cover
Contact Name
Andi Suwirta
Contact Email
aspensi@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
sosiohumanika@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
SOSIOHUMANIKA
Published by Minda Masagi Press
ISSN : 19790112     EISSN : -     DOI : -
This journal, with ISSN 1979-0112, was firstly published on May 20, 2008, in the context to commemorate the National Awakening Day in Indonesia. The SOSIOHUMANIKA journal has been organized and published by Minda Masagi Press, a publishing house owned by ASPENSI (the Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia. The SOSIOHUMANIKA journal is published every May and November. The SOSIOHUMANIKA journal is devoted, but not limited to, Social Sciences education, Humanities education, and any new development and advancement in the field of Humanities and Social Sciences education. The scope of our journal includes: (1) Language and literature education; (2) Social sciences education; (3) Sports and health education; (4) Economy and business education; (5) Science, Technology and Society in education; (6) Political and Social Engineering in education; and (7) Visual arts, dance, music, and design education.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 6, No 2 (2013)" : 9 Documents clear
Democratisation in Nigeria: Problems and Future Prospects Wani, Hilal Ahmad; Suwirta, Andi
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.751 KB)

Abstract

ABSTRACT: Nigeria, as a major democracy in African continent, has to respect every faith, culture, community, language, and every identity which exists in Nigeria. There is immense need that government should manage all the gap and gulf between the different communities through working properly for the greater interest of all the citizens, without any differentiation and distinction. Those who are oppressed sections of this society, the greater attention is required for their betterment. All developing countries are in transition, and Nigeria is not different case from other developing countries. In summation, it can be said that democratic governance and accountable political system is needed to fulfil the vacuum. Democratic system of governance could be the real panacea of all the problems which country is facing. This paper is an attempt to understand the process of democratisation in Nigeria. Democratisation term will elucidate that whether the government is successful in promoting and maintaining justice and rule of law or whether the government is not successful in the process of democratisation. This study will also touch all the lacunas of democracy in Nigeria. The main discourse is that government has to understand the real problems of people in any democratic country and try to fulfil all the basic amenities and entitlements for its citizens. KEY WORD: Nigeria government, process of democratisation, rule of law, happy and prosperous country, and accountable and good governance. RESUME: Artikel ini berjudul “Demokratisasi di Nigeria: Masalah dan Prospek Masa Depan”. Nigeria, sebagai negara demokrasi besar di benua Afrika, harus menghormati setiap agama, budaya, masyarakat, bahasa, dan setiap identitas yang ada di Nigeria. Ada kebutuhan mendesak bahwa pemerintah harus mengelola semua kesenjangan dan jurang antara masyarakat yang berbeda melalui program kerja yang baik untuk kepentingan yang lebih besar dari semua warga negara, tanpa perbedaan dan pemisahan. Mereka yang tertindas dalam masyarakat memerlukan perhatian yang lebih besar untuk kemajuan mereka. Semua negara-negara berkembang berada dalam masa transisi, dan Nigeria bukan kasus yang berbeda dari negara-negara berkembang lainnya. Dalam perkiraan dapat dikatakan bahwa pemerintahan yang demokratis dan sistem politik yang akuntabel diperlukan untuk memenuhi kevakuman. Sistem pemerintahan yang demokratis bisa menjadi obat mujarab nyata bagi semua masalah yang dihadapi oleh negara. Makalah ini merupakan upaya untuk memahami proses demokratisasi di Nigeria. Istilah demokratisasi akan menjelaskan bahwa apakah pemerintah berhasil dalam mempromosikan dan mempertahankan keadilan dan supremasi hukum atau apakah pemerintah tidak berhasil dalam proses demokratisasi itu. Penelitian ini juga akan menyentuh semua kehampaan demokrasi di Nigeria. Wacana utama adalah bahwa pemerintah harus memahami masalah nyata dari rakyatnya di setiap negara yang demokratis serta mencoba untuk memenuhi semua kebutuhan dasar dan hak dari warga negaranya.KATA KUNCI: Pemerintah Nigeria, proses demokratisasi, supremasi hukum, negara bahagia dan sejahtera, serta akuntabilitas dan pemerintahan yang baik.  About the Authors: Dr. Hilal Ahmad Wani is a Research Fellow at the Centre for Civilizational Dialogue UM (University of Malaya) in Kuala Lumpur, Malaysia; and Andi Suwirta, M.Hum. is a Senior Lecturer at the Department of History Education UPI (Indonesia University of Education) in Bandung, West Java, Indonesia. Corresponding authors are: wanihilal@gmail.com and atriwusidna@gmail.comHow to cite this article? Wani, Hilal Ahmad & Andi Suwirta. (2013). “Democratisation in Nigeria: Problems and Future Prospects” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.2 [November], pp.143-158. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (September 6, 2013); Revised (October 9, 2013); and Published (November 20, 2013).    
Ke Arah Pembangunan Mampan Setempat: Pelaksanaan Local Agenda 21 oleh Pihak Berkuasa Tempatan di Malaysia Ahmad, Abdul Halim; Khalid, Mohamad Sukeri bin; Pon, Yusuf bin
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.747 KB)

Abstract

RESUME: Kerajaan Malaysia, melalui Kementerian Perumahan dan Kerajaan Tempatan (KPKT), telah memperkenalkan dasar pelaksanaan Local Agenda 21 (LA21) mulai tahun 2000, dengan manjadikan empat buah Pihak Berkuasa Tempatan (PBT) sebagai perintis pelaksanan LA21. Tujuan utama pelaksanaan LA21 di peringkat PBT ialah untuk memastikan usaha ke arah pembangunan mampan di peringkat setempat berjaya dilaksanakan dengan kerjasama lestari di antara tiga pihak, iaitu PBT, masyarakat setempat, dan sektor swasta. Bagi merealisasikan dasar ini, KPKT pada tahun 2004 telah mengarahkan kesemua PBT di Malaysia untuk mewujudkan Jawatankuasa LA21 masing-masing dan merangka program pelaksanaannya. Namun, sehingga tahun 2011, masih terdapat PBT yang gagal merealisasikan dasar ini. Rentetan daripada masalah ini, kajian yang dijalankan berasaskan kajian kes di Majlis Daerah Kubang Pasu (MDKP) Kedah adalah bertujuan mengenalpasti apakah faktor penyumbang kepada masalah kelewatan pelaksanaan LA21. Data kajian dikumpul melalui pendekatan temubual bersemuka bersama Pegawai LA21 dan Ahli Jawatankuasa LA21. Dapatan kajian mendapati bahawa punca kelewatan pelaksanaan dasar LA21 adalah kerana kekurangan maklumat berkaitan pelaksanaan LA21, kekurangan komitmen kakitangan PBT, masalah kekurangan peruntukan, dan masalah tidak mendapat kerjasama daripada pihak masyarakat setempat dan sektor swasta.KATA KUNCI: Local agenda 21, jawatankuasa LA21, kerjasama lestari, pembangunan mampan setempat, dan kelewatan pelaksanaan dasar. ABSTRACT: This paper entitled “Towards Local Sustainable Development: Implementation of Local Agenda 21 by Local Authorities in Malaysia”. The Malaysian government, through the Ministry of Housing and Local Government, has introduced a policy of implementation of Local Agenda 21 (LA21) since 2000, with four Local Authorities as a pilot implementation of LA21. The main purpose of the implementation of LA21 in local authorities is to ensure that the pursuit of sustainable development at the local level successfully implemented by cooperation between the three parties, namely: local authorities, local communities, and the private sector. To realize this policy, the Ministry in 2004 had directed all local authorities in Malaysia to create their own LA21 Committee and drafting program execution. However, until 2011, there are still local authorities failed to realize this policy. The sequence of this problem, a study based on case studies in Kubang Pasu District Council in Kedah is aimed at identifying the factors that contributed to the delay in implementation of LA21. Data were collected through face to face interviews with Officers of LA21 and LA21 Committee. The results showed that the delay of LA21 policy implementation is due to lack of information regarding the implementation of LA21, the lack of commitment from the staff of local authorities, the problem of lack of provisions, and the problem is not getting the cooperation from the local communities and the private sector.KEY WORD: Local agenda 21, the committee of LA21, mutual cooperation, sustainable development locally, and delay of policy implementation.    About the Authors: Dr. Abdul Halim Ahmad, Dr. Mohamad Sukeri bin Khalid, dan Yusuf bin Pon ialah Pensyarah di Kolej Undang-Undang, Kerajaan, dan Pengajian Antarabangsa UUM (Universiti Utara Malaysia), Sintok, Kedah, Malaysia. Alamat emel penulis: sukeri@uum.edu.myHow to cite this article? Ahmad, Abdul Halim, Mohamad Sukeri bin Khalid & Yusuf bin Pon. (2013). “Ke Arah Pembangunan Mampan Setempat: Pelaksanaan Local Agenda 21 oleh Pihak Berkuasa Tempatan di Malaysia” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.2 [November], pp.209-222. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112.Chronicle of article: Accepted (September 13, 2013); Revised (October 18, 2013); and Published (November 20, 2013).    
Perkembangan Komunitas Anak Punk di Kota Banda Aceh: Pandangan Masyarakat dan Kebijakan Pemerintah Kota Syam, Hamdani M; Hasan, Effendi
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Penelitian ini mengkaji pandangan masyarakat kota Banda Aceh terhadap perkembangan komunitas anak “punk” di kota Banda Aceh. Penelitian ini dilakukan di empat kecamatan di wilayah kota Banda Aceh, yaitu kecamatan Lueng Bata, Baiturrahman, Meuraxa, dan Kuta Alam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Sedangkan penentuan informan dilakukan secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan komunitas anak “punk” di kota Banda Aceh, dalam pandangan masyarakat kota Banda Aceh pada umumnya, adalah negatif. Hal ini terlihat dari tingginya tingkat persentase sikap masyarakat kota Banda Aceh yang menolak perkembangan dan keberadaan komunitas tersebut di kota Banda Aceh, yaitu sebesar 88.63%, serta tingginya persentase masyarakat kota Banda Aceh yang mendukung tindakan pemerintah kota Banda Aceh dalam memberantas perkembangan serta keberadaan komunitas anak “punk” di kota Banda Aceh, yaitu sebesar 90.60%. Sedangkan persentase masyarakat kota Banda Aceh yang menerima keberadaan dan perkembangan komunitas anak “punk” di kota Banda Aceh hanya sebesar 11.37%, serta tingkat persentase masyarakat kota Banda Aceh yang tidak setuju dengan tindakan tegas pemerintah kota Banda Aceh dalam memberantas komunitas anak “punk” di kota Banda Aceh hanya sebesar 3.40%.KATA KUNCI: Komunitas anak “punk”, pandangan masyarakat, tindakan pemerintah, peran keluarga, tokoh masyarakat, dan pemerintah kota Banda Aceh. ABSTRACT: This paper entitled “The Development of ‘Punk’ Adolescent Community in Banda Aceh: Views of the Acehnese Society and Policy of City Government”. This study examines the views of Banda Aceh’s society on the development of “punk” adolescent community in the city of Banda Aceh. The research was conducted in four sub-districts in the city of Banda Aceh, i.e. Lueng Bata, Baiturrahman, Meuraxa, and Kuta Alam. This study used a qualitative approach with a descriptive method. The data was collected through field observation, in-depth interviews, and literature. Meanwhile, the determination of the informant is purposiv sampling. The results showed that the development of “punk” adolescent community in the city of Banda Aceh, in the view of Banda Aceh society in general, is negative. It is evident from the high level of public attitudes percentage of Banda Aceh society who rejected the development and existence of the “punk” adolescent community in the city of Banda Aceh, in the amount of 88.63%, and the high percentage of people who support the policy and action of Banda Aceh government to eradiate the development and presence of “punk” adolescent community in the city of Banda Aceh, amounting to 90.60%. While the percentage of people who received the development of “punk” adolescent community in the city of Banda Aceh was only 11:37%, and the percentage rate of the Banda Aceh society who disagree with the policy and action of city government to eradicate the “punk” adolescent community in Banda Aceh was only 3:40%.KEY WORD: Community of “punk” adolescent, public opinion, government policy and action, the roles of family, community leaders, and the government of Banda Aceh city.  About the Authors: Dr. Hamdani M. Syam dan Effendi Hasan, M.A. adalah Dosen pada Program Studi Ilmu Komunikasi dan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNSYIAH (Universitas Syiah Kuala), Darussalam Banda Aceh, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis dapat dihubungi dengan alamat emel: effendi23111@yahoo.comHow to cite this article? Syam, Hamdani M. & Effendi Hasan. (2013). “Perkembangan Komunitas Anak Punk di Kota Banda Aceh: Pandangan Masyarakat dan Kebijakan Pemerintah Kota” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.2 [November], pp.159-168. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (September 25, 2013); Revised (October 30, 2013); and Published (November 20, 2013).    
A Comparative Analysis of the Views of Zimbabwean Rural and Urban Adolescents on Children’s Household Work Mushoriwa, T.D.; Chitsamatanga, B.B.; Mbokochena, E
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: It is important to study children’s views on the household work they perform, because the studies, for example J.J. Goodnow (1996), have again and again demonstrated that the way children are brought up directly impacts on their future lives. How children are treated and the work that they are expected to accomplish in the home have a bearing on almost all aspects of their development. This article presents the results of a study on the views of rural and urban adolescents on children’s household work. Specifically, the study-tapped adolescents’ views regarding the age at which children should begin household work, the value of children’s household work, and whether children should be remunerated for doing household work. A total of 200 adolescents were involved in this study. Data were collected from the respondents through a questionnaire supplemented by interviews. A crosstab was used to report results in percentages. Generally, there was support for children’s household work, especially from rural respondents. The majority of the respondents felt that children should begin household work between 8 and 10 years and that they should not be paid for such work. The study recommended, among other things, that both rural and urban children should help with household chores, but they should be afforded opportunities to study and to play.KEY WORD: Household work, views of rural and urban adolescents, comparative analysis, Zimbabwean society, and study and play. RESUME: Artikel ini berjudul “Sebuah Analisis Perbandingan tentang Pandangan Remaja Pedesaan dan Perkotaan di Zimbabwe Mengenai Pekerjaan Anak dalam Rumah Tangga”. Sangat penting untuk mempelajari pandangan anak-anak pada pekerjaan rumah tangga mereka, karena studi-studi, misalnya J.J. Goodnow (1996), telah berulang kali menunjukkan bahwa cara anak-anak yang dibesarkan secara langsung berdampak pada kehidupan masa depan mereka. Bagaimana anak-anak diperlakukan dan pekerjaan yang harus mereka capai di rumah memiliki pengaruh pada hampir semua aspek perkembangan mereka. Artikel ini menyajikan hasil studi tentang pandangan remaja pedesaan dan perkotaan pada pekerjaan anak di rumah tangga mereka. Secara khusus, studi ini bertumpu pada pandangan remaja mengenai usia berapa anak-anak harus mulai bekerja dalam rumah tangga, nilai pekerjaan rumah tangga anak, dan apakah anak-anak harus dibayar untuk melakukan pekerjaan rumah tangga mereka. Sebanyak 200 remaja terlibat dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dari responden melalui kuesioner yang dilengkapi dengan wawancara. Sebuah tabel silang digunakan untuk melaporkan hasil dalam persentase. Umumnya, ada dukungan untuk pekerjaan anak-anak dalam rumah tangga, terutama dari responden pedesaan. Mayoritas responden merasa bahwa anak-anak harus mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga antara usia 8 dan 10 tahun dan bahwa mereka tidak harus dibayar untuk pekerjaan tersebut. Studi ini merekomendasikan, antara lain, bahwa anak-anak, baik di pedesaan maupun di perkotaan, harus membantu pekerjaan rumah tangga, tetapi mereka harus diberikan kesempatan untuk belajar dan bermain.KATA KUNCI: Pekerjaan rumah tangga, pandangan remaja pedesaan dan perkotaan, analisis komparatif, masyarakat Zimbabwe, serta belajar dan bermain.    About the Authors: Prof. Dr. T.D. Mushoriwa is a Lecturer at the Faculty of Education UFH (University of Fort Hare), Alice Campus 5700, South Africa; B.B. Chitsamatanga is a Lecturer at the Faculty of Education UFH; and E. Mbokochena is a Lecturer at the Women’s University in South Africa. The corresponding author is: Tmushoriwa@ufh.ac.zaHow to cite this article? Mushoriwa, T.D., B.B. Chitsamatanga & E. Mbokochena. (2013). “A Comparative Analysis of the Views of Zimbabwean Rural and Urban Adolescents on Children’s Household Work” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.2 [November], pp.117-124. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (September 5, 2013); Revised (October 9, 2013); and Published (November 20, 2013).    
Memperkasakan Pembangunan Insan Melalui Amalan Infaq Abdullah, Shuhairimi
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Dalam kerangka agama Islam, orientasi material yang bersifat tunggal tidak dianggap sebagai kemuncak kepada kejayaan seseorang individu. Sebaliknya, apa yang menjadi keutamaan tanggungjawab kepada individu Muslim iaitu dapat memberi manfaat atau sumbangan untuk memperkasakan agama dan pembangunan insan amnya. Berasaskan kepada penjelasan tersebut, ia memberi satu gambaran umum kepada setiap individu Muslim yang berfungsi sebagai pemegang amanah supaya memikul tanggungjawab tersebut sebagaimana yang dikehendaki oleh syara’ untuk memperkasakan pembangunan insan melalui budaya infaq yang berorientasikan kepada perkara kebajikan. Penulisan artikel ini bertujuan untuk melihat peranan yang boleh disumbangkan oleh individu Muslim melalui budaya infaq untuk dimanfaatkan, khususnya dalam pembangunan insan. Artikel ini cenderung kepada kajian kepustakaan menurut perspektif Islam dan perbincangan para sarjana berkaitan topik yang dikaji. Secara amnya didapati bahawa elemen infaq seperti yang diutarakan oleh Islam merupakan sebahagian daripada mekanisme terbaik yang boleh menyumbang kepada pembangunan insan yang holistik sifatnya. Amalan infaq yang dihayati tersebut merupakan sebahagian daripada tanggungjawab sosial yang perlu ditunaikan oleh setiap individu Muslim berdasarkan kepada kemampuan, kepakaran, dan ketaqwaan yang dimiliki oleh setiap individu Muslim.KATA KUNCI: Islam, pembangunan insan, kerajaan Malaysia, infaq, masyarakat bertamadun, kesejahteraan, individu Muslim, dan tanggungjawab sosial. ABSTRACT: This paper entitled “Empowering Human Development through the Practice of Donation”. Within the context of Islam, material orientation with a sole characteristic is not considered as the peak of an individual’s success. On the contrary, the priority of a Moslem individual’s responsibility is generally his/her ability to contribute and aid towards the empowerment of religion and the development of human. Based upon this explanation, there is a general picture for every Moslem to function as a trustee to bear the responsibility as required by the sharia to empower human development through the culture of donation which is oriented to matters of welfare. This article intends to pursue the attributable roles of a Moslem individual through the culture of donation, especially for the benefit of human development. This article is inclined towards a literature review according to the Islamic perspective and through the discussions of scholars related to the topic being researched. In general, it has been found that the element of donation as addressed in Islam is part of the best mechanism that is capable to contribute to the development of human who is characterize as holistic. The practice of donation that is internalize seems to be part of social responsibility that need to be fulfilled by every Moslem based on his/her ability, expertise, and piety.KEY WORD: Islam, human development, Malaysia government, donation, civilized society, prosperity, Moslem individual, and social responsibility.About the Author: Shuhairimi Abdullah ialah Pensyarah di Pusat Teknologi Komunikasi dan Pembangunan Insan UMP (Universiti Malaysia Perlis), Blok B, Kompleks Pusat Pengajian, Jalan Kangar Arau, 02600, Arau, Perlis, Malaysia. Bagi urusan sebarang akademik, penulis boleh dihubungi dengan alamat e-mail: shuhairimi@unimap.edu.myHow to cite this article? Abdullah, Shuhairimi. (2013). “Memperkasakan Pembangunan Insan Melalui Amalan Infaq” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.2 [November], pp.169-182. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (September 3, 2013); Revised (October 6, 2013); and Published (November 20, 2013).    
Hubungan Kampong Ayer dengan Kota Batu: Pusat Perdagangan dan Petempatan Penduduk pada Zaman Tradisi Brunei Bakar, Haji Tassim bin Haji Abu
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Kerajaan Brunei merupakan sebuah empayar yang luas dan tertua di kepulauan Borneo. Pusat pemerintahan Kerajaan Brunei terletak di Bandar Brunei lama yang dikenali sebagai Kampong Ayer. Faktor mencari petempatan yang lebih strategik telah menjadi punca berlakunya perpindahan. Perpindahan pada peringkat awal lebih tertumpu di Teluk Brunei, kerana dilihat sebagai kawasan yang strategik dari segi pertahanan dan petempatan. Raja Brunei terdahulu lebih suka berpindah-pindah, sehingga menemui tempat yang lebih sesuai untuk dijadikan pusat pentadbiran dan perdagangan. Akhirnya, Kampong Ayer dan Kota Batu dijadikan petempatan bagi para pembesar Brunei yang telah membawa bersama pengikut-pengikutnya untuk menjadi pengawal peribadi mereka. Kertas kerja ini mahukan membincang hubungan antara Kampong Ayer dengan Kota Batu sebagai pusat pentadbiran pada zaman tradisi di Negeri Brunei. Di Kota Batu ini, umpamanya, telah dibina istana, masjid, dan pusat pendidikan yang bersesuaian dengan zaman tersebut bagi memudahkan interaksi Raja dengan rakyat dalam bentuk pentadbiran. Kota Batu pula merupakan Bandar Brunei lama dan sebagai petempatan yang terbesar, sebelum penghuni kawasan ini berpindah ke kawasan perairan Sungai Brunei, yang kemudiannya dikenali sebagai Kampong Ayer.KATA KUNCI: Pusat pentabiran, Kampong Ayer, Kota Batu, perdagangan, petempatan penduduk, zaman tradisi Brunei, dan Sultan Brunei. ABSTRACT: This paper entitled “Relationship the Kampong Ayer with the Kota Batu: Center of Trade and Population Settlement in the Times of Brunei Tradition”. Sultanate of Brunei is a vast empire and the oldest in the island of Borneo. The capital city of Brunei Sultanate government is located in the old Brunei city known as Kampong Ayer. Factor in searching the location more strategic has become the cause of displacement. Moving initially focused on Brunei Bay, as seen as a strategic area of defense and settlement terms. Kings of Brunei earlier are rather sedentary, so that finding the place more suitable as the administrative and commercial center. Finally, the locations of Kampong Ayer and Kota Batu are made settlement of the Royals of Brunei who have brought together their disciples to become personal bodyguards. This paper wants to discuss the relationship between Kampong Ayer and Kota Batu as the administrative center at the time of the Brunei tradition. In the Kota Batu, for example, has been built the palaces, mosques, and educational centers in accordance with the times in order to facilitate the interaction between the King with people in the form of administration. Kota Batu was also a long and old Brunei Town as the largest settlement, before the occupants moved into the waters area of the Brunei River, later known as Kampong Ayer.KEY WORD: Central administration, Kampong Ayer, Kota Batu, trade, residential settlement, Brunei’s traditional age, and the Sultan of Brunei.About the Author: Dr. Haji Tassim bin Haji Abu Bakar ialah Pensyarah Kanan di Akademi Pengajian Brunei UBD (Universiti Brunei Darussalam), Jalan Tunku Link, Gadong, Bandar Seri Begawan, Negara Brunei Darussalam. Bagi urusan sebarang akademik, penulis boleh dihubungi dengan alamat emel: tassim.bakar@ubd.edu.bn  How to cite this article? Bakar, Haji Tassim bin Haji Abu. (2013). “Hubungan Kampong Ayer dengan Kota Batu: Pusat Perdagangan dan Petempatan Penduduk pada Zaman Tradisi Brunei” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.2 [November], pp.125-134. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (September 11, 2013); Revised (October 13, 2013); and Published (November 20, 2013).    
Environmental Education and Community Participation: The Importance of Conservation Lessons in Teaching and Learning for Environmental Conservation Efforts in the Region of Sagara Anakan Sugandi, Dede
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Conservation, as an attempt of sustainable maintenance and preservation of the environment, requires community participation. This research tries to analysis of: (1) the characteristics of Sagara Anakan watershed and territory; (2) the conducts of environmental conservation and community participation; and (3) the relevant of conservation subject for teaching and learning in Senior High School. The method employed was survey with analysis on forms of conservation and farmers’ participation. The results show that Sagara Anakan region serves for various activities, such as fishery, tourism, sport, and transportation. Conservation in the form of reforestation has not been conducted, because it is thought to cause low production of the crops. The subject of conservation is less relevant to the teaching and learning materials on environmental conservation. Fortunately, various forms of conservation have been done by the community. The forms of conservation are different for each part of the watershed, depending on the physical conditions and the possibility for land cultivation. On the other hand, to develop the teaching and learning materials, the local environment should be the resources for student learning. By this way, students will be encouraged to engage in problem-solving pertaining to the environmental conservation. KEY WORD: Forms of conservation, community participation, environmental damage, teaching and learning, Sagara Anakan region, and environmental education. RESUME: Artikel ini berjudul “Pendidikan Lingkungan Hidup dan Partisipasi Masyarakat: Pentingnya Pelajaran Konservasi dalam Pengajaran dan Pembelajaran untuk Upaya Konservasi Lingkungan di Daerah Sagara Anakan”. Konservasi, sebagai upaya pemeliharaan dan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan, memerlukan partisipasi masyarakat. Penelitian ini mencoba menganalisis: (1) Karakteristik daerah aliran sungai dan wilayah Sagara Anakan; (2) perilaku konservasi lingkungan dan partisipasi masyarakat; serta (3) Relevansi subjek konservasi untuk pengajaran dan pembelajaran di Sekolah Menengah Aatas. Metode yang digunakan adalah survei dengan analisis bentuk konservasi dan partisipasi petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Sagara Anakan berfungsi untuk berbagai kegiatan, seperti perikanan, pariwisata, olah raga, dan transportasi. Konservasi dalam bentuk reboisasi belum dilakukan, karena diduga menyebabkan rendahnya produksi tanaman. Subjek konservasi kurang relevan dengan pengajaran dan materi pembelajaran tentang konservasi lingkungan. Untungnya, berbagai bentuk konservasi telah dilakukan oleh masyarakat. Bentuk-bentuk konservasi yang berbeda untuk setiap bagian dari daerah aliran sungai, tergantung pada kondisi fisik dan kemungkinan untuk pengolahan tanah. Di sisi lain, untuk mengembangkan pengajaran dan pembelajaran, materi muatan lokal harus menjadi sumber pembelajaran bagi siswa. Dengan cara ini, siswa akan didorong untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan.KATA KUNCI: Bentuk konservasi, partisipasi masyarakat, kerusakan lingkungan, pengajaran dan pembelajaran, daerah Sagara Anakan, dan pendidikan lingkungan.About the Author: Dr. Dede Sugandi is a Senior Lecturer at the Department of Geography Education, Faculty of Social Studies Education UPI (Indonesia University of Education), Jalan Dr. Setiabudhi No.229 Bandung 40154, West Java, Indonesia. Corresponding author is: dsugandi58@yahoo.comHow to cite this article? Sugandi, Dede. (2013). “Environmental Education and Community Participation: The Importance of Conservation Lessons in Teaching and Learning for Environmental Conservation Efforts in the Region of Sagara Anakan” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.2 [November], pp.183-196. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (September 12, 2013); Revised (October 17, 2013); and Published (November 20, 2013).    
Sistem Pendidikan Negara Abad ke-21: Isu dan Cabaran di Brunei Darussalam Haji Tengah, Ampuan Haji Brahim bin Ampuan
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Perubahan dasar pendidikan sesebuah negara dilakukan adalah bagi meningkatkan kebolehan dan kemahiran sumber tenaga manusia serta perkembangan dan kemajuan negara berkenaan. Sistem Pendidikan Bersepadu di Negara Brunei Darussalam, yang ingin menggabungkan mata pelajaran umum (sekular) dengan agama, yang diolah dalam satu jadual waktu persekolahan, adalah gagal disebabkan oleh banyak faktor. Oleh itu, wujud satu pemikiran untuk merancang dan memberikan sistem pendidikan yang lebih baik sesuai dengan keperluan semasa. Makalah ini akan membincangkan SPN21 (Sistem Pendidikan Negara Abad ke-21) di Brunei Darussalam dengan penumpuan kepada falsafah negara MIB (Melayu Islam Beraja). Perkara yang akan disentuh adalah mengenai tujuan dan matlamat SPN21 dengan kerangka kurikulumnya, kedudukan Melayu Islam Beraja, serta isu-isu dan cabaran yang dihadapi oleh SPN21. Di akhir perbincangan akan dapat diketahui tujuan dan matlamat SPN21, iaitu bagi menyediakan pendidikan berkualiti dan serba lengkap bagi mencapai pontensi yang penuh bagi semua rakyat Brunei Darussalam. Mata pelajaran Melayu Islam Beraja telah dijadikan sebagai mata pelajaran teras, bersama-sama dengan Bahasa Melayu, Pengetahuan Ugama Islam, Matematik, dan Sains. Antara isu dan cabaran yang dihadapi adalah dari segi memperkukuhkan falsafah negara Melayu Islam Beraja itu sendiri, khususnya penggunaan Bahasa Melayu, dan kekurangan guru-guru serta buku-buku mengenai falsafah negara tersebut.  KATA KUNCI: Sistem pendidikan negara, Brunei Darussalam, Melayu Islam Beraja, identiti bangsa, abad ke-21, serta isu dan cabaran semasa. ABSTRACT: This paper entitled “National Education System for the 21st Century: Issues and Challenges in Brunei Darussalam”. Changes in a countrys education policies do are to enhance the capability and skills of human resources and the development and progress of the country. Integrated Education System in Brunei Darussalam, that wants to combine the general subjects (secular) and (Islamic) religion is treated in a school timetable, are failing due to many factors. Therefore, there is a thought to plan and provide a better education system based on the needs currently. This article discusses the SPN21 (National Education System for the 21st Century) in Brunei Darussalam with a focus on the philosophy of MIB (Malay Islamic Monarchy). Things that will be covered are the purpose and goals of SPN21 curriculum framework, the Malay Islamic Monarchy, and the issues and challenges faced by SPN21. At the end of the discussion will be discovered the SPN21 aims and objectives, namely to provide quality of education and a well-equipped to meet the full revenue potential of all the people of Brunei Darussalam. The subject of the Malay Islamic Monarchy is used as the core subjects, along with Malay language, Islamic Religious Knowledge, Mathematics, and Science. Among the issues and challenges are in terms of strengthening the national philosophy of Malay Islamic Monarchy itself, in particular the use of the Malay language, and the shortage of teachers as well as books on the philosophy of the country.KEY WORD: The education system of the country, Brunei Darussalam, Malay Islamic Monarchy, national identity, the 21st century, and current issues and challenges.About the Author: Prof Madya Ampuan Dr Haji Brahim bin Ampuan Haji Tengah ialah Pensyarah Kanan di Fakulti Sastera dan Sains Sosial UBD (Universiti Brunei Darussalam), Jalan Tunku Link, Gadong, Bandar Seri Begawan, Negara Brunei Darussalam. Bagi urusan sebarang akademik, penulis dapat dihubungi dengan lamat emel: ampuanb@yahoo.comHow to cite this article? Haji Tengah, Ampuan Haji Brahim bin Ampuan. (2013). “Sistem Pendidikan Negara Abad ke-21: Isu dan Cabaran di Brunei Darussalam” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.2 [November], pp.197-208. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (September 22, 2013); Revised (October 28, 2013); and Published (November 20, 2013).    
Aplikasi Nilai-nilai Murni Berlandaskan Tema Luqman al-Hakim di dalam Al-Qur’an sebagai Asas Pendidikan Mamat, Arifin; Rashid, Adnan Abd
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Al-Qur’an merupakan sumber penting bagi umat Islam dalam memperkasa mutu pendidikan. Justeru, dalam mendidik manusia, beberapa strategi telah ditunjuk-ajarkan oleh Allah SWT (Subhanahu Wa-Ta’ala). Diantaranya cerita-cerita yang direkodkan untuk diteladani serta memberi pengajaran yang amat bermanfaat kepada manusia. Di antara paparan cerita penting yang telah direkodkan oleh Allah SWT dalam kandungan Al-Qur’an ialah mengenai seorang pendidik agung yang bernama Luqman al-Hakim. Artikel ini menganalisa nilai-nilai murni yang ditekankan oleh Luqman al-Hakim dalam pendidikan terhadap anaknya, sebagaimana tercatat didalam surah Luqman ayat 13 hingga 19. Beberapa nilai murni yang berbentuk universal, yang telah ditegaskan oleh Luqman al-Hakim didalam mendidik anaknya, dapat menggariskan satu panduan pendidikan yang signifikan kepada masyarakat Islam masa kini. Diantaranya adalah teras keimanan yang tidak mensyirikkan Allah SWT dan menghormati ibu-bapa yang berada di kedudukan yang kedua selepas kepercayaan kepada Allah. Begitu juga penerapan sifat taqwa dan waspada terhadap Allah, mendirikan sholat, serta seterusnya membuat makruf dan mencegah kemungkaran. Corak pendidikan yang diaplikasikan itu adalah munasabah dan tetap unggul sehingga ke hari ini. Oleh itu, asas-asas nilai yang direkodkan didalam Al-Qur’an surah Luqman wajar dijadikan panduan oleh para pendidik dan ibu-bapa, juga oleh pihak-pihak yang berkaitan.KATA KUNCI: Pendidikan karakter, nilai-nilai murni, pendidikan dalam Islam, Al-Qur’an dan surah Luqman, serta amalan taqwa dan akhlak mulia. ABSTRACT: This article entitled “Applications of Noble Values Based on Themes of Luqman al-Hakim in the Al-Quran as the Basic of Education”. The Al-Quran is an important source of empowerment for Muslims in educational quality. Thus, in educating people, several strategies have been lessoned by Allah SWT (Subhanahu Wa-Ta’ala). Among the stories are recorded to emulate and give a useful lesson to the people. Between display important story that has been recorded by God in the content of Al-Quran is the great educator named Luqman al-Hakim. This article analyzes the values emphasized by Luqman al-Hakim in the education of his children, as stated in surah Luqman verse 13 to 19. Some values are universal, which has been emphasized by Luqman al-Hakim in educating his children, can outline a significant educational guide to the Muslim community today. Among them is a core belief in the only One God Almighty and without associating Him with others, and respect the parents who are in the second position after the trust in God. Similarly, application of piety and beware of Allah, establish prayer, and thus make what is right and forbidding evil. Type of education that applied is reasonably and fixed superior to this day. Thus, the fundamentals of the value recorded in the Al-Quran surah Luqman must be used as guidance by educators and parents, as well as by all parties concerned with education.KEY WORD: Character education, noble values, education in Islam, Al-Qur’an and surah Luqman, and the practice of piety and good character.  About the Authors: Dr. Arifin Mamat ialah Penolong Professor di Institut Pendidikan UIAM (Universiti Islam Antarabangsa Malaysia) Jalan Gombak, 53100 Kuala Lumpur, Malaysia; dan Dr. Adnan Abd Rashid ialah Professor Madya di Institut Pendidikan UIAM. Bagi urusan sebarang akademik, penulis dapat dihubungi dengan alamat emel: drarifinmamat@gmail.comHow to cite this article? Mamat, Arifin & Adnan Abd Rashid. (2013). “Aplikasi Nilai-nilai Murni Berlandaskan Tema Luqman al-Hakim di dalam Al-Qur’an sebagai Asas Pendidikan” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.2 [November], pp.135-142. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (September 23, 2013); Revised (October 25, 2013); and Published (November 20, 2013).    

Page 1 of 1 | Total Record : 9