cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi
Published by Universitas Terbuka
ISSN : 14111934     EISSN : 24429147     DOI : -
Merupakan media informasi dan komunikasi para praktisi, peneliti, dan akademisi yang berkecimpung dan menaruh minat serta perhatian pada pengembangan Matematika, ilmu pengetahuan dan teknologi. Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Terbuka.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
PENGUATAN KELOMPOK USAHA BERSAMA (KUB) PERIKANAN TANGKAP(STUDI KASUS DESA LATUHALAT,KOTA AMBON,PROVINSI MALUKU) Lilian Sarah Hiariey; Nesti Rostini Romeon
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.842 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v18i2.137.2017

Abstract

The Collective Business Group (KUB) of fisheriesVillage Latuhalat is a new step in the fishing community toimprove the welfare of living independently.because most of the population depend for their on the earnings of the sea and exposed tothe problem of poverty.Therefore, it is necessary to finda strategy which leads to an increase in the role of public institutions by strengtheningresearchKUBaims: 1) Assess the capacity of KUB's fisheries in promoting member; 2) Identify the factors that can support and hinder the strengthening of KUB fisheries and 3) Develop strategies and programs to strengthen KUB's fisheries.Qualitative research methods using technical methodsof Participatory Rural Appraisal (PRA). Results showed thatKUB constraints and needs in developing fisheries catch.Factors that hamper the strengthening of KUB are: (1) The condition of the community, (2) business improvement member is not yet optimal; and (3) the Government in granting program is participatory and KUB yet untapped to empower fishermen. Supporting factors, among others: (1) The fishery potential is quite large; (2) the establishment of institutional KUB Risna and Sibu-Sibu; (3) the availability of Fish Landing Ports (PPI) as a production catches;(4) Support Government policy through an increase in fish production.While inhibiting factor among others: (1) production decreased catches; (2) The fishermen have consumptive life pattern; (3) do not have the skills to process the fish when the fish are abundant; (4) the implementation of organizational management and production operations management low arrest. KUB proposed strategies can include: (1) Increasing the capacity of members and administrators; (2) Mentoring institutional management; (3) The development of networking; (4) Procurement of technical training arrests; (5) The assistance promotion in the management of fishery resources based local wisdom; and (6) Acquisition of facilities and infrastructure arrests.Kelompok Usaha Bersama (KUB) perikanan tangkapdi Desa Latuhalat merupakan satu langkah baru dalam masyarakat nelayan untuk mengembangkan kesejahteraan hidup secara mandiri. Sebagian besar masyarakat desa tersebut menggantungkan kelangsungan hidupnya dari penghasilan laut dan dihadapkan pada masalah kemiskinan. Perlu dicari strategi yang mengarah pada peningkatan peranan lembaga masyarakat melalui penguatan KUB. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengkaji kapasitas KUB perikanan tangkap dalam meningkatkan usaha anggota; 2) Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mendukung dan menghambat penguatan KUB perikanan tangkap; dan 3) Menyusun strategi dan program penguatan KUB perikanan tangkap. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif teknis Participatory Rural Appraisal (PRA). Hasil penelitian menunjukkan adanya kendala dan kebutuhan KUB dalam mengembangkan usahaperikanan tangkap. Faktor-faktor yang menghambat penguatan KUB adalah: (1) Kondisi komunitas, (2) Belum optimalnya peningkatan usaha anggota; dan (3) Pemerintah dalam pemberian program belum bersifat partisipatif dan KUB belum dimanfaatkan untuk memberdayakan nelayan. Faktor-faktor pendukung, antara lain: (1) potensi perikanan tangkap cukup besar; (2) terbentuknya kelembagaan KUB Risna dan Sibu-Sibu; (3) tersedianya Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) sebagai tempat produksi hasil tangkapan; (4) Dukungan kebijakan Pemerintah Daerah melalui program peningkatan produksi perikanan. Sedangkan Faktor-faktor penghambat antara lain: (1) produksi hasil tangkapan menurun; (2) nelayan memiliki pola hidup konsumtif; (3) Nelayan tidak memiliki ketrampilan dalam mengolah ikan saat ikan melimpah; (4) penerapan manajemen organisasi dan manajemen operasi produksi penangkapan rendah. Strategi yang dapat diusulkan KUB antara lain: (1) Peningkatan kapasitas anggota dan pengurus; (2) Pendampingan manajemen kelembagaan; (3) Pengembanganjejaring; (4) Pengadaan pelatihan teknis penangkapan; (5) Pendampingan danpromosi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis kearifanlokal dan (6) Pengadaan sarana dan prasarana penangkapan.
PENGGUNAAN METODE ARIMA DALAM MERAMAL PERGERAKAN INFLASI Hartati Hartati
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.822 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v18i1.163.2017

Abstract

Inflation is a problem which haunts the economy of each country. Its development is which continually increasing make a drag on economic growth to a better direction. Inflation tends to occur in developing countries like Indonesia which is an agricultural country. To overcome the instability of inflation, one way to do is to predict the time series data. Methods Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) has the ability to capture the necessary information about the wood as well as able to cope with the instability of inflation of inflation. This is because ARIMA is a method of forecasting time series are suited to predict the number of variables in a fast, simple, inexpensive, accurate, and only requires the data variables to be predicted. Inflasi merupakan suatu masalah yang menghantui perekonomian setiap negara. Perkembangannya yang terus-menerus mengalami peningkatan menjadi hambatan pada pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik. Perubahan laju inflasi cenderung terjadi pada negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia yang merupakan negara agraris. Untuk menanggulangi terjadinya ketidakstabilan laju inflasi, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meramalkan data time series. Metode Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) memiliki kemampuan untuk menangkap informasi-informasi yang diperlukan mengenai laju inflasi serta mampu menanggulangi ketidakstabilan dari laju inflasi. Hal ini dikarenakan ARIMA merupakan suatu metode peramalan time series yang cocok digunakan untuk meramal sejumlah variabel secara cepat, sederhana, murah, dan akurat serta hanya membutuhkan data variabel yang akan diramal.
POTENSI SEDATIF-HIPNOTIK DAUN KAYU GALALA (ERYTHRINA LITHOSPERMA) SEBAGAI KANDIDAT OBAT INSOMNIA Efraim Samson; Wahyudi Abdul Hamid Ridwan; Chomsa Dintasari Umi Baszary
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.826 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v20i2.166.2019

Abstract

The use of drugs from the sedative-hypnotic group to overcome are less popular of insomnia are more and turned to the use of traditional medicines made from plants. The purpose of this study is to determine the potential of kayu galala leaves (Erythrina lithosperma) as a popular of insomnia. A total of 15 male mice to live (Mus musculus) aged ± 2 months weighing ± 20 grams, divided into control mice (K- and K +), and mice treated with infusion dose of kayu galala leaves, ie P1 0,3 mL/mice; P2 0,5 mL/mice; and P3 0,7 mL/mice. The results showed that kayu galala leaves had a sedative-hypnotic effect. All infusion doses of kayu galala leaves were ‎‎‎‎‎‎able to accelerate sedative onset and increase the duration of mice hypnotics, and the most effective dose is 0,7 mL/mice. The statistical test results showed that awarding of kayu galala leaves infusion had more significant effect in accelerating sedative onset and increasing the duration of mice hypnotics, when compared to the positive control group (+). Penggunaan obat-batan dari golongan sedatif-hipnotik untuk mengatasi masalah insomnia mulai ditinggalkan dan beralih pada penggunaan obat-obatan tradisional berbahan tumbuhan. Tujuan dilakukannya penelitian ini, yakni untuk mengetahui potensi sedatif-hipnotik daun kayu galala (Erythrina lithosperma) sebagai kandidat obat insomnia. Sebanyak 15 ekor mencit (Mus musculus) jantan umur ± 2 bulan dengan berat badan ± 20 gram, dibagi ke dalam kelompok mencit kontrol (K- dan K+), serta kelompok mencit perlakuan dosis infusa daun kayu galala, yakni P1 0.3 mL/ekor; P2 0.5 mL/ekor; dan P3 0.7 mL/ekor. Hasil penelitian membuktikan bahwa daun kayu galala memiliki efek sedatif-hipnotik. Seluruh dosis infusa daun kayu galala mampu mempercepat onset sedatif serta meningkatkan durasi hipnotik mencit, dan yang paling efektif yakni dosis 0.7 mL/ekor. Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa pemberian infusa daun kayu galala memiliki pengaruh yang lebih signifikan dalam mempercepat onset sedatif serta meningkatkan durasi hipnotik mencit, bila dibanding kelompok kontrol positif (+).
STRATEGI PENINGKATAN RESILIENSI MASYARAKAT PESISIR TERHADAP TEKANAN SOSIO-EKOLOGIS (Studi Kasus Pesisir Kota Semarang) Agus Susanto
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.577 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v18i1.170.2017

Abstract

Popularity of the Coastal of Semarang city coused of rob that has occurred since the 1970s, and lately getting worse in terms of both area and time (duration) puddle. This is the result of global warming impact on sea level rise. In addition, the coastal city of Semarang was under pressure socio-ecological form of floods, land use, soil degradation, water use conflicts and water pollution. As for the most vulnerable population exposed to pressures socio-ecological are: fishermen / farmers, factory workers, employees, and services. Based on these reasons, done the research resilience of communities from coastal of Semarang city with the aim of knowing the forms of resilience and treatment strategies based on the dimensions of sustainability (ecological, economic and social). The method used is descriptive explorative, data collection with quantitative and qualitative approaches. Analysis of the data used were: descriptive, vulnerability and resilience refers to the IPCC (2001), whereas the strategy to improve resilience using Multi Criteria Decission Making (MCDM) with weighting. The result of analysis is, there are, 3 (three) options strategies for improving resilience, namely: (a) the development of human resources (HR) is through community empowerment, (b) provision of incentives that can be done directly in the form of assistance, and indirectly in the form of regulating the use land, the improvement of facilities and infrastructure, as well as the improvement of social infrastructure, and (c) the manufacture dike embankment can be making a dike in the side of the river and the elevation of the road that can touch on the fundamental aspects of the physical and ecological. Pesisir Semarang populer karena rob yang sudah terjadi sejak tahun 1970an, dan akhir-akhir ini bertambah parah baik dari segi luasan maupun waktu (durasi) genangannya. Hal ini akibat pemanasan global yang berdampak pada kenaikan permukaan laut. Disamping itu, pesisir Kota Semarang mengalami tekanan sosio-ekologi yang berupa: banjir, alih fungsi lahan, penurunan tanah, konflik penggunaan air, dan pencemaran perairan. Adapun kelompok masyarakat yang rentan terpapar tekanan sosio-ekologi adalah: nelayan/petani, buruh pabrik, karyawan, dan jasa. Untuk itu dilakukan penelitian Resiliensi (ketahanan) masyarakat pesisir Kota Semarang dengan tujuan mengetahui bentuk-bentuk resiliensi dan strategi penanganan berdasarkan dimensi keberlanjutan (ekologi, ekonomi, dan sosial). Metode yang digunakan adalah deskriptif eksploratif, pengambilan data dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Analisis data yang digunakan adalah: deskriptif, kerentanan, dan resiliensi yang mengacu pada IPCC (2001), sedangkan untuk strategi peningkatan resiliensi menggunakan Multi Criteria Decission Making (MCDM) dengan pembobotan. Hasil analisis: terdapat 3 (tiga) pilihan strategi peningkatan resiliensi yaitu: (a) pengembangan sumberdaya manusia (SDM), yaitu melalui pemberdayaan masyarakat, (b) pemberian insentif yang dapat dilakukan secara langsung, yaitu berupa pemberian bantuan dan tidak langsung yang berbentuk pengaturan penggunaan lahan, peningkatan sarana dan prasarana, serta perbaikan infrastruktur sosial, dan (c) pembuatan tanggul, dapat berupa pembuatan tanggul di sisi sungai dan peninggian jalan yang dapat menyentuh aspek mendasar pada sisi fisik dan ekologis.
PERAN KELUARGA DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA PALANGKA RAYA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA Dody Ariyantho Kusma Wijaya
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.982 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v18i1.172.2017

Abstract

This research study the role of Family and Government Policy of Palangka Raya in Household Waste Managementin order to see whowas the most responsible for decision-makers in the process of waste management in households, and examines the role of families in the process of waste management before disposal into the trash. Data collection was done through observation and interview on the studied variables. The research was conducted in the district of Pahandut, district of Jekan Raya and district of Sebangau Palangka Raya in April till June 2011. The Source of data or respondents in the research community is engaged in managing and disposing of garbage. The community is a society of each chosen houshold. Sampling was done purposively stratified. The results showed that the head of the family was instrumental in the process of garbage disposal. Garbage disposal decision makers is the father of 68.9% (31 respondents) and the mothers of 31,1% (14 respondents). In the waste management at household level was the comparison between wet waste and dry waste that is equal to ⅓ most was 54% (7 respondents. This indicates that the household waste produced is a dry waste. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran keluarga dan kebijakan pemerintah Kota Palangka Raya dalam pengelolaan sampah rumah tangga agar dapat melihat siapa yang paling berperan sebagai pengambil keputusan dalam proses pengelolaan sampah di dalam rumah tangga, serta mengkaji peranan keluarga dalam proses pengelolaan sampah sebelum dibuang ke tempat sampah. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan atau observasi (observation) dan wawancara (interview) terhadap variabel yang diteliti. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pahandut, Kecamatan Jekan Raya dan Kecamatan Sebangau Kota Palangka Raya pada bulan April hingga bulan Juni 2011. Sumber data atau responden dalam penelitian adalah masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan dan pembuangan sampah. Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat dari masing-masing rumah tangga terpilih. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive berstrata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala keluarga sangat berperan dalam proses pembuangan sampah, pengambil keputusan pembuangan sampah adalah Bapak sebesar 68,9% (31 responden) dan Ibu sebesar 31,1% (14 responden), Dalam pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga ternyata perbandingan antara sampah basah dan sampah kering terbanyak adalah ⅓ yaitu sebesar 54% (7 responden). Hal ini menunjukkan bahwa sampah rumah tangga yang dihasilkan adalah berupa sampah kering.
KOMPARASI NILAI GIZI SAYURAN ORGANIK DAN NON ORGANIK PADA BUDIDAYA PERTANIAN PERKOTAAN DI SURABAYA Dwi Iriyani; Pangesti Nugrahani
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.682 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v18i1.173.2017

Abstract

The developing of urban agriculture is having an important contribution in food supply to the citizen. One of urban agriculture commodity which is marketable is leaf vegetable, as the sources of protein, vitamin, minerals, essential amino acids that is cheap and available everydays. Even though the developing of urban agriculture commodity in the marginal land condition, but the result is a good product. This research conducted to make a comparison of nutrition value the leaf vegetable which planted in surabaya urban agriculture, such as Kangkung (Ipomea aquatic forsk), Mustard green (Brassica rapa), and Spinach (Spinacea oleracea L.), with its similar products which are produced organically. The method used is descriptive quantitative. The total chlorophyll content and carotenoids are be measured by using spectrophotometric method at a wavelength of 480 nm, 645nm, and 663 nm.The content of vitamin C be measured by using the titration methods solution of Dichlorophenol Indophenol (DCPIP). The findings indicated that vegetable which planed in non organic agriculture, or organic, is having high enough in water content, more than 80%. The high vitamin C level is in non organic Mustard green (2,45 µg/g) and the lowest one in organic spinach (0,68 µg/g). The high chlorophyll level is in non organic spinach (23,81 mg/L) and the lowest one in non organic kangkung (3,29 mg/L). Likewise, the high carotene level is in non organic spinach (263,52 μmol/L) and the lowest one in non organic mustard green (168,02 μmol/L). The results of this study indicate that there is no particular type of leaf vegetables that has all the best nutrition value, both organic and non-organic. Pertanian perkotaan dikembangkan agar dapat memiliki kontribusi penting dalam memasok bahan pangan penduduk kota. Salah satu komoditi pertanian perkotaan yang cukup marketable adalah sayuran daun. Sayuran daun adalah sumber protein, vitamin, mineral, dan asam amino esensial paling murah dan tersedia setiap saat. Meskipun komoditi pertanian perkotaan dikembangkan di lahan yang marjinal, namun menghasilkan produk yang cukup baik. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan nilai gizi sayuran daun yang ditanam di pertanian perkotaan kota Surabaya, yaitu kangkung (Ipomea aquatic Forsk), sawi hijau (Brassica rapa), dan bayam (Spinacea oleracea L.), dengan produk serupa yang dihasilkan secara organik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Kandungan klorofil total dan karotenoid diukur dengan menggunakan metode spektrofotometri pada panjang gelombang 480 nm, 645 nm, dan 663 nm. Kandungan vitamin C diukur dengan metode titrasi larutan Dichlorophenol Indophenol (DCPIP). Hasil penelitian menunjukkan sayuran yang ditanam pada pertanian non organik, maupun organik, memiliki kadar air yang cukup tinggi, yakni lebih dari 80%. Kadar vitamin C tertinggi pada Sawi non organik (2,45 µg/g) dan terendah pada bayam organik (0,68 µg/g). Kadar klorofil tertinggi pada bayam non organik (23,81 mg/L) dan terendah pada kangkung non organik (3,29 mg/L). Demikian juga kadar karoten tertinggi pada bayam non organik (263,52 μmol/L) dan yang terendah pada sawi non organik (168,02 μmol/L). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada jenis sayuran daun tertentu yang memiliki seluruh nilai gizi terbaik, baik yang organik maupun yang non organik.
KERAGAAN PROSES PEMBELAJARAN PENYULUH PERTANIAN DALAM PENDIDIKAN TERBUKA DAN JARAK JAUH Nurul Huda; Ludivica Endang Setijorini; Diarsi Eka Yani; Idha Farida
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.441 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v18i1.180.2017

Abstract

Agricultural extension workers who study at Universitas Terbuka (UT), which is a distance education institution,were to obtain the necessary competencies. By studying at UT, they can improve their competencies without leaving their duties. The purpose of this study was to analyze the profile of learning process of agricultural extension workers in distance education, particularly in terms of interaction with modules, tutorial activities,the scope of learning materials, independent learning, and learning facilities. Designed as an exploratory research, this study was supported by qualitative approach to obtain information that was not obtained through surveys. Respondents were agricultural extension workers in the regions of Bengkulu, Samarinda, Serang, Pontianak, Jambi, Jakarta, and Bogor. The data collected in this study were primary and secondary data. Primary data were collected using a questionnaire and indepth interviews using interview guidelines. Secondary data were obtained through the collection of documentation. Quantitative data were analyzed using descriptive statistical analysis, while qualitative information was analyzed qualitatively. The results indicated that the profile of the learning process of agricultural extension workers graduated from distance education is quite good, as seen from the high-intensity interactions between agricultural extension workers with learning materials or modules. Their participation in tutorials were also good, especially in face to face tutorials. Online tutorials were generally not been widely used. The scope of learning materials also need to accommodate in accordance to the needs of their independent learning. However, to improve the quality of service, there are several things in the learning process that needs to be addressed, such as learning facilities and interaction with modules. Para penyuluh belajar di Universitas Terbuka (UT), yang merupakan institusi pendidikan jarak jauh, untuk mendapatkan kompetensi yang dibutuhkan. Dengan belajar di UT, penyuluh dapat meningkatkan kompetensinya tanpa meninggalkan tugas pekerjaannya. Tujuan penelitian adalah menganalisis keragaan proses pembelajaran penyuluh pertanian dalam sistem belajar jarak jauh, khususnya dalam hal interaksi penyuluh dengan modul, partisipasinya dalam kegiatan tutorial, cakupan materi dalam kurikulum, kemandirian belajar, dan pemanfaatan fasilitas belajar. Rancangan penelitian ini adalah exploratory research, didukung dengan pendekatan kualitatif untuk memperoleh informasi yang tidak diperoleh melalui survei. Sampel penelitian ini adalah penyuluh di wilayah Bengkulu, Samarinda, Serang, Pontianak, Jambi, Jakarta, dan Bogor. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner melalui survei dan wawancara mendalam. Data sekunder diperoleh melalui pengumpulan dokumentasi dengan cara mencatat data yang tersedia di instansi-instansi, dan kajian pustaka yang relevan dengan penelitian. Data kuantitatif dianalisis menggunakan analisis statistika deskriptif, sedangkan informasi kualitatif dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaan proses pembelajaran penyuluh pertanian lulusan pendidikan jarak jauh UT cukup baik, yang terlihat dari intensitas interaksi yang tinggi antara penyuluh dengan bahan belajar atau modul. Disamping itu, partisipasi penyuluh dalam kegiatan tutorial juga baik, khususnya pada kegiatan tutorial tatap muka. Tutorial onlineumumnya belum banyak dimanfaatkan penyuluh mengingat ketika mereka belajar dulu layanan tutorial online yang disediakan UT masih terbatas. Kurikulum yang digunakan juga sudah mengakomodasi kebutuhan penyuluh yang mendukung kemandirian belajar mereka. Namun demikian, untuk meningkatkan kualitas layanan yang lebih baik, ada beberapa hal dalam proses pembelajaran yang perlu dibenahi, yaitu fasilitas belajar dan interaksi dengan bahan ajar.
PENDUGAAN UMUR SIMPAN MI KERING DARI TEPUNG KOMPOSIT TERIGU, KELADI, DAN UBI JALAR Dian Adi Anggraeni Elisabeth; Ludivica Endang Setijorini
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.615 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v17i1.182.2016

Abstract

This research aimed to investigate theshelf-life of wheat, taro, and sweet potato composite flours-based dried noodles produced by a women-farming group called“Mekar Sari” in thePelaga village, Badung District, Bali. The research was conducted fromMay until November 2014. The research onthe shelf-life wasbased on the water content changing patternsby usinga completely randomized design with four treatments of thickness of PE plastic, i.e. (a) P1=0,30 mm; (b) P2=0,32 mm; and (c) P3=0,35 mm; and (d) P4=0,40 mm. The identification of shelf-life adoptedthe acceleration method (ASLT = Accelerated Shelf Life Testing)together with the Arrhenius approach. The products were stored in various storage temperatures, i.e.,20oC, 30oC (room temperature) as a control, and40oC. The results showed that PE plastic 0,35 mm was suitable for dried noodle packaging. In room temperature, shelf-life of the dried noodle was about 46 weeks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur simpan mi kering dari tepung komposit terigu, keladi, dan ubijalar. Produk mi kering dihasilkan oleh kelompok wanita tani (KWT) Mekar Sari di Desa Pelaga, Kabupaten Badung, Bali. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai November 2014. Penentuan umur simpan produk mi kering berdasarkan pola perubahan kadar air menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 (empat) perlakuan ketebalan plastik polietilen (PE), yaitu: (a) P1=0,30 mm; (b) P2=0,32 mm; dan (c) P3=0,35 mm; dan (d) P4=0,40 mm. Penentuan umur simpan menggunakan metode ASLT (Accelerated Shelf Life Testing) dengan pendekatan Arrhenius. Produk mi kering disimpan pada berbagai suhu penyimpanan, yaitu 20oC, 30oC (suhu ruang) sebagai kontrol, dan 40oC. Hasil menunjukkan bahwa pengemasan dalam plastik PE 0,35 mm lebih sesuai untuk penyimpanan mi kering. Pada suhu ruang, umur simpan mi kering dapat mencapai sekitar 46 minggu.
TINGKAT KEBERHASILAN PENANAMAN POHON MANGROVE (KASUS: PESISIR PULAU UNTUNG JAWA KEPULAUAN SERIBU) Adi Winata; Ernik Yuliana
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.517 KB)

Abstract

Increased land demand for human life tends to lead the most transitional allotment of land conservation in the coastal zone into settlements, ports, aquaculture, and other means of livelihood. Including mangrove ecosystem in the coastal region of Kepulauan Seribu (Thousand Islands). The purpose of study was to measure the success rates of mangrove trees planting and the growth rates of mangrove trees. The design of the study was exploratory research using a quantitative approach. The population were the mangrove trees planted under the Community Services Program of Universitas Terbuka held on October 28th 2013. The planted mangrove species was Rhizophora mucronata. The sample was selected from several land areas with 3 x 3 m survey plots available in 10 locations on the Untung Jawa Island. The study used both primary and secondary data. Data were collected using a survey method, and presented both in the form of frequencies and descriptions, and then analyzed descriptively. The primary data covered the number of mangrove trees, mangrove tree height, the number of leaves, leaf length, and leaf width. The results indicated that the success rate of mangrove tress planting reached 72%. This indicates that Rhizophora mucronata had fairly wide range of habitats, hence it is easy to live in the research location. Overall, the growth rate of mangrove trees showed good results, in terms of tree height, the number of leaves, leaf length and leaf width. Meningkatnya kebutuhan akan lahan untuk kehidupan manusia, mengakibatkan banyaknya peralihan peruntukan lahan konservasi di kawasan pesisir menjadi permukiman, pelabuhan, pertambakan, dan sarana kehidupan lainnya. Tidak terkecuali ekosistem mangrove di wilayah pesisir kepulauan Seribu. Tujuan khusus penelitian adalah mengukur tingkat keberhasilan penanaman pohon mangrove dan tingkat pertumbuhan pohon mangrove. Rancangan penelitian adalah exploratory research dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah semua pohon mangrove yang ditanam pada saat Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Terbuka pada tanggal 28 Oktober 2013. Jenis mangrove yang ditanam adalah Rhizophora mucronata. Penentuan sampel pohon mangrove diambil dari beberapa luasan lahan dengan membuat plot-plot survei di 10 lokasi di Pulau Untung Jawa Setiap plot berukuran 3 x 3 m. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer yaitu jumlah pohon yang hidup, tinggi pohon, jumlah daun, panjang daun, dan lebar daun. Pengumpulan data menggunakan metode survei. Data primer yang diperoleh dari survei lapangan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan uraian. Selanjutnya, data diolah dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan penanaman pohon mangrove mencapai 72%. Hal ini menunjukkan bahwa pohon bakau (Rhizophora mucronata) adalah jenis mangrove yang mudah hidup pada range habitat yang cukup luas. Secara keseluruhan, tingkat pertumbuhan pohon mangrove menunjukkan hasil yang baik, dari sisi tinggi pohon, jumlah daun, panjang daun, dan lebar daun.
PENERAPAN METODE FUZZY SUGENO UNTUK MENENTUKAN JALUR TERBAIK MENUJU LOKASI WISATA DI SURABAYA Muizzatul Mukaromah
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/jmst.v20i2.187.2019

Abstract

This study aims to determine the best route to tourist sites in Surabaya. An optimal path will be obtained from three path choices. The method used is Sugeno Fuzzy Logic, by obtaining membership degrees with fuzzification and then being applied to the appropriate rules, followed by the deflation process to produce optimal and less optimal output. There are six tourist attractions to be visited including Tugu Pahlawan, Food Junction Pakuwon, Atlantis Land, Surabaya Zoo (KBS), Suroboyo Carnival, and Mangrove. There are three starting points (Surabaya City Hall, Purabaya Terminal, and Tanjung Perak Port). The criteria used in this study are distance to tourist attractions, time taken, and road density. These criteria were chosen based on almost all tourist locations in the city of Surabaya through the crowds along the main city lanes in Surabaya. Data is obtained through google maps by comparing three paths and the optimal path will be determined to be passed to get to tourist attractions in Surabaya. The results of this study obtained six optimal paths from each starting point. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jalur terbaik menuju lokasi wisata di Surabaya. Akan diperoleh jalur optimal dari tiga pilihan jalur. Metode yang digunakan adalah logika fuzzy sugeno, dengan cara mendapatkan derajat keanggotaan dengan fuzzifikasi dan kemudian diimplikasikan ke dalam rute yang sesuai, dilanjutkan proses defuzzfikasi untuk menghasilkan output optimal dan kurang optimal. Terdapat enam tempat wisata yang akan dikunjungi diantaranya Tugu Pahlawan, Food Junction Pakuwon, Atlantis Land, Kebun Binatang Surabaya (KBS), Suroboyo Carnival, dan Mangrove. Ada tiga titik awal (Balaikota Surabaya, Terminal Purabaya, dan Pelabuhan Tanjung Perak). Kriteria yang digunakan pada penelitian ini adalah jarak ke tempat wisata, waktu yang ditempuh, dan kepadatan jalan. Kriteria tersebut dipilih berdasarkan hampir seluruh lokasi wisata yang ada di kota Surabaya melewati keramaian di sepanjang jalur utama kota yang ada di Surabaya. Data diperoleh melalui Google maps dengan membandingkan tiga jalur dan akan ditentukan jalur optimal yang akan dilewati untuk menuju tempat wisata di Surabaya. Hasil dari penelitian ini diperoleh enam jalur yang optimal dari setiap titik awal.

Filter by Year

2003 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 2 (2024): September (in Progress) Vol. 25 No. 1 (2024) Vol. 24 No. 2 (2023) Vol. 24 No. 1 (2023) Vol. 23 No. 2 (2022) Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol 20 No 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol 20 No 1 (2019) Vol 20 No 1 (2019) Vol 19 No 2 (2018) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol 19 No 1 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol 18 No 2 (2017) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol 18 No 1 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol 17 No 2 (2016) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol 17 No 1 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 2 (2015) Vol 16 No 2 (2015) Vol 16 No 1 (2015) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol 15 No 2 (2014) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol 15 No 1 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol 14 No 2 (2013) Vol 14 No 1 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol 13 No 2 (2012) Vol 13 No 1 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol 12 No 2 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol 12 No 1 (2011) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol 11 No 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol 11 No 1 (2010) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol 10 No 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol 9 No 2 (2008) Vol. 9 No. 2 (2008) Vol 9 No 1 (2008) Vol. 9 No. 1 (2008) Vol 8 No 2 (2007) Vol. 8 No. 2 (2007) Vol. 8 No. 1 (2007) Vol 8 No 1 (2007) Vol. 7 No. 2 (2006) Vol 7 No 2 (2006) Vol 7 No 1 (2006) Vol. 7 No. 1 (2006) Vol 6 No 2 (2005) Vol. 6 No. 2 (2005) Vol. 6 No. 1 (2005) Vol 6 No 1 (2005) Vol 5 No 2 (2004) Vol. 5 No. 2 (2004) Vol. 5 No. 1 (2004) Vol 5 No 1 (2004) Vol. 4 No. 2 (2003) Vol. 4 No. 1 (2003) Vol 4 No 1 (2003) More Issue