirrigated rice fields (2.023ha) and dry land cultivation ("teggalan" 7.110 ha and “lading" 23.961.ha). ln the last 4 years, land use change of Banggai Darat Regency was appeared which gave some influences to wet land cultivations. Base on spatial land resource balance in 2003 2007, there were decreasing of some land use, such as forests (65.189 ha); irrigated rice fields (1,131.07 ha) and dry lands (2,070 ha). In the opposite, mixed plantation areas and big estates increased about 1,104.79 ha and 10,428.79 ha respectively. This is indicated that land use change of Banggai Darat Regency tends to non-food plantation. Keywords : Agriculture Land Resources Balance, Wet Land Cultivations
ANALYSIS OF CATCH-FISHERIES MANAGEMENT AFTER TSUNAMI Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1487.407 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2008.10-2.325

Abstract

The earthquakes and tsunamis often occurred in Indonesia. An impact of these unwanted natural disaster was predicted to increase the number of poor fishermen and to decrease their welfare. This prediction is not absolutely true. However, a proper application of economic policy on fisher after earthquakes and tsunamis can be a momentum to improve fishermens welfare in the long term. The objective of this paper is to study the impact of earthquakes and tsunamis to fishermen’s welfare based on theory of marine economic resources. After Earthquakes is expected to increase the stock of fisheries, which will lead to improvement of fishermen’s prosperity in the future.Keyword: Fisheries, Management, Bioeconomic, Earthquakes, Tsunami, PangandaranABSTRAKGempa bumi dan tsunami sering terjadi di Indonesia. Dampak bencana alam yang tidak diinginkan ini diperkirakan akan meningkatkan jumlah nelayan miskin dan mengurangi kesejahteraan nelayan. Prediksi ini tidak sepenuhnya benar. Namun, aplikasi yang tepat dari kebijakan ekonomi perikanan paska gempa bumi dan tsunami dapat menjadi momentum untuk memperbaiki kesejahteraan nelayan dalam jangka panjang. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mempelajari dampak gempa bumi dan tsunami terhadap kesejahteraan nelayan berdasarkan teori sumber daya ekonomi (laut). Pasca gempa bumi diperkirakan akan meningkatkan stok perikanan, yang akan mengarah pada peningkatan kesejahteraan nelayan di masa depan.Kata Kunci: Perikanan, Manajemen, Bioeconomi, Gempa Bumi, Tsunami, Pangandaran.
MARINE AND COASTAL RESOURCES AND THE ECONOMIC VALUES OF TOGEAN ISLANDS, CENTRAL SULAWESI Suwarno, Yatin; Nahib, lrmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1883.291 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2008.10-2.330

Abstract

The location of the research is Togean Island, located in the middle of Tomini Bay, Province of Central Sulawesi - Indonesia. The objectives of the research are: to know the present potential, the degradation trend, and the economic values of marine and coastal resources at Togean Island. The methods for resources inventory used remote sensing and geographic information system technologies. Resources economic valuation by using travel cost method, effect on production method, and benefit transfer method. The results of this research are especially for coral reef and mangrove ecosystem. The total area of coral reef ecosystem at Togean island is 36,834.12 Ha, can be classified as 30,116.71 Ha (81%) of coral reef, 1,343.24 Ha (4%) of sea grass, and 5,374.17 (15/r) of sand. Within ten year (1997-2007), coral reef has decreased 91.07 Ha, but sea grass and sand have increased 25.46 Ha and 65.61 Ha. The kinds of coral reef typologies completed: fringing reef, barrier reef, path reef, and atoll. Economic values of coral reef ecosystem as ecotourism based on travel cost method was Rp. 1,6 649,062.000/year (US $ 1,664,906.2/year) and coral fish production based effect on production was Rp 68,417,000/year (US $ 6,841.7/year). The total area of mangrove ecosystem at Togean Island was 11,932.81 Ha, and were classified into 4 (four) classes: low density area was 2,979.52 Ha (24.97%), moderate density area was 1,504.95 Ha (12.61%), high density area was 4,046.74 (33.91%^), and non-forest was 3,228.65 Ha (27.06%). Within ten years (1997-2007), low density mangrove has decreased 1,485,836 Ha; non forest has decreased 2,651,855 Ha. Otherwise, mangrove moderate density and mangrove high density have increased 3,244,543 Ha and 1,005,475 Ha. One of mangrove ecosystem direct use value is potency of mangrove crab (Scitta serrata), with the total benefit of Rp. 3,465,600,000/year (US$ 346,560/year). Indirect use value based on replacement cost for coastline buffer (break water) was Rp. 467,723,000,000/year (US $ 46,772,300/year)Keywords : Marine and Coastal Resources, Economic ValueABSTRAKLokasi penelitian adalah Kepulauan Togean, yang terletak di tengah Teluk Tomini Provinsi Sulawesi Tengah Indonesia. Tujuan dari penelitian adalah: untuk mengetahui potensi sekarang, tren degradasi, dan nilai-nilai ekonomi dari sumberdaya laut dan pesisir di Kepulauan Togean. Metode untuk inventarisasi sumber daya digunakan remote sensing dan teknologi sistem informasi geografis. Penilaian ekonomi sumber daya dengan menggunakan metode biaya perjalanan, efek pada metode produksi, dan keuntungan metode transfer. Hasil dari penelitian ini adalah terutama bagi ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove. Luas wilayah ekosistem terumbu karang di Kepulauan Togean 36,834.12 Ha dapat diklasifikasikan sebagai terumbu karang 30,116.71 Ha (81%), rumput laut adalah 1,343.24 Ha (4%), dan pasir adalah 5,374.17 (15%). Selama sepuluh tahun (1997-2004), terumbu karang penurunan 91,07 Ha, tetapi rumput laut dan pasir meningkat 25,46 Ha dan 65,61 Ha. Jenis -jenis terumbu karang tipologi selesai: renda karang, karang penghalang jalan karang, dan atol. Nilai ekonomi ekosistem terumbu karang sebagai ekowisata didasarkan pada metode biaya perjalanan sebesar Rp. 16,649,062.000/tahun (US $ 1,664,906.2/tahun) dan produksi ikan karang efek didasarkan pada produksi adalah Rp 68.417.000/tahun (US $ 6,841.7/tahun). Luas wilayah ekosistem mangrove di Kepulauan Togean 11,932.81 Ha, dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelas: daerah kepadatan rendah adalah 2,979.52 Ha (24,97%), kawasan kepadatan sedang 1,504.95 Ha (12,61%), daerah kepadatan tinggi adalah 4,046.74 ( 33,91%), dan non hutan adalah 3,228.65 Ha (27,06%). Selama sepuluh tahun (1997-2007), kepadatan rendah bakau penurunan 1.485.836 Ha; non penurunan hutan 2.651.855 Ha. Jika tidak, moderat mangrove mangrove kerapatan dan kepadatan tinggi meningkat 3.244.543 Ha dan 1.005.475 Ha. Salah satu ekosistem mangrove nilai pakai langsung potensi mangrove adalah kepiting (Scilla serrata), total keuntungan adalah Rp. 3.465.600.000/tahun (US $ 346.560 / tahun). Nilai pakai tidak langsung didasarkan pada biaya penggantian untuk penyangga pantai (break air) adalah Rp. 467.723.000.000/tahun (US $ 46.772.300 / tahun).Kata Kunci: Pesisir dan Laut, Sumber Daya, Nilai Ekonomi 
OBSERVASI PENGARUH ENSO TERHADAP PRODUKTIVITAS PRIMER DAN POTENSI PERIKANAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA SATELIT DI LAUT BANDA Sukresno, Bambang; Suniada, komang lwan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2245.526 KB)

Abstract

Observasi pengaruh ENSO terhadap produktifitas primer dan potensi perikanan dengan menggunakan data satelit di Laut Banda telah dilakukan. Data yang digunakan adalah data satelit yang dianalisis untuk mendapatkan nilai suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a dan PAR. ENSO di representasikan oleh index ENSO. Sedangkan data penangkapan ikan didapat dari laporan bulanan dinas perikanan provinsi Maluku. Data timeseries di tampilkan dalam bentuk grafik untuk mengetahui pengaruh musim terhadap fluktuasi parameter lingkungan. Produktifitas primer di kalkulasi dengan Vertically Generalized Production Model (GPM). Penghitungan dugaan potensi perikanan dilakukan dengan Fish Production Model. Dari hasil analisa didapati bahwa SST dan Chl-a di Laut Banda saling berkorelasi dengan koefisien korelasi- 0.918, dan berfluktuasi dipengaruhi oleh musim. Rata-rata produktifitas primer bulanan mulai meningkat pada bulan Juni yaitu pada musim timur dan mencapai puncak pada bulan Agustus. Produktifitas primer mempunyai korelasi yang kuat dengan chl-a dengan koefisien 0.999), sedangkan korelasinya dengan ENSO 0.331083. Dugaan potensi perikanan di Laut Banda pada tahun 2004 adalah 426.790,47 ton, pada tahun 2005 adalah 380.468.70 ton dan tahun 2006 adalah 445.103,29 ton. Tingkat pemanfaatan potensi perikanan di Laut Banda pada tahun 2004 adalah 54.63%, lalu menigkat tajam menjadi 96.20% pada tahun 2005 dan pada 2006 menjadi 98.22%, Koefisien korelasi antara hasil tangkapan dan perubahan musiman menunjukkan nilai yang kecil yang berarti bahwa potensi perikanan tidak dipengaruhi oleh perubahan musim sehingga dapat dikatakan bahwa potensi perikanan selalu tersedia dan dapat ditangkap sepanjang tahun di Laut Banda.Kata Kunci: ENSO, Produktifitas Primer, Potensi Perikanan, Data SatelitABSTRACTObservation on the influence of ENSO to fishery primary productivity and potency using satellite data at Banda Sea has been done. Data used were satellite data that were analized get sea surface temperature, chlorophyl-a concentrate and PAR. ENSO was represented by ENSO index while fish catch data were gathered from the monthly report of the Fishery agency of Maluku Province. Time series data were displayed in graphs to see the influence of seasons to the fluctuation of environment parameter. Primary productivity were calculated using Vertically Generalized Production Model (VGPM). The prediction of fishery production were done using Fish Production Model. The analysis showed that SST and Chl-a at Banda Sea were correlated with coefficient of 0.918, and it was fluctuated depending on the seasons. The average monthly primary productivity started to rise in June, which is in east season, and reached its peak in August. The primary productivity had strong correlation with Chl-a with coefficient of 0.999, while its correlation with ENSO only 0.331083. The fisher potency at Banda Sea in 2004 was predicted 426,790.47 tons, in 2005 was 380,468.70 tons and in 2006 was 445,103.29 tons. Utilization of the fishery potency at Banda Sea in 2004 was 54.63%, then significantly rised to 96.20% in 2005 and became 98.22% in 2006. Correlation coefficient between fish catchment and season change showed a small value which means that the fishery potency was not influence by season change. Therefore it could imply that the fishes are always available at Banda Sea all year long.Keyword: ENSO, Primary Productivity, Fishing Potential, Satellite Data
A PRELIMINARY STUDY OF NON USE VALUE OF THE SIAK RIVER BASIN Priyatna, Fatriandi Nur; Muliawan, Irwan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.049 KB)

Abstract

The objective of this paper is to study the intrinsic value or non-use value of the Siak River Basin, especially the existence value and the bequest value. The research used CVM (Contingent Valuation Method), with a survey conducted to have WTP (the willingness to pay). This method used total benefit technique as a base to calculate the willingness fo pay. The results showed that socio economic profile of Siak River was noted by 31 to 40 years old respondents with low educational level (mostly unfinished elementary degree), 11 to 20 years experience, and the average of annual income was IDR 8,600,748 per respondent. While total non-use value at the Siak River Basin was IDR 320,026,519 per year, with existence value was IDR 101,129,717 per year and bequest value was IDR 218,896,802 per year. The result also showed that development in the educational sector should be taken into account as a set of resource management option. Better educational level along with better resource condition will give better perception for the resource sustainability. Meanwhile, environmental degradation level is also indicated by the low existence value.Keywords: Non Use Value, CVM, Siak River.ABSTRAKTujuan dari tulisan ini adalah menghitung nilai intrinsik sumberdaya atau non use value dari sumberdaya Sungai Siak, terutama nilai keberadaan (existence) dan nilai pelestarian (bequest) sumberdaya. Penelitian menggunakan survey dan teknik CVM (contingent valuation method) untuk mendapatkan nilai kesediaan membayar dari responden atau WTP (willingness to pay). Metode ini menggunakan teknik total manfaat sebagai dasar dalam menghitung besaran kesediaan membayar. Hasil penelitian.menunjukkan karakteristik sosial ekonomi responden, ditandai sebagian besar responden berumur antara 31 hingga 40 tahun dengan tingkat pendidikan rendah (umumnya tidak tamat sekolah dasar). Pengalaman usaha responden berkisar antara 11 hingga 20 tahun dan pendapatan rala-rata responden sebesar Rp 8.600.748 per tahun. Hasil analisis juga menunjukkan besaran total-non use value sebesar Rp 320.026.519 per tahun, terdiri dari nilai keberadaan (existence) sebesar Rp 101.129.717 per tahun dan nilai pelestarian (bequest) sebesar Rp 218.896.802 per tahun. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan harus menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari opsi pengelolaan sumberdaya. Tingkat pendidikan yang lebih baik dan diiringi oleh lingkungan sumberdaya yang juga lebih baik akan memberikan persepsi yang lebih baik terhadap pentingnya keberlanjutan sumberdaya. Hal lainnya juga menjadi catatan bahwa rendahnya nilai keberadaan (existence) menjadi salah satu indikasi dari telah semakin terdegradasinya sumberdaya itu sendiri.Kata kunci : Nilai Non Use, CVM, Sungai Siak
MODEL SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN/PENUTUPAN LAHAN DENGAN PENDEKATAN CELLULAR AUTOMATA: STUDI KASUS DAS GIDANAU, PROVINSI BANTEN Munibah, Khursatul
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2776.891 KB)

Abstract

Cellular Automata (CA) merupakan salah satu pendekatan untuk memodelkan perubahan penggunaan lahan yang berbasis pada data spasial dan bersifat dinamik sehingga model ini dapat memprediksi penyebaran penggunaan lahan secara spasial. lnput data untuk membangun model ini adalah peta penggunaan lahan multiwaktu (1982, 1994 dan 2006) dan peta kesesuaian lahan saat ini. Simulasi dilakukan pada 3 model yang menggunakan Transitional Probability Matrix (TPM) berbeda. Pengalokasian penggunaan lahan pada setiap piksel dilakukan dengan mendasarkan pada penggunaan lahan periode sebelumnya, penggunaan lahan tetangganya dan kesesuaian lahannya. Peta prediksi penggunaan lahan divalidasi dengan peta penggunaan lahan aktual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang layak untuk memprediksi penggunaan lahan di tahun 2018 dan 2030 adalah model dengan TPM 1994-2006 pada iterasi ke-12 (berdasarkan nilai kappa). Perubahan penggunaan lahan selama periode 2006-2030 diprediksi masih di bawah 5% per 12 tahun.Kata Kunci: Cellular Automata, Model, Spasial, DAS Cidanau ABSTRACTCellular Automata (CA) is one of many scientific approaches to build land use change modeling based on spatial data and it has a feature on dynamic of times, so that it can, predict future distribution of land use spatially. The data used as input to create model wen multitemporal land use maps (1982, 1994 and 2006) and land suitability maps. Simulation was applied on three models with differences in term of Transitional Probability Matrix (TPM). Land use allocation on each pixels based on its previous land use and those of its neighbors and also its land suitability. Maps of predicted land use were validated using actual, land use map. The result indicated that the acceptable model was using TPMlssa-26., on 12" iteration (based on kappa value). This model was used to predict land use in 2018 and 2030. For the period of 2006-2030, the land use changes are predicted to be less than 5% per 12 years.Keywords : Cellular Automata, Model, Spatial, Cidanau Watershed

Page 1 of 1 | Total Record : 8