cover
Contact Name
Nanang Wiyono
Contact Email
smjfkuns@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
smjfkuns@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Smart Medical Journal
ISSN : 26211408     EISSN : 26210916     DOI : -
Core Subject : Health,
Smart Medical Journal (SmedJour) is published by Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret. SMedJour publishes original research articles or article review in the basic medical sciences, clinic medical sciences, medical education and public health.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2020): Smart Medical Journal" : 6 Documents clear
Effectiveness of Laser Acupuncture and Battlefield Acupuncture Therapy for Pain Management in Juvenile Idiopathic Arthritis : A Case Report Dwi Surya Supriyana; Arsita Eka Prasetyawati; Robby G Sebayang; Kemas Abdurrohim
Smart Medical Journal Vol 3, No 1 (2020): Smart Medical Journal
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.239 KB) | DOI: 10.13057/smj.v3i1.39378

Abstract

Introduction : Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA) is a comprehensive chronic condition of a joint inflammatory autoimmune process, resulting a decrease of function in a long period characterized by fever and pain, which is include all form of unknown etiology that begin before 16 years old. Here we reported effectiveness of Laser Acupuncture and Battlefield Acupuncture Therapy for pain management in JIA case.Case report : A 10-year-old girl diagnosed with JIA was admitted to the pediatric department in Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, and treated by clinical multidisiplinary team from pediatrict, orthopedist, nutritionist, physiotherapist, and medical acupuncture doctor. She was referred to the Medical Acupuncture Department due to complaining of prolonged continous pain throughout her joints, and swelling in her right knee joint. The patient received laser acupuncture therapy in acupoints LI4 Hegu, LI11 Quchi, ST36 Zusanli, SP9 Yinliquan, and EX-LE5 Xiyan. Battlefield Acupuncture Points method (ears) of Omega2, Shenmen, Gyrus Cingulate, Thalamus, and Point Zero. The Therapy was given every day for two weeks and showed a significant improvement on patient’s Visual Analog Score.Conclusion : The combination regimen was effective in relieving pain and swelling, and caused a significant Visual Analog Score and Range of Motion improvement in our case. 
Pengaruh Ekstrak Etanol Umbi Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) Terhadap Kadar SGPT Tikus Wistar Induksi Parasetamol Olivia Arista Gunawan; Martini Martini; Veronika Ika Budiastuti
Smart Medical Journal Vol 3, No 1 (2020): Smart Medical Journal
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.74 KB) | DOI: 10.13057/smj.v3i1.38046

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Umbi bawang dayak mengandung antioksidan seperti flavonoid, saponin, isoeleutherol, proantosianidin, dan naftoquinon. Antioksidan berperan penting dalam pengobatan berbagai macam penyakit seperti diabetes, atherosklerosis dan kerusakan hepar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol umbi bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) terhadap kadar SGPT tikus wistar induksi parasetamol dosis toksik.Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan posttest only control group design. Subjek dari penelitian ini adalah 25 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar jantan, berumur ±2 bulan dengan berat ± 200 gram. Subjek dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok kontrol negatif (KK1) diberi CMC 0,5%. Kelompok kontrol positif (KK2) diberi parasetamol dosis toksik. Kelompok perlakuan I (KP1), II (KP2), dan III (KP3) diberi ekstrak umbi bawang dayak dengan dosis 6 mg/200gr BB, 12 mg/200gr BB, dan 18 mg/200gr BB.  Ekstrak umbi bawang dayak diberikan selama 13 hari berturut-turut, sedangkan parasetamol diberikan pada hari ke-11, 12 dan 13. Hari ke-14 dilakukan pengukuran kadar SGPT dengan cara pengambilan darah tikus putih melalui plexus vena orbita. Hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan uji one way ANOVA dan Post Hoc.Hasil: Hasil rerata kadar SGPT pada kelompok kontrol negatif sebesar 53,18±2,61 U/I, kelompok kontrol positif sebesar 367,161±59,84 U/I, kelompok perlakuan I sebesar 126,08±18,68 U/I, kelompok perlakuan II sebesar 114,78±14,69 U/I, dan kelompok perlakuan III sebesar 95,08±9,95 U/I. Hasil uji one way ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan antar 5 kelompok dengan nilai p=0,000. Selanjutnya, uji Post Hoc menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara KK1-KK2 (p=0,000), KK1-KP1(p=0,000), KK1-KP2(p=0,000), KK1-KP3(p=0,000), KK2-KP1 (p=0,000), KK2-KP2 (p=0,000), KK2-KP3 (p=0,000) sedangkan perbedaan yang tidak bermakna antar KP1-KP2 (p=0,697), KP1-KP3 (p=0,144) dan KP2-KP3 (p=0,274).Kesimpulan: Pemberian ekstrak umbi bawang dayak secara statistik signifikan untuk mencegah kenaikan kadar SGPT tikus putih yang dipapar parasetamol. Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian ekstrak umbi bawang dayak yang secara statistik signifikan antara dosis 6 mg/200gr BB, 12 mg/200gr BB, dan 18 mg/200gr BB.Kata kunci: ekstrak umbi bawang dayak; SGPT; Rattus norvegicus; parasetamol.  ABSTRACTIntroduction: Bawang dayak bulbs are a kind of plants containing antioxidant such as flavonoid, saponin, isoeleutherol, proantosianidin, and naftoquinon. Antioxidant has an important role in a treatment of various diseases such as diabetes, atherosclerosis and liver damage. This research aimed to find out the effect of bawang dayak bulbs extract to reduce SGPT levels of wistar rat inducted by toxic dose of paracetamol.Methods: This research was a laboratory experimental method with the posttest only control group design. The subject of research was 25 male white rats (Rattus norvegicus) wistar type, age ±2 months, weight ± 200 grams. The white rats were divided into 5 groups. Negative control group (KK1) was given CMC 0,5%. Positive control group (KK2) was given toxic dose of paracetamol. The treated group I (KP1), II (KP2), and III (KP3) was given bawang dayak bulbs extract at 6 mg/200gr BW, 12 mg/200gr BW, and 18 mg/200gr BW. Bawang dayak bulbs extract has given for 13 days, while paracetamol was given on the 11th day, 12th, 13th. On the 14th day, rat’s blood was taken from orbitalis plexus vena to measure SGPT level. The result was analyzed with one way ANOVA continued with Post Hoc test.Results: The rate of SGPT level of negative control group was 53,18±2,61 U/I, on the positive control group was 367,161±59,84 U/I, on treated group I was 126,08±18,68 U/I, on the treated group II was 114,78±14,69 U/I, and on the treated group III was 95,08±9,95 U/I. The result of one way ANOVA test showed the significant different among the four groups with p=0,000. The result of Post Hoc test showed that there was a significant difference between KK1-KK2 (p=0,000), KK1-KP1(p=0,000), KK1-KP2(p=0,000), KK1-KP3(p=0,000), KK2-KP1 (p=0,000), KK2-KP2 (p=0,000), KK2-KP3 (p=0,000), meanwhile there was no significant difference between KP1-KP2 (p=0,697), KP1-KP3 (p=0,144) dan KP2-KP3 (p=0,274).Conclusion: Bawang dayak bulbs extract given to the subject has significantly to avoid of increasing SGPT level of white rats induced by paracetamol. There is no significant difference between doses of 6 mg/200gr BW, 12 mg/200gr BW, and 18 mg/200gr BW dose.Keywords: bawang dayak bulbs extract; SGPT; Rattus norvegicus; paracetamol
Komplikasi Neurologis dan Non-Neurologis Prosedur Digital Subtraction Angiography Serebral di RSUD Dr. Moewardi Periode Juni 2013-Mei 2018 Subandi Subandi; Pepi Budianto; Stefanus Erdana Putra; Wahyu Gusti Randa
Smart Medical Journal Vol 3, No 1 (2020): Smart Medical Journal
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/smj.v3i1.38356

Abstract

Pendahuluan: Digital subtraction angiography (DSA) serebral menjadi gold standard untuk memeriksa penderita dengan gangguan serebrovaskular. Banyak kemajuan yang telah diperoleh untuk meningkatkan keamanan penggunaan DSA serebral, seperti kontras yang lebih aman, kateter yang lebih kecil, kawat (hydrophilic guides), dan sistem pengamatan digital yang semakin baik. Hingga saat ini, belum ada penelitian terkait komplikasi neurologis maupun non-neurologis dari prosedur DSA yang dilakukan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui berbagai komplikasi prosedur DSA, sehingga operator dapat meminimalisasi timbulnya komplikasi tersebut saat prosedur DSA dilakukan di kemudian hari.Metode penelitian: Penelitian deskriptif dilakukan di RSUD Dr. Moewardi terhadap 486 pasien yang menjalani prosedur DSA. Data yang dikumpulkan meliputi umur, jenis kelamin, komplikasi, serta temuan angiografi. Komplikasi neurologis dan non neurologis dikelompokkan menjadi: early, yang akan menghilang kurang dari 7 hari dan late, bila komplikasi terjadi lebih dari 7 hari. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah semua pasien yang menjalani prosedur DSA di RSUD. Dr. Moewardi periode Juni 2013 hingga Mei 2018 dan pasien yang mengalami komplikasi neurologis dan non-neurologis.Hasil penelitian: Terdapat 15 (3%) dari 486 pasien yang menjalani prosedur DSA serebral mengalami komplikasi. Komplikasi neurologis early terjadi pada 10 kasus (2%), dan tidak didapatkan komplikasi pada tipe late, sedangkan komplikasi non-neurologis early terjadi pada 2 kasus (0.4%), dan late pada 3 kasus (0.6%). Kejadian ini sebanding dengan penelitian yang dilakukan oleh studi internasional lainnya.Kesimpulan: Prosedur DSA serebral relatif aman, baik dalam hal komplikasi neurologis, komplikasi non-neurologis maupun terjadinya kematian. Komplikasi neurologis yang terjadi masih dalam batas yang direkomendasikan sesuai dengan petunjuk keamanan untuk melakukan DSA serebral.Kata kunci: Angiografi serebral; keamanan; komplikasi
Perbedaan Efektifitas antara Efedrin dengan Lidokain sebagai Premedikasi untuk Mengurangi Nyeri Lokal akibat Injeksi Propofol Bayu Prihananto; R. Th. Supraptomo; Eko Setijanto; Sugeng Budi Santosa
Smart Medical Journal Vol 3, No 1 (2020): Smart Medical Journal
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.653 KB) | DOI: 10.13057/smj.v3i1.39370

Abstract

Latar Belakang. Propofol merupakan agen induksi anestesi yang sering digunakan secara luas. Hal ini dikarenakan waktu pulih sadar pendek dengan kembalinya reflek-reflek kognitif, protektif dan psikomotor yang cepat. Propofol memiliki masalah lazim yang membuat pasien tidak nyaman karena nyeri pada lokasi injeksi. Berbagai metode sudah diteliti untuk mengurang nyeri dengan hasil yang berbeda-beda, yaitu dengan penggunaan obat lidokain, fentanil, metokloramid, atau modifikasi non-farmakologis dengan mendinginkan atau menghangatkan, mendilusi propofol, atau menyuntikkan pada vena yang besar. Obat lain yang dipakai untuk mengurangi nyeri tetapi masih jarang digunakan adalah efedrin. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui perbedaan efektifitas efedrin dengan lidokain sebagai premedikasi untuk mengurangi nyeri lokal akibat injeksi propofol.Metode. Penelitian yang digunakan adalah penelitian quasi eksperimental. Subjek dalam penelitian merupakan pasien yang melakukan pembedahan menggunakan induksi propofol dengan kriteria tertentu. Pengambilan subjek dilakukan dengan teknik purposive sampling yang berjumlah 40 orang, kemudian dibagi menjadi dua kelompok perlakuan di Instalasi Bedah Sentral (I.B.S.) RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji fisher exact.Hasil: Dari hasil analisis data dengan 40 subjek penelitian yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan, didapatkan hasil perhitungan uji fisher exact adalah 0,661, maka H0 diterima karena p-value > 0,05.Simpulan: Tidak ada perbedaan efektifitas antara efedrin 30 µg/kgBB intravena dengan lidokain 1 mg/kgBB intravena sebagai premedikasi dalam mengurangi nyeri akibat injeksi propofol.Kata Kunci: Nyeri Propofol; Efedrin; Lidokain
Nutritional Therapy In Ischemic Stroke Patients With Type 2 Diabetes Mellitus : A Case Report Cipuk Muhaswitri; Diyah Eka Andayani; Taufik Mesiano
Smart Medical Journal Vol 3, No 1 (2020): Smart Medical Journal
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.735 KB) | DOI: 10.13057/smj.v3i1.42114

Abstract

Introduction: The prevalence of stroke in Indonesia increased from 8.3 per 1000 population in 2007 to 12.1 per 1000 population in 2013, based on Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Diabetes mellitus (DM) is an independent risk factor and can be modified. Hyperglycemia that occurs in the acute phase of stroke is associated with an increase in mortality and poor clinical outcome after stroke. Moreover, stroke patients are at risk of developing hypoalbuminemia due to poor intake and the presence of a chronic inflammatory process.Methods: A 66-year-old female patient with third recurrent ischemic stroke, history of uncontrolled DM, conciousness based on GCS is E3M5Vaphasia, Nasogastric tube (NGT) was inserted and there was a right facial nerve paralysis and bilateral hemiparesis . Nutritional status of patient is obese-1. During follow up period, the patient's blood glucose level ranged from 194 g/dl-345 g/dl. Nutrition therapy is given with a target of 1350 kcal (32 kcal/kg). Its composition consists of 15% protein, 25% fat and 60% carbohydrate (preferred complex carbohydrates), in the form of DM-specific formula containing inulin and monounsaturated fatty acid (MUFA). This nutritional therapy was administrated six times per day via enteral pathway, followed by the administration of micronutrients of vitamins C, B and folic acid.Result: During follow up period, the patient tolerated well with the diet. After the 14 days hospitalization, there was improvement of blood glucose level (<200 g/dL). Albumin level increases from 2.5 g/dL to 2.9 g/dl by the nutritional therapy containing protein more than 1.2 g/kg/day.Conclusion: Administering a diet with the recommended composition and formula helps control hyperglycemia and improve hypoalbuminemia in patients that can improve the patient's clinical condition.
Perbedaan Kecerdasan Spiritual pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sebelas Maret Berdasarkan Waktu Pelatihan Emotional Spiritual Quotient Herlina Kusuma Dewi; Rohmaningtyas Hidayah Setyaningrum; Prihandjojo Andri Putranto
Smart Medical Journal Vol 3, No 1 (2020): Smart Medical Journal
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.591 KB) | DOI: 10.13057/smj.v3i1.35735

Abstract

Pendahuluan: Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang lebih tinggi memiliki toleransi yang lebih tinggi dalam menghadapi tekanan kehidupan. Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan pelatihan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) bagi mahasiswa baru setiap tahun sebagai upaya mengembangkan kecerdasan spiritual mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecerdasan spiritual pada mahasiswa Kedokteran UNS berdasarkan waktu pelatihan ESQ.Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel ditentukan melalui total sampling terhadap mahasiswa Kedokteran UNS. Sebanyak 159 mahasiswa memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner data diri dan Spiritual Intelligence Self-Report Inventory (SISRI-24). Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan post-hoc Mann-Whitney.Hasil: Uji analisis Kruskal-Wallis menunjukkan nilai p = 0,996 artinya tidak ada perbedaan kecerdasan spiritual yang signifikan berdasarkan waktu pelatihan ESQ pada mahasiswa Kedokteran UNS. Meskipun tidak signifikan secara statistik, diketahui rerata kecerdasan spiritual peserta yang waktu pelaksanaan pelatihan ESQ-nya paling dekat dengan waktu penelitian, yaitu mahasiswa yang mengikuti pelatihan ESQ 1 tahun lalu memiliki rerata tertinggi daripada subjek yang lain (rerata ± s.b. = 65,96±13,630).Kesimpulan: Tidak ada perbedaan kecerdasan spiritual yang signifikan pada mahasiswa Kedokteran UNS berdasarkan waktu pelatihan ESQ.

Page 1 of 1 | Total Record : 6