cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 11, No 1 (2009)" : 8 Documents clear
ANALISIS KLASIFIKASI OBJEK PENUTUP DASAR PERAIRAN LAUT DANGKAL MENGGUNAKAN CITRA ALOS AVNIR-2 Nurdin, Nurjannah; Hidayatullah, Taufik; AS, M. Akbar
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1891.704 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.333

Abstract

lnformasi mengenai obyek penutup dasar perairan laut dangkal sangat penting untuk diketahui dalam pengelolaan daerah pesisir dan laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan distribusi obyek penutup dasar perairan laut dangkal dengan menggunakan citra Alos AVNIR-2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2008 yang meliputi tahap persiapan, survei dan pengambilan data lapangan, pengolahan awal, pengolahan tanjut dan pengolahan akhir pemrosesan citra. Hasil klasifikasi citra menuniukan Atos AVNIR-2 dapat membedakan 10 tipe obyek perairan laut dangkal, yaitu: l) lamun dan pasir, 2) lamun, 3) pecahan karang dan pasir, 4) karang mati ditumbuhi alga dan pasir, karang mati, 5) karang keras dan karang mati ditumbuhi alga, 6) pecahan karang dan pasir, 7) lamun, alga dan pasir, 8) pecahan karang, 9) pasir dan karang mati ditumbuhi alga, 10) pasir. Jenis obyek penutup dasar perairan dangkal di Pulau Kalukalukuang secara berurut didominasi oleh karang mati, lamun dan pasir bercampur pecahan karang.Kata Kunci: Laut Dangkal, Citra Alos AVNIR-2, Pulau Kalukalukuang ABSTRACTInformation about the bottom object of shallow water is important to know which is ultimately beneficial as the material for the management of coastal and marine areas. The aim of this study is to determine the types and distribution of sea bottom characteristics area in shallow water using satellite imagery Alos AVNIR-2. The study was conducted in June 2008 in Kalukalukuang Island which included the preparation stage, survey and field data acquisition, preprocessing, middle processing and final processing of the image processing. The results of image classification analysis showed that Alos AVNIR-2 was capable to distinguish of 10 types of sea bottom characteristics in the shallow waters. They are 1) sea grass mixed with sand, 2) sea grass, 3) rubbers mixed with sand, 4) dead coral with algae mixed with sand, 5) hard coral and dead coral with algae, 6) rubbers mixed with sand (above the water surface), 7) sea grass, algae mixed with sand, 8) rubbers, 9) sand, and rubbers with algae, 10) sand. Characteristics of sea bottom in the shallow water of Katukalukuang lsland were dominated by dead coral, sea grass and sand with rubbers.Keywords: Shallow Water, Alos AVNIR-2 imagery, Kalukalukuang Island
SINKRONISASI DATA TEMATIK KE DALAM SATU SISTEM PEMETAAN DASAR TEMATIK Riadi, Bambang; Rusmanto, Adi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2252.084 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.338

Abstract

Perbedaan waktu penyusunan peta dan bervariasinya sumberdaya manusia dan peralatan yang digunakan, mengakibatkan antar peta tematik tidak mempunyai keakuratan yang sama, walaupun peta-peta tersebut meliput daerah yang sama. Lokasi dan bentuk kenampakan titik, garis, dan area lyang seharusnya divisualisasikan sama pada lembar yang berbeda, pada kenyataannya mempunyai perbedaan yang sangat berarti. Kondisi ini mengakibatkan munculnya perbedaan pada setiap peta perencanaan di suatu daerah sehingga perlu dilakukan sinkronisasi data peta tematik ke dalam satu sistem pemetaan.Kata Kunci: Data Tematik Kehutanan, Sosialisasi, Citra Satelit, Kabupaten Murungraya ABSTRACTThe time difference in the preparation of maps and varied human resources and equipments used, have result the different accuracy among thematic inter-crates, although the maps cover the same area. Appearance of points, lines and areas which should be visualized in the same format for different map sheets, in fact has very significant differences. This condition causes productions of different regional planning maps for different regions. Therefore, it is important to synchronize the thematic data into a single thematic mapping system.Keywords: Forest Thematic Data, Socializations, Satellite Imagery, Murungraya District
NERACA SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN SEBAGAI LANDASAN KEBIJAKAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN Muliawan, lrwan; Reswati, Elly; Munajati, Sri Lestari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2673.718 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.334

Abstract

Pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan merupakan tuntutan pembangunan dewasa ini, oleh karena itu pengukuran dan pengindikasian kondisi lingkungan menjadi hal penting. Neraca sumberdaya merupakan salah satu indikator perkembangan pengelolaan sumberdaya dipandang mampu untuk memberikan informasi tersebut. Setidaknya neraca tersebut juga memuat tiga paradigma pembangunan, yakni; keberpihakan sosial, efisiensi ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, dibuat tulisan ini dengan tujuan menerapkan konsepsi penyusunan neraca sumberdaya kelautan dan perikanan sebagai salah satu indikator kinerja pembangunan kelautan dan perikanan.Secara garis besar, prosedur penelitian ini menggunakai teknik valuasi ekonomi sumberdaya yakni konsep Total Economic Valuation (TEV), untuk mendekati nilai ekonomi sumberdaya. Kondisi sosial dan lingkungan didapat dari koleksi  peta dan data tabutar (data sekunder) dari dinas terkait. Hasit penelitian ini berupa teridentifikasinya multiuse dari sumberdaya di Kompleks Danau Tempe yaitu penggunaan lahan oleh beberapa jenis kegiatan pemanfaatan dalam lokasi yang sama, tergantung tinggi muka air danau. Selain itu diketahui pula nilai ekonomi sumberdaya tersebut dan terakhir berupa penyusunan neraca sumberdaya yang memuat status sosial, nilai ekonomi dan kondisi lingkungan di sumberdaya tersebut. Sebagai bahan evaluasi pengembangan neraca sumberdaya ini, berupa upaya menemukan klasifikasi dari item-item yang akan diamati dalam perkembangan pengelolaan sumberdaya yang ada, karena model ini lebih memandang sudut tipologi sumberdaya sebagai satuan sumberdaya yang akan diamati. Kemungkinan model ini akan berbenturan dengan kepentingan yang berlingkup pada satuan administratif wilayah otonomi seperti kabupaten, atau kecamatan, sehingga perlu bagi pengelola wilayah otonomi memandang sumberdaya sebagai satu kesatuan yang utuh.Kata kunci : Neraca Sumberdaya, Valuasi Ekonomi Total, Sumberdaya Kelautan dan Perikanan ABSTRACTSustainable resource management is development demand in nowadays. Therefore, measurement and indicating on environment condition become important issues on this subject. Resource balance is one of the resource management indicators that can be implied to give the information. The balance can imply three development paradigms at least, such as social tendency, economic efficiency, and environment sustainability. Based on these paradigms, the purpose the paper is to apply the concept of marine and fishery resource balance as one of the performance indicators on marine and fishery development. Generally, the research procedure is using resource economic valuation technique that is Total Economic Valuation (TEV), used to approach resource economic value. Social condition and environment data is collected from map collection and other secondary data in related institution. The research result are multi use identification from Danau Tempe basin resource that is land use by some land use activities in the same site. In addition, it also shows resource economic value and resource balance concept that contains social status, economic value, and environment condition in that resource. The evaluation resource balance development material is the urgency on effort to identify and to find the items list on classification column from the balance model. Since the balance model gives a tendency on resource topology point of view as resource unit that will be analyzed. There will be a possibility that the balance will collide with the interests in administrative scope on autonomy area such as district or sub-district. So it is necessary for autonomy stakeholders to see resources in integrated way.Keywords: Resources Balance, Total Economic Valuation, Fisheries and Marine Resources
TINGKAT OPTIMAL PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN KERAPU DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA Sari, Yesi Dewita; Nababan, Benny Osta
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2544.699 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.335

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui jumlah hasil tangkapan ikan kerapu yang optimal dengan menggunakan analisis dinamis. Penelitian dilakukan di wilayah Kepulauan Seribu meggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan nelayan yang melakukan penangkapan ikan kerapu dengan menggunakan alat tangkap pancing dan bubu. Data sekunder diperoleh dari kantor kecamatan, bupati dan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta. Data sekunder dianalisis selama 14 tahun mulai tahun 1990 sampai tahun 2004. Model surplus produksi CYP untuk pendugaan parameter biologi dan analisis dinamis untuk pendugaan tingkat optimal. Dengan menggunakan analisis dinamis (social discount rate = 8,61%), tingkat optimal pengelolaan sumberdaya ikan kerapu di perairan Kepulauan Seribu DKI Jakarta adalah pada tingkat upaya penangkapan 107 unit setara dengan bubu, jumlah hasil tangkapan 37,38 ton per tahun dan manfaat ekonomi 892 juta rupiah per tahun. Tingkat pemanfaatan yang dilakukan oleh nelayan baik dilihat dari jumlah alat tangkap yang digunakan maupun hasil yang didaratkan telah menunjukkan kondisi tangkap lebih sehingga diperlukan kebijakan pemerintah untuk membatasi tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan kerapu tersebut.Kata kunci: Pengelolaan Optimal, Kepulauan Seribu, Kerapu, Analisis Dinamis ABSTRACTThis research was aimed to known groupers optimal exploitation using dynamic analysis. The research was conducted in Seribu Islands using primary and secondary data. Primary data were collected from by interviewing fisherman using hook line and trap to catch fishes. While secondary data were collected from sub district, district and marine, fisheries and animal husbandry agency of DKI Jakarta Province. Data series of 1990 to 2004 were also analyzed. Surplus production model which was developed by Clark, Yoshimoto and Pooley (CYP) was used to estimated biology parameters and dynamic analysis to estimated optimal exploitation rate. Optimal exploitation of groupers fishery management were 107 unit fishing effort, 37,38 ton per year productions and Rp 892.000.000 economic rent per year based on 8,61 % of social discount rate. Exploitation rate by fishermen seen from the number of equipments used and the number of fishes caught in Seribu Islands had indicated over exploitation so that government policy to limit the fishing effort should be imposed. Keyword: Management Optimal, Seribu Islands, Grouper, Dynamic Analysis
PERANAN IDS DALAM MANAJEMEN BENCANA Soeryamihardia, R Danoe
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1380.256 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.339

Abstract

Secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada petemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Putau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah. Kondisi tersebut bisa berdampak positif sekaligus juga rawan bencana seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, dan gerakan-tanah. Disisi lain bencana banjir, langsor, kekeringan lebih banyak disebabkan karena campur tangan manusia yang hal ini dapat dievaluasi dalam penataan ruang baik daerah maupun nasional. Penanganan bencana melibatkan kegiatan sebelum terjadi bencana, saat terjadi bencana dan sesudahnya. Semua kegiatan tersebut membutuhkan pengelolaan informasi yang baik sehingga penanganan bencana dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Data adalah hal yang sangat penting untuk memberikan masukan dalam penanganan bencana. Untuk itu kecepatan dalam memperoleh data, kesahihan, kepercayaan dan tingkat kepercayaan data sangat diperlukan. Serta data tersebut dapat dipakai/berbagi bersama (sharing data). IDS sangat penting karena memungkinkan pengguna mendapatkan informasi yang diinginkan tanpa harus menghabiskan waktu, biaya dan tenaga untuk mencari, atau membuat data yang diinginkan. Peranan IDS datam manajeman bencana akan banyak membantu baik dalam fase mitigation, preparedness, response dan fase recovery.Kata Kunci: Manajemen Bencana, berbagi bersama, Infrastruktur Data Spasial (IDS).ABSTRACTGeographically, Indonesia is an archipelago that ties at the confluence of four tectonic plates which are continent plates of Asia and Australia, and ocean plates of Indian and Pacific Oceans. In southern and eastern parts of Indonesia there is a belt of volcanic (volcanic arc) that extends from the island of Sumatra, Java, Nusa Tenggara, Sulawesi, which are in the side of old volcanic mountains and lowlands. These conditions can have positive impact as well as vulnerability to disasters such as earthquakes, volcanic eruptions, tsunamis, and soil movements. On the other side floods, landslides, and drought are mostly caused by human intervention which can be evaluated through both regional and national spatial planning. Disaster management involves pre-disaster, when disaster strikes and post-disaster. All these activities require good information management so that disaster management can be done effectively and efficiently. The data is very important to Provide input in disaster management. For that purpose it is important to quickly obtain data which are valid, reliable and trustworthy and that the data can be shared among involved institutions. SDI is very important because it allows users to get the desired information without having to spend time, money and effort to find, or create the desired data. The role of SDI in disaster management will be much helpful in the phase of mitigation, preparedness, response and recovery.Keywords: Disaster Management, Sharing Data, Spatial Data Infrastructure (SDI)
ANALISIS EKONOMI KETERKAITAN PEHUBAHAN HUTAN MANGROVE DAN UDANG DI KECAMATAN BELAKANG PADANG KOTA BATAM Nahib, lrmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1540.991 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.336

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir yang mempunyai peran yang sangat penting dalam mendukung kegiatan produktivitas perikanan, sebagai tempat pembesaran dan tempat pemijahan berbagai jenis biota air, termasuk udang. Data penginderaan jauh merupakan data yang penting dalam penghitungan nilai ekonomi ekologi hutan mangrove, terutama untuk data luas hutan mangrove. Berdasarkan data luas hutan mangrove, kajian ini bertujuan menganalisis hubungan dinamik keterkaitan hutan mangrove dan udang dampak dari perubahan luas hutan mangrove. Berdasarkan hasil analisis data mangrove tahun 1994-2007 di wilayah Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, dengan menggunakan data luas hutan mangrove time series dari penutupan lahan ekosistem mangrove, menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara luas hutan mangrove dengan produksi udang, dengan model persamaan h=0.0018988E(M)-0.000009197E2. Peningkatan luas hutan mangrove per km2 menyebabkan kenaikan produksi udang sebesar 4,057 ton. Berdasarkan hasil analisis simulasi dari efek kehilangan luas hutan mangrove pada kondisi open akses, areal mangrove yang mengalami penurunan marjinal per km2 akan menyebabkan kehilangan produksi udang sebesar 29 kg dan menyebabkan kehilangan pendapatan sebesar Rp. 4,871 juta.Kata Kunci: Ekosistem Mangrove, Produksi Udang, Dinamika Ekologi-Ekonomi, Data SpasiaABSTRACTMangrove ecosystem is one of coastal ecosystems which has very important role to support fishery productivity as habitat of nursery and spawning ground for aquatic biota including shrimp. Remotely sensed data is important data input for calculating economic value of mangrove ecology, especially for inventory of mangrove forest area. Based on spatial data, this study is directed to explore the dynamic interlink age between mangrove forest and shrimp as a result of mangrove forest degradation. The analysis of 1994-2007 data on mangrove at Belakang Padang District, Batam City, using time series of land cover data of mangrove ecosystem showed that there is strong relation between mangrove area and productivity of shrimp. The increasing area of mangrove per square km could improve productivity of shrimp by 4.057 ton. The decline of one km2 of mangrove reduced productivity of shrimp by 29 kg causing the loss of gross revenue of Rp. 4,871 billion.l Keywords : Mangrove Ecosystem, Shrimp Production, Dynamic of Ecology-Economic, Spatial Data
KEBUTUHAN DATA SPASIAL KELAUTAN DAN KETERBATASAN METODA INDERAJA DALAM MENDUKUNG PEMETAAN SUMBERDAYA KELAUTAN Gaol, Jonson Lumban; Arhatin, Risti Endriani; Zamani, Neviaty P; Madduppa, Hawis
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1195.507 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.332

Abstract

Kelangkaan data spasial kelautan merupakan permasalahan mendasar dalam perencanaan pembangunan kelautan di negara berkembang seperti lndonesia. Untuk mengatasi permasalahan ini, teknologi inderaja menjadi salah-satu alternatif pilihan. Salah satu ekosistem laut yang mengandung kekayaan sumberdaya alam adalah ekosistem terumbu karang. Pemanfaatan data inderaja untuk pemetaan ekosistem terumbu karang telah diperkenalkan di lndonesia sejak tahun 90-an dan saat ini sudah umum digunakan di Indonesia. Namun demikian, data inderaja mempunyai keterbatasan untuk memetakan objek terumbu karang karena berada hingga kedalaman tertentu yang tidak ada penetrasi cahaya. Pola distribusi terumbu karang yang mengikuti geomorfologi dasar perairan sangat mempengaruhi hasil penginderaan. Hasil penelitian di kepulauan Una-una Togean menuniukkan bahwa interpretasi dari citra satelit tidak menggambarkan kondisi terumbu karang yang sesungguhnya.Kata Kunci: Data Spasial, Kelautan, Inderaja, Terumbu Karang ABSTRACTThe lack of marine spatial data is the fundamental problems in marine development planning in developing countries like Indonesia. We need remote sensing technology to be one alternative option to get over this problem. A coral reef ecosystem is one of the marine ecosystems that contain a rich of marine resources. Utilization of remote sensing data for napping coral reef ecosystems have been introduced in Indonesia since the 90’s and now is commonly used in Indonesia. However, the remote sensing data has limitations for coral reef napping object being in a certain depth into which has no light penetration. Distribution patterns of coral reef following the bottom geomorphology of water influence the sensory results. The results of research conducted in the Una-una Togean Island showed that the coral reef map derived satellite images did not describe the real condition of the reef. Keywords: Spatial Data, Marine, Remote Sensing, Coral Reef
FOREST FRAGMENTATION ANALYSIS AND ITS RELATIONSHIP WITH FOREST DEGRADATION Darmawan, Mulyanto
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2222.324 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.337

Abstract

Borneo tropical rain forest (BTRF), for many years, has been subject for timber extraction, agriculture, and plantation expansion. Although it has experienced land conversion, complete pictures of the effect of forest degradation of the remaining forest are poorly understood. As its condition is necessary for evaluating total forest condition, therefore understanding of the relationship between fragmentation and degradation are important. Initially, forest fragmentation analysis was applied to understand geometrical shape of forest after long period of forest clearance. Finally the fragmentation analysis was applied to calculate proportion of forest (Pof) and forest connectivity to non-forest (Cot). Forest area was extracted from land cover classification using Landsat data and six categories of fragmentation metric (interior, perforated, edge, transitional, patch and undetermined) were developed in this study. Result showed that if the remaining forest was characterized with interior forest pattern, the less forest degradation had threatened, however, if the remaining forest had characteristic as patch, transition and perforated patterns, moderate to high level of forest degradation had been threatening.Kata Kunci: Analisis Fragmentasi Hutan, Degradasi Hutan, Hutan Hujan TropisABSTRACTHutan Hujan Tropis di wilayah Borneo (Kalimantan) sudah lama menjadi target sumber kayu, ataupun ekspansi lahan pertanian dan perkebunan. Meski telah berulang kali mengalami pengalihan dan perubahan hutan, akan tetapi gambaran yang lengkap tentang degradasi hutan alami yang tinggal masih sulit dipahami. Memahami kondisi degradasi hutan tersebut sangat diperlukan dalam upaya evaluasi kondisi hutan Kalimantan sepenuhnya, maka diperlukan pemahaman hubungan antara fragmentasi hutan dan tingkat degradasi hutan. Dalam study ini, pertama kali analisa fragmentasi dilakukan untuk mengetahui bentukan geometris hutan tropis yang ada yang merupakan hasil proses konversi hutan telah berlangsung lama. Selanjutnya, analisa Framentasi dilakukan untuk menghitung proporsi hutan (Pof) dan koneksi hutan dengan penggunaan lahan lain yang bukan hutan (Cof). Data hutan bersumber dari hasil klasifikasi tersedia (supervised classification) land cover atas citra satelit Landsat. Enam kategori metric fragmentasi digunakan dalam studi ini yaitu : interior, perforated, edge, transitional, patch dan undetermined. Hasil studi menunjukkan hubungan antara karateristik geometris hutan dengan kondisi hutan degradasi, yaitu apabila hutan yang ada mempunyai bentukan geometris interior maka kecil kemungkinan degradasi hutan terjadi. Namun, apabila hutan yang ada ditandai dengan bentukan geometris patch, transition dan perporated, maka dapat disimpulkan telah terjadi proses degradasi intensif terhadap hutan tersebut mulai dari kategori sedang hingga tinggi.Keywords : Forest Fragmentation Analysis, Forest Degradation, Tropical Rain Forest 

Page 1 of 1 | Total Record : 8