cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berkala Arkeologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
We are a journal on archaeology published by Balai Arkeologi Yogyakarta every May and November each year. This journal seek to promote and shares research results and ideas on archaeology to the public. We covers original research results, ideas, theories, or other scientific works from the discipline of Archaeology mainly in the Indonesian Archipelago and Southeast Asia. Interest from other disciplines (such as history, anthropology, architecture, geology, etc.) must be related to archaeological subject to be covered in this journal. Our first edition was published on March 1980.
Arjuna Subject : -
Articles 756 Documents
PENDEKATAN PEDOGEOMORFOLOGI DALAM PENELITIAN ARKEOLOGI DI GUNUNG LANANG DAN GUNUNG WINGKO (BANTUL) Sunarto
Berkala Arkeologi Vol 7 No 1 (1986)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1552.244 KB) | DOI: 10.30883/jba.v7i1.449

Abstract

Apabila diperhatikan, keadaan alam itu mengikuti pola-pola alamiah tertentu, sehingga mempunyai bentuk khas yang lazim disebut sebagai bentuklahan (landform). Pengertian bentuklahan itu sendiri pada prinsipnya adalah bagian dari permukaan bumi yang mempunyai karakteristik bentuk yang khas, akibat dari kuatnya pengaruh proses dan susunan batuan tertentu selama perkembangannya. Karena bentuk permukaan bumi itu khas dengan proses tertentu dan susunan batuan tertentu pula, maka selama perkembangan bentuklahan itu terjadi, manusia yang hidup pada bentuklahan itu akan terpengaruh pula. Di bawah pengaruh bentuklahan, manusia hidup dan berkehidupan sosial-budaya, yang akhimya meninggalkan berbagai artefak yang kini telah terkubur di dalam tanah.
MENGUNGKAP MASALAH PEMBACAAN PRASASTI PASRUJAMBE Sukarto Karto Atmodjo
Berkala Arkeologi Vol 7 No 1 (1986)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1700.869 KB) | DOI: 10.30883/jba.v7i1.450

Abstract

Dalam buku Laporan Tahunan Oinas Purbakala (Departemen PP dan K) tahun 1954 (terbit tahun 1962) mengenai prasasti Pasrujambe tertulis pada halaman 12 sebagaiĀ· berikut (ejaan lama): "Di desa Pasrujambe (Senduro, Lumadjang) didapatkan gundukan tanah dengan batu-batu kali besar dan ketjil. Di antara batu-batu tadi ada 16 buah jang bertulisan. Penelitian tehadap tulisan ini tidak memberikan sesuatu hasil, bahkan djenisnjapun dari tulisan itu tidak dapat diketahui (gb. 15)". Selanjutnya keterangan di bawah gambar 15 berbunyi: "Senduro (Lumadjang). Batu bersurat jang tulisannja gandjil. Foto DP 19427".
KUBUR-TUMPANG DI KOMPLEKS MAKAM KRT. PANJI CAKRAKUSUMA DI SANGKAPURA (PULAU BAWEAN): SUATU UNSUR BUDAYA ISLAM DI INDONESIA Abdul Choliq Nawawi
Berkala Arkeologi Vol 7 No 1 (1986)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2596.256 KB) | DOI: 10.30883/jba.v7i1.451

Abstract

Kubur-Tumpang adalah suatu makam Islam yang di dalam suatu liang-lahat dikebumikan lebih dari satu jenazah. Penguburan dilakukan secara bersusun tumpang-tindih dan pada susunan paling bawah harus dikebumikan jenazah seorang yang paling ahli dalam penghayatan dan pengamalan terhadap isi Al-Qur'an (Al-Hadits, diriwayatkan oleh Annasaa'ii dan Tirmidzii dengan argumentasi paling benar). Kemungkinan proses ini terjadi karena banyaknya korban yang mati dalam suatu peperangan atau karena banyaknya kematian akibat suatu wabah penyakit yang sangat ganas. Selain itu kubur-tumpang mungkin merupakan pelaksanaan dalam menunaikan nadzar, washiyat maupun amanat. Istilah kubur-tumpang pertama kali muncul di Indonesia sekitar tahun 1970-an yang dilontarkan oleh Prof. Dr. Hamka untuk menerapkan hukum Islam tentang penguburan yang bersumber pada Al-Qur'an dan Al-Hadits sunnah Rasulullah Muhammad SAW sebagai belligrandi (penengah) atas sengketa tanah pemakaman akibat adanya penggusuran tanah-tanah tersebut di Jakarta ketika itu.
PEMAHAMAN TEORITIK TENTANG ANALISIS KUANTITATIF DALAM GEOGRAFI KERUANGAN DAN PEMANFAATANNYA BAGI TELAAH ARKEOLOGI Bugie MH Kusumohartono
Berkala Arkeologi Vol 7 No 1 (1986)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2671.152 KB) | DOI: 10.30883/jba.v7i1.452

Abstract

Suatu deposit maupun himpunan artefak secara relatif berkait erat dengan keberadaannya pada suatu bentang fisis dan gejala lingkungan tertentu. Hal ini merupakan titik tolak yang menyebabkan kerap kali geografi dan arkeologi memiliki minat ilmiah yang kurang lebih sama (Hodder and Orton, 1976: 54). Sejauh ini manfaat disiplin geografi dalam arkeologi Indonesia telah dirasakan terutama melalui penerapan dua buah teknik atau pendekatan, yaitu geomorfologi dan penginderaan jauh (Surastopo, 1985). Pendekatan geomorfologi bagi arkeologi di Indonesia telah mampu untuk digunakan bagi kegiatan penelitian, seperti misalnya merekonstruksi keruntuhan bangunan atau pemukiman (Sampurno dan Bandono, 1980; Budianto, 1983) maupun untuk mengkaji latar belakang pembangunan suatu fasilitas tertentu (Bugie, 1986). Sedang pendekatan penginderaan jauh (remote sensing) bagi arkeologi di Indonesia terutama dimanfaatkan bagi kegiatan survei maupun yang bertujuan merekonstruksi bentuk dan struktur suatu situs (Maulana, 1983; Surastopo and Sutikno, 1985; Surastopo and Widya Nayati, 1985).
Cover Berkala Arkeologi Volume 7 No. 2 September 1986 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 7 No 2 (1986)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2389.653 KB)

Abstract

PREHISTORIC ARCHAEOLOGY IN NORTHERN AUSTRALIA Harry Allen
Berkala Arkeologi Vol 7 No 2 (1986)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.253 KB) | DOI: 10.30883/jba.v7i2.455

Abstract

The northern part of North Australia is not far from Java and Timor. There are great numbers of influences in the North Western part of Australia from Indonesian region. The coast alligator river area is 200 kilometres east of Darwin, Northern Territory is now 60 kilometres from the coast to the mountain area. The plain area is flat and the water is salty, being tidal on the coast. Further inland the river is fresh water. To day there are few mangroves in this area, but there is evidence that mangroves were more widespread between 6.000 - 3.000 BP. During the wet season the coastal plain is flooded.
SITUS PRINGGOLOYO, SEBUAH DATA PENINGGALAN MEGALITIK DI DAERAH WEDI, KLATEN, JAWA TENGAH Gunadi Kasnowihardjo
Berkala Arkeologi Vol 7 No 2 (1986)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2896.805 KB) | DOI: 10.30883/jba.v7i2.456

Abstract

Pringgoloyo atau sering disebut Pringgolayan merupakan sebutan bagi sebuah tempat dan bukan merupakau nama dukuh ataupun kampung. Sebutan tersebut didasarkan pada temuan susunan batu berbentuk setengah lingkaran yang dikeramatkan oleh penduduk di sekitarnya. Selanjutnya nama Pringgolayan dalam tulisan ini digunakan untuk menyebut sebuah situs megalitik. Secara administratif situs Pringgoloyo terletak di dukuh Sukorejo, kelurahan Sukorejo. kecamatan Wedi, kabupaten Klaten, tepatnya 6 kilometer di sebelah Selatan kota Klaten. Belum diketahui alasan penyebutan situs tersebut sebagai Pringgoloyo atau Pringgolayan.
TOKOH BHIMA DALAM ARKEOLOGI KLASIK Sukarto Karto Atmodjo
Berkala Arkeologi Vol 7 No 2 (1986)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2071.92 KB) | DOI: 10.30883/jba.v7i2.457

Abstract

Tokoh Bhima memang dapat ditinjau dari bermacam-macam segi. Lebih-lebih tanya-jawab antara Bhima dan Dewaruci merupakan sumber kawruh kasampurnan (ilmu kesempurnaan) bagi orang Jawa. Sekarang ini Ibu Sumarti Suprayitno menguraikan tokoh Bhima dalam kaitannya dengan masyarakat sastra dan budaya Jawa. Uraian atau ceramah ini sangat menarik karena tokoh Bhima memang sudah dikenal sejak jaman dahulu, khususnya dalam sastra Jawa Kuno, baik di dalam wiracarita Mahabharata maupun di dalam cerita Nawaruci. Demikian pula lbu Sumarti Suprayitno telah berhasil membanding cerita Bhima-Dewaruci dengan motif yang sama dalam Wanaparwa, saat Markandeya mengunjungi Pandawa di hutan dan memberi berbagai wejangan kepada mereka. Markandeya menceritakan pengalamannya ketika ia masuk ke dalam perut seorang anak kecil yang duduk di atas dahan pohon beringin dan kemudian mengeluarkannya melalui mulutnya dan menyatakan bahwa ia sebenarnya adalah dewa Narayana atau Wisnu. Di dalam perut anak kecil tersebut Markandeya dapat melihat seluruh alam semesta.
KEMUNGKINAN PROSA BUBUKSAH SEBAGAI SASTRA LUAR KERATON Bambang Sulistyanto
Berkala Arkeologi Vol 7 No 2 (1986)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1957.812 KB) | DOI: 10.30883/jba.v7i2.458

Abstract

Tulisan ini mencoba mengungkapkan latar belakang sosial dari kalangan masyarakat yang melahirkannya. Artinya, apakah prosa Bubuksah dilahirkan oleh pujangga kalangan keraton atau sebalikriya dari kalangan luar-keraton. Oleh karena naskah Bubuksah itu sendiri hingga kini belum pernah diterbitkan dalam bentuk cetakan maupun terjemahan, maka sebagai dasar kajian ini hanya dibatasi pada ringkasan cerita sebagaimana yang disajikan oleh van Stein Callenfels (1919: 348-361). Diakui bahwa sumber data yang dipergunakan sangat lemah clan kurang memadai, oleh karena itu interpretasi yang diajukan di sini perlu sekali untuk selanjutnya dikaji dengan penelitian-penelitian yang lebih mendalam, dengan menggunakan data lain dan dari sudut pandangan lain.
KURA-KURA DALAM ARKEOLOGI DAN BIOLOGI DI INDONESIA H.S. Hardjasasmita
Berkala Arkeologi Vol 7 No 2 (1986)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3396.722 KB) | DOI: 10.30883/jba.v7i2.459

Abstract

Di Asia T enggara, kura-kura mempunyai arti penting dalam bidang arkeologi dan biologi. Dalam bidang arkeologi, kura-kura mempunyai kedudukan tertentu, terbukti dengan adanya anggapan keramat atau meluhurkan beberapa kelompok kura-kura di kolam atau di sumber air, seperti di Kudus - Jawa Tengah, Kampung Talun dekat Madiun - Jawa Timur (Delsman, 1951) dan di Gunung Kidul, Yogyakarta. Di kawasan lain di luar Indonesia, seperti di Penang - Malaysia. Bangkok - Thailand dan India (Schmidth dan Inger, 1954), kura-kura tertentu juga mendapat penghormatan yang sepadan dengan kedudukan yang penting seperti di Indonesia (Jawa). Kedudukan kura-kura yang lebih terinci dan lebih jelas di dalam susunan kepercayaan dan budaya di Indonesia kiranya perlu mendapat perhatian yang lebih dalam dari para ahli budaya dan arkeologi.

Filter by Year

1980 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 2 (2022) Vol 42 No 1 (2022) Vol 41 No 2 (2021) Vol 41 No 1 (2021) Vol 17 No 2 (1997) Vol 40 No 2 (2020) Vol 40 No 1 (2020) Vol 13 No 1 (1993) Vol 39 No 2 (2019) Vol 39 No 1 (2019) Vol 38 No 2 (2018) Vol 38 No 1 (2018) Vol 37 No 2 (2017) Vol 37 No 1 (2017) Vol 36 No 2 (2016) Vol 36 No 1 (2016) Vol 35 No 2 (2015) Vol 35 No 1 (2015) Vol 34 No 2 (2014) Vol 34 No 1 (2014) Vol 33 No 2 (2013) Vol 33 No 1 (2013) Vol 32 No 2 (2012) Vol 32 No 1 (2012) Vol 31 No 2 (2011) Vol 31 No 1 (2011) Vol 30 No 2 (2010) Vol 30 No 1 (2010) Vol 29 No 2 (2009) Vol 29 No 1 (2009) Vol 28 No 2 (2008) Vol 28 No 1 (2008) Vol 27 No 2 (2007) Vol 27 No 1 (2007) Vol 26 No 2 (2006) Vol 26 No 1 (2006) Vol 25 No 1 (2005) Vol 24 No 1 (2004) Vol 23 No 2 (2003) Vol 23 No 1 (2003) Vol 22 No 1 (2002) Vol 21 No 2 (2001) Vol 21 No 1 (2001) Vol 20 No 1 (2000) Vol 19 No 2 (1999) Vol 19 No 1 (1999) Vol 18 No 2 (1998) Vol 18 No 1 (1998): Edisi Khusus Vol 17 No 1 (1997) Vol 16 No 2 (1996) Vol 16 No 1 (1996) Vol 15 No 3 (1995): Edisi Khusus Vol 15 No 2 (1995) Vol 15 No 1 (1995) Vol 14 No 2 (1994): Edisi Khusus Vol 14 No 1 (1994) Vol 13 No 3 (1993): Edisi Khusus Vol 13 No 2 (1993) Vol 12 No 1 (1991) Vol 11 No 1 (1990) Vol 10 No 2 (1989) Vol 10 No 1 (1989) Vol 9 No 2 (1988) Vol 9 No 1 (1988) Vol 8 No 2 (1987) Vol 8 No 1 (1987) Vol 7 No 2 (1986) Vol 7 No 1 (1986) Vol 6 No 2 (1985) Vol 6 No 1 (1985) Vol 5 No 2 (1984) Vol 5 No 1 (1984) Vol 4 No 2 (1983) Vol 4 No 1 (1983) Vol 3 No 1 (1982) Vol 2 No 1 (1981) Vol 1 No 1 (1980) More Issue