cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 17, No 1 (2015)" : 11 Documents clear
PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERKEBUNAN TEBU DI KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR Osly, Prima Jiwa; Widiatmaka, Widiatmaka; Pramudya, Bambang; Murtilaksono, Kukuh
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.311 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.216

Abstract

Lahan merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam pengusahaan perkebunan, karena lahan merupakan media tumbuh bagi tanaman. Pemanfaatan sumber daya lahan perlu disesuaikan dengan kondisi agroekologinya, agar usaha pertanian dapat berkelanjutan. Usahatani tebu merupakan praktek penggunaan lahan komersial monokultural yang sering menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati pertanian (agrobiodiversity). Penelitian ini difokuskan pada pemilihan lahan yang tepat dan diprioritaskan untuk penanaman tebu. Integrasi pendekatan Multi Criteria Decision Making (MCDM) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) menyediakan sistem pendukung keputusan spasial yang kuat dan efisien untuk menghasilkan peta kesesuaian lahan dan prioritas pengembangan kawasan serta untuk menganalisis data spasial dan membangun proses untuk pendukung keputusan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis prioritas pengembangan kawasan perkebunan tebu dan melakukan analisis ketersediaan lahan untuk kawasan perkebunan Tebu. Penelitian ini menggunakan metode Multi Criteria Decision Making (MCDM) berbasis Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG). Berdasarkan hasil analisa total areal yang berpotensi dimanfaatkan untuk kawasan perkebunan tebu tersebut adalah sebesar 121.484,83 ha atau 21,48% dari total daratan Kabupaten Seram Bagian Timur. Total areal tersebut terbagi pada kelas Prioritas I sebesar 76.751,79 ha (63,18%), kelas Prioritas II sebesar 41.807,84 ha (34,41%) dan kelas Prioritas III sebesar 2.925,21 ha (2,41%).Kata kunci: Tebu, MCDM, AHP, SIG, PrioritasABSTRACTLand is one of the most important production factors in plantation industry, because the land is a growing medium for plants. Utilization of land resources needs to be adapted to its agro-ecology conditions, in order to be sustainable. Sugarcane farming is a monoculture commercial land use practices that often lead to a decrease in agricultural biodiversity. This study focused on the selection of appropriate land and prioritized for planting sugarcane. Integration of Multi Criteria Decision Making (MCDM) and Geographic Information System (GIS) provides a powerful and efficient spatial decision support system to produce land suitability maps and regional development priorities as well as to analyze spatial data and build process for decision support system. The purpose of this study is to analyze the regional development priorities of sugarcane plantations and analyze the availability of land for sugarcane plantation area. This study uses the Multi Criteria Decision Making (MCDM) based Analytical Hierarchy Process (AHP) with the help of Geographic Information System (GIS). Based on analysis of the total area that could potentially be used for sugarcane plantation area amounted to 121,484.83 ha (21.48%) of the total land area in Seram Bagian Timur Regency. The total area was divided to the class Priority I of 76,751.79 ha (63.18%), class Priority II at 41,807.84 ha (34.41%) and class Priority III of 2,925.21 ha (2.41%).Keywords: Sugarcane, MCDM, AHP, GIS, Priority
VALIDASI GEOID EGM2008 DI JAWA DAN SUMATRA DENGAN MENGGUNAKAN PARAMETER MEAN DYNAMIC TOPOGRAPHY (MDT) PADA GEOID GEOMETRIS Pangastuti, Dyah; Sofian, Ibnu
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1087.37 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.231

Abstract

Kebutuhan akan datum vertikal yang akurat di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra sangat mendesak karena pada kedua pulau tersebut banyak dilakukan pembangunan infrastruktur. Saat ini referensi tinggi yang tersedia di Pulau Jawa dan Sumatra adalah geoid EGM2008 (Pavlis dkk, 2008). Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan ketelitian geoid EGM2008 di Pulau Jawa dan Sumatra dengan menggunakan data hasil model laut. Sementara itu, hasil penelitian terdahulu (Ramdani, 2013) menunjukkan bahwa geoid EGM2008 di Pulau Jawa dan Sumatra memiliki ketelitian 89,8 cm dan 33,4 cm. Hasil validasi ini diperoleh dari asumsi bahwa mean sea level (MSL) berhimpit dengan geoid. Pada kenyataannya geoid tidak berhimpit dengan MSL.Validasi geoid EGM2008 yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan mean dynamic topography (MDT) sebagai salah satu parameter pada penghitungan geoid geometris. MDT yang digunakan adalah hasil simulasi dari assimilasi altimetri dan HYbrid Coordinate Ocean Model (HYCOM). Berdasarkan hasil penelitian, dengan memasukkan parameter MDT pada penghitungan geoid geometris dan melakukan fitting terhadap jaring kontrol vertikal (JKV), diperoleh ketelitian geoid EGM2008 di Jawa dan Sumatra meningkat menjadi 5,6 cm dan 4,4 cm. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa geoid EGM2008 sudah mencukupi untuk pemetaan skala besar dan menengah.Kata kunci:MDT, Geoid, HYCOM, EGM2008ABSTRACTDue to the rapid infrastructure development in Java and Sumatra islands, accurate vertical reference is required. Until now, EGM2008 is the only geoid available as the vertical reference that used in Java and Sumatra (Pavlis et al, 2008). The purpose of this research is to investigate the accuracy of the EGM2008 by using ocean model. On the other hands, the previous research results (Ramdani, 2013) shows that the accuracy of geoid EGM2008 are 89.8 cm and 33.4 cm for Java and Sumatra Islands, respectively. That accuracies were calculated using the comparison between EGM2008 and geometric geoid with assumption that mean sea level (MSL) coincides with geoid. In fact, geoid does not always coincide with the MSL. Therefore, validation of the EGM2008 in this research was conducted by introducing parameter of mean dynamic topography (MDT) in order to calculate the geoid geometric. The MDT was obtained from simulation of assimilated data between altimetry and HYbrid Coordinate Ocean Model (HYCOM).The result of this research shows the geometric geoid calculation by including the MDT in Java and Sumatra Islands could increase the accuracy of EGM2008 by 5.6 cm and 4.4 cm in Java and Sumatra Islands, respectively, after fitting it into the vertical control network (JKV). Based on the spatial resolution and its accuracies, it can be concluded that geoid EGM2008 is adequate to be used as reference on large and medium scale mapping.Keywords: MDT, Geoid, Hycom, EGM2008
DETECTION THE VEGETATION CHANGES USING MODIS SATELLITE BASED ON THE CHOICE OF VEGETATION INDICES AND LAND COVER TYPES Darmawan, Yahya
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.152 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.212

Abstract

Nowadays, Breaks for Additive Seasonal and Trend (BFAST) method based on time series of Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) satellite data is increasingly used to monitor the temporal dynamics of vegetation changes. Nevertheless, sensitivity of the BFAST method for detecting the vegetation cover changes based on the choice of vegetation indices and land cover types has not been widely investigated. Breaks for Additive Seasonal and Trend (BFAST) method has applied to MODIS 16-day Enhance Vegetation Index (EVI) and Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) composites images (2000-2014) of three land cover types (Urban and Built-Up, Evergreen Broadleaf Forest and Savannah) within Australia. Overall, the number and time of changes detected in the three land cover types differed with both time series data because of the data quality due to the cloud cover. As conclusion, the EVI is more sensitive than NDVI for detecting the seasonal and abrupt changes for the land cover which has the dense vegetation and large canopy background such as evergreen broadleaf forest. Furthermore, NDVI is more reliable to detect the seasonal and abrupt changes that occurred in land cover types which have sparse vegetation such as urban, built-up area and savannah.Keywords: Additive Model, BFAST, EVI, NDVI, MODISABSTRAKSaat ini, Metode Breaks for Additive Seasonal and Trend (BFAST) berdasarkan data satelit Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) telah banyak diaplikasikan untuk melakukan monitoring terhadap perubahan dinamis dari tutupan vegetasi. Namun, sensitifitas BFAST untuk mendeteksi perubahan vegetasi berdasarkan pilihan indeks vegetasi dan jenis tutupan lahan yang berbeda belum banyak dilakukan. Metode Breaks for Additive Seasonal and Trend (BFAST) telah diaplikasikan dengan menggunakan data Enhanced Vegetation Index (EVI) dan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dari satelit MODIS 16-harian terhadap tiga jenis tutupan lahan (perkotaan dan lahan terbangun, hutan berdaun lebar dan padang rumput) di wilayah Australia untuk periode data tahun 2000 - 2014. Secara umum, hasil deteksi metode BFAST berbeda untuk setiap tutupan lahan baik dari segi jumlah dan waktu yang dipengaruhi oleh kualitas data karena adanya tutupan awan di lokasi penelitian. Dapat disimpulkan bahwa EVI lebih sensitif digunakan dalam mendeteksi adanya perubahan musiman dan mendadak pada tutupan lahan dengan vegetasi yang rapat dan berkanopi lebar seperti hutan tropis. Sedangkan NDVI lebih sensitif digunakan untuk mendeteksi komponen musiman dan perubahan mendadak terutama untuk tutupan lahan yang memiliki vegetasi jarang seperti perkotaan, lahan terbangun dan padang rumput.Kata kunci: Additive Model, BFAST, EVI, NDVI, MODIS
APLIKASI DATA INDERAJA DAN SIG UNTUK PERCEPATAN PENETAPAN BATAS ADMINISTRASI: Studi Kasus Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia Niendyawati, Niendyawati; Hidayatno, Lulus
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.01 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.232

Abstract

Sebagai konsekuensi adanya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah adalah semakin bertambahnya jumlah pemerintah daerah karena pemekaran wilayah. Hal ini berimplikasi pada bertambahnya segmen batas antar daerah. Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa batas antar daerah di seluruh Indonesia belum semua ditegaskan melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri). Oleh karena itu perlu dilakukan percepatan penetapan batas antar daerah, dimana hal ini juga menjadi agenda prioritas pemerintahan yang baru. Salah satu alternatif dalam percepatan penetapan batas adalah dengan memanfaatkan data inderaja dan Sistim Informasi Geografis (SIG), menggunakan metode kartometris. Data inderaja yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) dan citra SPOT 5 yang telah dilakukan proses ortorektifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan identifikasi secara teknis segmen batas antar provinsi dan menguji pemanfaatan citra inderaja dan SIG dalam membantu percepatan penetapan batas administrasi antar provinsi di Kalimantan Tengah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan citra SPOT 5 dan SRTM dengan metode kartometris membantu mempercepat proses penetapan batas antar provinsi di Kalimantan Tengah. Oleh karena itu metode ini sangat direkomendasikan dalam upaya percepatan pemetaan batas administrasi. Percepatan penetapan batas berkontribusi dalam mempercepat pembentukan kepastian hukum dan mengurangi konflik horizontal di Indonesia.Kata kunci: citra inderaja, SIG, metode kartometris, batas administrasiABSTRACTEnactment of the Law No. 23 Year 2014 on Regional Government gives consequence on the increasing number of local governments due to regional administrative growth. This condition brings implications to an increase on boundaries segment between regions. The Ministry of Home Affair stated that the boundaries between regions throughout Indonesia have not been completely confirmed by Minister of Home Affair Regulatory. Therefore, it is necessary to accelerate the establishment of boundaries between the regions, where it has also become a priority agenda of the new government. One alternative on accelerating the boundaries delimitation is by utilizing remote sensing data and Geographical Information Systems (GIS), using cartometric method. Remote sensing data used in this study were orthorectified Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) data and SPOT 5 imagery. The aim of this study was to identify technical boundary segments between provinces and evaluate the use of remote sensing imagery and GIS for accelerating the determination of administrative boundaries between provinces in Central Kalimantan Province. Results of this study indicated that the use of SPOT 5 imagery and SRTM data using cartometric method could speed up the process of boundaries delimitations between provinces in Central Kalimantan. Therefore, this method is recommended to accelerate the administrative boundaries mapping. The acceleration of the delimitation contributes to speed up the establishment of legal certainty of the boundaries and reduce horizontal conflicts in Indonesia.Keywords: remote sensing imagery, GIS, cartometric method, administration boundary.
RISIKO BANJIR PADA LAHAN SAWAH DI SEMARANG DAN SEKITARNYA Hartini, Sri; Hadi, M. Pramono; Sudibyakto, Sudibyakto; Poniman, Aris
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.572 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.218

Abstract

Lahan sawah di wilayah Semarang dan sekitarnya berada pada dataran rendah pesisir yang rawan banjir, baik yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi maupun rob. Analisis risiko banjir diperlukan karena banjir merupakan ancaman bagi lahan sawah. Banjir dapat menyebabkan berkurangnya produktivitas lahan sawah, bahkan lahan sawah akan rusak dan tidak dapat ditanami padi jika tergenang banjir secara permanen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko banjir genangan pada lahan sawah berdasarkan kondisi bahaya dan kerentanannya. Lingkup penelitian mencakup analisis bahaya, kerentanan, dan risiko banjir genangan pada lahan sawah. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), peta Sistem Lahan, citra penginderaan jauh resolusi tinggi, data curah hujan, debit sungai, tinggi pasang air laut, data statistik Potensi Desa (PODES), data statistik pertanian dan laporan banjir. Analisis kerawanan banjir merupakan gabungan antara kerawanan banjir genangan yang disebabkan oleh hujan dan rob. Analisis kerentanan banjir menggunakan data statistik PODES 2008 dan laporan kejadian banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir genangan rob merupakan ancaman dan berisiko pada pengurangan lahan sawah di wilayah ini. Selama periode 1994 – 2009 lahan sawah telah berkurang seluas 8.508,50 ha. Sebagian lahan sawah yang tergenang rob secara permanen telah dialihfungsikan ke penggunaan lain.Kata kunci: banjir genangan, rob, sawah, risikoABSTRACTPaddy field in Semarang and its surrounding areas are situated in low-lying flood-prone coastal area, whether caused by heavy rainfall and high tide. Flood risk analysis is required because flooding in this area is considered as a threat to the paddy field. Floods can lead to reduction of the paddy fields‟ productivity, even damaging and cannot be planted with rice if flooded occurred permanently. This study aimed to analyze the risk of flood inundation in paddy fields based on hazard and vulnerability factors. The scope of the research includes analysis of hazards, vulnerabilities, and risks of flood inundation in the paddy fields. The data used in this study consisted of topographic and land systems maps, high-resolution satellite remote sensed imageries, rainfall data, river discharge, tides, and statistical data of Village Potential (PODES), statistical data of agriculture and flood reports data. The analysis of flood vulnerability is a combination of flood vulnerability caused by high rainfall and tides. The flood vulnerability analysis conducted by using PODES 2008 statistical data and flood incidencereports. The results showed that the tidal flood inundation is the main threat and provide risk on the reduction of the paddy fields in this area. During the period of 1994 – 2009, the paddy field has been reduced by 8,508.50 hectares. Some of the paddy fields that have been flooded permanently due to tides have been converted to other uses.Keywords: flood inundation, tidal flood, paddy field, risk
KERENTANAN PESISIR TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI TIMUR LAUT PROVINSI BALI Putra, Aprizon; Husrin, Semeidi; Tanto, Try Al; Pratama, Roka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.26 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.217

Abstract

Secara garis besar, morfologi pesisir timur laut Bali dikategorikan sebagai “Mountainous Coast" yaitu pesisir yang terbentuk dari aktivitas gunung api Tersier-Resen dari gunung Agung (3.142 mdpl). Sungai-sungai yang bermuara umumnya bersifat sub radial karena pengaruh gelombang dan arus laut lebih dominan dari arus sungai, maka beberapa sungai mengalir sejajar dengan garis pantai (spit) sebelum bermuara ke laut. Pengaruh endapan sungai dan gunung api menyebabkan pesisir timur laut Bali memiliki sedimen pasir hitam, kerakal dan bongkah yang terbentuk oleh proses-proses vulkanik. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui zona wilayah pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim di timur laut Bali. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan Indeks Kerentanan Pesisir (IKP) dimana data-data yang digunakan terdiri dari data geospasial dan data oseanografi yang diolah menjadi angka-angka secara kuantitatif. Hasil analisa data penelitian menunjukkan, pesisir timur laut Bali dikategorikan sebagai wilayah dengan kerentanan pesisir sedang – sangat tinggi, dimana dari 20 titik pengamatan dengan panjang garis pantai ± 60 km memperlihatkan hasil IKP untuk Profil 3 dan 9 memiliki kerentanan sangat tinggi ( > 4), sedangkan untuk Profil 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, dan 20 memiliki kerentanan tinggi (3 – 4), dan Profil 10, 15 memiliki kerentanan sedang (2 – 3).Kata kunci: kerentanan pesisir, perubahan iklim, timur laut BaliABSTRACTIn general, morphology of the northeastern coast of Bali is categorized as "Mountainous Coast" which is a coastal that was formed by volcanic activity Tersier-Resen from Mount Agung (3.142 mdpl).The rivers that empties to the sea generally in a sub radial form due to the influence of waves and ocean currents are more dominant than the rivers, hence several rivers flowi parallelly toward the coastline (spit) before emptying into the sea. Effect of stream sediment and volcanic cause the northeastern coastal Bali contains black sand sediment, gravel and boulders were formed by volcanic processes. The purpose of this study was to determine the coastal zone areas in the Northeastern Bali that are vulnerable to climate change. The method used was a Coastal Vulnerability Index (CVI) where the data used consisted of geospatial and oceanographic data that were processed into quantitative figures. Results of analyses shows that the northeastern coastal Bali categorized as coastal regions with moderate to very high vulnerability. Among the 20 observation points along ± 60 kms coastline,the CVI in Profile 3 and 9 show a very high vulnerability (> 4), while CVI at Profile 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19 and 20 show high vulnerability (3 – 4), and CVI at Profile 10, 15 show moderate vulnerabilities (2 – 3).Keywords: Coastal Vulnerability, Climate Change, Northeastern Bal
IDENTIFIKASI LAHAN TAMBANG TIMAH MENGGUNAKAN METODE KLASIFIKASI TERBIMBING MAXIMUM LIKELIHOOD PADA CITRA LANDSAT 8 Catur, Udhi; Susanto, Susanto; Yudhatama, Dipo; Mukhoriyah, Mukhoriyah
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.147 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.213

Abstract

Timah merupakan salah satu jenis bahan tambang dimana aktivitas tambang timah di Indonesia telah berlangsung lebih dari 200 tahun dengan jumlah cadangan yang cukup besar. Cadangan timah ini tersebar dalam bentangan wilayah sejauh lebih dari 800 kilometer yang disebut The Indonesian Tin Belt. Pulau Bangka dan Belitung dikenal sebagai daerah penghasil timah (Sn) terbesar di Indonesia dan merupakan bagian dari Jalur Mineralisasi Logam di Indonesia bagian barat. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui akurasi hasil identifikasi lahan tambang timah secara digital menggunakan metode klasifikasi terbimbing maximum likelihood dibandingkan identifikasi lahan tambang secara visual. Ciri-ciri lahan tambang timah pada citra Landsat 8 dengan kombinasi RGB 753 yaitu mempunyai warna coklat terang sampai dengan putih cerah, tekstur kasar, memiliki pola teratur, mengelompok, dan mengikuti pola sungai, memiliki ukuran lahan yang sangat luas, bentuknya memanjang yang berupa poligon-poligon, dan terdapat kubangan air/kolong yang berwarna biru muda sampai tua. Total akurasi pada confussion matrix antara klasifikasi terbimbing maximum likelihood dengan klasifikasi visual adalah 90,5%, nilai akurasi Kappa 0,51, dan user‟s accuracy lahan tambang timah sebesar 50,02%. Total akurasi lebih dari 85% menunjukkan metode maximum likelihood sudah mampu membedakan antara lahan tambang dengan non tambang. Data kuantitatif yang dihasilkan belum bisa dijadikan acuan karena masih ada kesalahan hasil klasifikasi, tetapi sudah cukup menggambarkan secara spasial. Untuk meningkatkan akurasi hasil klasifikasi perlu dipilih komposisi band yang tepat dan training sampel yang baik.Kata kunci: timah, lahan tambang, Landsat 8, klasifikasi terbimbing, maximum likelihoodABSTRACTTin is one type of economic mineral, tin mining activity in Indonesia has lasted more than 200 years with a fairly large number of reserves. Tin reserve spread over an area more than 800 kilometers, called “the Indonesian Tin Belt”. Bangka and Belitung islands known as the producer of tin (Sn), the largest in Indonesia and part of the Mineralization Zone in western Indonesia. This study aimed to determine the accuracy of the results digitally identification of tin mining area using maximum likelihood supervised classification method compared to visual identification of tin mining area. Characteristics of tin mining area on Landsat 8 imagery in combination of RGB 753 which has a light brown color to bright white, coarse texture, has a regular pattern and follows the pattern of the river, has a large size with elongated shape, and there were puddles of water with bright until dark blue color. Total accuracy in the confusion matrix between the maximum likelihood supervised classification with visual classification is 90.5%, the Kappa value is 0.51, and user‟s accuracy of tin mining area is 50,02%. The total accuracy is more than 85%, indicates the maximum likelihood method has been able to distinguish between the non-mining with tin mining area. Quantitative data generated can not be used as a reference because there are some errors in the classification results, but already quite describe spatially. To improve the accuracy of the classification need to be selected right band composition and good training samples.Keywords: tin, mining, Landsat 8, supervised classification, maximum likelihood
ANALISIS NERACA SPASIAL HUTAN MANGROVE DI WILAYAH PROBOLINGGO Yuwono, Doddy M.; Cahyo, Anggoro; Hartini, Sri; Suprajaka, Suprajaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.887 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.214

Abstract

Mangrove Pulau Jawa telah mengalami degradasi yang cukup signifikan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Permasalahan tersebut diperparah dengan terbatasnya ketersediaan data spasial yang memadai untuk mengetahui besar maupun laju perubahan/penurunan luas hutan mangrove. Analisa neraca spasial digunakan untuk mengetahui perubahan lahan mangrove. Ketersediaan data spasial yang terbatas dan bersumber dari beragam data citra, menjadi masalah dalam penyediaan data geospasial untuk analisa neraca karena terdapat perbedaan karakter pada data citra yang digunakan. Penelitian ini mendemonstrasikan dan mengkaji bagaimana penggunaan sumber citra dengan perbedaan karakteristik spasial dan spektral untuk analisa neraca spasial perubahan lahan mangrove dengan mengambil lokasi kasus sebagian area mangrove di Probolinggo Jawa Timur. Penelitian ini memberikan indikasi bahwa ketidakpastian dalam data spasial perlu diperhitungkan dalam analisis atau pemetaan neraca spasial. Citra SPOT 4 liputan tahun 2006/2007 digunakan sebagai data awal atau data aktiva yang menunjukkan kondisi awal sumber daya mangrove, sedangkan citra GeoEye dan Quickbird tahun 2010/2011 digunakan sebagai data akhir/pasiva. Metode yang digunakan adalah interpretasi citra dengan metode gabungan antara klasifikasi digital unsupervised dan interpretasi visual, serta dilengkapi dengan kerja lapangan dan generalisasi data spasial. Proses penyusunan neraca dengan membandingkan antara data aktiva dan pasiva. Penyesuaian model data vektor atau generalisasi dilakukan untuk mendapatkan perbandingan yang sama antara dua layer vektor hasil klasifikasi yang bersumber dari dua data citra yang berbeda. Metode generalisasi yang diterapkan adalah aggregate polygon, smoothing polygon, dan simplify polygon. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa luasan sebagian area mangrove di Kota Probolinggo mengalami penurunan sebesar 0,52 km2 atau 38,8%, dan penurunan area mangrove di Kabupaten Probolinggo sebesar 0,41 km2 atau 16,7%. Pemetaan neraca menggunakan dua sumber citra dengan karakteristik spasial dan spektral yang berbeda, dapat menghasilkan kualitas pemetaan yang kurang dapat diandalkan (26,35 m) dibandingkan dimensi piksel citra (20 m) yang digunakan sebagai input analisis.Kata kunci: mangrove, neraca spasial, generalisasiABSTRACTMangrove forest in Java Island has been significantly degrading and experiencing deforestation in the last 20 years. Limited spatial data and information is one of the difficulties in analyzing mangrove forest change and deforestation rate.Spatial balance derived from various digital satellite image data is used to analyse mangrove forest change. However, differences in imageries characters and specifications are the main obstacle for spatial balance analysis. This research demonstrate and evaluate how difference spatial and spectral characteristics of imageries used for spatial balance anlysis and mapping. This research tries to indicate, not an exact calculation, a spatial uncertainties occured in spatial balance mapping and analyses. Location of the research took place in a specific mangrove forest area covered by SPOT, GeoEye, and Quickbird imageries in Probolinggo Region Jawa Timur. SPOT imagery 2006/2007 showed initial state of mangrove forest while GeoEye and Quickbird imageries showed the present state. Hybrid classification was used as primary method in this research. Furthermore, field work and spatial generalization completed the whole methodology. Spatial balance analysis was conducted based on comparison of two generalized spatial data derived from the satellite imageries. Spatial generalization used for cartographic refinement was: aggregate polygon, smoothing polygon, and simplify polygon. The result showed that mangrove forest in Probolinggo City was deforested around 0.52 km2 or around 38.8%. While, mangrove area deforestation in Probolinggo Regency was of 0.41 km2 or around 16.7%. Spatial balance analysis using two difference spatial and spectral characterization resulting a poor quality (26.35 m) comparing to image pixel dimension (20 m) used as an input for analysis.Keywords: mangrove, spatial balance, generalization
APLIKASI METODE VALUASI KONTINGEN DALAM UPAYA PENINGKATAN KEBERSIHAN SUNGAI CIKAPUNDUNG KOTA BANDUNG Jatnika, Luthfan; Rahardyan, Benno
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.988 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.219

Abstract

Saat ini Sub-DAS Cikapundung mengalami pencemaran sampah yang sangat tinggi. Untuk memperbaiki keadaan tersebut harus dengan melibatkan keinginan masyarakat untuk menjaga lingkungannya agar tetap bersih. Keinginan masyarakat ini dapat diketahui dengan metode valuasi kontingen (CVM). Penelitian ini dilakukan di bulan September 2012 sampai dengan November 2012 di Kota Bandung. Sub-DAS Cikapundung menghasilkan 3.018,4 m3 sampah setiap minggu, sementara TPS yang mengakomodir daerah di Sub-DAS Cikapundung hanya ada 22 TPS dengan total daya tampung sebesar 2.768,4 m3/minggu sehingga masih tersisa 8,5% atau 250 m3/minggu (1.000 m3/bulan) sampah yang tidak masuk TPS yang berpotensi masuk mencemari Sungai Cikapundung. Hasil penelitian menyebutkan 56,7% masyarakat (208 responden) masih membuang sampah ke sungai, berarti ada 1.500 m3/minggu sampah yang masuk sungai. Hal itu disebabkan oleh beberapa variabel yang berpengaruh terhadap pola hidup masyarakat dan secara tidak langsung berdampak pada pencemaran sungai oleh sampah. Setidaknya terdapat empat variabel yang berpengaruh, yaitu penghasilan, sampah bikin banjir, lama tinggal, orang lain yang membuang sampah ke sungai, dengan sampah bikin banjir dan lama tinggal menjadi variabel yang paling berpengaruh.Kata kunci: polusi sampah, keinginan masyarakat, metode kontingen valuasiABSTRACTCurrently, Cikapundung sub-watershed is highly polluted by waste. Involvement of the community willingness to take care of their environment is needed in order to remedy this situation. This research measured the willingness value using Contingent Valuation Method (CVM). This research was conducted in September 2012 to November 2012 at Bandung City. Every week Cikapundung sub-watershed produce 3018.4 m3 waste, while there are only 22 polling stations which accommodate the Cikapundung sub-watershed with a total capacity of 2768.4 m3/week. Thus, there are 8.5% or 250 m3/week (1000 m3/month) of the remaining garbage which is potentially polluting the Cikapundung River. The result showed that 56.7% of citizens (208 respondents) still throw garbage into the river, so that there are 1500 m3/week of the garbage have been drowning into the stream. It is caused by several variables that correlated to the lifestyle of the citizens and indirectly impact to garbage pollution at river. There are at least four significant variables, namely Income, Waste Make Flood, Length of Stay, and People who Throw Garbage into the river, with the Waste Make Floods and Length of Stay is the most influential variable.Keywords: waste pollution, community willingness, contingent valuation meth
STRATEGI PENGEMBANGAN KOMODITAS PERKEBUNAN BERBASIS DAYA DUKUNG LAHAN DI KABUPATEN MAJENE Fatmawaty, Fatmawaty; Baskoro, Dwi Putro Tejo; Widiatmaka, Widiatmaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.614 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.215

Abstract

Kemampuan lahan merupakan potensi lahan untuk penggunaan berbagai sistem pertanian secara umum untuk penggunaan lahan berkelanjutan. Kemampuan lahan adalah salah satu metode untuk mengetahui daya dukung lahan. Kabupaten Majene merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah sebagai petani. Komoditas pertanian seperti perkebunan dianggap sangat membantu perekonomian masyarakat, tetapi penurunan produktivitas perkebunan mengakibatkan dampak negatif bagi pendapatan masyarakat. Kegiatan pertanian selalu ditandai dengan pembukaan lahan baru. Oleh karena itu, jika aktivitas pertanian mengabaikan kemampuan lahan maka lahan akan menjadi rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian penggunaan lahan dengan kemampuan lahan dan RTRW dan menyusun strategi pengembangan komoditas unggulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 kelas kemampuan lahan dan 12 sub-kelas kemampuan lahan dengan faktor pembatas dominan adalah lereng. Sebagian penggunaan lahan di beberapa area tidak cocok dengan kemampuan lahannya yaitu sebesar 28%, sedangkan ketidakcocokan penggunaan lahan dengan RTRW jauh lebih sedikit, yakni 14,8%. Strategi yang diharapkan dapat meningkatkan komoditas perkebunan adalah menjaga kesuburan tanah, pengendalian hama terpadu, penerapan pola tanam, meningkatkan kualitas sumber daya petani, meningkatkan peran penyuluh, pembangunan dan perbaikan infrastruktur serta manajemen panen/pasca panen.Kata kunci: Strategi pengembangan komoditas, kemampuan lahan, komoditas unggulanABSTRACTLand capability is potentials land for uses of various agricultural systems for general sustainable land uses. Land capability is one of methods to determine carrying capacity of land. Majene Regency is one of regencies in West Sulawesi Province with major of livelihoods is as farmers. Agricultural commodities especially plantation is very important for the people‟s welfare in this area, but the decrease in productivity have negative impacts to the farmers‟ income. Agricultural activities always be marked with opening new land. Therefore, if land capability ignored then the land will be degraded. This research aims to evaluate conformity of the existing land use and land capability with spatial planning (RTRW) and to arrange a leading community development strategy. The results showed that land has four capability classes and twelve capability sub-classes with slope concerns as the dominant limiting factor. The land uses in some areas do not match with their land capabilities accounted for 28%, while unconformity land uses to spatial planning (RTRW) is far less, accounted for 14,8%. The strategies to increase the plantation commodities are by maintaining soil fertility, integrated pest management, implementation of cropping patterns, development of farmer resource, development role of agricultural extension agents, development and improvement of infrastructure and management of harvest and postharvest.Keywords : commodity development strategy, land capability, leading commodity

Page 1 of 2 | Total Record : 11