cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi
Published by Universitas Terbuka
ISSN : 14111934     EISSN : 24429147     DOI : -
Merupakan media informasi dan komunikasi para praktisi, peneliti, dan akademisi yang berkecimpung dan menaruh minat serta perhatian pada pengembangan Matematika, ilmu pengetahuan dan teknologi. Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Terbuka.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
PENERAPAN REGRESI LOGISTIK BINER UNTUK MENGUKUR RESIKO ANEMIA DENGAN STATUS GIZI IBU HAMIL Deddy A Suhardi; Ila Fadila
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.596 KB)

Abstract

The prevalence of anaemia is an important health indicator for pregnant women. This paper demonstrates the use of logistic regression modelling techniques for an ordinal binary in terms of both response and predictor variables. By using 120 cross-sectional data to measure the attitude of pregnant women observed at three Community Healthcare Center (CHC) in the Serang District - Banten Province on September 2012, we investigated a factor predicting anaemia and tested whether changes in nutritional status were associated with changes in anaemia status. The anaemia status threshold using haemoglobin concentration (g/dl) was measured by the Cyanmethemoglobin method, and the nutritional status was categorized by measuring Upper Arm Circumference (cm). This paper discusses the roles of nutritional status determining the risks of anaemia and compares the results obtained using the contingency analytical methods. The paper also demonstrates how the logistic regression modelling approach dealing with the odds ratio statistic can better explain the risks of anaemia determined by nutritional status found in the CHC studied. We found that anaemia status is affected by nutritional status (coef. 1,07; p. 0,066), and the results of contingency analysis reveals that anaemia satus is associated with nutritional status (chi-sq. 3,60; p. 0,058). According to odds ratio statistic of the logistic regression (OR 2,92), the risks of anaemia on pregnant women with cronic energy deficiency would be 2,92times higher than they are on normal nutritions. Prevalensi anemia pada kehamilan merupakan salah satu indikator penting kesehatan ibu hamil. Paper ini membahas teknik regresi logistik untuk mengukur resiko anemia ibu hamil berdasarkan status gizinya. Rancangan model hanya terdiri dari satu variabel respon dan satu prediktor skala biner. Hasil analisis regresi logistik dibandingkan dengan analisis chi-kuadrat tabel kontingensi. Estimasi parameter regresi menggunakan data cross-sectional 120 ibu hamil yang diamati langsung dari tiga Puskesmas di Kabupaten Serang, Banten, pada September 2012. Status anemia dikategorikan dari pengukuran kadar hemoglobin (g/dl) menggunakan metode cyanmethemoglobin, sedangkan status gizi dari pengukuran pita lingkar lengan atas (cm). Analisis regresi logistik menunjukkan satus anemia dipengaruhi status gizi (koefisien regresi status gizi 1,07; odds ratio 2,92; p. 0,066). Analisis chi-kuadrat menunjukkan status anemia berhubungan dengan status gizi (chi-kuadrat 3,60; p. 0,058). Statistik odds ratiopada kasus ini mendeskripsikan sejauh mana peran status gizi menentukan resiko anemia ibu hamil. Resiko anemia 2,92 kali lebih tinggi bagi ibu hamil dengan kondisi gizi kurang energi kronik daripada ibu hamil dengan gizi baik.
PEMBUATAN MINUMAN DARI EKSTRAK DAUN PISANG BATU (Musa balbisiana Call) DENGAN PENAMBAHAN FERRO SULFAT Alsuhendra Hendra Jr; Ridawati Ridawati
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.816 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v20i2.190.2019

Abstract

Chlorophyll was extracted from ‘batu’ banana leaves and used as raw material for making beverage. The research was conducted at the Laboratory of Food Analysis and Engineering, Faculty of Engineering, State University of Jakarta from April to September 2018. The results of the research showed that chlorophyll of ‘batu’ banana leaf could be extracted using 0.1% NaHCO3 solution in a ratio of 1: 5. The beverage were made using chlorophyll extract with Fe2+ ion 15, 20, and 25 mg/L. By organoleptic test, the panel accepted the beverage between rather like to like for color, aroma, taste, and consistency. The general acceptance of panel on the beverage made by adding Fe2+ ions as much as 25 mg/L was higher than others. Klorofil diekstrak dari daun pisang batu untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan minuman. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Analisis dan Rekayasa Boga, Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta dari bulan April sampai September 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klorofil daun pisang batu dapat diekstrak menggunakan larutan NaHCO3 0,1% dengan perbandingan 1:5. Minuman dibuat dari ekstrak klorofil daun pisang batu dengan menambahkan ion Fe2+ sebanyak 15, 20, dan 25 mg/L. Berdasarkan hasil uji organoleptik diketahui bahwa minuman tersebut dapat diterima panelis dengan tingkat kesukaan antara agak suka hingga suka untuk aspek warna, aroma, rasa, dan konsistensi. Tingkat penerimaan umum panelis terhadap minuman yang dibuat dengan penambahan ion Fe2+ sebanyak 25 mg/L lebih tinggi dibandingkan dengan minuman lainnya.
KERAGAAN TINGKAT PENERAPAN METODE SLPTT PADI DI KECAMATAN CIAWI BOGOR Pepi Rospina Pertiwi; Diarsi Eka Yani
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.48 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v17i2.191.2016

Abstract

This research is intended to explain (1) the perception of farmers on the application of rice SLPTT methods, and (2) the level of implementation of rice SLPTTmethod. The study design was descriptive research. The study population were all farmers who were members of paddy farmer groups in the District of Ciawi, who participated in SLPTT. Samples were selected from two groups of SLPTT participants in two villages, each of 20 participants. Data consisted of primary data and secondary data. The perception of farmers on the application of rice PTT was measured on the perception of farmers in terms of the correspondence amongmethods, characteristic of the area, and the message content of innovation. The level of implementation of the rice SLPTT method was measured by the success of the method in delivering innovation, the success of the method of making the farmers applying innovation, and the success of the method in providing benefits to farmers. The results showed that farmers' perception on the suitability of the application of SLPTT methods with the characteristics of the area is quite good, as well as the farmer's perception about the suitability of the application of SLPTT methods with the content of the message is in excellent innovation. The level of implementation of the method is quite effective. Farmers acquire enough knowledge to increase even tend to be greatly increased. In addition, farmers acquire sufficient mastery of skills, take benefits of the increased production and income. Penelitian bertujuan menjelaskan (1) persepsi petani terhadap penerapan metode SLPTT padi, dan (2), tingkat penerapan metode SLPTT padi. Rancangan penelitian adalah descriptive research. Populasi penelitian adalah semua petani yang menjadi anggota kelompok tani padi di wilayah Kecamatan Ciawi, yang menjadi peserta SLPTT. Sampel dipilih dari dua kelompok peserta SLPTT di dua desa, masing-masing 20 orang peserta. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Persepsi petani tentang penerapan PTT padi yang diukur adalah persepsi petani tetang kesesuaian metode dengan karakteristik wilayah, dan isi pesan inovasi. Tingkat penerapan metode SLPTT padi diukur dengan keberhasilan metode dalam menyampaikan inovasi, keberhasilan metode dalam menjadikan petani menerapkan inovasi, dan keberhasilan metode dalam memberikan manfaat bagi petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani tentang kesesuaian penerapan metode SLPTT dengan karakteristik wilayah tergolong cukup baik, persepsi petani tentang kesesuaian penerapan metode SLPTT dengan isi pesan inovasi tergolong sangat baik. Tingkat penerapan metode tergolong cukup efektif baik. Petani memperoleh pengetahuan yang cukup meningkat bahkan cenderung sangat meningkat, memperoleh penguasaan keterampilan yang cukup meningkat serta memperoleh manfaat terhadap produksi dan pendapatan yang juga cukup meningkat.
RASIO PATI SINGKONG DAN ASAM AKRILAT TERHADAP KAPASITAS ABSORBSI PADA SINTESIS KOMPOSIT POLIMER SUPERABSORBAN Weni Fika; Anwar Kasim; Novelina Novelina; Athanasia Amanda Septevani
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.327 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v20i2.193.2019

Abstract

This study aimed to synthesize a superabsorbent polymer composite based on a natural polymer that has been made by grafting method using cassava starch as a backbone (main framework), Acrylic acid (AA) as a monomer, Ammonium persulfate (APS) as an initiator and N,N Methylene bisacrylamide (MBA) as a crosslinker. The effect of the ratio of cassava starch and acrylic acid (25 : 75; 50 : 50 and 75 : 25% weight total) has been studied based on absorption capacity. The chemical structure that occurs is analyzed using Fourier Transform Infra-red (FTIR) spectroscopy. The results of the FTIR spectrum showed that the grafting of acrylic acid to starch occurred. In the ratio of starch to acrylic acid 25 : 75% of the weight total obtained the maximum water absorption ability (absorption capacity) 224 g/g in aquades and 25 g/g in 0,9% NaCl solution. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mensintesis komposit polimer superabsorban berbasis polimer alam yang telah dibuat dengan metode grafting (pencangkokan) yang menggunakan pati singkong sebagai backbone (kerangka utama), asam akrilat (AA) sebagai monomer, Ammonium persulfat (APS) sebagai inisiator dan N,N Metilen bisakrilamida (MBA) sebagai crosslinker. Pengaruh rasio pati singkong dan asam akrilat (25 : 75; 50 : 50 dan 75 : 25% berat total) telah dipelajari berdasarkan kapasitas absorbsi. Struktur kimia yang terjadi dianalisa menggunakan spektroskopi Fourier Transform Infra-red (FTIR). Hasil dari spektrum FTIR memperlihatkan bahwa terjadinya grafting asam akrilat terhadap pati. Pada rasio pati dengan asam akrilat 25 : 75% berat total diperoleh kemampuan menyerap air (kapasitas absorbsi) maksimum 224 g/g dalam aquades dan 25 g/g dalam larutan NaCl 0,9%.
ANALISIS SERAPAN KARBONDIOKSIDA BERDASARKAN TUTUPAN LAHAN DI KOTA PALANGKA RAYA Neny Fidayanti
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.659 KB)

Abstract

This research was made not only to find out scope of green area and total of carbon dioxide’s emission in Palangka Raya which can be absorbed by vegetation but also to find out suitability of land use of green area of Palangka Raya with necessity of green open space in Palangka Raya. The research was a description about environment condition in Palangka Raya which related to total of carbon dioxide’s emission and scope of vegetated land. The result of the research based on analysis of land cover and carbon dioxide absorption showed that scope of vegetated land in Palangka Raya was 219.498.7 hectares and it was still able to absorb all carbon dioxide’s emission amount to 387.366,248 tons which came from energy consumption and respiration of Palangka Raya’s inhabitants. Based on the extent of its region, urban area of Palangka Raya needed green open space (RTH) with wide to 14.096,1 hectares, based on the number of inhabitants was needed 581,84 hectares RTH which consisted of city park, city forest, median, river border and cemetery, based on equality of water use was needed 323,75 hectares RTH and based on carbon dioxide’s emission was needed 3.331,38 ha RTH. Based on suitability plan of land use of green area in urban area of Palangka Raya, there was lack of green open space. Sub district Pahandut lack of RTH based on extent of its district (-3.513,23 hectares), number of inhabitants (-244,85 hectares), need of water (-142,45 hectares) and carbon dioxide’s emission (-2.368,88 hectares) while sub district Jekan Raya lack of RTH based on extent of its district (-9.071,96 hectares) and carbon dioxide’s emission (-5.660,93 hectares). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luas kawasan hijau dan jumlah emisi karbondioksida yang mampu diserap oleh vegetasi serta untuk mengetahui kesesuaian tata ruang kawasan hijau Kota Palangka Raya dengan kebutuhan ruang terbuka hijau Kota Palangka Raya. Penelitian berupa deskripsi tentang keadaan lingkungan di Kota Palangka Raya yang berkaitan dengan jumlah emisi karbondioksida dan luas lahan bervegetasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis tutupan lahan dan serapan karbondioksida, diketahui luas lahan bervegetasi di Kota Palangka Raya adalah 219.498,7 ha dan masih mampu menyerap seluruh emisi karbondioksida sejumlah 387.366,248 ton yang berasal dari konsumsi energi dan respirasi penduduk Kota Palangka Raya. Berdasarkan luas wilayah, kawasan perkotaan Kota Palangka Raya memerlukan RTH seluas 14.096,1 ha, berdasarkan jumlah penduduk diperlukan 581,84 ha RTH yang berupa taman kota, hutan kota, jalur hijau jalan, sempadan sungai dan pemakaman, berdasarkan kesetaraan penggunaan air diperlukan 323,75 ha RTH dan berdasarkan emisi karbondioksida diperlukan 3.331,38 ha RTH. Berdasarkan kesesuaian rencana tata ruang hijau kawasan perkotaan Kota Palangka Raya, diperoleh adanya kekurangan RTH. Kecamatan Pahandut kekurangan RTH berdasarkan luas wilayah (-3.513,23 ha), jumlah penduduk (-244,85 ha), kebutuhan air (-142,45 ha) dan emisi karbondioksida (-2.368,88 ha), sedangkan Kecamatan Jekan Raya kekurangan RTH berdasarkan luas wilayah (-8.936,96 ha) dan emisi karbondioksida (-2.849,04 ha).
FORMULASI PELAPIS TIPIS AKTIF DAPAT DIMAKAN DARI MALTODEKSTRIN DAN EKSTRAK ANGKAK DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI PELAPIS DAN PENGAWET BAKSO Ridawati Ridawati; Alsuhendra Alsuhendra
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.842 KB)

Abstract

This research aims was to obtain the active edible coating of with the addition of red rice extract as meatballs coating. This research was conducted in four steps: extraction of antimicrobial compounds from red rice, preparation the red rice edible coating, formulation meatballs and application the red rice edible coating, and analysis of physical properties and organoleptic. The quality of meatballs was strongly influenced by the quality of materials that has been used and the process of production. The addition of red rice extract as much as 0,125%, 0,25% and 0,5% compared with the control and analysis by the sensory test. Statistically, the addition of red rice extract on making meatballs did not effect the level of panelists from the aspect of shape, flavor, color and aroma of the meatballs (α = of 0,05%). The use of red rice extracts in the production of edible film for coating the meatballs affect the texture of the meatballs that has been stored for 0, 6, 12 and 18 hours. Most of the panelists mentioned meatballs controls have somewhat glutinous, dry, elastic and compact. After 18 hours of storage meatball has a glutinous, wet, slimy, less elastic and less compact, especially meatballs controls (38,5%). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pelapis tipis aktif dapat di makan (active edible coating) dari maltodekstrin dengan penambahan ekstrak angkak sebagai pelapis bakso. Penelitian ini dilakukan dalam 4 tahap, yaitu ekstraksi senyawa antimikroba dari angkak, pembuatan larutan active edible coating dengan penambahan ekstrak angkak, pembuatan bakso dan pelapisannya dengan larutan active edible coating, dan analisis sifat fisik, organoleptik produk bakso yang telah dilapis dengan active edible coating. Dari penelitian ini diperoleh informasi tentang teknologi proses pembuatan active edible coating dari maltodekstrin dengan penambahan senyawa antimikroba dari angkak, aktivitas antimikroba dari larutan active edible coating yang dikembangkan, serta produk bakso yang diberi active edible coating. Kualitas dari bakso daging sapi sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan baku dan bahan tambahan yang digunakan serta proses pembentukan adonan. Penambahan ekstrak angkak sebanyak 0,125%, 0,25% dan 0,5% dibandingkan dengan control tetap disukai oleh panelis. Secara +statistik, penambahan ekstrak angkak pada pembuatan bakso tidak berpengaruh terhadap tingkat kesukaan panelis dari aspek bentuk, rasa, warna, dan aroma dari bakso (α=0,05%). Penggunaan ekstrak angkak dalam pembuatan edible film untuk pelapis bakso berpengaruh terhadap tekstur dari bakso selama penyimpanan 0, 6, 12 dan 18 jam. Sebagian besar panelis menyebutkan bakso kontrol memiliki tekstur agak lengket-lengket, kering, kenyal dan kompak. Setelah penyimpanan 18 jam bakso memiliki tekstur lengket, basah, berlendir, kurang kenyal dan kurang kompak, terutama bakso kontrol (38,5%).
LIMBAH CAIR PANAS BUMI DAN DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN Yuniarto Yuniarto; Tri Edi Budhi Soesilo; Udi Syahnoedi Hamzah
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.305 KB)

Abstract

Geothermal Power Plant Gothermal power plant is one of the green energy which produces low waste, including wastewater. The wastewater come from geothermal fluids that is not reinjected into the reservoir. its contains Arsenic (As), a dangerous chemical. Ulumbu geothermal Power Plant wastewater is discharged to the river nearby, Waekokor river. Arsenic (As) concentration in The wastewater has not been measures. The purpose of this research is to identify Arsenic (As) concentration in the geothermal wastewater. The result of this research shows that geothermal wastewater Arsenic (As) concentration is still below the regulation, that is 0,0365 mg/l. Geothermal wastewater discharge has no effect to the Arsenic (As) concentration in the river. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Panas Bumi (PLTP) merupakan salah satu sumber energi yang ramah lingkungan karena menghasilkan limbah yang rendah, salah satunya adalah limbah cair. Limbah cair ini berasal dari fluida panas bumi. Fluida panas bumi yang tidak diinjeksikan kembali akan menjadi limbah cair. Salah satu zat kimia yang terkandung dalam limbah cair adalah Arsen (As). Pada lapangan panas bumi Ulumbu, limbah cair yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga panas bumi dibuang kesungai Waekokor. Konsentrasi Arsen (As) pada limbah cair tersebut sampai dengan saat ini belum pernah diukur dan diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya konsentrasi Arsen (As)pada limbah cair yang dibuang ke Sungai Waekokor dan dampaknya terhadap lingkungan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi Arsen (As) pada limbah cair PLTP Ulumbu yang dibuang ke sungai Waekoor masih dibawah baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan juga bahwa pembuangan limbah cair ini tidak memberikan dampak terhadap lingkungan.
KENDALI OPTIMAL PERTUMBUHAN POPULASI ECENG GONDOK DENGAN IKAN GRASS CRAP DAN PEMANENAN Fitroh Resmi; Aris Alfan; Slamet Ifandi
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.73 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v20i2.204.2019

Abstract

Water hyacinth is a wild aquatic plant that grows quickly. The growth of water hyacinth need to be controled to prevent the flood and not to disturb paddy irrigation channels. Grass carp as herbivorous fish is used as natural predator to reduce the population of water hyacinth. The interaction between water hyacinth and grass carp is modeled using the prey-predator system. In this model there are harvest factors and predation factors using Holling type III. The optimal control problem is applied to minimize the mass of water hyacinth and harvest efforts of water hyacinth and maximize the mass of grass carp. The solution uses the Pontryagin Principle. The result is that the harvesting of water hyacinth and the grass carp can minimize the water hyacinth biomass at the end of time. Eceng gondok merupakan tanaman liar di perairan yang tumbuh dengan cepat. Pertumbuhannya perlu dikendalikan agar tidak menyebabkan banjir dan tidak mengganggu saluran irigasi persawahan. Ikan grass carp sebagai ikan herbivora digunakan sebagai predator alami untuk mengurangi populasi eceng gondok. Hubungan antara eceng gondok dan ikan grass carp dimodelkan dengan menggunakan sistem prey-predator. Pada model ini terdapat faktor pemanenan dan faktor predasi menggunakan Holling tipe III. Masalah kendali optimal diterapkan dengan tujuan untuk meminimumkan massa eceng gondok dan usaha pemanenan eceng gondok serta memaksimumkan massa ikan grass carp. Penyelesaiannya menggunakan Prinsip Pontryagin. Hasilnya dengan adanya usaha pemanenan eceng gondok dan pengadaan ikan grass carp dapat meminimumkan biomassa eceng gondok di waktu akhir.
DAYA TERIMA MINUMAN FUNGSIONAL BERBASIS KLOROFIL DARI RUMPUT PAHIT (ANOXOPUS COMPRESSUS [SCWARTZ] BEAUV) DAN ANTOSIANIN DARI UBI JALAR UNGU (IPOMOEA BATATAS L.) Alsuhendra Alsuhendra; Ridawati Ridawati
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.637 KB)

Abstract

A functional beverage made of chlorophyll extract from bitter grass and anthocyanin from purple sweet potato was formulated and evaluated. Chlorophyll was extracted using of NaHCO3solution with a concentrations of 0.1% (w / v) and then was stabilized with Cu2+ ions through the addition of CuSO4 as much as 100 mg Cu2+/L chlorophyll extract. Meanwhile, anthocyanin was extracted using a mixture of water and 25% acetic acid at a ratio of 30:0.5. Functional beverage was prepared by blending different ratios of chlorophyll and anthocyanin extracts(1: 1, 1: 2 and 1: 3). To increase the acceptance of the panelists, honey, banana flavorand menthol flavorwas added into the beverages. Sensory characteristic was evaluated by 28 panelists using hedonic test. Hedonic test found that the three types of functional beverages has a acceptance score between 3.4-3.8 or in the range rather like to like, both for the aspect of color, flavor, and aroma (p > 0.05). It can beconcluded that the bitter grass and purple sweet potato can be used as raw material in making of functional beverages. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari daya terima minuman fungsional kaya antioksidan dari ekstrak klorofil rumput pahit dan antosianin ubi jalar ungu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2016 di Laboratorium Rekayasa dan Analisis Boga, Fakultas Teknik UNJ. Ekstraksi klorofil dari rumput pahit dilakukan dengan menggunakan larutan NaHCO3 pada konsentrasi 0.1% (b/v). Ekstrak klorofil tersebut selanjutnya ditambah dengan ion Cu2+ dalam bentuk CuSO4 sebanyak 100 mg Cu2+/L ekstrak klorofil rumput pahit untuk mendapatkan ekstrak klorofil yang lebih stabil. Sementara itu, ekstraksi antosianin dari ubi jalar ungu dilakukan dengan menggunakan pelarut air dan asam asetat 25% pada perbandingan 30:0.5. Ekstrak klorofil dan antosianin kemudian dicampur dengan perbandingan 1:1, 1:2, dan 1:3 untuk mendapatkan tiga minuman fungsional. Agar dapat diterima panelis, ke dalam campuran tersebut ditambahkan pemanis madu serta flavor pisang dan menthol. Minuman yang dihasilkan selanjutnya dinilai oleh 28 orang panelis agak terlatih dengan menggunakan uji organoleptik (uji hedonik). Hasil uji organoleotik memperlihatkan bahwa ketiga jenis minuman fungsional memiliki tingkat penerimaan agak suka hingga suka (skor 3.4-3.8) untuk aspek warna, rasa, dan aroma. Tidak ada perbedaan nyata tingkat penerimaan panelis terhadap warna, rasa, dan aroma untuk ketiga jenis minuman tersebut. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa rumput pahit dan ubi jalar ungu dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan minuman fungsional.
PENERAPAN METODE COKRIGING UNTUK MENGESTIMASI JUMLAH ZAT PADAT TERLARUT PADA AIR DI PERMUKIMAN KOTA PONTIANAK Naomi Nessyana Debataraja; Dadan Kusnandar; Nurfitri Imro’ah; Marwalida Rachmadiar
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.795 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v20i2.208.2019

Abstract

The aim of this study is to apply cokriging method in estimating solid substance from water sample in the city of Pontianak. Cokriging is a method to estimate a variable using cross correlation among severa variables. The sample is water from 41 location in housing areas in Pontianak. Measurement of dissolved solid substance level and colors in a laboratory. Based on the result, a theoretical semivariogram model is developed of dissolved solid substance level and spherical model for color. Cross semivariogram model between content of dissolved solid substance and coloris spherical model. The study also showed estimation value of dissolved solid substance for ten new location in housing area of Pontianak city which are not studied previously. The estimation showed that the largest dissolved solid sbubstance is 155,4 mg/L and the smallest is 11,7 mg/L. A visualization of the locations are shown in a map by Geographical Information System. Metode cokriging adalah metode yang digunakan untuk mengestimasi suatu variabel dengan dengan memanfaatkan korelasi silang antara beberapa variabel. Penelitan ini bertujuan untuk mengaplikasikan metode cokriging dalam mengestimasi kandungan jumlah zat padat terlarut dari kandungan warna air di kawasan permukiman Kota Pontianak. Data yang digunakan adalah sampel air dari 41 lokasi di kawasan permukiman Kota Pontianak. Setiap sampel air dilakukan pengukuran nilai jumlah zat padat terlarut dan warna di laboratorium. Hasil analisis diperoleh model semivariogram teoritis untuk jumlah zat padat terlarut yang digunakan adalah model eksponensial, sedangkan untuk warna adalah model spherical. Model cross semivariogram antara jumlah zat padat terlarut dan warna yang digunakan adalah model spherical. Selanjutnya diperoleh nilai estimasi dari jumlah zat padat terlarut untuk sepuluh titik lokasi baru di kawasan permukiman Kota Pontianak yang belum tersampel. Hasil estimasi menunjukkan nilai jumlah zat padat terlarut terbesar sebesar 155,4 mg/L dan terkecil di parit sebesar 11,7 mg/L. Titik-titik lokasi divisualisasikan dalam bentuk peta melalui Sistem Informasi Geografis.

Filter by Year

2003 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 2 (2024): September (in Progress) Vol. 25 No. 1 (2024) Vol. 24 No. 2 (2023) Vol. 24 No. 1 (2023) Vol. 23 No. 2 (2022) Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol 20 No 2 (2019) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol 20 No 1 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol 20 No 1 (2019) Vol 19 No 2 (2018) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol 19 No 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol 18 No 2 (2017) Vol 18 No 1 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol 17 No 2 (2016) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol 17 No 1 (2016) Vol 16 No 2 (2015) Vol. 16 No. 2 (2015) Vol 16 No 1 (2015) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol 15 No 2 (2014) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol 15 No 1 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol 14 No 2 (2013) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol 14 No 1 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol 13 No 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol 13 No 1 (2012) Vol 12 No 2 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol 12 No 1 (2011) Vol 11 No 2 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol 11 No 1 (2010) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol 10 No 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 2 (2008) Vol 9 No 2 (2008) Vol. 9 No. 1 (2008) Vol 9 No 1 (2008) Vol. 8 No. 2 (2007) Vol 8 No 2 (2007) Vol. 8 No. 1 (2007) Vol 8 No 1 (2007) Vol. 7 No. 2 (2006) Vol 7 No 2 (2006) Vol 7 No 1 (2006) Vol. 7 No. 1 (2006) Vol 6 No 2 (2005) Vol. 6 No. 2 (2005) Vol. 6 No. 1 (2005) Vol 6 No 1 (2005) Vol. 5 No. 2 (2004) Vol 5 No 2 (2004) Vol 5 No 1 (2004) Vol. 5 No. 1 (2004) Vol. 4 No. 2 (2003) Vol. 4 No. 1 (2003) Vol 4 No 1 (2003) More Issue