Berkala Arkeologi
We are a journal on archaeology published by Balai Arkeologi Yogyakarta every May and November each year. This journal seek to promote and shares research results and ideas on archaeology to the public. We covers original research results, ideas, theories, or other scientific works from the discipline of Archaeology mainly in the Indonesian Archipelago and Southeast Asia. Interest from other disciplines (such as history, anthropology, architecture, geology, etc.) must be related to archaeological subject to be covered in this journal. Our first edition was published on March 1980.
Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"Vol 23 No 1 (2003)"
:
15 Documents
clear
Budaya Paleolitik Pegunungan Serayu Di Wilayah Kabupaten Banyumas
Muhammad Hidayat
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2090.394 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v23i1.856
Alat-alat paleolitik seperti yang ditemukan pada aliran Sungai di lingkungan Pegunungan Serayu di Wilayah Kabupaten Banyumas yang terdiri dari kapak perimbas, kapak penetak, dan serpih merupakan alat yang bersifat teknis yaitu peralatan yang digunakan dalam kehidupan sehari-harinya. Hingga saat ini diyakini bahwa jenis artefak tersebut berkaitan dengan aktivitas perburuan dan pengumpulan makanan manusia pendukungnya. Fungsi masing-masing tipe alat-alat paleolitik tersebut secara pasti berkaitan dengan aktivitas tersebut belum dapat diketahui. Berdasarkan ukurannya, diperkirakan alat yang cukup besar dipergunakan untuk pekerjaan yang cukup berat seperti untuk memotong dan membelah benda-benda yang cukup keras. Sementara alat-alat yang beruk:uran relatif kecil dan tipis digunakan untuk memotong, mengiris, maupun menyayat benda-benda yang cukup lunak. Ada kemungkinan bahwa alat-alat paleolitik tersebut tidak berfungsi spesifik namun multi fungsi. Disamping berfungsi langsung sebagai alat perburuan, pengumpulan dan pengolahan makanan, alat-alat tersebut juga digunakan untuk membuat alat lain dari bahan berbeda, seperti kayu atau bambu misalnya.
Artefak Litik Ceruk Layah, Sampung : Kajian Teknoekonomi
Indah Asikin Nurani
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2867.598 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v23i1.857
Aktivitas multi fungsi Gua Lawa meliputi aktivitas pengolahan makan (dapur) yang dibuktikan dengan temuan ekofak (sisa makanan berupa fragmen tulang dan cangkang moluska), aktivitas pembuatan alat (bengkel) dengan bukti temuan artefak baik alat, limbah, maupun bahan baku, dan kubur (temuan rangka manusia). Sedangkan aktivitas tunggal di Ceruk Layah dibuktikan dengan temuan yang didominasi artefak litik baik temuan berupa limbah, produk alat, maupun bahan baku serta batu inti. Perbedaan aktivitas dan di lain pihak kualitas bahan baku di mana semakin tinggi lahan memiliki kualitas baik, menuntut mereka melakukan pengaturan pemanfaatan lahan gua dalam beradaptasi dengan lingkungan alam sekitarnya. Gua Lawa yang memiliki lahan luas dan terletak dekat sungai dimanfaatkan sebagai tempat untuk aktivitas mulit fungsi, sedangkan Ceruk Layah di mana daerah sekitarnya merupakan sumber bahan baku dimanfaatkan sebagai tempat pembuatan alat litik. Berdasarkan perbedaan aktivitas dan kualitas bahan baku tersebut dalam menyiasati dan beradaptasi lingkungan alam sekitarnya, menunjukkan adanya karakter tersendiri dalam pola permukiman yang berlangsung di kawasan ini. Selanjutnya berdasarkan pengamatan teknologi dan tipologi dari Ceruk Layah, menunjukkan bahwa manusia saat itu mengeksploiter alam secara maksimal. Efektivitas energi dan teknologi dalam menghasilkan alat litik tampak tinggi, meskipun secara tipologis cenderung rendah.
Pola Permukiman Megalitik Di Situs Kodedek, Bondowoso
Priyatno Hadi Sulistyarto
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2009.434 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v23i1.858
Berdasarkan kajian permukiman megalitik di situs Kodedek, Bondowoso, Jawa Timur diketahui bahwa eksistensi budaya megalitik di situs tersebut masih kuat. Selain itu, dalam tulisan ini dapat diketahui bagaimana penerapan studi permukiman pada tingkat meso / semi-mikro atau pada satuan ruang tingkat situs. Diharapkan untuk penelitian-penelitian mendatang pada wilayah yang sarna dapat dikaji situs-situs megalitik di kawasan Bondowoso dalam kerangka studi permukiman tingkat makro atau pada satuan ruang tingkat kawasan. Mengingat bahwa di kawasan Bondowoso terdapat situs-situs sejenis dalam jumlah yang banyak.
Kematian, Monumen Kubur, Dan Pelapisan Sosial Masyarakat Di Sumba Timur
Diman Suryanto
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1773.855 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v23i1.859
Status sosial seseorang dapat diketahui dari upacara-upacara yang diadakan pada waktu kematian, di samping dapat pula dilihat dari bentuk kubur kubur atau retinya. Melalui pengarnatan secara diskriptif dapat pula dibedakan antara reti yang mempunyai hiasan dan tanpa hiasan. Adapun hiasan yang umum, adalah pola hias binatang, misalnya kerbau, kura-kura, kadal dan ada pula pola hias manusia. Pola hias ini terdapat di bagian depan dan belakang batu yang disangga. Pola hias kerbau kebanyakan hanya dilukiskan bagian kepala lengkap dengan tanduknya, tetapi kadang-kadang cukup tanduknya saja. Pola hias kerbau, kura-kura dan kadal ini ditemukan di desa Paraiyawang (kecamatan RindiumaluJu). Selain pola hias tersebut di atas ada pula pola hias lingkaran, hiasan tumpal, misalnya ditemukan di desa Lambanapu (kecamatan Paraliu).
Arti Simbolis Pahatan Naga Di Bawah Cerat Yoni Dari Singasari
Rita Istari
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1827.907 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v23i1.860
Yoni yang dibuat dari batu andesit, rupa-rupaoya juga mempunyai arti sendiri-sendiri. Batu untuk yoni dari proses terjadinya dapat digolongkan menjadi empat jenis yaitu: batu amat muda (bala), batu muda (Yuya), batu tengah (Madnya) dan batu tua (wreddha). Di samping itu juga dapat digolongkan menjadi: batu jantan, batu betina dan batu netral. Wama batu juga mempunyai arti sendiri pula yaitu: putih melambangkan kesamaan, merah melambangkan kejayaan, kuning melambangkan kesejahteraan dan hitam melambangkan kesuburan. Batu untuk yoni biasanya jenis batu betina. Kenyataan ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa yoni adalah unsur perempuan. Sebagian besar yoni terbuat dari batu andesit wama hitam, hal ini selaras dengan arti yoni sebagai lambing perempuan yang berhubungao dengan kesuburan.
Penyusunan Bangunan Bata Candi Gayatri (Kajian Teknologi Berdasarkan Analisis Laboratorium)
Ni Komang Ayu Astiti
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2406.757 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v23i1.861
Hasil analis laboratoris membuktikan bahwa pada jaman dahulu dalam pembangunan Candi Gayatri sudah memperhatikan kontruksi dan kualitas bahan baku bangunan untuk mendapatkan bangunan candi yang kuat, kokoh dan tahan terhadap gangguan karena faktor lingkungan. Kuat dan kokohnya bangunan candi yang menggunakan bahan utama bata merah tergantung dari kualitas bahan bakunya dan teknologi pembuatnnya. Bata merah yang dipergunakan pada bangunan candi Gayatri ini mempunyai kandungan silikat (SiO2) dan senyawa kapur (CaC03) yang tinggi. Gabungan kedua senyawa ini membuat bata merah menjadi kuat dan kokoh, jika terjadi sebaliknya maka bata merah yang dihasilkan menjadi sangat rapuh dan mudah patah. Suatu bangunan dapat berdiri kokoh dan tahan lama jika pondasi suatu bangunan di buat dengan bahan yang mempunyai kualitas yang tinggi jika dibandingkan dengan kualitas bahan bangunan yang ada di atasnya.
Analisis Teknologi Laboratoris Gerabah Dari Situs Leran
Fadhlan S. Intan
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2192.47 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v23i1.862
Secara umum gerabah dari Situs Leran, Gresik, Jawa Timur, termasuk dalam kategori gerabah dengan kualitas yang cukup baik, dengan ditemukannya mineral mafic dan mineral felsic, yang sangat berpengaruh terhadap warna-wama gerabah. Tingkat kekerasan yang rendah (2-4 Skala Mohs), lebih banyak disebabkan oleh faktor lingkungan tempat gerabah-gerabah tersebut ditemukan, yaitu berada pada suatu lingkungan yang berair, sehingga berpengaruh terhadap ikatan-ikatan antar mineral, yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kekerasan gerabah tersebut.
Islam Dan Sinkretisme Di Jawa
nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1479.682 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v23i1.863
Strategi yang diterapkan oleh para tokoh penyebar Islam, di daerah pesisir utara Jawa berbeda dengan strategi yang diterapkan di beberapa daerah di pedalaman Jawa, yaitu strategi perdagangan merupakan langkah yang dominan, disamping juga dilakukan dengan pendidikan, perkawinan dan rnengadopsi kesenian lokal dengan dimasuki muatan-muatan Islam. Akan tetapi pada periode berikutnya setrategi yang dominan diterapkan oleh para tokoh penyebar Islam di beberapa daerah pedalaman Jawa adalah melalui pendidikan dengan lembaga-lembaga seperti pesantren dan organisasi-organisasi tarekat yang rnerupakan aktualisasi dari ajaran-ajaran tasawwuf. Meskipun demikian, telah berlangsung suatu proses sinkretisasi yang menitik beratkan pada aspek kognitif dan aspek perilaku rnasyarakat jawa, sebagai akibat adanya dua budaya (pra-Islam dan Islam) yang sating bersentuhan, kemudian diolah sedemikian rupa sehinga tidak terjadi adanya pertentangan atau konflik. Dan pada akhirnya Islam dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat Jawa.