cover
Contact Name
Andi Suwirta
Contact Email
aspensi@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
sosiohumanika@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
SOSIOHUMANIKA
Published by Minda Masagi Press
ISSN : 19790112     EISSN : -     DOI : -
This journal, with ISSN 1979-0112, was firstly published on May 20, 2008, in the context to commemorate the National Awakening Day in Indonesia. The SOSIOHUMANIKA journal has been organized and published by Minda Masagi Press, a publishing house owned by ASPENSI (the Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia. The SOSIOHUMANIKA journal is published every May and November. The SOSIOHUMANIKA journal is devoted, but not limited to, Social Sciences education, Humanities education, and any new development and advancement in the field of Humanities and Social Sciences education. The scope of our journal includes: (1) Language and literature education; (2) Social sciences education; (3) Sports and health education; (4) Economy and business education; (5) Science, Technology and Society in education; (6) Political and Social Engineering in education; and (7) Visual arts, dance, music, and design education.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue " Vol 9, No 1 (2016)" : 14 Documents clear
From Gontor to Sorong: Muslim Minority Practices on Arabic Teaching and Learning Wekke, Ismail Suardi; Andriansyah, Andriansyah
SOSIOHUMANIKA Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: “Pesantren”, or Islamic boarding school, is a part of Islamic education institution growing in Indonesian culture and tradition. Arabic was chosen, because it is the premier language of Islamic religion and be started to expand Muslims capacity through training. This phenomenon is interesting to explore since “pesantren” entertain to charter foreign language as compulsory subject to master. This paper explores how “pesantren” conduct its Arabic learning and construct students’ skill in acquiring the language. This research was conducted in West Papua Province. All the regency and city were observed, excluded Wondama Regency, because the institutions there were not implemented Gontor Model as a source to teach Arabic. In-depth interview and non-participant observation were employed in collecting data. Research findings show that in implementing language learning, first step to do was curriculum enhancement and tried to adapt some model in delivering the subject. Teachers as the facilitator command the process of learning and tried the best effort to maintain practice in the school and “pesantren” neighborhood. The Foundation Management Board provided books and learning media to expand students’ language skills. The main media is environment, its existence strengthen communication exercise, and the same time to allocate students’ drill in understanding language context. Finally, the researchers recommend further research to other foreign languages. KEY WORD: Islamic Boarding School; Language Learning; Arabic; Foreign Language; Modernity. RESUME: “Dari Gontor ke Sorong: Praktek Muslim Minoritas dalam Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa Arab”. Pesantren merupakan bagian dari institusi pendidikan yang tumbuh dalam tradisi dan budaya Indonesia. Bahasa Arab dipilih, karena merupakan bahasa utama agama Islam dan dimulai dari upaya untuk mengembangkan kapasitas Muslim melalui pendidikan. Fenomena ini menarik untuk dieksplorasi dimana pesantren menjadikan bahasa asing sebagai pelajaran yang harus dikuasai. Artikel ini mengkaji bagaimana pesantren menjalankan pembelajaran bahasa Arab dan mengkonstruksi keterampilan santri dalam menguasai bahasa yang diajarkan. Penelitian dilaksanakan di Provinsi Papua Barat. Semua kota dan kabupaten diamati, kecuali Kabupaten Wondama, karena lembaga pendidikan di sana tidak mengadopsi Model Gontor sebagai sistem pengajaran bahasa Arab. Wawancara mendalam dan pengamatan tak berpartisipasi digunakan dalam mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada beberapa tahapan dalam penerapan pembelajaran bahasa, yang dimulai dari pengayaan kurikulum dan berupaya untuk mengadaptasi beberapa model yang sudah dilaksanakan dalam mengajarkan mata pelajaran. Guru merupakan fasilitator yang menjadi pemandu dalam pelaksanaan pembelajaran dan berusaha dengan cara terbaik untuk mempertahankan pelaksanaan praktek di sekolah dan lingkungan pesantren. Pengurus Yayasan menyediakan buku dan media pembelajaran untuk mendorong penguasaan keterampilan berbahasa santri. Media utama adalah lingkungan, keberadaannya memperkuat latihan berkomunikasi, dan pada saat yang sama menyediakan kesempatan bagi siswa untuk berlatih dalam memahami konteks berbahasa. Akhirnya, peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan mengenai bahasa asing lainnya. KATA KUNCI: Pesantren; Pembelajaran Bahasa; Bahasa Arab; Bahasa Asing; Modernitas.  About the Authors: Ismail Suardi Wekke earned his Doctoral degree from UKM (National University of Malaysia) with the kind supported by Ford Foundation International Fellowship Program. He is a Junior Lecturer at the STAIN (State Islamic College) Sorong, Jalan Klamono-Sorong Km.17, Klablim, Sorong 98417, West Papua, Indonesia. Andriansyah is doing his research on history. He is Graduate Student at the UGM (Gadjah Mada University), Jalan Bulaksumur, Yogyakarta 55281, Indonesia. Corresponding author is: iswekke@gmail.comHow to cite this article? Wekke, Ismail Suardi & Andriansyah. (2016). “From Gontor to Sorong: Muslim Minority Practices on Arabic Teaching and Learning” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.9(1) May, pp.49-54. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press and UPI Bandung, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (January 28, 2016); Revised (April 15, 2016); and Published (May 30, 2016).
Prosesi Pemilihan Jodoh dalam Perkawinan: Perspektif Ajaran Islam dan Budaya Lokal di Kabupaten Sinjai Dahlan, H.M.
SOSIOHUMANIKA Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan persepsi masyarakat Kabupaten Sinjai di Sulawesi Selatan tentang perjodohan menurut perspektif ajaran Islam dan budaya lokal, menemukan konsep aturan dan syarat penentuan jodoh, serta mendeskripsikan bentuk asimilasi antara ajaran Islam dan budaya lokal tentang perjodohan dalam perkawinan. Penelitian ini melibatkan pemangku adat di Kabupaten Sinjai sebanyak 10 orang, tokoh agama sebanyak 5 orang, dan pemerintah setempat sebanyak 3 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi masyarakat tentang perjodohan menurut perspektif ajaran Islam dan budaya lokal di Kabupaten Sinjai didasari oleh budaya kekerabatan, yakni “asseajingeng”. Dalam perjodohan “asseajingeng” pada masyarakat Sinjai tersebut masih dapat dibedakan dalam beberapa istilah, antara lain “rappe” dan “siteppang” atau “sompung-lolo”. Aturan dan syarat penentuan jodoh di kalangan masyarakat Kabupaten Sinjai tidaklah mudah, karena dilakukan atas dasar adat-istiadat, terutama di kalangan bangsawan. Bentuk asimilasi antara ajaran Islam dan budaya lokal tentang perjodohan dalam perkawinan di Kabupaten Sinjai adalah sebagai asimilasi kultural dan spiritual, karena ditemukannya perpaduan antara budaya lokal dengan budaya yang berkembang sekarang, yang di dalamnya mengandung nilai-nilai ajaran agama Islam yang sakral. KATA KUNCI: Perjodohan; Ajaran Islam; Budaya Lokal; Adat-Istiadat; Asimilasi; Masyarakat Sinjai. ABSTRACT: “Matchmaking Procession of a Marriage: Perspectives of Islamic Teachings and Local Culture in District of Sinjai”. This paper aims to put forward the public perception about matchmaking based on the perspectives of Islamic teachings and local culture, find the rules and requirements to determine a right spouse, and describe the assimilation form between Islam and local culture of matchmaking in marriage process in District of Sinjai, South Sulawesi. This research involved ten traditional stakeholders in Sinjai, five religious figures, and three local authorities. Observation, interviews, and documentation were used to gather data. The results showed that the public perception of matchmaking in Sinjai is based on cultural kinship, namely “asseajingeng”. Several different terms were found to describe matchmaking “asseajingeng” in Sinjai society, such as “rappe” and “siteppang” or “sompung-lolo”. Rules and requirements to determine a right spouse among people Sinjai is not easy, because it is done on the basis of customs, especially among the noble family. Form of assimilation between Islam and local culture of matchmaking marriage in District of Sinjai is a spiritual and cultural assimilation since the discovery of a blend of local culture with a culture that is now developing, in which it contains the sacred Islamic religious values.KEY WORD: Matchmaking; Islamic Teaching; Local Culture; Customs; Sinjai Community.About the Author: Dr. H.M. Dahlan adalah Dosen di Fakultas Adab dan Humaniora UIN (Universitas Islam Negeri) Alauddin Makassar, Jalan Sultan Alauddin No.36 Samata, Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia. Telp: +62411 841879. E-mail: dahlan.uinalauddin@gmail.comHow to cite this article? Dahlan, H.M. (2016). “Prosesi Pemilihan Jodoh dalam Perkawinan: Perspektif Ajaran Islam dan Budaya Lokal di Kabupaten Sinjai” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.9(1) May, pp.131-142. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press and UPI Bandung, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (December 1, 2015); Revised (February 15, 2016); and Published (May 20, 2016).
Pembudayaan Olahraga dalam Perspektif Pembangunan Nasional di Bidang Keolahragaan, 2015-2019: Konsep, Strategi, dan Implementasi Kebijakan Ma’mun, Amung
SOSIOHUMANIKA Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Konten pembudayaan olahraga menyangkut dua ruang lingkup olahraga, yaitu olahraga pendidikan dan olahraga rekreasi. Kedua ruang lingkup olahraga dimaksud akan menjadi fondasi bagi ruang lingkup olahraga prestasi. Semakin baik budaya olahraga di lingkungan pendidikan dan masyarakat, maka semakin besar peluang untuk meningkatkan olahraga prestasi pada tingkatan yang lebih optimal. Pembudayaan olahraga tidak semata-mata untuk dijadikan fondasi peningkatan olahraga prestasi, akan tetapi posisi pembudayaan olahraga diarahkan untuk meningkatkan perannya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Permasalahan utama dalam makalah ini adalah bagaimanakah konsep dan strategi pembudayaan olahraga yang harus dijalankan negara/pemerintah, sehingga pembudayaan olahraga menjadi sebuah kebijakan yang meluas? Pendekatan teoritis yang dilengkapi dengan studi kebijakan dalam merancang pembangunan olahraga nasional menjadi sebuah metode atau cara untuk mengungkap isu-isu penting pembangunan olahraga tahun 2015-2019. Sasaran pembudayaan olahraga adalah masyarakat luas dan masyarakat di lingkungan pendidikan (pelajar dan mahasiswa). Pembudayaan olahraga membutuhkan sebuah kebijakan yang pasti, antara lain melalui Instruksi Presiden, yang selaras dengan isu penting tentang perluasan kegiatan olahraga, yaitu “olahraga untuk semua” atau “sport for all”.KATA KUNCI: Konsep dan Implementasi Kebijakan; Pembudayaan Olahraga; Pembangunan Nasional; Pembangunan Keolahragaan; Olahraga untuk Semua. ABSTRACT: “Sport Acculturation in Sport National Development Perspective, 2015-2019: Concept, Strategy, and Policy Implementations”. Content of sports acculturation involves two scopes of sports, namely education sport and recreational sport. Both of the scopes are become the foundation of performance sport. The better of sport acculturation in education and public, the greater opportunity to improve performance sport at a more optimal level. However, sport acculturation is not solely to be used as the foundation of performance sport, but also to enhance its role in order to improve public’s quality of life. The main problem of this paper is to define how sport acculturation concepts and strategies could be implemented by state/government in order to make sport acculturation becomes a widespread policy? A theoretical approach incorporating policy studies in designing national sports development is selected as a method or a way to uncover important issues about sports development 2015-2019. The target of sport acculturation is public and education institution (students). Sport acculturation requires a definite policy, for example through Presidential Instruction, that is inline with the important issues of sport activities, as sustainability of the program called “sports for all”.KEY WORD: Concept and Policy Implementations; Sport Acculturation; National Development; Sports Development; Sports for All.About the Author: Dr. H. Amung Ma’mun adalah Dosen di Departemen Pendidikan Olahraga FPOK UPI (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Indonesia), Jalan Dr. Setiabudhi No.229 Bandung 40154, Jawa Barat, Indonesia; dan sekarang diperbantukan pada KEMENPORA RI (Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia) di Jakarta, sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Informasi dan Komunikasi Pemuda dan Olahraga. Alamat emel: amg_mamun@yahoo.co.idHow to cite this article? Ma’mun, Amung. (2016). “Pembudayaan Olahraga dalam Perspektif Pembangunan Nasional di Bidang Keolahragaan, 2015-2019: Konsep, Strategi, dan Implementasi Kebijakan” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.9(1) May, pp.65-88. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press and UPI Bandung, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (February 22, 2016); Revised (April 5, 2016); and Published (May 20, 2016).
Info-SOSIO-edutainment and Index SOSIOHUMANIKA, Editor Journal
SOSIOHUMANIKA Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan. This journal, with print ISSN 1979-0112, was firstly published on May 20, 2008 in the context to commemorate One Millenium of National Awakening Day in Indonesian. The SOSIOHUMANIKA journal is published twice a year i.e. every May and November. For period 2013 to 2018, the SOSIOHUMANIKA journal has been accredited by Ditjendikti Kemdikbud RI (Directorate-General of Higher Education, Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia). Since issue of May 2016 to date, the SOSIOHUMANIKA journal has been organized by the Lecturers of UPI (Indonesia University of Education) in Bandung; and published by Minda Masagi Press as a publishing house owned by ASPENSI (the Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia. Journal cover for issue of May 2016:

Page 2 of 2 | Total Record : 14