cover
Contact Name
Ahmad Nimatullah Al-Baarri, PhD
Contact Email
redaksi@ift.or.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi@ift.or.id
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 4 (2012): November 2012" : 7 Documents clear
SENYAWA FUNGSIONAL DARI IKAN: APLIKASINYA DALAM PANGAN Eko Susanto; A S Fahmi
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 4 (2012): November 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.411 KB)

Abstract

Ikan kaya akan senyawa-senyawa fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Senyawa fungsional dari ikan yang telah dimanfaatkan dalam produk pangan fungsional antara lain ω-3 PUFA, protein dan peptida, vitamin, mineral, karotennoid dan taurin. Pada review ini menjelaskan secara detail senyawa  fungsional dari ikan, aktivitas senyawa fungsional, penggunaannya sebagai bahan pada produk pangan fungsional serta tren pengembangannya di masa depan.
THE EFFECT OF SUPPLEMENTATION GARLIC OIL AS AN ANTIBACTERIAL ACTIVITY AND SALTING TIME ON THE CHARACTERISTICS OF SALTED EGG Putri Widyanti Harlina; Ma Mei Hu; A M Legowo; Y B Pramono
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 4 (2012): November 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.831 KB)

Abstract

This study has been done to examine the influences of garlic oil, salting time in the characteristics of salted egg. Typical bacterial used in this study were Escherichia coli, Salmonella enteritidis, and Staphylococcus aureus. They were obtained from the culture collection of National R&D Center for Egg Processing Laboratory, Food Science and Technology College, Huazhong Agricultural University, Wuhan, China. The experimental design was completely randomized design with factorial factor A x B (3 x 5) for three replications. Factor A were supplementation of garlic oil with different concentration (0%; 0.1%; 0.5%) and factor B were different time for salting process (0; 7; 14; 21; 28 days). The research was done through several activities, the determination of garlic oil as an antibacterial activity and making salted eggs in the presence of garlic oil are performed.  The results showed that garlic oil had antibacterial activity on the three bacteria used in this study. The minimum inhibitory concentration (MIC) of garlic oil was used as a determination of the concentration in salted egg presence of garlic oil. Egg white and yolk of duck eggs with different salting time and concentration of garlic oil showed slight differences in chemical composition and textural properties as salting proceeded. Both of treatment could induce solidification of yolk accompanied by oil exudation and the development of gritty texture. Thus both of treatment somehow affected the characteristics of the resulting egg white and egg yolk.
PROSES STABILISASI DEDAK PADI (Oryza sativa L) MENGGUNAKAN RADIASI FAR INFRA RED (FIR) SEBAGAI BAHAN BAKU MINYAK PANGAN Mulyana Hadipernata; W Supartono; MAF Falah
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 4 (2012): November 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.543 KB)

Abstract

Dedak merupakan hasil samping dari proses penggilingan padi yang dapat dimanfaatkan lebih optimal menjadi minyak dedak yang memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Dengan mutu dedak yang baik akan diperoleh mutu minyak dedak yang baik, sehingga memenuhi persyaratan mutu apabila diolah lebih lanjut menjadi produk minyak pangan atau minyak kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh radiasi far infra red dan uap panas terhadap kestabilan mutu dedak padi.  Penelitian proses stabilisasi dedak menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 kali ulangan. Faktor yang dianalisis meliputi pengaruh proses uap panas dan stabilisasi  dengan radiasi far infra red pada penyimpanan hari ke-1, 3, 6 dan 9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen dedak bersih yang dihasilkan dari dedak penggilingan gabah adalah 75,60%, dan rendemen dedak stabil 68,75%. Pada proses stabilisasi dedak dengan uap panas maupun radiasi FIR, kadar asam lemak bebas dapat distabilkan sampai dengan  hari ke-9.
PEMBERIAN FITOBIOTIK YANG BERASAL DARI MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN DAN HEMATOKRIT PADA AYAM BROILER Y F Y Kusumasari; Vitus Dwi Yunianto; E Suprijatna
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 4 (2012): November 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.485 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan serbuk mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) sebagai alternatif pengganti tetrasiklin dalam ransum terhadap kadar hemoglobin dan hematokrit pada ayam broiler.  Materi yang digunakan adalah 100 ekor ayam broiler “unsex” umur 14 hari. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Lengkap 5 perlakuan dan 5 ulangan untuk tiap perlakuan. Setiap ulangan terdiri dari 4 ekor ayam broiler sebagai unit percobaan. Perlakuan terdiri dari T0 = ransum basal, T1 = T0 + tetrasiklin 50 ppm, T2 = T0 + serbuk mahkota dewa 500 ppm, T3 = T0 + serbuk mahkota dewa 750 ppm dan T4 = T0 + serbuk mahkota dewa 1000 ppm. Parameter yang diamati adalah pertambahan bobot badan, kadar hemoglobin dan hematokrit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang sangat nyata (P>0,05) terhadap pertambahan bobot badan. Kadar hemoglobin dan hematokrit terlihat bervariasi, namun baik kontrol, pemberian tetrasiklin dan serbuk mahkota dewa masih berada dalam kisaran normal dan menandakan proses fisiologis tubuh tidak mengalami gangguan, yang berarti status gizinya baik.  Simpulan menunjukkan bahwa dengan pemberian ransum dijatah, penggunaan serbuk mahkota dewa sebagai fitobiotik sampai level 1000 ppm memberikan pengaruh yang sama seperti tetrasiklin terhadap performans ayam broiler selama penelitian berlangsung.
VOLUME GAS, pH DAN KADAR ALKOHOL PADA PROSES PRODUKSI BIOETANOL DARI ACID WHEY YANG DIFERMENTASI OLEH Saccharomyces cerevisiae M S Anwar; Ahmad Ni'matullah Al-Baarri; A M Legowo
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 4 (2012): November 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.959 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar alkohol, pH dan produksi gas pada whey yang difermentasi oleh Saccharomyces cerevisiae. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah lama fermentasi yang meliputi: T1 = lama fermentasi 12 jam, T2 = lama fermentasi 24 jam, dan T3 = lama fermentasi 36 jam, T4 = lama fermentasi 48 jam dan T5 = lama fermentasi 60 jam. Variabel yang diuji adalah kadar alkohol, pH dan produksi gas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama fermentasi (12, 24, 36, 48 dan 60 jam) pada whey yang difermentasi oleh Saccharomyces cerevisiae berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar alkohol, pH dan produksi gas. Alkohol yang dihasilkan berturut-turut yaitu: 5,10; 1,37; 1,85; 2,16, 1,02, untuk T1, T2, T3, T4, T5. Nilai pH yang dihasilkan berturut-turut yaitu 3,50; 3,54; 3,67; 3,69; 3,89. Gas yang dihasilkan berturut-turut yaitu 13,75; 13,75; 17,50; 17,50; 35,00. Kadar alkohol dan produksi gas maksimal terjadi pada lama fermentasi 12 jam sedangkan pH terendah dihasilkan pada lama fermentasi 60 jam. Saran dari penelitian ini adalah proses produksi alkohol dengan menggunakan metode ini dapat dilakukan secara cepat sehingga proses produksinya perlu segera diselesaikan pada fermentasi jam ke-12.
PENGARUH PEMBERIAN ASAP CAIR DAN METODE PENGEMASAN TERHADAP KUALITAS DAN TINGKAT KESUKAAN DENDENG SAPI SELAMA PENYIMPANAN S Rahayu; V P Bintoro; Kusrahayu Kusrahayu
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 4 (2012): November 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.173 KB)

Abstract

Penggunaan asap cair pada pembuatan dendeng sapi dapat mempertahankan kualitas, memiliki daya terima pada konsumen serta memiliki masa simpan yang lebih lama. Pengemasan secara vakum ditujukan untuk menambah daya simpan dendeng. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan dendeng sapi dengan kualitas yang baik dan diterima oleh konsumen serta mengetahui pengaruh interaksi antara pemberian asap cair dan metode pengemasan yang berbeda terhadap aktivitas air, total mikroba, angka TBA, pH, warna dan uji kesukaan dendeng sapi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan 2 faktor (2 x 4 perlakuan) dan 4 ulangan dengan penyimpanan selama 4 bulan pada inkubator climacell (metode ASLT). Faktor A adalah pemberian asap cair (tanpa asap cair, asap cair 2%, 3% dan 5%) dan faktor B adalah metode pengemasan (pengemasan vakum dengan plastik nylon dan dan pengemasan non vakum menggunakan plastik PE). Hasil dari penelitian ini adalah tidak ada interaksi antar perlakuan pada masing-masing variabel dari awal sampai akhir penyimpanan kecuali pada total mikroba pada penyimpanan selama 1 sampai 4 bulan. Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian asap cair dan pengemasan secara vakum dapat mempertahankan kualitas dendeng sapi. Pemberian asap pada dendeng sapi dapat diterima oleh konsumen. Hasil terbaik secara keseluruhan adalah penambahan asap cair 3% dan pengemasan secara vakum.
KADAR SERAT, SIFAT ORGANOLEPTIK, DAN RENDEMEN NUGGET AYAM YANG DISUBSTITUSI DENGAN JAMUR TIRAM PUTIH (Plerotus ostreatus) S N Permadi; S Mulyani; A Hintono
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 4 (2012): November 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.97 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar serat, sifat organoleptik, dan rendemen nugget ayam yang disubstitusi dengan jamur tiram putih. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging ayam dan jamur tiram putih. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Parameter yang diambil adalah kadar serat, sifat organoleptik, dan rendemen. Perlakuan yang diterapkan yaitu nugget ayam tanpa substitusi jamur tiram putih (T0), nugget ayam dengan substitusi jamur tiram putih 20 % (T1), nugget ayam dengan substitusi jamur tiram putih 30 % (T2), nugget ayam dengan substitusi jamur tiram putih 40 %(T3), dan nugget ayam dengan substitusi jamur tiram putih 50 % (T4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi nugget ayam dengan jamur tiram putih berpengaruh yang sangat nyata (P<0,01) pada kadar serat, tetapi tidak memberikan pengaruh yang sangat nyata (P>0,01) pada randemen; sedangkan perlakuan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) pada sifat organoleptik warna dan tekstur , walaupun perlakuan tidak memberikan pengaruh yang sangat nyata (P>0,01) pada tingkat kesukaan. Kesimpulannya, jamur tiram putih mampu meningkatkan kandungan serat kasar pada nugget sehingga memberikan nilai fungsional yang lebih baik pada produk nugget tanpa mempengaruhi nilai rendemen dan sifat organoleptik kesukaan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7